Warna Pelangi Cinta

Sayap yang Terputus

Tiba-tiba hatinya menjadi gelisah, entah apa yang dirasakan Rasyid saat ini. Ada yang aneh dalam hatinya, perasaannya sejak beberapa hari ini tak nyaman. Diobatinya dengan memperbanyak shalat sunnahnya, tetapi perasaannya masih belum tenang. Ada apa ini? Berilah petunjukMu ya Allah

Allah..., Allah..., Allah...,

Allah..., Allah..., Allah...,

Hatinya teramat gelisah, Serba salah hendak melakukan apapun. Diambilnya mushafnya, lantunan Quran menelusupi setiap syarafnya. Kesejukan mulai mengalir melalui seluruh aliran darahnya. Setelah membaca setengah juz, Rasyid menghentikan bacaannya di akhir ayat. Hp-nya berdering.

Pak Mahmudi? Ada apa? Rasyid memencet tombol tengah atas, tombol OK. Klik! Lalu mengucapkan salam. Dari seberang terdengar jawaban salam.

“Ada apa Pak?”

“Maaf ya Rasyid, Bapak terlupa. Gajimu untuk pelatihan manasik dan persiapan pemberangkatan itu belum Bapak bayar. Bapak terlupa karena kamu tidak termasuk yang ikut ke Mekkah seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi...,” berhenti sejenak.

“Tapi apa Pak?”

“Saya tidak bisa ke tempatmu, anakku sedang sakit.”

“Innalilillahi, sakit apa Pak?”

“Muntaber. Jadi, apakah kamu bisa ke rumah Bapak untuk mengambil jatahmu?”

“Insyaallah bisa Pak, sekalian menjenguk Sidiq. Sekarang juga saya akan meluncur kesana Pak.”

“Baiklah, saya tunggu dan maaf seharusnya Bapak yang mengantar uang bayaranmu ke rumah.”

“Tidak apa-apa Pak.”

Pak Mahmudi pamitan dan mengucap salam. Rasyid bersiap-siap, mengenakan baju kemeja birunya. Karena inikah kegelisahan hamba ya Allah? Sidiq? hubungan mereka bagaikan paman dan keponakannya. Kadang, Sidiq yang berumur sembilan tahun itu merajuk hanya untuk bertemu Rasyid. Rasyid berangkat, mengambil tas cangklong hitamnya. Pamitan dengan saudara-saudaranya di kontrakan dan bergegas.

Menaiki angkot warna merah sekali, sampailah Rasyid di sekitaran rumah pak Mahmudi, masuk gang kecil dan rumah nomor dua. Di depannya, ada plang bertuliskan lembaga haji untuk wilayah Metro Timur. Rasyid memasuki pekarangan rumah itu.

Rasyid mengetuk pintu, pak Mahmudi keluar dan menyambutnya.

“Ini honormu mengisi manasik dan upah untuk persiapan pemberangkatan haji kemarin,” pak Mahmudi menaruh amplop itu di meja, didorongnya hingga mendekati bibir meja di depan duduk Rasyid.

“Terimakasih Pak,” Allah tahu dimana posisi hambaNya ketika membutuhkan uang. Besok terakhir pembayaran daftar ulang kuliah. Aku tak akan kuasa menjauhiMu sedetikpun ya Allah, karena sungguh rahmatMu teramat dekat, sangat dekat, “Sidiq sekarang sedang apa Pak?”

“Dia baru saja tidur, dari kemarin menanyakan kamu terus.”

“Nanti sampaikan salamku padanya Pak,” Rasyid tersenyum.

“Apakah kamu membaca berita, atau sudah dengar di kelompok haji pemberangkatan dari Metro Timur kemarin ada yang meninggal di Mekkah?”

“Innalillahi Wainailaihi Raji’un. Belum pak, siapa?” Rasyid penasaran.

“Pak Saiful.”

“Siapa pak?” Rasyid kaget. Sebenarnya bukan pada siapa pertanyaannya, namun kata yang disebutkan sudah membuatnya kaget bukan main.

“Pak Saiful, Camat Metro Timur ini yang juga seorang enterpreneur. Kau pasti juga mengenalnya, karena kau pernah menemukan dompetnya bukan?”

Rasyid mengangguk. Tak menjawab. Pikirannya melayang, membubung bersama angin yang terus bergerak. Rasyid meneteskan airmatanya, pak Mahmudi membiarkannya. Rasyid lalu pamitan pulang.

Dia menyusuri main street. Jalan raya.

Di perjalanan, sedari tadi kepalanya tertunduk. Dia tidak naik angkot, dia jalan kaki. Apakah ini yang menjadikanku gelisah? Sebuah kalimat slide sederhana mengulang-ulang dalam pikirannya selama perjalanan hingga sampai di kontrakan. Rasyid teringat pelukan terakhir yang terasa aneh itu, bersama pak Saiful.

‘Aku berharap banyak bahwa kaulah nanti yang akan membimbing anakku menuju jalan Allah, itulah doaku sepanjang hidupku. Aku hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Nirmala’

Berarti saat itu..., pak Saiful menyampaikan wasiatnya padaku?

Rasyid berucap salam dan membuka pintu. Lemah. Di kontrakan hanya ada Shafwan dan Faza, Zilul dan Lutfi tidak izin sebelum pergi. Hafidz masih ada agenda di Bandar Lampung.

“Kenapa wajahmu seolah tak punya semangat hidup seperti itu saudaraku?” Shafwan memberikan segelas air kepada Rasyid. Datang-datang langsung duduk ndelosor di lantai begitu saja dan wajahnya seperti orang kena dehidrasi. Makanya Shafwan langsung mengambil segelas air dari dapur.

“Tidak apa-apa Shaf, aku sedikit capek saja.”

“Baru saja mengambil jatah di tempat pak Mahmudi ya?”

Rasyid tersenyum kecil dan mengangguk.

“Bukankah seharusnya kau gembira seperti biasanya, tapi wajahmu terlihat bingung begitu,” Shafwan masih menyelidik, dia hafal betul kondisi sahabatnya itu yang selalu ceria dan bersih wajahnya. Punya masalah kecil saja pasti wajahnya berbeda dari biasanya.

“Ada apa Syid,” Faza yang baru saja memasukkan buku-buku untuk dibawanya ke Kampus, mengurus bimbingan skripsinya seolah merasakan pula perbedaan si hati putih itu. Wajah Rasyid dilihatnya begitu resah.

“Aku..., aku...,” berhenti. Satu detik, dua detik, sepuluh detik. Ragu.

“Kau anggap kami ini siapa Syid? Kau anggap kami ini orang lain?” jika Faza sudah berbecara seperti itu bisa dipastikan Rasyid akan cerita, begitu yang ada di pikiran Shafwan makanya sedari tadi menunggu Faza yang bicara, manjur.

“Ini tentang masalah cinta Kak, iya, masalah cinta,”

Faza dan Shafwan benar-benar sempurna berkerut kulit di wajahnya, terutama di sekitar dahi mereka.

Cinta? Benarkah? Untuk Rasyid?

Huruf demi huruf yang terangkai, membentuk kata-kata dan akhirnya membuat ritme kalimat demi kalimat meluncur teratur dari bibir Rasyid. Semuanya ketika bermula dompet pak Saiful ditemukannya di Mekkah, terus berputar, berpilin hingga pertemuan dengan wanita bernama Nirmala Sari. Tentang wanita yang pertama kali baginya menjejak senyum dalam hatinya. Saat menyapu di masjid Taqwa, suara lembut dan serta kacamata mungil yang membungkus hitam bola mata lentik itulah satu-satunya wanita yang menjelma dalam hatinya setelah ibunya. Ya, sungguh! Hanya setelah ibunya. Karena hidupnya dari kecil di lingkungan pesantren.

Kata-katanya semakin lama semakin terbata ketika menceritakan tentang harapan pak Saiful di akhir keberangkatannya ketika hendak ke Mekkah. Dan wasiat itu, wasiat untuk menjaga putrinya Nirmala Sari. Hingga kabar yang membuatnya kaget barusan adalah pagi tadi saat berkunjung ke rumah pak Mahmudi. Pak Saiful meninggal dunia saat thawaf di Mekkah. Allah mencabut nyawanya di tempat yang dicintai Rasulullah saw. Tempat yang Rasulullah pernah menitikkan airmatanya saat meninggalkannya karena diusir.

Ketika Rasulullah saw meninggalkan Mekkah, beliau menatapnya dengan mata berlinang airmata. Kemudian bersabda, ‘Sungguh, kau adalah tanah yang paling kucintai. Andai pendudukmu tidak mengusirku, tentu aku tidak akan meninggalkanmu selamanya.’ (HR. HR Tirmidzi).

Siapa yang tidak merindukan Mekkah, meninggal disana, bagi seorang muslim itu adalah impian.

Rasyid menutup ceritanya, “... Itulah yang membuatku bingung Kak, Shafwan. Baru pertama kali bagiku diharapkan oleh seorang wanita dan dipercayakan untuk menikahinya.”

Faza menepuk pundak Rasyid pelan, “Aku yakin akanmu, apapun keputusanmu Insyaallah kami semua mendukungmu. Dan jika kau butuh pendapat kami, kami akan siap memberi masukan namun sebelumnya kau istikharahkanlah dulu. Ah, kau pasti lebih paham bukan. Dia adalah satu-satunya tempat yang pertama kali harus kita percaya, Dia tempat mengadu segala urusan,” Faza tersenyum.

Shafwan tersenyum dan mengangguk, “Kau tak perlu bingung saudaraku, kita selalu punya Allah di hati kita,” Shafwan tidak memanggil Rasyid dengan sebutan kak, katanya lebih terasa dekat memanggil dengan sebutan saudaraku.

Rasyid mengangguk. Wajahnya kembali terang seterang cerah dhuha. Alangkah lalainya hambaMu ini ya Allah. Sempat-sempatnya aku hendak melupakanMu, ditatapnya wajah kedua saudaranya itu. Dia merasa beruntung hidup dalam lingkungan yang baik, lingkungan yang wajah-wajahnya adalah wajah kemulyaan. Sadar kini akan kekhilafannya, ibadahnya selama ini belum ternyata membuahkan hasil ketika ujian melanda, baru ujian kecil. Sangat kecil, urusan cinta?

“Kalau begitu..., saat ini juga aku akan menghadapNya. Kuserahkan segala keputusan padaNya. Mohon doa kalian juga saudara-saudaraku,” Rasyid tersenyum, ukhuwah seolah menyatukan mereka dalam satu ikatan buhul. Tak ada pemisah lagi.

Rasyid mengambil air wudhu, Shafwan dan Faza bersiap berangkat.

“Kalian pulang jam berapa?” setelah wudhu Rasyid hendak mengantar sampai pintu.

“Mungkin aku sampai sore ba’da Ashar, ada rapat,” Shafwan membenahi ikatan sepatunya.

“Aku Insyaallah hanya sebentar, semoga segera selesai. Janjian dengan satu Dosen hari ini, setelah itu insyaallah langsung pulang,” Faza menjelaskan, “Memangnya ada apa Syid?”

“Tidak apa-apa, hanya memastikan saja,” Rasyid tersenyum. Faza dan Shafwan pamitan dan melangkah berangkat.

Rasyid menutup pintu depan, mulai memasrahkan hidupnya kepada Dzat yang menciptakannya. Berjalan masuk ke kamar, mengambil sajadah merah menyala. Bersiap-siap, meletakkan kedua kakinya di ujung bawah sajadah. Menata hatinya. Mengikhlaskan sepenuh jiwanya, mengkosongkan segala hawa nafsu dunia. Senyap. 

Cicak yang merekatkan kakinya di plafon menggerakkan kepalanya kearah cahaya berpendar-pendar di ruangan itu. Lidahnya yang semula terjulur-julur, kini sempurna masuk ke dalam mulutnya dan terdiam melihat kilauan cahaya memenuhi ruangan itu, semakin benderang. Dzikirnya adalah bahasanya, manusia berdzikir dengan shalatnya, ikan dengan berenangnya, burung dengan mengepakkan sayapnya. Alam bertasbih mesra padaNya, Allah ‘Azza wa Jalla.

Tangannya gemetaran, saat hendak bergerak takbir. Tangan itu turun kembali, airmatanya meleleh perlahan membasah pipinya, hangat. Allah..., untuk meminta petunjukMu, manusia harus meniadakan dunia, meniadakan pilihan-pilihan, tapi kenapa aku belum bisa? Saat tangannya ingin takbir, ternyata kelebatan wajah Nirmala Sari yang tersenyum hadir di pelupuk matanya.

Rasyid menjatuhkan lututnya, sempurna terjatuh di sajadah merah itu. Kenapa? Ada denganku? Aku harus kuat! Rasyid mencengkeram kuat kedua pahanya dan berdiri meyakinkan hatinya kembali. Hamba penuh dosa ya Allah, tak pantas bagi hamba memilih atas dasar kemauan hati ini, atas nafsu, atas keegoisan diri, atas dusta berkedok cinta, atas pura-pura menjalankan amanah, atas pura-pura simpati dan kasihan, atas pura-pura ingin menjaga. Tuluskan hamba dalam melangkah, jadikan langkahku sebagai petunjuk dariMu. Allah...

Dunia seolah sirna, seolah dunia tak ada lagi. Bagai melayang, tangan itu bergerak keatas perlahan. Takbir, sempurna takbir.

Allahuakbar. Malaikat sibuk mencatat.

Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan. 

“Segala urusan adalah milikMu, segala ketetapan adalah milikMu, segala daya dan upaya adalah milikMu, segala keagungan adalah milikMu, segala tingkah laku manusia yang berlaku padaku adalah urusanMu, segala rezeki yang datang padaku adalah ketetapanMu, akhir hidupku adalah kuasaMu, pendamping hidupku adalah urusanMu. Jika Nirmala baik untuk hamba maka mudahkan jalannya, perbaiki prosesnya, dan baguskan akhirnya. Jika dia bukan jodoh hamba, berikan yang terbaik untuknya dan untukku, lindungilah kami, dan baguskan akhir kami.”

Airmatanya meleleh. Dia teringat kisah Urwah bin Zubair ra. tentang shalatnya.

Beliau adalah anak saudara perempuan ibunda Aisyah ra., kala itu Ia pergi mengunjungi khalifah di Damaskus bersama anaknya yang masih kecil. Ketika sampai di Damaskus, anaknya bermain kuda, dan terjatuh, hingga mati. Setelah dua hari meninggalnya anaknya itu, kaki Urwah ra. terkena penyakit, hingga para tabib mengatakan bahwa kakinya harus dipotong –diamputasi-. Mereka berkata, “Kami akan memberimu minuman memabukkan –bius-, agar kau tidak merasa kesakitan.”

Urwah ra. menjawab, “Tidak, aku tidak meminta tolong dengan maksiat pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk memotong kakiku.”

Tabib berkata lagi, “Aku akan memberimu Al-Murqith .” Urwah menjawab, “Tidak, aku tidak ingin tubuhku dipotong, sedangkan aku tidak mendapatkan pahala itu.” Tabib berkata lagi, “Aku akan mendatangkan beberapa orang laki-laki.” Urwah menjawab, “Jangan, aku akan mendatangkan mereka pada kalian.” Tabib bertanya, “Bagaimana caranya itu?”

Urwah berkata, “Biarlah aku melakukan shalat. Bila aku sudah melakukannya, menikmati kekhusyukan di hadapan Rabbku, sampai seakan kalian melihat aku, ruhku dan jiwaku keluar dari dunia, maka biarkanlah aku sampai bersujud. Ketika aku sedang sujud, dan bersama Rabbku, maka  lakukan apa yang tampak pada kalian.”

Maka ketika Urwah ra. sedang sujud, tabib datang, mulai memotong kaki, dan ia tidak mendengar dari mulut Urwah bin Zubair ra. kecuali ucapan, ‘Subhanallaahu wal hamdu lillahi wallaahu akbar.” Saat terasa semakin sakit, ia makin mengulangi takbir, ‘Allaahu akbar laa ilaaha illallaahu,’ sampai darahnya banyak yang keluar dan muncrat. Lalu tabib datang dengan air mendidih, dan menyiramkan kepadanya, sementara Urwah ra. hanya mampu bertasbih dan berdzikir. Beliau pingsan. 

Ketika dia sadar, ia melihat kakinya sambil berkata, “Berikan padaku kakiku yang dipotong.”

Ketika mereka membawa kaki itu, ia berkata, “Ya Allah, bagiMu segala puji, sesuatu dari ragaku telah mendahuluiku ke surga.” Lalu ia melihat padanya seraya berkata, “Ya Allah, Kau tahu bahwa aku tidak pernah berjalan dengan kakiku ini menuju tempat maksiat.” Kemudian Urwah ra. berkata lagi,  “Ya Allah, dulu aku punya empat anggota badan, lalu Kau ambil dariku satu, dan Kau tinggalkan padaku tiga anggota lainnya, maka bagiMu segala puji. Dan dulu aku punya tujuh orang anak, maka Kau telah ambil satu dariku, dan Kau tinggalkan enam padaku, bagiMu segala puji. bagiMu segala puji atas apa yang Kau berikan, bagiMu segala puji atas apa yang Kau ambil, dan bagiMu segala puji atas apa yang Kau ambil, dan bagiMu segala puji atas apa yang Kau tinggalkan.” 

Rasyid seolah menonton slide yang terpampang di depannya, jelas. Alangkah selama ini dia merasa ibadahnya telah baik, telah ikhlas. Allah..., hamba sangat jauh dibandingkan umat-umat terdahulu yang Kau ridhai, namun..., aku selalu berupaya mendekati setiap pintu yang akan mendekatkan diriku padaMu. Tunjukanlah jalanMu.

Airmatanya meleleh kembali.

Dia teringat kembali akan untaian mutiara dari Ibnu Taimiyah ra. Ketika ditanya tentang surga di dunia. Beliau menjawab, ‘Surga di dunia adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, mencintaiNya, sangat rindu padaNya dan berlemah lembut padaNya. Betapa merananya penduduk dunia yang meninggalkan dunia ini, dan tidak pernah merasakan yang termanis darinya.”

Ibnu Taimiyah ra. ditanya, “Apakah yang termanis di dunia?” Beliau menjawab, “Manisnya adalah berdekatan dengan Allah. Sesungguhnya banyak waktu yang melewati hati. Sekiranya penduduk surga merasakan apa yang aku rasakan dari manisnya berdekatan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ini sudah mencukupkan mereka.”

Alangkah indahnya ya Allah..., berdekatan bersamaMu, cukuplah itu semua dalam hidup ini. Airmata Rasyid semakin membanjir. Bagaimana hati ini akan bersinar? Sedang dunia terpahat di dalamnya, atau bagaimana hati ini akan merasa manisnya berdekatan dengan Allah? Sedangkan jiwa ini dikekang dengan nafsu, atau bagaimana jiwa ini akan memasuki pintuMu ya Allah, menjadi hambaMu jika hati ini belum suci dari noda kelalaian?

Allah..., jika bukan padaMu lalu..., kepada siapa lagi hambaMu ini memohon? Hanya padaMu ya Allah. Maka, tunjukkanlah jalanMu pada hamba, tunjukanlah, tunjukanlah..., hamba akan menurut, hamba akan mematuhi, hamba akan melaksanakannya meski sangat tak sesuai dengan hati ini.

Allah...

          

Kemana lagi sayap ini akan mengapak wahai Rabb?

Jika hamba ini sangat jauh dariMu

Salwa membenahi ujung mukenanya selesai shalat itu, Ratih menjadi imamnya. Salwa meraih mushaf tua yang tak pernah dibukanya, sekali sewaktu bi Murni memberikannya saat ulang tahunnya dua tahun yang lalu. Saat membuka mushaf itu, Ratih tersenyum dan mengangguk. Wanita itu kini terlihat cantik dengan kerudungnya, lebih tenang dan wajah itu seolah bersinar.

Salwa mulai mengeja, terbata-bata, tapi tak menyerah.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati, yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?

Bibir Salwa bergetar, tubuhnya gemetaran, sempurna gemetar. Hatinya terkoyak.

“fa innahaa..., laa ta’mal..., abshaa ru..., walaakin..., ta’mal..., quluu bul..., latii fis..., shuduur.” Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada. 

Ratih pamit kembali ke kamarnya. Salwa mengangguk.

Sepeninggal Ratih, Salwa menutup mushafnya. Ada getar aneh, Salwa merasa takut meneruskan bacaannya. Salwa melepaskan  mukenanya, ditaruhnya Al-Quran di atas mukena yang telah dilipatnya, ditaruhnya di pinggir kaca riasnya. Mata lentiknya bersitatap dengan pantulan di cermin bening itu. Salwa menyisir rambutnya yang mulai memanjang melewati pundaknya, berkilau.

Tiba-tiba wajah seorang lelaki membayang dalam cermin. Salwa menggeleng. Matanya kedutan.

Apakah ini cinta? Kenapa wajah itu selalu hadir kini? Dalam mimpi dan sadarku, Tuhan tolonglah hambaMu yang baru memulai belajar ini. Aku bahkan mungkin tak pantas untuknya yang begitu shalih, dan aku..., Salwa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Apa aku gila? Kenapa juga aku jatuh cinta kepada lelaki yang telah mempunyai kekasih itu? Lelaki seperti itu? Lelaki itu...

Salwa meremas rambutnya, senut-senut.

Wajah lelaki itu membayang kembali, seolah tersenyum dalam pikirannya, teramat dekat. Salwa sudah tidak bisa bohong lagi pada perasaannya.

Aku gilakah? Mana mungkin aku tega menghancurkan hubungan cinta mereka. Azizah yang demikian baik, begitu percaya padaku. Tuhan sedang terjadi apakah pada diri hamba ini?

Hatinya seolah terkoyak-koyak kini manakala adzan berkumandang, ada getar-getar menyusup rindu untuk memakai mukena pemberian bi Murni. Bi Murni, sedang apa engkau sekarang? Akupun terlalu malu untuk meminta maaf padamu. Allah..., aku dalam kebimbangan yang sangat. Tolonglah...

Airmatanya menetes pelan, rasanya lama sekali airmata itu keluar semenjak hidupnya.

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. 

          

“Aku telah banyak melakukan keburukan dalam hidupku, apakah Allah akan menerima taubatku?” Salwa menatap Zulfa lekat. Azizah sedang menyeterika dan melipat baju-baju pesanan. Mereka baru saja melakukan shalat berjamaah. Empat orang bersama Firna dan Zulfa, namun setelah shalat Firna langsung undur diri hendak ke kampus ada rapat katanya. Maklum aktivis tulen.

“Tentu,” jawab Zulfa, matanya berbinar biru. Sangat meyakinkan.

“Tapi..., aku tak pernah melakukan shalat. Kecuali..., mungkin baru dua atau tiga kali seumur hidupku hingga kini. Apakah, Allah masih mengampuniku jika aku bertobat?”

“Insyaallah Dia akan mengampuni dosamu,” Zulfa menghirup udara agak dalam, “Pertanyaanmu mirip pertanyaan Seorang arab Badui yang bertanya pada Rasulullah saw. Apakah kamu mau mendengarnya?”

Salwa hanya menggangguk.

“Seorang arab Badui datang menghadap Rasul, “Aku telah melakukan dosa, apakah Allah menerima tobatku?” tanyanya.

“Tentu,” jawab Nabi.

“Jika aku kembali melakukan dosa?” Tanyanya lagi.

“Akan dicatat dalam catatan kejahatan manusia,” ujar Nabi.

“Kemudian jika aku bertobat?” Badui kembali bertanya

“Allah akan menghapusnya.”

“Kemudian jika aku mengulanginya lagi?”

“Dicatat sebagai amal kejahatan.”

“Jika aku kembali bertobat?” 

“Akan dihapus lagi.”

“Lalu..., sampai kapan akan dihapus?”

“Allah tidak akan pernah bosan memberikan ampunan, hingga hambaNya bosan untuk meminta ampun,” Jawab Nabi saw.

Salwa mencerna ujaran terakhir itu dalam-dalam. Allah tidak akan pernah bosan memberikan ampunan. Hingga hambaNya bosan untuk meminta ampun.

“Benarkah apa yang kau ucapkan?”

“Benar, sungguh demi Rabb yang menciptakan,” mata Zulfa berbinar.

“Walaupun dosaku setara dengan seluruh gunung di dunia ini?” Salwa bertanya sambil matanya menatap Zulfa dalam-dalam. Meminta kepastian.

“Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman, ‘Hai manusia, selama engkau masih memohon dan mengharapkanKu, Aku pasti akan mengampuni seberapa besar pun dosa-dosamu. Hai manusia, sekiranya dosamu memenuhi seisi langit dan bumi, kemudian engkau memohon ampun, niscaya Aku mengampunimu.’  Terserah padamu mau percaya dengan firman Allah yang menciptakan dan menentukan segalanya tidak.”

Salwa manggut-manggut.

“Boleh bertanya tentang sesuatu tema yang lain?”

Zulfa mengangguk, mempersilakan. Azizah masih sibuk dengan seterikanya.

“Bagaimana kalau...,” sedikit ragu, “Kalau..., seorang wanita mengharapkan dan mencintai seorang lelaki. Bolehkah?”

Zulfa terdiam. Satu detik, lima belas detik. Bahkan melamun, bayangan lelaki di toko taqwa itu muncul kembali, sorot mata tajam itu. Bibirnya menjadi kelu.

Azizah melipat baju terakhir pesanan, mematikan seterika. Sepertinya kini dia harus bicara, karena dia tahu apa yang dialami Zulfa sekarang, “Mencintai lawan jenis itu bagian dari fitrah Saudariku, tapi tanyalah pada hati nurani kita. Karena apakah cinta itu? Nafsukah? Lalu..., apakah cinta kita kepada Allah bisa lebih lemah dibanding cinta pada lawan jenis? Sungguh, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia (Allah) . 

Memelihara cinta kepada lawan jenis yang bukan muhrim dan belum halal dalam pernikahan merupakan marabahaya. Jika cinta itu karena kesholihannya, mungkin bisa dikategorikan fitrah, namun..., jika karena ketampanan, harta dan kedudukannya itulah fitnah yang harus dihilangkan. Kita harus yakin, jika kita meninggalkan sesuatu yang meragukan karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang sangat lebih baik. Itulah keyakinan.”

Zulfa menatap ragu-ragu kearah mata Azizah. Hatinya sensitif, nasehat itu lebih tertuju padanya sebenarnya.

“Bolehkan aku sering kesini untuk belajar agama?”

Azizah dan Zulfa sama-sama mengangguk. Langit di luar sana teramat cemerlang. Angin bertiup merdu ke seluruh penjuru. KaruniaNya menelisik ke seluruh celah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!