Warna Pelangi Cinta

Kekeruhan (1)

Pukul 16.00. ba’da Ashar, Baitul’ilmi.

“Lut...,”

“Ada apa Faz?” Lutfi menengok kearah Faza yang berada di belakangnya. Mereka hendak membuka dagangan di depan kontrakan. Tinggal memindah-mindahkan alat-alat masak dan bahan-bahan yang akan digoreng.

Faza tersenyum, tapi hambar.

Ada apa? Lutfi menunggu, “Ada apa Faz?” pengulangan itu masih disertai senyuman.

“Ehm..., tidak apa-apa Lut. Aku sedikit capek saja.”

“Kalau begitu kau istirahat saja. Biar aku saja yang dagang, nanti kuminta salah satu orang membantu dagang. Bagaimana?”

“Tidak usah,” Faza menggigit ujung bibirnya. Hanya kecil sehingga tak terlihat, “Ayo buruan!” Faza mendahului jalannya dari Lutfi. Walau masih bingung, Lutfi akhirnya mengikutinya di belakangnya. Rasa penasarannya masih menggantung.

Saat dagangan di gelar, tangan Faza hendak menepuk pundak Lutfi namun begitu mendekati punggung sahabatnya itu. berjarak setengah kilan, tangan itu urung dan mundur. Rasa sesak memenuhi hatinya.

Kuatkah aku menyampaikannya ya Allah? Aku takut jika menyampaikannya sekarang dia akan merasa sakit. Aku paham bagaimana rasa cinta yang telah menguasainya, ya Allah aku teringat firmanMu, ‘Sungguh! Orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu.’  Aku tak tega menyakitinya ya Allah.

“Lut...,”

“Ada apa Faz?” Lutfi menengok kearah Faza yang berada di belakangnya. Tatapan mereka bertemu, ada keraguan di wajah Faza.

Hening. Belum ada pembeli. Lutfi menunggu.

“Apakah kau percaya padaku?”

Hening. Senyap.

“Apa maksudmu Faz?” Lutfi bingung.

“Aku...,” kalimat itu terhenti di tenggorokannya, menggantung.

“Katakanlah Faz.”

“Maafkan aku Lut, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Tapi ingatlah satu hal, tak ada keinginan sedikitpun untuk menyakitimu. Percayalah padaku, hanya saja saat ini aku belum bisa mengatakan kebenaran itu. Maafkanlah aku saudaraku atas kelemahanku ini,” mata itu tampak lemah menatap.

“Sebenarnya ada apa Faz,” baru kali ini Lutfi merasakan Faza bimbang dalam perkataannya. Tidak pernah dalam pertemanan mereka Faza tak mampu mengucapkan sebuah rahasia, belum pernah baginya Faza kebingungan dalam berbicara. Kalimat ada apa itu menggantung dalam jiwanya dalam-dalam.

“Sudahlah..., aku belum siap mengatakannya padamu saat ini,” Faza menepuk pundak sahabatnya itu, “Maafkan aku.”

Seorang pembeli datang dan menghentikan motornya di depan mereka.

Zilul menatap kejadian itu dari balik jendela kaca di kamarnya. Zilul menganguk-angguk, bibirnya bergeser ke belakang. Jadi benar?

          

Malam itu, suara burung cabak membelah malam, membelah langit, membelah kesenyapan. Sesosok tubuh duduk bersandarkan tembok pagar, di depan Baitul’ilmi. Gemintang gemerlap di langit gelap seolah menjaga pemandangan indah baginya, selalu, menciptakan debur tersendiri, keindahan terangkai bagai rinai yang sempurna menyatu meresap dalam tanah kala hujan datang.

Baginya bintang dapat mengobati setiap kesedihannya, kebimbangannya, seolah dapat berdzikir bersama bintang, berkomunikasi dalam keheningan. Kala malam, itulah jalannya melihat keindahan, ujian-ujian dalam hidupnya, berlalu semua disaksikan oleh ribuan bintang gemerlap. Allah yang menciptakan mereka begitu indah.

Lelaki itu mendesah pelan. Matanya terpejam sejenak.

Dia teringat kejadian pagi tadi...

“Subhanallah, kau bertambah berwibawa saudaraku,” Umar tersenyum padanya, umur mereka kurang lebih berjarak 9 tahunan. Namun seolah Faza adalah adik kandungnya sendiri setelah pertemuan iktikaf beberapa tahun silam.

Faza memeluk sahabat yang lama tidak berjumpa itu, “Ustadz juga semakin bercahaya. Kaif halq Ustadz?”

“Khoir. Masih memanggilku ustadz?” mata Umar sedikit mendelik, Faza ikut tersenyum.

Setengah jam yang lalu Umar menghubunginya untuk bertemu di masjid Babussalam, suasana sepi. Satu dua orang shalat dhuha.

“Bagaimana skripsimu? Pasti sudah selesai bukan?”

“Belum, masih mengajukan judul,” Faza mau tidak mau teringat akan adiknya, pengorbanannya mengambil cuti juga memperlambat skripsinya. Tidak ada yang perlu disesalinya, suatu cita-cita bahkan telah berhasil memasukkan adiknya untuk kuliah dan mendapatkan prestasinya. Baginya tak soal tentang kuliahnya yang hanya tinggal ending saja. Namun, lubuk hatinya terdalam ada sisi yang tidak bisa dibohongi. Perasaan sedih karena tertinggal, namun buru-buru selalu ditepisnya.

“Bukankah kau tak pernah tertinggal mata kuliah?” Umar heran.

“Aku cuti satu semester, mungkin tak bisa dibilang cuti. Aku hanya membayar registrasi tapi tidak mengambil mata kuliah di semester enam,” Faza tersenyum.

“Kenapa Faz?”

Mata itu selalu membuatnya merasa mirip dengan kedua mata ayahnya, “Aku mengalah untuk Azizah, aku tak ingin dia berhenti meneruskan cita-citanya. Itulah janjiku pada almarhum Bapak seperti yang kuceritakan pada Kak Umar. Aku mundur sejenak untuk menyiapkan cita-citaku.”

Umar hanya mengangguk. Dia paham benar, walau belum pernah bertemu dengan adiknya, dia dapat merasakan alunan kasih sayang kakak beradik itu. Mengorbankan keinginan pribadi demi orang yang dicintai, tak ada kata menyesal. Seperti cintanya pada adiknya, Naurah. Saat inipun, pertemuan ini adalah buah dari kasih sayangnya pada adiknya. Tujuan itu hampir terlupakan jika saja Faza tidak menceritakan tentang adiknya. Dan sebenarnya apa yang diceritakan barusan sudah ada dalam novel yang dikirimkan Faza padanya. Tentang mengorbankan kuliahnya untuk adiknya dan tentang cintanya kepada adiknya yang ternyata adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.

“Oya, bagaimana dengan tulisanmu?”

Faza tersenyum, “Sedang ikhtiar Kak, sudah dua bulan ini saya kirimkan ke penerbit di Yogyakarta. Kak Umar sudah baca kan? Aku sudah mengirimkan jauh-jauh hari ke email anda.”

“Ya, sudah kubaca selesai,” wajah itu antusias. Novel ‘Langit Masih Biru.’

“Kebanyakan ya Kak, jadi merepotkan Ustadz harus membacanya kelamaan.”

“Tidak sama sekali.”

Faza menatap heran.

“Aku menyelesaikannya satu malam, kau tahu kenapa?”

Faza menggeleng. Berada di threshold, sempurna heran.

“Novelmu membuatku basah dengan airmata, ceritanya lengkap, alurnya tak menyisakan keragu-raguan. Sungguh, Insyaallah jika terbit nanti akan best seller. Sudah sangat jarang penulis novel yang kuat mempertahankan intisari Islam, keindahan yang dahsyat, tegar dalam kesemerawutan kehidupan. Banyak penulis yang latah mencoba mengambil perhatian pembaca dengan menggampangkan hukum Islam dan bahkan kontroversial dengan ajaran Rasulullah saw.”

Ada getar dahsyat dalam dada Faza, baginya sebuah penghargaan walau hanya dengan untaian kata mengaprisiasi karyanya adalah karunia dan keindahan dari hasil kerjanya. Bagaimana tidak, karya kita mau dibaca orang saja sudah merupakan kebahagiaan, apalagi dengan sebuah apresiasi yang baik.

“Bagaimana kau menulisnya sahabatku? Tips sederhanamu saja, atau mungkin motivasimu,” kini Umar yang keheranan ingin mendengar.

Bibir Faza sedikit kelu, namun segera dikuasanya, “Sebuah karya apapun bentuknya bertujuan untuk kebaikan disunahkan harus bersih asal-usulnya. Contohnya rejeki kita haruslah dari asal yang jelas halal seperti itulah juga menulis. Aku hanya selalu berupaya membenahi niatku untuk semata-mata bertaqarrub padaNya. Total meniatkan sebagai ibadah dan buah cinta kita karena telah diberi pemikiran oleh Allah. Dan..., aku berupaya menjaga wudhuku ketika menulis. Jika batal, aku akan langsung wudhu kembali karena aku tidak ingin saat kotorku dapat merusak semua tatanan dalam seluruh rangkaian karya itu. Seperti yang terjadi saat perang uhud, hanya karena kekhilafan kurang dari 4% pasukan Rasulullah saw kemenangan yang telah didapatkan berbalik menjadi musibah. Aku hanya berupaya membuat asal-muasalnya bersih untuk hasil kuserahkan segalanya padaNya.” Faza mengakhiri penjelasannya sambil tersenyum.

“Satu hal lagi pertanyaanku tentang novelmu.”

Faza mengangguk, seperti saat diwawancarai Lampung Post saat program pembinaan untuk seluruh sekolah menengah di Kota Metro dua minggu yang lalu. Faza belajar ketenangan itu sungguh dari pengalaman dan belajar. Tidak ada pengetahuan tanpa belajar dan pengalaman.

“Apakah itu cerita aslimu?”

Faza sudah dapat menebak dari awal tentang pertanyaan yang sering muncul dari seorang Penulis, “90% cerita saya Kak, karena saya membukukan kisah hidup saya dalam buku catatan. Saat itulah saya dapat melihat saat hati saya bimbang, saat-saat yang membuat perasaan saya kuat kembali. Saat itulah aku menuangkannya untuk dapat menjadi ibrah jika ada yang mambaca karya saya.”

Umar mengangguk.

Hening sejenak.

“Kau lelaki hebat Faz, dan kedatanganku mencarimu salah satunya adalah karena keteguhan jiwamu.”

“Maksud kak Umar?”

“Mungkin inilah inti kenapa aku mengundangmu kesini, sebelumnya aku minta maaf jika nanti mengagetkanmu,” Umar menghirup udara masjid yang sejuk, pelan. Faza khusyuk menunggu kata-kata yang akan keluar dari lelaki di depannya kini.

“Seorang wanita yang telah siap menikah datang padaku, dia meminta pendapat dariku untuk meminta saran tentang pernikahannya. Aku menyarankannya untuk segera menikah, karena kulihat kesiapan darinya telah tampak. Sebenarnya dia ingin melanjutkan S2nya, tapi ternyata dia menyatakan jika bisa kuliah lagi dan menikah kenapa tidak?” Umar kembali menghirup udara dalam-dalam.

“Lalu..., ada masalah apa dengan Kakak?” Faza tak sabar.

“Kau ini tidak sabaran Faz,” Umar tersenyum.

Hening.

Umar menatap Faza dalam-dalam, “Masalahnya adalah aku dimintanya untuk mencarikan suami yang shalih untuknya,” Umar memegang pelan pundak Faza. Teramat lembut sehingga terasalah itu adalah sentuhan cinta, “Apakah kau sudah siap menikah Faz?”

Bagai ada petir di tengah siang panas itu, seolah suara mengguntur dan menggelegar di telinganya. Pekak seketika.

“Apa Kak?”

“Aku tak perlu mengulanginya lagi kan Faz, kau pasti sudah paham.”

Pertanyaan barusan adalah respon dari keterkejutannya saja. Tapi satu hal yang pasti, Faza sudah tahu kemana arah pembicaraan itu selanjutnya.

“Tapi...,” kalimat Faza terhenti. Wajahnya tertunduk sejenak.

“Aku tahu, kau masih punya tanggungan adikmu dan dirimu sendiri. Kubaca itu dalam novelmu, tentang kerja kerasmu, tentang keteguhan bertahan dalam setiap badai. Dan itulah kenapa wanita yang siap menikah itu setuju jika menikah denganmu, dia siap menjadi pendampingmu dengan segala resikonya. Dia sudah mengenalmu dengan baik seperti aku mengenalmu dengan baik.”

“Tapi Kak...,” kalimat itu menggantung. Sebenarnya dalam lubuk hatinya yang dalam, dia telah merindukan adanya pendamping hidup. Hanya keragu-raguan selalu menghinggapinya ketika melihat senyum Azizah, dia tidak mau senyum itu hilang dari wajahnya yang selalu mengingatkan akan almarhum ibunya, seluruhnya sangat mirip.

“Kau tahu siapa wanita itu?”

Faza hanya menggeleng, kabar barusan saja membuatnya sudah berpikir keras.

“Dia adalah adikku, Naurah Lathifah An-Nawwar. Dia berharap engkau mau menjadi pendampingmu dari sikapnya ketika aku menawarkan namamu.”

Perfect. Lengkap seolah guntur-mengguntur memukul seluruh sarafnya dari mulai ubun-ubun hingga ujung kakinya. Tempatnya duduk seolah bergetar, matanya kunang-kunang sempurna, hatinya seolah dipenuhi kabut, sebuah hal yang baik pada dasarnya tetapi karena waktu dan tempatnya tidak tepat. Sangat tidak tepat.

Bayangan kenangan menghilang seketika memburam dan menghilang digantikan dengan suara sepi malam, karena sepi juga bagian dari suara. Suara yang hanya bisa didengar oleh orang-orang yang ingin mendengarnya saja. Bulan menatapnya syahdu di petala langit.

Kenapa aku tak bisa mengatakannya? Lidahku seolah kelu di hadapannya. Lutfi, maafkan keterbatasanku kali ini, aku belum siap memberitahukannya. Aku tak ingin, sungguh tak ingin melihat wajahmu yang kemarin baru saja bersinar. Aku tak pernah melihat sinar wajahnya secerah hari itu. Dan..., aku yakin dengan keterangan itu wajah cerah itu akan hilang seketika.

Allah..., kuatkanlah hamba untuk segera menceritakan semua ini padanya. Aku mencintainya karena Engkau ya Allah. Dan pada akhirnya, Engkaulah penentu segalanya. Engkaulah yang mengatur segalanya, hamba yakin seandainya ada semut yang menggigit kulitku, semua atas kehendakMu, hamba yakin hidup dan matiku adalah di genggamanMu. Allah..., hamba berusaha bertawakkal padaMu.

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat). Dan (ketika pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” 

          

Ya Allah, aku minta yang terbaik padaMu dengan ilmuMu, aku minta ketetapan padaMu dengan qodratMu, aku minta padaMu dari karuniaMu yang agung, maka sesungguhnya Engkau kuasa, sedangkan aku tidak; Engkau tahu sedangkan aku tidak; Engkaulah yang paling tahu keghaiban. Ya Allah, jika Kau mengetahui kalau perkara pernikahan dan persahabatan ini mana yang harus kutetapkan, jika di antara satu itu baik bagiku, agamaku, hidupku dan akhir urusanku, maka mampukanlah aku, mudahkan ia bagiku, lalu berkatilah aku. Dan jika Kau mengetahui kalau perkara ini jelek bagiku, agamaku, kehidupanku maupun akhir urusanku, maka jauhkan ia dariku, dan jauhkan aku darinya. Tetapkan bagiku yang lebih baik apapun juga, lalu ridhalah aku dengannya. 

Faza menyeka airmatanya. Malam ini teramat sepi di kontrakan, Rasyid hari rabu ini pulang ke Mesuji. Zilul dan Lutfi tak tahu entah kemana, tidak izin. Shafwan kelihatannya sudah tertidur. Sore tadi pun Faza dan Lutfi tidak buka dagangan karena sedang banyak tugas, liburan sekali-kali tidak apa-apa kan? Sekalian menghilangkan perasaan gundahnya yang akhir-akhir ini mengganggu konsentrasinya menyelesaikan skripsinya.

Matanya sangat susah untuk dipejamkan, dihamparkan sajadah untuk melakukan shalat istikharah. Baru kali ini dalam hidupnya seolah harus menentukan pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan. Ketakutan-ketakutan satu-persatu membayang dalam pikirannya. Takut mengecewakan kak Umar, takut menyakiti hati Naurah, takut menyakiti perasaan Lutfi setelah semua kejadian yang terjadi. Masalah cinta memang selalu membuat pusing hati orang yang dihinggapinya. Kecuali satu hal, cinta yang berlandaskan kepada Allah semata.

Tegakah hati ini menyakiti saudaraku sendiri? Lutfi..., lalu kak Umar? Bagaimana dengan Naurah? Lalu..., bagaimana dengan Azizah, adikku? Kenapa serumit ini ya Allah? Kuserahkan semuanya padaMu Allah, tuntunlah langkah hamba yang lemah ini.

Faza hendak mengambil mushafnya, saat berbalik ke belakang. Shafwan duduk di belakangnya mengikutinya shalat istikharah ternyata, airmatanya ikut tumpah. Dan..., Faza tidak sadar akan keberadaan Shafwan?

“Se..., sejak kapan di belakangku Shaf?”

“Dari bacaan Al-Fatihah di rekaat pertama Kak.”

“Kamu tahu kenapa aku shalat istikharah?”

Shafwan menggeleng, “Karena aku juga ingin shalat istikharah, jadi aku ikuti kakak saja.”

“Darimana kamu tahu kalau aku tadi shalat istikharah Shaf?” Faza menatapnya lembut.

“Kita bersaudara Kak, kulihat Kakak berlama-lama melamun di teras, menatapi bintang-bintang. Kak Faza pasti sedang memendam masalah, seperti ketika dulu memilih untuk mengambil cuti demi kuliah adik kak Faza. Saat itulah aku tahu, kak Faza sedang dihadapkan masalah. Dan aku memutuskan untuk mengikuti Kakak shalat.”

“Jadi kamu juga belum tidur Shaf?”

“Aku tak bisa tidur Kak?”

“Kau juga punya masalah?” sisa airmata masih menyisa menempel di sekitar mata Faza. Tertangkap siluet lampu neon beberapa watt di ruang tamu.

“Iya Kak, tapi masalah terbesarku ternyata tergantikan dengan permasalahan baru yang lebih menggelisahkanku.”

“Apa itu Shaf, bolehkah aku tahu?”

“Masalah baru itu adalah kesedihan kak Faza,” Shafwan menunduk, “Sungguh, aku tak rela melihat kak Faza bersedih. Jika ada di dunia ini orang yang membenci kak Faza, aku adalah orang yang pertama kali akan menegurnya. Aku tak akan bisa tahan melihat kak Faza menangis,” airmata Shafwan berguguran, gerakannya sigap segera menghapus dengan punggung tangannya.

Faza memegang kepala Shafwan dengan kedua tangannya, ditegakkannya kepala itu. Airmatanya mulai satu-persatu berjejalan. Saat mata mereka bertemu, terbayanglah akan kenangan diantara mereka, seolah menyatu.

“Kau adalah bukti cinta Allah padaku Shaf,” Faza pelan mencium kening Shafwan. Shafwan langsung memeluk Faza, mereka larut dalam tangis pelan, sepelan malam larut ini. Pukul 02.30.

Shafwan teringat semua hal tentang Faza. Mereka bertemu saat acara Mukhoyam  di Lampung Selatan, itulah kali pertama mereka bertemu. Saat berenang di sungai, Shafwan saat itu mandi, tak ada yang tahu karena dia ingin mandi dulu dan ditinggal kelompoknya. Dia tenggelam, tak bisa berenang. Saat air telah masuk ke mulutnya, seolah nyawanya akan melesat. Faza datang menolongnya. Saat itu Faza sedang mencari cabai di youth camp untuk di masak. Faza membopongnya dari atas puncak hingga ke tenda bawah, 3 jam.

Shafwan teringat pertama kali masuk ke kampus, yang mencarikan tempat kost pertama kali adalah Faza, yang mengajaknya pertama kali ke masjid adalah Faza, yang mengajaknya untuk mengikuti kajian Islam dan mencintai ilmu adalah Faza. Dan yang paling penting adalah..., mengajarkan kerja keras! Ya, kerja keras! Hard work.

Terkumpul banyak kebaikan dalam dirinya.

“Kak, boleh aku bicara?”

Faza mengangguk.

“Ini adalah tentang masalahku. Aku tidak berharap masalahku manambah beban pikiran kak Faza. Sungguh, aku telah terlalaikan dengan banyak kebaikan hanya karena permasalahan sepele. Jika permasalahanku ini mengganggu pikiran kak Faza, tinggalkan saja masalahku dan aku akan berusaha menyelesaikannya sendiri,” Shafwan masih tertunduk.

“Katakanlah Shaf,” suara Faza lebih lembut, seolah ingin memberikan perlindungan kepada yang sedang dilanda gelisah.

“Aku ingin minta bantuan kepada kak Faza untuk menyambung sebuah hubungan yang sebelumnya belum ada, menyambung silaturahim demi sebuah ketenangan hakiki. Shafwan tahu, Shafwan masih semester empat tapi kecenderungan untuk membina rumah tangga seolah sudah saatnya. Saya takut jika mengundurkan waktunya maka akan menjadi sumber fitnah bagi saya. Insyaallah saya akan berusaha bertanggung jawab semampu saya Kak,” Shafwan menghirup nafasnya dalam-dalam, mengeluarkannya pelan. Lega. Spacious.

“Shafwan yakin ingin menikah?” Faza segera paham.

Shafwan hanya mengangguk.

“Aku percaya padamu,” Faza memegang pundak Shafwan. Menguatkannya, “Sudah kulihat dari awal kita bertemu, tanggung jawabmu, kejujuranmu, ketegaranmu, juga kuatnya komitmen menjalankan amanah. Kau membutuhkan bantuan apa dariku Shaf?”

“Shafwan ingin Kakak yang melamarkanku padanya. Disetujui atau tidak, Shafwan akan menerimanya dengan lapang dada Kak. Setidaknya Shafwan sudah berusaha, dan Allahlah yang menentukan segalanya.”

“Baiklah, siapa wanita itu?” Faza menatapnya dalam.

“Azizah Kak.”

“Apa?” Faza memotong. Agak kaget.

“Iya, Azizah adik kak Faza,” Shafwan kembali menunduk.

Wajah Faza sedikit berubah. Kaget, “Kenapa kau ingin melamar adikku Shaf? Bukankah aku tidak pernah memperkenalkannya padamu. Bahkan, mungkin kau belum pernah bertemu dengan adikku.”

“Apa yang kak Faza katakan benar. Aku bahkan belum bertemu sama sekali dengannya. Tapi, kak Faza sering menceritakan tentangnya tanpa sadar. Aku yakin dia wanita yang amat membanggakan sehingga kak Faza selalu mengingatinya dan berkorban apa saja deminya. Shafwan yakin dia adalah wanita istimewa.”

Suasana hening.

“Aku akan berusaha bicara pada Azizah jika aku sudah siap, dan untuk semua keputusannya biarlah Allah yang menentukan,” Faza menatap lekat Shafwan.

Shafwan menggangguk.

“Ada satu alasan lagi Kak, kenapa aku melamar Azizah.”

“Apa itu Shaf?” Faza heran.

“Azizah pasti mewarisi kebaikan pada diri kak Faza.” 

Malam semakin larut, dan jiwa ingin segera beristirahat untuk meneruskan misi perjuangannya esok hari. Matahari juga sebentar lagi akan muncul dari ufuk timur dan masalah baru akan selalu hadir menghiasi hidup manusia. Tetapi, masalah yang datang hanyalah untuk dihadapi, bukan ditinggalkan dan melarikan diri.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!