Warna Pelangi Cinta
Belajar Ketegaran
Kenapa semua gelap? Allah...
Aku dapati diriku benar-benar dalam kelemahan, kegelapan, kehampaan. Dunia ini serasa sepi dan asing bagiku. Seluruh syarafku menggigil kuat, ada kekuatan yang mengendalikan jiwaku. Allah..., tolonglah hambaMu.
Aku bagai tak lagi berada di dunia, entah dimana. Akhirat? Bukankah akhirat tidak seperti ini? Ini hanya kegelapan dan keheningan. Dimana aku?
Sebuah cahaya apa itu? Dia jatuh dari langit? Masihkah ada langit? Yang ada hanya kegelapan. Seberkas cahaya itu jatuh menabrakku, terlampau besar. Aku berlari kencang menghindar, tapi tak bisa. Allah..., tolonglah hambaMu. Saat cahaya itu mengenaiku, tubuhku terasa lebih sejuk. Aku memejamkan kedua mataku lagi. Remang kudengar suara hingga aku menghilang dalam kegelapan.
”Hafidz, ingatlah Allah..., ingatlah Allah..., aku kak Faza, aku kakakmu Fidz, Aku Kakakmu..., aku mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu karena Allah Fidz. Ingatlah Allah”
Bibirku bergetar, ”Allaaaah,” dan kegelapan kembali melingkupiku.
Kutatap bintang-gemintang di langit. Tampak begitu tenang bertasbih padaNya. Aku ingin seperti bintang ya Allah, begitu tegar tanpa kenal lelah sekejappun. Aku ingin seperti rembulan yang bersinar kokoh, bertasbih padaMu tanpa meminta apapun dan tanpa protes sedetikpun. Allah..., kuatkanlah hambaMu.
Kuusap airmataku, aku harus tegar! Harus! Terbayang kembali riwayat cerita-cerita orang yang tegar di jalan Allah. Orang-orang yang telah berprinsip hidupnya, matinya, shalatnya, ibadahnya, bahkan setiap geraknya hanyalah untuk Allah.
Jadilah seperti Ahmad bin Hanbal wahai jiwa!
Orang-orang Filsuf di masanya telah menyebarkan isu tentang Al-Quran yang tidak sejalan dengan syariat, tidak lagi sesuai dengan zaman. Namun, masih ada orang yang mendukung pendapat Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal menentang keras pendapat yang melecehkan Al-Quran, ia harus berhadapan dengan orang-orang tersebut. Mereka meminta Ahmad untuk meralat pendapatnya, namun beliau menolak. Baginya Al-Quran mutlak sebagai pedoman dan kalam Allah.
Penolakan dan keteguhannya memegang prinsip membuatnya harus mendekam di penjara.
”Aku tidak takut dengan penjara. Penjara tidak ubahnya seperti rumahku. Aku tidak takut pada kematian, sebab mati adalah pintu kesyahidan. Namun, aku takut dicambuk,” ujar Ahmad bin Hanbal.
Mereka kemudian membawa Ahmad bin Hanbal untuk dicambuk. Di wajahnya nampak jelas ketakutan yang sangat karena hukuman cambuk tersebut. Di tengah perjalanan menuju ruang hukuman, Abu Haitsam ath-Thayyar, pencuri besar di zamannya yang kerap keluar masuk penjara, dapat melihat roman wajah Ahmad bin Hanbal yang ketakutan.
”Wahai Imam, selama hidupku aku pernah dicambuk 18.000 kali. Tegarlah, engkau dalam kebenaran wahai Imam! Imam, jika engkau hidup, engkau akan hidup terhormat. Dan jika engkau mati, engkau pasti mati syahid,” kata-kata itu keluar dari seorang pencuri besar yang kerap terkena hukuman.
”Kuatkan aku,” kata Imam Ahmad.
Ahmad bin Hanbal kemudian dicambuk.
”Aku telah mencambuknya dengan keras. Sekiranya gajah yang menghadapinya mungkin ia akan mati,” aku eksekutor yang mencambuk Imam Ahmad.
”Setiap aku hendak mencambuknya, aku berpikir, ’Setelah cambukan berikut, ia pasti akan membuka mulutnya. Sebab punggungnya telah luka parah,” lanjut eksekutor.
Seorang lelaki lewat di hadapan Ahmad bin Hanbal yang kala itu sedang menjalani hukuman.
”Apakah engkau mau minum imam?” tawarnya.
”Aku puasa,’ jawab Imam Ahmad sambil menatapnya.
Selang beberapa waktu kemudian, datang lelaki lain menawarkan kepadanya, ”Ibnu Hanbal, engkau sudah sangat menderita. Bukankah engkau mempunyai keluarga yang mungkin dapat sedikit meringankan deritamu?”
”Jika engkau berpikir seperti itu, maka sungguh aku telah tenang,” Ujar Imam.
Matanya menatap lelaki tadi, ”Lihatlah manusia-manusia itu, mereka menghendaki agar aku berkata. Sungguh kekeliruan ulama akan membuat kehidupan menjadi hina.,” lanjutnya. Seorang ulama adalah panutan dan hukumnya akan digunakan oleh umat.
Dan..., Imam Ahmad mampu tegar. Ketegaran yang luar biasa dalam memperjuangkan kebenaran.
Jadilah seperti Umar Mukhtar wahai jiwa!
Umar Mukhtar, lion of desert. Seorang pejuang yang teguh di jalan kebenaran, mujahid berusia lebih dari 73 tahun. Dia mencari dan mempertahankan kebenaran. Inilah detik-detik terakhir hidupnya yang mencerminkan keteguhannya dalam memegang prinsip.
Saat itu, dia diinterogasi oleh pihak kepolisian Italia.
”Apakah Anda melawan pemerintah Italia?”
”Ya!” ujarnya tenang.
”Anda memprovokasi massa untuk mengangkat senjata?”
”Ya!”
”Apakah Anda tahu apa hukumannya?”
”Tahu!”
”Anda yakin dengan yang Anda katakan?”
”Yakin!”
”Sejak kapan Anda memerangi pemerintah Italia?”
”Sejak sepuluh tahun silam! Sejak penjajahan kepada kaum muslim.”
”Anda menyesal?”
”Tidak!”
”Tahukah bahwa anda akan dihukum mati?”
”Tahu!”
Dalam sidang pengadilan, hakim berkata kepada Umar Mukhtar, ”Saya sangat sedih jika Anda harus berakhir seperti ini.”
Dengan penuh percaya diri Umar Mukhtar menjawab, ”Ini justru lebih baik bagiku untuk mengakhiri hidup dengan indah.”
Hakim menawarkan pengampunan melihat usia Umar sudah renta, dengan syarat ia mau menulis kepada para mujahidin agar menghentikan perlawanannya terhadap Italia dan menyerah. Namun, ia menolaknya mentah-mentah, ”Telunjuk yang menyaksikan tiada Tuhan selain Allah di setiap shalatnya, tidak akan pernah menulis kebatilan,” tegasnya.
Umar Mukhtar gugur sebagai syahid. Namanya terukir dalam daftar sejarah. Ia mati sebagai orang yang memegang teguh kebenaran. Tegar dalam setiap cobaan hidup.
Jadilah seperti Sa’id bin Jabir wahai jiwa!
Hiduplah seorang pejuang besar pada masa pemerintahan Hajjaj bin Yusuf yang zalim dan kejam. Sa’id menentang semua kebijakan Hajjaj dan terang-terangan menyatakan perlawanan terhadapnya. Pada akhirnya Sa’id ditangkap dan dihadapkan kepada Hajjaj.
”Siapa namamu?” tanya Hajjaj dengan nada menghina. Padahal ia sudah sangat mengenalnya.
”Said bin Jabir.”
”Bukan, tapi Syaqiyy bin Katsir,” Hajjaj sengaja membalik namanya.
”Ibuku lebih tahu tentang nama yang diberikannya padaku.”
”Celaka dirimu, juga ibumu!” cela Hajjaj.
”Hanya penghuni neraka yang akan celaka. Adakah engkau mengetahui yang ghoib?”
”Aku akan mengganti duniamu dengan api yang membara,” ancam Hajjaj.
”Demi Allah! Jika aku meyakini Engkau kuasa melakukannya, sungguh aku akan menuhankanmu, menggantikan Allah,” tantang Sa’id.
”Lalu mengapa Engkau lari dariku?”
”Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, ” jawab Sa’id.
”Hukuman mati apa yang engkau pilih, wahai Said? Sungguh engkau akan kuhukum mati.”
”Aku memilihmu! Setelah membunuhku, tidak berapa lama lagi Allah pasti akan membunuhmu!” ancam Sa’id.
”Aku akan membunuhmu dengan cara yang tidak wajar. Aku tidak pernah membunuh seseorang seperti ini sebelum dan sesudahmu,” ancamnya.
”Bila demikian halnya, engkau menghancurkan duniaku, dan aku akan menghancurkan akhiratmu.”
Mendengar ucapan Said, Hajjaj akhirnya berang dan memanggil penjaga, ”Ikat dan bunuh dia!”
Sa’id tertawa ketika diseret oleh algojo yang siap mengeksekusinya.
”Apa yang membuatmu tertawa?” tanya Hajjaj gusar.
”Aku menertawakan kelancanganmu terhadap Allah dan betapa Allah sangat merindukanmu,” jawab Sa’id tersenyum.
Mendengar itu, amarah Hajjaj semakin memuncak, ”Bunuh dia!!!” teriaknya.
”Tolong hadapkan wajahku ke arah kiblat,” pinta Sa’id saat hukuman.
Mereka kemudian meletakkan pedang di lehernya.
”Sungguh aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan. ”
”Palingkan mukanya dari kiblat!” perintah Hajjaj.
”Dan kepunyaan Allah-lah di timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. ”
”Benamkan wajahnya ke tanah!” teriak Hajjaj kesal.
”Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. ”
Hajjaj memekik keras, ”Bunuh dia!!!”
”Asyhadu an laa ilaa ha illa Allah wa anna muhammad Rasuulullah,” kemudian dia berdoa sebelum meninggal, ”Ya Allah, jangan Engkau menjadikannya penguasa sepeninggalku.” Sa’id pun tewas.
Setelah membunuh Sa’id, setiap malam Hajjaj berteriak, ”Apa salahku kepada Sa’id bin Jabir? Bila aku hendak tidur, ia seperti menarik kakiku.”
Lima belas hari kemudian, Hajjaj akhirnya meninggal. Allah menghentikan kezalimannya setelah Sa’id tiada.
Faza mengusap airmatanya dengan ujung sorban yang dikalungkan di lehernya. Lalu..., siapakah aku ini? Sungguh tidak sebanding dengan ketegaran manusia-manusia pilihan Allah. Dan..., selama ini aku telah berlaku sombong? Naudzubillah min dzaliik.
Kini semua tergantung kepada jiwa ini. Akankah jiwa ini tegar, apapun taruhannya? Aku harus bisa seperti para pejuang yang tak pernah bersedih dan berputus asa. Aku harus tegar, walaupun seluruh manusia mengendur semangatnya. Aku harus tegar. Andai semua manusia sejagat melupakan Allah, aku haruslah tegar. Dan cobaan ini belumlah seberapa Allah, dibanding para pencintaMu. Aku hanyalah manusia yang berlumur dosa yang mencoba mendekatkan diri padaMu. Kuatkan ya Allah...
Dan, aku masih punya banyak waktu untuk mempersembahkan yang terbaik untukMu ya Allah.
Aku teringat pesan Ibnu Qayyim rahimallah, ”Setiap nafas yang keluar dan keringat yang menetes bukan pada jalan Allah dan tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat, kelak pada hari kiamat ia akan menjadi penyesalan-penyesalan.”
Setiap nafas? Sungguh mengerikan! Akankah aku diam saja, aku harus tegar! Ya! Aku harus menggunakan waktu yang tersisa sebaik-baiknya.
Bukankah Ibnu al-Jauzi suatu ketika ditanya setelah menyampaikan pelajarannya, ”Mari kita mengobrol santai sejenak.”
”Jika begitu, hentikan matahari untuk sementara waktu,” jawab Ibnu al-Jauzi.
Lain lagi dengan riwayat Ibnu Aqil yang menulis buku besar, ’al-Funuun’ dengan jumlah 800 jilid. Merupakan buku terbesar sejak Adam hingga mungkin hari kiamat. Dia berkata, ”Meski telah berusia 80 tahun, aku masih memiliki semangat, kegigihan dan keinginan untuk memanfaatkan waktu seperti ketika masih berumur 20 tahun,” ujarnya.
Dia menjawab ketika ditanya seseorang, ”Aku tidak makan seperti kalian makan.”
”Lalu bagaimana engkau makan?”
”Aku menyiram kueku dengan air hingga mencair. Setelah itu, aku menghabiskannya dengan cepat agar tidak memakan banyak waktuku.”
Subhanallah. Saat ini, begitu banyak dari umat ini yang menghabiskan banyak waktunya di shoping, di mal, di cafe-cafe, ngobrol di jalanan, berliburan, menonton televisi. Bahkan ada seorang yang berkata dengan santai, ”Saya sedang menghabiskan waktu?” karena inikah umat ini terlantar? Siapa lagi yang ingin memperjuangkan agama Allah ini, kecuali tegar dan bangkit dari segala keterpurukan.
Sejarah selalu mencatat perjuangan orang-orang besar. Tidak terhalang oleh segala masalah pribadinya yang sempit, bukankah dunia ini kumpulan permasalahan-permasalahan? Bukan terletak pada kekuasaan dan kekayaan kemulyaan itu, tapi pada karya besar yang dihasilkannya. Aku harus tegar...
Usamah ibn Zaid, misalnya, ia memimpin pasukan Muslimin ketika berusia 16 tahun memimpin pasukan yang bukan sembarang pasukan biasa. Pasukan yang di dalamnya terdapat banyak sahabat besar Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda, ”Dia lebih pantas dan mampu. ”
Lalu ada Muhammad al-Fatih yang berusia 23 tahun. Ia berhasil menaklukkan Konstantinopel, yang belum pernah dijamah oleh pasukan Muslimin sebelumnya. Disana ada Sa’ad ibn Mu’az yang memeluk Islam di usianya yang ketiga puluh dan wafat ketika genap berusia 37 tahun dalam sebuah perang. Rasulullah saw bersabda, ”Arsy bergetar sebab kematian Sa’ad ibn Mu’az. ”
Rasulullah saw juga bersabda, ”Sungguh malaikat telah turut mengangkatnya. ”
Betapa beruntungnya Sa’ad. Apa yang telah ia lakukan selama tujuh tahun sehingga mendapat tempat yang begitu terhormat? Tentunya dengan menghabiskan seluruh waktunya untuk Allah Azza wa Jalla, tanpa tersisakan sedikit pun.
Aku teringat sebuah cerita yang menggetarkan jiwaku. Kisah Imam Nawawi, pengarang kitab Riyaad as-Shaalihiin, beliau meninggal pada usia 40 tahun dan belum sempat untuk menikah. Ia menyibukkan dirinya dengan ilmu pengetahuan saat berada di bawah kepemimpinan zalim. Tahukah berapa jumlah buku yang dikarangnya? Subhanallah, 500 buah buku! Kemudian aku teringat bagaimana cara Imam Nawawi makan?
”Sungguh aku tidak makan dan tidur kecuali terjatuh,” ujarnya.
Hampir-hampir beliau tidak punya waktu untuk makan dan tidur? Sehingga selalu telat dan terjatuh. Tapi diri ini ya Allah..., alangkah melenakanMu dan lebih mementingkan syahwat yang terus menggoda.
Suatu kali Ibunda Imam Nawawi berkata saat Imam sedang menulis kitab.
”Anakku, aku telah menyiapkan makanan untukmu.”
”Ibu, saya sedang sibuk dengan ilmu,” bujuknya, ”Nanti saja.”
Ibunya tak tega. Tanpa disadari Imam Nawawi sang Ibu kemudian menyuapinya ketika Imam Nawawi sedang menulis dan berpikir.
Imam Nawawi menyelesaikan pekerjaannya ketika adzan subuh.
”Ibu, mana makanan yang tadi Engkau sediakan?” tanyanya.
”Sungguh anakku, aku telah menyuapimu,” jawab Ibunya.
”Sungguh aku tidak merasakannya Ibu, aku lupa,” ujar Nawawi rahimallah.
Ibnu Rajab rahimallah berkata, ”Dengan jariku ini, aku telah menulis lebih dari 2000 jilid buku.” menurut riwayat beliau berhasil menulis 9 jilid buku setiap harinya.
Keteguhan macam apa ini ya Allah? Ketegaran macam apa yang mereka miliki ya Allah? Kemulyaan apa yang ada pada mereka ya Allah? Dan hamba ini..., aku kini hanya bisa menangis menyesali karena aku belum bisa berbuat banyak untuk umat, mana sumbangsih hamba? Kini aku harus memulai segalanya dengan komitmen ketegaran. Harus!
Aku mengepalkan tanganku kuat, kutatap bintang gemerlapan. Semangatku membara, ini hanya ujian ringan ya Allah..., dan hamba akan berusaha menyelesaikannya dengan kehendakMu. Allah..., selimutilah jiwa ini dalam semangat setebal gunung uhud.
”Kenapa mereka belum datang Shaf?” Rasyid tampak panik. Akad hampir tiba waktunya. Sedari tadi kuperhatikan seolah dia mencurigai segalanya, sudah beberapa kali bertanya pada Shafwan, dan Shafwan hanya memintanya sabar menunggu.
Rasyid mendekatiku, ”Pipi kak Faza kenapa sedikit tembam?”
”Tidak sengaja terbentur,” aku mencoba tersenyum. Aku tidak bohong bukan? Karena pukulan Lutfi tidak kukira sama sekali.
”Kok bisa Kak,” Rasyid balas tersenyum, ”Kak, kenapa Hafidz belum datang? Bukankah dia sudah pulang kemarin?”
”Dia izin tidak datang Syid. Dia sedang ada halangan, tapi insyaallah dia mendoakanmu sepenuh hatinya.”
Rasyid menunduk sejenak, ”Kenapa mereka tidak datang di hari penting bagiku Kak? Apakah ada hal yang lebih penting dari pernikahanku baginya?”
Aku menatapnya dan menganggukkan kepalaku, ”Bukankah kau yang mengajarkan padaku agar selalu husnudzan? Aku yakin ada urusan penting yang tak bisa ditinggalkannya. Bukankah lebih baik jika setiap kegiatan berjalan tanpa ada yang terhalangi? Insyaallah dia akan datang jika urusannya sudah selesai.”
Rasyid mengangguk.
”Lalu..., bagaimana dengan kak Lutfi dan kak Zilul? Padahal mereka sudah aku hubungi. Kak Zilul Hp-nya aktiv tapi Kak Lutfi tidak bisa saya hubungi dari kemarin.”
Aku tak membiarkannya banyak berpikir, aku langsung memeluknya. Airmataku menetes, ”Semua mencintaimu Syid, jangan berpikir aneh-aneh. Kau tidak boleh membuat suasana bahagia ini menjadi acara kepanikan. Ingat itu, percayalah pada Allah.”
”Adakah terjadi sesuatu Kak?” kata-kata itu lirih terdengar oleh telingaku, sangat pelan. Aku menepuk pelan punggungnya.
Aku melepaskan pelukanku, ”Yakinlah, Allah akan memberikan yang terbaik. Kesanalah, akad sebentar lagi dimulai. Penghulu sudah datang,” aku membuat nada bicaraku setenang mungkin, ”Jika kau bahagia, tentu kami semua merasakannya Syid, kesanalah.”
Kulihat dia ragu melangkah, namun akhirnya berbalik dan menuju ruangan depan. Kakinya melangkah penuh keraguan, wajahnya menengok kembali. Aku mengangguk menguatkannya dan mengangkat jempol tangan kananku. Dia tersenyum dan mulai terlihat mantap mendekati kursi di ruangan depan.
Aku harus tegar ya Allah!
Aku mengambil Hp, mengetik beberapa kata, selesai. Kukirim pada Lutfi.
”Asw. Datanglah keacara walimah Rasyid, dia amat mengharapkan kehadiranmu. Urusan kita berbeda, jika kau telah tenang aku akan menjelaskan segalanya. Maafkan aku. Kumohon datanglah sahabatku.”
Aku harus tegar!
Aku mengetik beberapa kata, untuk Zilul kukirim.
”Asw, kumohon datanglah keacara walimah Rasyid, dia membutuhkan kehadiran kita. Dan dengarlah penjelasanku sahabatku. Datanglah.”
Aku memasukkan Hp kembali. Aku merasa tak kuat ya Allah? Aku berlari ke mushola. Apa yang ditakutkan Rasulullah saw benar-benar terjadi.
Aku memohon tiga hal kepada Rabbku, lalu Dia mengabulkan dua permohonan dan tidak mengabulkan permohonan yang satu, aku memohon kepada Rabbku agar tidak membinasakan umatku dengan masa peceklik, lalu Dia mengabulkannya untukku. Aku pun memohon kepadaNya agar tidak membinasakan umatku dengan ditenggelamkan, lalu Dia mengabulkannya untukku dan aku pun memohon agar tidak menjadikan kebinasaan umatku ini dengan perang saudara (permusuhan) antara mereka, tetapi Dia tidak mengabulkannya.
Dimana kak Faza?
Acara hampir dimulai, kemana dia? Aku dapat merasakan apa yang dirasakannya. Zilulah baru saja datang, dia sudah duduk di belakang Rasyid. Wajahnya nampak dipaksakan tersenyum. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku tahu. Kak Faza pasti di mushola, mungkin shalat dhuha. Atau..., mencoba menenangkan hatinya?
Aku berlari menuju mushola di dekat rumah Nirmala. Itu dia sandalnya, aku hafal sandalnya. Aku berjalan mendekati mushola pelan, mengambil wudhu. Langkahku kepelankan, dan suara isak lirih itu terdengar mengiris-iris hatiku.
”Allah..., tegarkan, kuatkan hambaMu ini.”
Kata-kata itu lirih tertangkap di telingaku. Aku semakin memelankan langkah kakiku mendekatinya. Aku tepat duduk di belakangnya. Dia mengakhiri doanya, namun masih betah duduk.
”Kak Faza...,” kupelankan suaraku agar tak mengganggunya.
Tangannya sigap menghapus airmatanya. Dia berbalik kearahku, ”Ada apa Shaf?” lihatlah wajah tenangnya? Pipinya yang memar ditutupinya dengan sedikit diberinya bedak agar tak kelihatan. Dia juga yang menyuruhku untuk jangan dulu menceritakan apa yang terjadi pada Rasyid. Dia tidak ingin pernikahan itu batal dan merusak kebahagiaan. Biarlah nanti setelah semuanya membaik saja.
”Apakah akad nikahnya sudah dimulai?”
”Kak,” aku memeluknya, dia tadi malam telah menceritakan seluruh kejadian itu.
”Jangan cengeng. Ayo kita harus melihat akadnya berlangsung.”
Aku mengangguk. Dia menghapus airmataku dengan jemarinya, kami bergegas ke rumah Nirmala. Jujur, calon isteri Rasyid itu sungguh cantik seperti yang diceritakan Rasyid waktu itu. Aku tersenyum, ikut dalam alur kebahagiaan.
”Calon isteri Rasyid cantik bukan?” kak Faza mencandaiku sambil berjalan, aku mengangguk. Sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan.
”Yang terpenting adalah kecantikan di hatinya, semoga dia seperti yang diceritakan Rasyid waktu itu.”
Kami berjalan mendekat, akad hampir dimulai. Kami duduk di belakang Zilul. Zilul menengok sekali, tanpa reaksi, beku. Kak Faza masih terlihat tenang.
Saat akad tinggal beberapa detik lagi, Rasyid menoleh kearah kami, ada bening di kedua sudut matanya. Dia mengangguk, dan ijab qabul itu berjalan lancar. Alhamdulillah. Alangkah indah Engkau yang telah menciptakan kedua pasangan yang sama-sama ingin saling memujiMu. Rasyid nampak tampan dengan baju kokonya, dan..., isterinya sangat cantik. Sungguh serasi.
Setelah salam-salam, Zilul langsung pamit kepada Rasyid. Ada keperluan yang harus diselesaikannya, Insyaallah nanti kembali lagi.
Saat itu juga terjadi sedikit permasalahan sepele antara keluarga Rasyid dengan bi Lastri dan Nirmala. Mereka belum menemukan solusi yang terbaik. Permasalahannya adalah hendak tinggal dimana nantinya Rasyid dan Nirmala. Rasyid adalah anak terakhir, dan Nirmala juga belum bisa berpisah dengan bi Lastri di Metro.
Faza yang memanggil Zilul ingin mengejarnya namun diurungkan dan kembali lagi. Dia mendekati kami.
”Kenapa harus bingung?”
”Kak Faza punya solusinya?” Rasyid bertanya keheranan.
”Kenapa tidak mencoba tinggal jadi satu saja. Bukankah kau anak terakhir, dan kuliahmu juga belum selesai, Nirmala juga. Bagaimana jika kedua orangtua Rasyid pindah ke Metro, di rumah ini. Bukankah rumah ini sangat cukup untuk tinggal berlima? Dan bukankah semuanya bisa berkumpul? Tidak ada yang akan kesepian dan merasa kehilangan bukan?”
Handoko, ayah Rasyid manggut-manggut menanggapi arahan Faza, ”Iya benar. Kenapa tidak kepikiran kesana ya? Kita juga harus memperhatikan pendidikan mereka yang belum selesai. Sedangkan kebun sawit kita bisa kita minta kelolakan adikku, dan kita bisa mencari penghidupan yang lain di kota ini.”
Semuanya manggut-manggut tanda setuju, terutama bi Lastri yang sulit berpisah dengan anak majikannya itu.
”Jazakallah Kak, saya tidak sempat terpikir seperti itu,” Rasyid memegang kedua pundak kak Faza.
”Kau ini Syid, bukan tidak terpikir tapi karena pikiranmu kini sedang dilanda bahagia,” Faza tersenyum.
Acara itu berjalan lancar, tapi sedari tadi kulihat Rasyid terlihat penasaran. Tapi dia kelihatan urung bertanya padaku. Kak Faza dan Aku pamitan lebih cepat dari waktu yang diharapkan Rasyid. Rasyid sedikit kecewa, tapi dia segera maklum karena kita telah sama-sama tahu kesibukan masing-masing, terlalu dzalim jika memaksakan agenda pribadi kepada orang lain yang harus menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Saat berada di luar, Faza mempercepat langkahnya, ”Ayo Shaf, Hafidz pasti membutuhkan kita sekarang.”
Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Kulihat beberapa kali saat berjalan kak Faza dan kak Faza mengusap airmatanya yang menetes di pipinya.
”Shaf, apakah selama ini aku telah menjadi Kakak yang baik buatmu, Rasyid, dan Hafidz?” dia melihatku dan kembali pandangannya lurus ke depan sambil melangkah cepat.
”Sudah Kak,” aku ikut merasakan apa yang kini dirasakannya. Dan kami harus segera, dalam bayangan kami hanya ada satu sosok yang sangat membutuhkan kehadiran kami. Hafidz.