Warna Pelangi Cinta

Menjemput Bidadari (2)

“Kamu masih sering seperti dulu sama pamanmu ini Lut, masih pemalu,” Ustadz Fajar tersenyum sambil menggeleng pelan, “O iya, bagaimana kabar adikmu? Dia masih kuliah di STAIN kan?”

“Alhamdulillah Nabil dalam keadaan baik Paman, dia sekarang semester enam Prodi Hukum Paman berkat perantara doa dari Paman dan Bibi juga kami bisa menuntut ilmu hingga di Perguruan Tinggi.”

“Kamu tidak jauh beda dengan ayahmu Lut.”

Lutfi mulai tidak grogi, dia sudah bisa menguasai keadaan dan siap untuk menyampaikan maksudnya datang. Dari dalam seorang wanita keluar membawa nampan dan dua gelas air berwarna merah, teh Rosella. 

“Ayo sambil dimakan kuenya, mumpung masih hangat,” bi Lathifah ikut duduk di samping suaminya.

“Ayo Lut dicicipi. Aku akan memulai dulu, karena Paman tahu kamu pemalu,” Ustadz Fajar mengambil keripik tempe goreng dan memakannya. Bismillah. Dan lutfi mengikutinya meminum terlebih dahulu karena tenggorokannya terasa kering. Teh rosellanya masih hangat.

Lutfi meletakkan gelasnya kembali di lantai beralas tikar itu. Saatnya untuk memantapkan langkah, “Maaf Paman, Lutfi sudah mengganggu malam-malam begini. Saya kesini bermaksud bersilaturahim dan juga ada sesuatu yang harus saya sampaikan dan saya memohon bantuan dari Paman. Ini menyangkut izzah agama saya Paman.”

“Sebegitu seriuskah masalah itu keponakanku?” Ustadz Fajar memerhatikannya lebih dalam, jika sudah mengatakan keponakan berarti pamannya itu sudah siap membantunya dengan kedekatan nasab selain sesama muslim.

“Bagi saya sangat serius Paman, karena ini masalah cinta. Beberapa hari yang lalu, Allah memperkenankan kepada Lutfi sebuah amanah yang bagi saya berat. Saya dipercaya DR Khusnul Fatharib untuk membuka dakwah di Lampung Timur di daerah Sukadana dan disana dipercaya untuk mengembangan perbankan syariah,” Lutfi berhenti sejenak, agak bingung untuk melanjutkan.

“Tunggu-tunggu,” Ustadz Fajar terlihat kurang sabaran, “Subhanallah, itu adalah kabar yang luar biasa keponakanku, engkau dipercaya oleh orang yang sangat kukenal kesolekhannya dan kemantapan ilmunya. Lalu..., apa hubungannya tawaran kerja itu dengan cinta?” Ustadz Fajar dan Istrinya tahu, kini tiba saatnya untuk diam mendengarkan maksud kedatangan Lutfi untuk memohon bantuan.

“Berada di lahan dakwah baru tentunya akan ada banyak ujian dan rintangan dalam dakwah Paman. Saya membutuhkan banyak penguatan dan dorongan disana. Selain itu, saya juga harus kuat menjaga imanku. Saya kesini untuk memohon bantuan Paman dan Bibi untuk melamarkan seseorang wanita untuk kuajak berdakwah disana, saya sangat membutuhkan bantuan Paman dan Bibi.”

Ustadz Fajar tersenyum, “Jadi, kau kesini sebagai ikhtiarmu menjemput bidadari? Dan kamu datang kesini agar kami mencarikannya untukmu?”

“Begitulah Paman,” Lutfi menunduk malu.

“Katakan pada paman dan bibi, apakah engkau sudah mempunyai calonnya?” Ustadz Fajar menatapnya lekat-lekat, seoleh ingin menelannya bulat-bulat.

Lutfi hanya diam, namun wajahnya memerah. Perubahan itu tertangkap oleh pamannya.

“Aku sudah mengenalmu sejak kecil Lut. Aku tahu sifatnya memang sedikit pemalu. Katakan pada Paman dan Bibi, siapa wanita itu. Kami akan berusaha membantumu.”

“Di.., Dia... Naurah Paman,” Lutfi mengangkat wajahnya pelan, terlihatlah sepasang mata Paman dan Bibinya yang menatapnya serius.

“Maksudmu Naurah Lathifah An-Nawwar? Adik dari pak Umar dosen di STAIN dan STIT itu?” Bibinya yang bernama lengkap Nur Lathifah itu sedikit kaget.

“Iya Bi, entah kenapa hati saya cenderung padanya walau aku sudah mencoba melupakan perasaan itu namun sampai sekarang saya belum bisa. Untuk menjaga hati saya, saya mengambil langkah untuk berikhtiar melamarnya. Kebetulan saya pernah melihatnya disini, berarti Paman dan Bibi mungkin kenal dengannya.”

Bi Lathifah melihat suaminya yang menatapnya teduh seolah mempersilakannya untuk berbicara, “Saya sangat mengenalnya Lut, karena dia sering mengikuti kajian Bibi disini. Saya sangat bahagia jika seandainya engkau menikah dengannya. Naurah wanita yang lembut hatinya, dia pintar dan pemahaman agamanya sungguh bagus. Bahkan, jika seandainya Bibi punya seorang anak lelaki yang besar aku ingin melamarkannya pada Naurah. Insyaallah kamu tidak salah jika berikhtiar melamarnya.”

Wajah Lutfi bertambah ceria, “Jadi..., kapan Bibi bisa mengatakan maksud saya padanya?”

“Kenapa kau teramat buru-buru Lut?” Ustadz Fajar menepuk pundak keponakannya, “Insyaallah kami akan berusaha secepatnya, kebetulan saya sangat mengenal kakaknya. Jika seandainya kalian berjodoh, Allah akan mempermudah jalanNya dan seandainya dia bukan jodohmu engkau harus sudah menyiapkan kesabaran dan ketabahanmu. Ingatlah tidak semua yang dipandang manusia baik, baik pula dalam pandangan Allah.”

“Iya Paman.”

Setelah bercengkerama cukup lama, Lutfi undur diri untuk pulang. Hatinya kini mantap melangkah, tak ada secuil pun ada keraguan di hatinya. Allah..., kakiku melangkah atas niatku menjaga hatiku yang lemah. Jika dia baik untuk hambaMu ini, maka mudahkanlah jalanku mendapatkannya. Dan jika dia bukan jodoh hamba, maka kuatkanlah hati hamba menjaga hati. Langkahnya terayun syahdu, setidaknya dia sudah berusaha dan biarlah Allah ‘Azza wa Jalla yang menentukannya. Dan lantunan hatinya berdendang bersama dzikir jangkrik yang menyenandungkan dzikir cintanya pada Rabb Semesta Alam.

          

Ditingkahi suara desau knalpot dan deruman mobil-mobil angkot, siang ini, seolah jalanan terbelah dalam membentuk bayangan bergoyang-goyang di atasnya. Lihat saja jalan aspal ketika siang terik begini, bayangan bergerak-gerak di atasnya laiknya berada di atas pembakaran sampah atau barang-barang yang terbakar. Meliuk, bagaikan ular yang menggeliat terkena panas matahari, atau bagaikan cacing kepanasan yang kesasar keluar dari sarangnya karena rumahnya digali manusia.

Di green cafe. Tujuh meter dari jalan besar.

Masuk jalan kiri dari simpang kampus, dari arah pusat Kota Metro. Sebelah kiri jalan, jika ada cafe yang warnanya serba hijau dengan dekorasi bambu dan kayu yang semuanya dicat hijau, disanalah tempatnya. Tempat mangkal terutama para mahasiswa dan pelajar yang jenuh dengan rutinitas belajarnya. Sekedar minum juice atau sekalian makan dengan paket ayamnya yang terkenal murah dan enak.

Siang ini senyap, seperti dua orang yang duduk di pojok ruangan itu yang masih menunggu siapa yang hendak duluan berbicara untuk berbasa-basi. Dua orang itu adalah Zilullah dan Umar Said, kakak Naurah.

“Maaf jika saya mengganggu waktu anda,” Zilul langsung memulai. Dia merasa tidak enak, ‘menculik’ dalam kata lain meminta untuk berbicara penting setelah Umar Said mengajar di STIT Agus Salim. Walau masih ada yang ingin dikerjakan Umar Said untuk melihat arsip, namun demi melihat Zilul datang dengan harapan menggebu-gebu akhirnya Umar Said mempercepat pekerjaannya dan memenuhi kemauan Zilul untuk membicarakan sesuatu.

“Tidak apa-apa, kebetulan tadi pekerjaan saya sudah selesai,” senyumnya mengembang layaknya Dosen menghadapi bimbingan mahasiswanya, “Sepertinya saya tidak asing dengan nama adik, ya kalau tidak salah anda adalah ketua At-Taghyir Universitas Muhammadiyah kan? Berarti adik kenal dengan adik kandung saya, Naurah?”

Seolah jantung dan hatinya menyatu sempurna ingin jatuh, gemetar.

Sepersekian detik, setrum itu menjalar ke seluruh tubuhnya, lisannya tak kuasa bergetar. Namun, Zilul segera menguasai keadaan.

Zilul tersenyum, menatap kedua mata lelaki yang mungkin sembilan tahunan di atasnya. Mata hitam itu benar-benar mirip... hatinya mendesir kembali. Astaghfirullah.

“Naurah banyak cerita tentang adik, maaf ya saya memanggil anda adik. Kurasa itu lebih terasa dekat.”

“Tidak apa-apa.”

“Lalu..., sebenarnya ada perlu apa dik Zilul bersemangat sekali ingin berbicara dengan saya. Apakah ini ada hubungannya dengan adik saya Naurah?”

Hati Zilul kembali bergetar.

“Saya ingin meminta bantuan kepada anda. Saya...,” mata hitam Umar Said fokus kearahnya. Sedikit ragu, “Saya ingin melamar adik anda Pak. Ya, saya ingin melamar Naurah untuk menjadi pendamping hidup saya.”

Suara bising knalpot dan deruman mobil yang saling balap seolah senyap di telan bumi. Hanya huruf-huruf dari bibir Umar Said yang ditunggunya, seolah semua suara bagi Zilul tidak ada. Syarafnya benar-benar berkonsentrasi pada apa yang akan dikatakan lelaki di depannya itu.

Umar Said meminum jusnya seteguk. Dua teguk. Belum berkomentar.

“Saya ingin anda menyampaikan lamaran saya pada Naurah, saya benar-benar tak berani mengungkapkan padanya sendiri. Saya mohon anda dapat membantu saya meringankan beban di hati saya,” mata tajam Zilul terlihat memelas.

Umar menatap pemuda di depannya, “Subhanallah, Allahlah yang mengatur langit dan bumi, Dia mengatur kehidupan ini dengan indah. Semua hal telah tertulis dalam lauhul mahfudz. Jodoh, umur dan rezeki telah digariskanNya. Kita harus yakin itu. Saya merasa mendapatkan karunia, anda memberikan kepercayaan pada saya untuk menyampaikan maksud lamaran anda pada adik saya. Dan mungkin untuk sementara saya belum bisa menyampaikan maksud adik tersebut,” diam sejenak.

“Memangnya kenapa?” wajah itu teramat penasaran.

“Menurut Adik bagaimana jika ada seseorang yang sedang dalam proses lamaran dan menunggu jawabannya, lalu ada seseorang saudaranya yang ingin melamar juga?”

“Tentu saja seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang masih dalam proses lamaran saudaranya. Laki-laki itu dibolehkan melamar wanita itu apabila sudah ada kejelasan kalau dia menolak lamaran lelaki yang melamarnya duluan.”

Umar menganggukkan kepalannya, “Semua hal memang tidak pernah lepas dari kendali Allah. Begitu inginnya saya membantu dik Zilul, hanya saja adik saya masih dalam proses lamaran dengan seseorang. Proses lamaran itu baru tadi pagi, dan anda datang siang ini. Allah telah mengatur segalanya. Saya harap dik Zilul memahami keadaan saya. Seperti yang dik Zilul bilang tadi, seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang masih dalam proses lamaran kecuali lamaran itu ditolak....,”

Semua dunia dalam bayangannya seolah berdenyut. Tidak semua kata yang diucapkan lelaki di depannya itu tertangkap oleh inderanya. Zilul seolah hanya melihat bibir Umar yang komat-kamit, kata-kata yang keluar seolah sirna dalam segala rasa yang bertumpuk menjadi satu. Kecewa, marah, sedih, Zilul sendiri bingung memahami rasa apa kini yang berkecamuk dalam dirinya.

“.... Maafkan saya dik Zilul,” Umar masih memerhatikan Zilul yang menatap kearahnya, namun tatapan itu sungguh kosong, “Dik Zilul tidak apa-apa?”

Senyum Zilul terbuka, “Tidak apa-apa Pak, mungkin hanya sedikit kaget saya. Ternyata secepat itu takdir Allah menentukan segalanya. Pak Umar tidak perlu mengkhawatirkan saya, sungguh saya tidak apa-apa,” senyumnya dipaksa melebar, lebih lebar. Tangannya mengangkat juice mangga yang dari tadi belum disentuhnya.

Zilul meminum seteguk, sikunya terhenti sejajar lurus di dadanya. Agak lama, seperti menunggu sesuatu. Umar juga meminum kembali minumannya.

Saat itulah seorang pelayan laki-laki yang sedang membawa nampan berisi pesanan makanan dari belakang menabrak tangan Zilul yang sedang minum. Air itu tumpah ke depan dan mengenai baju Umar.

“Innalillahi! Maafkan saya,” Zilul kebingungan, baju Umar di bawah dadanya basah oleh air berwarna hijau kekuning-kuningan. Beberapa orang melihat mereka, ada keheranan namun segera kembali ke urusan mereka masing-masing. Tidak penting, urusan sepele. Begitu mungkin pikiran mereka, namun ada beberapa yang masih ingin melihat apa kelanjutannya sehingga mata mereka masih menatap kearah Zilul dan Umar.

“Maafkan, saya tadi tidak sengaja Pak,” Sang Pelayan merasa bersalah, wajahnya nampak merasa memelas.

“Tidak apa-apa, hanya kecelakaan ringan,” Umar tersenyum kepada pelayan itu.

“Bisakah anda mengantarkan teman saya ini ke kamar mandi untuk membersihkan bajunya?” Zilul menawarkan pada si pelayan.

“Bisa Pak, mari silakan,” sang Pelayan mengalihkan pandangannya kepada Umar ketika tangannya mengarahkan jempolnya sebagai isyarat untuk mengikuti.

Umar akhirnya mengikuti pelayan itu ke belakang, “Tunggu sebentar ya dik Zilul,” dan Zilul mengangguk. Umar sudah menghilang dari ruangan cafe itu menuju pintu dari samping kasir. Ada yang bermain cepat dalam pikiran Zilul, ini saatnya.

Zilul mengambil HP Umar di atas meja, memencet tombol pembuka kunci. Dibukanya panggilan keluar dan masuk, ada tapi kemarin. Untuk hari ini, kosong? Tangannya segera membuka pesan, ada tujuh pesan disana. Dari ketujuh nomor, ada tiga yang nomor dengan nama laki-laki. Dan..., salah satunya. Zilul sangat mengenalnya

Apakah engkau yang melamar Naurah? Kau benar-benar menikam saudaramu. Jika aku tak bisa mendapatkannya, engkaupun tak akan kubiarkan mendapatkannya. Hatinya seolah terbakar, sumbu api seolah menyala demikian besarnya. Berkobar-kobar dan menghanguskan keimanan yang telah disemai. Inikah kekuatan cinta? Cinta yang tak pada tempatnya?

Zilul meletakkan Hp itu kembali di atas meja.

“Maaf sebentar,” Zilul memanggil pelayan tadi yang menabraknya, dia membawa nampan berisi makanan lagi.

“Saya ada perlu penting, tolong sampaikan kepada teman saya tadi saya harus duluan pergi. Maafkan tidak sempat menunggunya dan ini Hp-nya tolong dijaga sampai teman saya kembali dari kamar kecil. Ini uang untuk membayar minumannya, sisanya buat kamu. Terimakasih ya,” Zilul menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah kepada pelayan itu dan menerobos angin panas. Naik angkot dan hilang dari pandangan si pelayan yang tersenyum melihat uang yang berada di tangannya. Lumayan, sering-sering saja ada orang yang terburu-buru dan meninggalkan tip-nya buatku.

Saat lantunan waktu berjalan

Berhati-hatilah ketika kesenyapan 

Menyesakimu

Lebih bahaya ketika kesenyapan benar-benar senyap

Daripada ramai teriakan-teriakan dan gelegar suara pekak

Lebih bahaya sebenarnya menuruni gunung

Daripada menaikinya

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!