Warna Pelangi Cinta

Menyingkap Kabut

Sahabat macam apa Dia! Menusuk dari belakang! lelaki bertubuh atletis itu menendang rak sepatu kayu di hadapannya. Beberapa sepatu berhamburan mencelat, Bunda dan Adiknya sudah berangkat ke sawah untuk membersihkan tanaman padinya dari gulma. Bunda tidak ada pesanan sehingga hari ini ke sawah yang hanya dua petak kecil.

Baru kemarin lelaki itu pulang dari metro, kini dia uring-uringan di rumahnya di Blitang. Emosinya naik.

Lutfi mengambil Hp di sakunya, diaktivkan. Beberapa detik, tidak sampai limabelas detik Hp-nya berdering. SMS.

”Asw. Datanglah keacara walimah Rasyid, dia amat mengharapkan kehadiranmu. Urusan kita berbeda, jika kau telah tenang aku akan menjelaskan segalanya. Maafkan aku. Kumohon datanglah sahabatku.”

Lutfi mencerna pelan kata-kata dalam Hp-nya. Subhanallah, Rasyid menikah hari ini? Kenapa aku tidak diberitahu? Ini juga karena kesombonganku? Tapi Fazalah penyebab semua ini! Ya, dialah perusak! Dia pembohong! Dia pendusta! Lutfi sekali lagi melepaskan amarahnya kepada rak sepatu kayu itu. Kayu itu patah di bagian ujungnya.

“Naurah...,” Lutfi terjatuh, lututnya beradu langsung dengan alas semen rumahnya.

Sebenarnya apa yang terjadi denganku ya Allah? Salahkah aku? Apakah aku salah pada Faza? Apakah ini karena kesombonganku? Apa yang merasukiku? Tanpa terasa airmatanya jatuh menggenang di alas semen, bagai buliran embun yang masuk melalui celah-celah jendela di malam hari.

Allah..., dimana lidah yang sering berdzikir kepadaMu? Dimana Al-Quran yang selalu menggema di hatiku? Dimana shalatku yang lima waktu? Dimana mulut ini yang berpuasa karenaMu? Allah..., kenapa tak tersisa? Kemarin aku dalam kondisi baik dan kini, kenapa aku tak kuasa lagi menahan semua ini?

Apakah aku termasuk dalam ayat Al-Quran yang Engkau sifati ya Allah?

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka apabila memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, apa yang akan ia lakukan? Berbaliklah ke belakang. Tidak lagi taat dan meninggalkan ibadah. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” 

Ayat ini pernah ditegaskan oleh Abu Bakar ash Shidiq saat kaum Muslimin menghadapi ujian terberat dalam sejarahnya, ketika Nabi saw wafat, “Siapa yang menyembah Muhammad saw, sungguh Muhammad telah mati. Kemudian siapa yang menyemba Allah sungguh Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati,” tandasnya.

Apakah aku termasuk orang-orang yang Engkau sifati sebagai orang yang tak punya pendirian ya Allah? Yang terkadang baik ketika dalam kondisi bahagia sedangkan saat kondisi ujian hamba menjadi bingung seperti ini? Allah...

Lutfi menangis, airmatanya tumpah. Dia teringat sebuah hadits Rasulullah saw, ‘Sumber segala dosa adalah cinta dunia.’ 

“Kakak kenapa?” sesosok wanita berjilbab telah ada di samping Lutfi, wanita itu masih memakai caping ketika membantu orangtuanya membersihkan gulma. Nabil Zakiah Nashif.

“Aku hanya sedang tak enak badan Dik, makanya aku tadi gak ke sawah membantu kamu dan Bunda,” Lutfi pura-pura mengucek matanya yang sayu sambil memaksakan diri tersenyum.

Nabil lebih seksama memperhatikan kakaknya.

“Kakak bohong padaku?”

“Maksud Nabil apa?” Lutfi masih tersenyum.

“Senyum Kakak kali ini teramat hambar, Kak Lutfi masih mau berbohong pada Nabil dan tak mau menceritakan masalah Kakak?”

“Tapi aku benar-benar tak punya masalah adikku,” adikknya kini teramat elok, dulu sangat manja. Tak sia-sia rasanya dia berjualan di depan kontrakan selama ini untuk menambahi biaya kuliah adiknya itu. Lelahnya saat malam dan udara dingin yang menyergap tak memundurkan langkahnya demi adik tercintanya dapat melanjutkan pendidikannya. Faza...

“Bengong lagi kan? Ayo cerita sama Nabil.”

“Sungguh aku tak punya masalah,” wajah itu nampak sedikit jengkel.

“Tak punya masalah? Lalu kenapa semuanya berantakan. Lihatlah sepatu berserakan dan rak itu patah.”

Lutfi kaget bukan main, wajahnya mendadak berubah panik. Dia tidak menyadari kondisi yang sebelumnya terjadi padanya. Dia telah melampiaskan kekesalan hatinya. Dia terduduk lemas di lantai, Nabil mengikuti duduk di sebelahnya.

“Aku sedang marah pada diriku dan pada seseorang,” Lutfi menghela nafas. Nabil menunggu kakaknya meneruskan ceritanya, “Aku marah pada diriku karena aku belum bisa menguasai diri ini dari nafsu yang selalu dapat menguasai Kakak. Perasaan aneh itu selalu membuatku tak berdaya, lebih perih daripada tertusuk duri dan tersayat pedang. Jika aku sedang tak berdaya, seolah aku merasa hina di hadapan Allah. Aku takut berbuat fasik akan cintaNya, aku takut aku menduakanNya secara tersembunyi, aku takut tergolong munafik. Aku sungguh takut Dik.”

Hening. Lutfi mengusap airmatanya.

“Apakah ini tentang kak Naurah yang Kakak ceritakan seminggu yang lalu? Wanita yang ingin kakak lamar melalui paman Fajar?”

Lutfi mengangguk, “Iya.”

“Kakak sudah melakukan yang terbaik dengan mengambil keputusan salah satu dari dua hal yang baik. Pertama memutuskan untuk menghilangkan perasaan cinta dan satunya melamarnya, yang perlu Kakak lakukan tinggal memperbaiki diri dan memohon kepada Allah untuk memberikan yang terbaik untuk kak Lutfi,” Nabil menatap pintu yang terbuka, hamparan langit biru tergambar jelas tertutup sedikit pepohonan kelapa yang menjulang.

Kau sudah dewasa kini adikku, “Itulah masalahnya,” Lutfi kembali menghirup udara pagi itu, “Sahabat yang aku percaya selama ini..., dia, dia telah melamar Naurah untuknya sendiri,” mata itu nampak sedikit membesar, “Kenapa dia tega melakukan itu padaku! Padahal dia sendirilah yang memintaku untuk melamarnya atau aku melupakannya? Sungguh aku membencinya!”

Nabil memperhatikan wajah Kakaknya sejenak. Belum berani komentar.

“Apakah dia memang sedang mempermainkanku? Kau tahu dia siapa Dik?”

Nabil menggeleng.

“Dia adalah orang yang selama ini kusanjung-sanjung di hadapanmu, dia adalah orang yang mengajak Kakak berjualan di depan kontrakan Kakak. Dia yang membantu Kakak membiayai kuliah, dia yang memotivasi Kakak. Tapi kenapa dia tega menikamku dari belakang!” Lutfi sempurna menangis, “Kenapa dia tega melakukannya padaku? Apakah dia telah melupakan persahabatan yang selalu dia ucapkan padaku. Dia selalu bilang bahwa dia mencintaiku karena Allah, dan kini dia bagai serigala.”

Hening beberapa lama. Suara burung emprit berkicau di atas pohon sawo, meningkahi indahnya suasana waktu dhuha.

“Kakak yakin dia yang melakukannya?” Nabil hanya sering mendengar tentang kebaikan sahabat kakaknya itu tanpa tahu namanya. Lutfi selalu cerita tentang kebaikan budi dan tuturnya sahabatnya yang suka menolong itu, bahkan pernah salah satu penghuni kontrakan yang sakit dan dialah yang menolong dengan uang sakunya sendiri. Nabil sedikit penasaran, di kontrakan Kakaknya hanya enam orang yang tinggal. Apakah...

“Tentu sa...,”

“Apakah yang Kakak maksud adalah kak Faza?” Nabil memotong tanpa perhitungan sama sekali. Mereka saling berpandangan, sama-sama keheranan.

“Iya. Dialah orangnya. Dialah yang melamar Naurah, padahal dia sendiri yang memberi pendapat kepadaku untuk melamarnya.”

“Kakak sudah konfirmasi dengan kak Faza?”

“Untuk apa! Semuanya sudah jelas, tak ada yang perlu didengarkan darinya! Kemarin aku telah memukulnya.”

“Astaghfirullah Kak, kenapa Kakak belum tabayun ke beliau langsung? Kakak harus mengetahui juga penjelasan dari kak Faza, bukankah dia yang selalu membantu Kakak bahkan Kakak pernah cerita kalau dia pernah membayar tunggakan kuliah Kakak sehingga tidak di DO bukan? Ataupun jika dia melakukan kesalahan yang sesungguhnya akankah Seperti bumi yang terkena kemarau bertahun-tahun bisa sirna dengan datangnya hujan sekali. Semua kebaikannya tak tampak lagi?”

“Kau berbicara seperti membela dia, bukankah engkau tidak kenal dengan dia? Akulah yang mengenalnya, jadi aku tahu perilakunya.”

“Aku mengenalnya dengan baik Kak,” Nabil lurus menatap ke depan. Angin bergerak masuk memberikan semilir ke wajahnya yang jernih.

“Kenal baik?” Lutfi keheranan.

“Bukankah dia ketua Ghuroba? Aku sangat mengenalnya Kak, dia orang yang membawa kemajuan di Ghuroba karena saya adalah ketua Departemen Informasi dan Komunikasi.”

“Apa!” Lutfi kaget, “Jadi selama ini...,” ini merupakan pukulan keras bagi Lutfi, selama ini dia tidak tahu-menahu tentang apa saja yang dilakukan adiknya, ikut organisasi apa saja? Bagaimana dia bisa berbangga begitu saja membiayai adiknya kuliah dan membiarkan tanpa tahu apa yang dilakukan adiknya, yang penting sudah memberinya uang kuliah. Apakah aku terlalu disibukkan dengan dunia? Allah..., keluarga terdekatku sendiri tak kuperhatikan.

“Semua orang di Ghuroba tahu kapasitas kejujurannya Kak,” Nabil tenang menjelaskan, “Aku yakin kak Faza tidak akan melakukan hal kakak ceritakan tersebut. Aku yakin.”

Lutfi menatap lurus ke depan, benarkah? Tapi bukankah Zilul juga tak mungkin bohong? Allah..., tunjukkanlah jalanMu pada hamba. Aku telah berbuat dzalim padanya.

          

Bangunlah Fidz, tegarlah, kuatlah. Kami tak akan membiarkanmu bersedih lagi. Bangun dan tataplah dunia! Kami selalu disini menemanimu. Faza menggenggam kedua tangan Hafidz yang lemah.

Tubuh Hafidz masih menggigil, bibirnya terus bergetar. Shafwan mengganti kompres di kening Hafidz, dia telah tidak ingin lagi menyuntik Hafidz dengan suntikan penenang. Benar kata Faza, dia hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Beberapa hari yang lalu Faza mencoba melacak dua orang yang menjemput Hafidz, menghubungi teman-teman di Bandar Lampung namun hasilnya hingga beberapa hari ini masih nihil. Faza juga telah menghubungi Syaikh Wahab di Jakarta, ternyata beliau tidak sedang di Lampung selama sebulan ini dan beliau juga tidak pernah mengundang Hafidz untuk mendengarkan hafalan Hafidz.

”Bangunlah Saudaraku,” Shafwan mengelap wajah itu dengan air hangat dengan handuk kecil itu, ”Kami mencintaimu karena Allah, kau pasti dapat mendengar kami bukan? Bangunlah. Sungguh kami tak kuat melihatmu seperti ini, kau telah membagi semua deritamu kepada kami. Ayo bangunlah, aku ingin menyetorkan hafalanku lagi Fidz. Aku rindu dengan tilawahmu, aku rindu dengan senyumanmu,” Shafwan tak kuasa menahan perasaannya. Apalagi dia melihat ke mata Hafidz, mata itu mengeluarkan airmata dan menetes ke bawah hingga ke bantal. Shafwan memeluk Hafidz yang masih menggigil, bibirnya terus mendesahkan nama Allah.

Faza berdiri dan meninggalkan mereka, Allah..., kembalikanlah keceriaannya. Keceriaan saat matanya sakit ketika terlalu lama murajaah ayat-ayatMu. Sungguh hamba adalah saksinya, bahwa dia teramat mencintai Al-Quran, aku akan menjadi saksinya. Sungguh, dialah yang mendorongku mencintai Al-Quran. Dia telah melewati seluruh hidupnya dengan ujian dan kesabaran, aku siap menjadi saksinya ya Allah. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia kecuali dia bertahan hanya karenaMu ya Allah, sedihnya, bahagianya, senyumnya, ketenangannya adalah kerenaMu dan bermuara padaMu Allah, dan aku siap menjadi saksinya. Allah..., sembuhkan dia, kuatkanlah dia, berikanlah rahmatMu padaNya. Faza tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Faza berlari ke kamar mandi, mencuci bersih wajahnya. Faza mengambil air wudhu. Diambilnya sajadah dan digelarnya di ruang tengah.

”Allahuakbar.”

Banyak hal yang harus dikomunikasikannya dengan Rabbnya, semua permasalahannya. Dakwah, Naurah, Lutfi, Zilul, Adiknya, Hafidz, Shafwan, Skripsi..., semua ingin disampaikan padaNya. Betapa manusia itu sangat lemah, sangat tak berdaya, semua kekuatan hanyalah milikNya.

Iy yaa kana’budu waiy yaa ka nas ta’iin 

Faza menyelesaikan doanya, dilipatnya. Bertepatan dengan sebuah ketukan pintu dan suara salam terdengar lembut. Wanita.

Faza menjawab salam dan bergegas kearah pintu. Faza masih mengompres di kamar. Dibukanya pintu rumah pelan, perlahan pintu terbuka hingga tamu itu terlihat jelas, wajah itu terlihat sedikit kecewa setelah bertatap muka dengan Faza.

”Apakah ini jalan Tawes Kampus?”

”Iya, Mbak mencari rumah siapa?” Faza menundukkan pandangannya. Jujur, wajah itu sangat cantik, sangat mirip dengan adiknya. Matanya bening. Faza memaklumi mungkin wanita itu hendak bertanya alamat, karena walaupun Kota Metro adalah daerah yang termasuk kecil namun memiliki gang-gang yang begitu banyak di setiap sudutnya serta setiap gang itu memiliki nama masing-masing.

”Apakah ini rumah nomor 27?”

”Iya,” Faza semakin penasaran, ”Anda sedang mencari siapa?” wajah wanita itu sangat asing, belum pernah sama sekali melihatnya. Atau memang karena Faza jarang berkomunikasi dengan makhluk yang bernama wanita?

”Apakah ini rumah Hafidz Habibullah?” nada suara itu melembut dan memelan.

”Iya, Hafidz tinggal bersama kami disini. Anda siapanya?” Faza tahu dengan jelas siapa Hafidz, dia tidak memiliki saudara lagi kecuali satu orang wanita yang selalu dicarinya selama ini, Zulfakah?

”Apakah Hafidz sekarang ada?” wajah wanita itu kini tampak ceria, seolah dia melupakan pertanyaan-pertanyaan Faza.

”Hafidz sedang sakit, mungkin anda bisa lain kali datangnya dan bertemu dengannya setelah dia baikan.”

”Apakah dia sakit semenjak dari Tanjung Karang?” wanita itu kini wajahnya sempurna ingin tahu dan memerhatikan Faza seksama.

”Darimana anda tahu?” Faza lebih heran menatap wanita itu sejenak dan menunduk kembali. Ya’lamu khaa inatal a’yuni wa maa tukhfish shuduur.  Alangkah indahnya ayat ini, tak perlu perintah keras. Hanya sebuah ungkapan ringan namun akan berdampak besar bagi orang yang memahaminya dengan baik. Tak ada bisa disembunyikan manusia dari mata dan hatinya. Sungguh, Allah mengetahui meski disembunyikan serapat-rapatnya. Allah mengetahuinya.

”Apakah sakitnya parah?” wanita itu masih tak menggubris pertanyaan-pertanyaan Faza.

”Dia terus menggigil dan bibirnya hanya mendesah kata-kata untuk Rabbnya, dia hanya makan sedikit saja, tubuhnya masih lemah dan terus-menerus menggigil. Sebenarnya anda ini siapa?”

”Bolehkah saya duduk?” wanita itu seolah serba panik.

”Silakan, tapi sebaiknya di luar saja,” Faza mempersilakan wanita itu duduk di depan rumah, di ruang tamu luar yang memiliki  beberapa kursi. Semilir angin menerpa mereka, pepohonan buah rambutan menggoyang-goyangkan dedaunan dan rantingnya, musim penggugur. Daun-daun tua berjatuhan.

Shafwan yang penasaran ada suara-suara akhirnya keluar dari kamar, Hafidz sepertinya tertidur. Shafwan segera bergabung ikut duduk ketika dipanggil Faza untuk menemaninya berbincang dengan wanita tersebut.

Faza dan Shafwan terdiam melihat tingkah kegelisahan tamu mereka, sepertinya hendak cerita namun mungkin bingung hendak darimana.

”Aku tidak tahu hendak memulai cerita ini darimana. Baiklah, aku mulai dari ceritaku saja,” wanita itu menggigit bibirnya pelan. Harus kuat, ”Nama saya Nurul Fajriyah, saya kuliah di salah satu Universitas di Tanjung Karang. Saya adalah seorang yang tidak punya. Saya dan ibuku bekerja menjual sayuran matang di depan rumah kecil kami untuk para mahasiswa yang banyak membeli sayur matang daripada memasak sendiri.”

Nurul menggigit bibirnya sekali lagi, ragu-ragu namun bibirnya kembali bercerita, ”Hingga hari itu, Ibuku sakit keras,” mengusap airmatanya yang menyembul lembut, ”Aku bingung hendak mengobatinya dengan apa? Bahkan kuliahku belum terbayarkan sama sekali. Aku membawa Ibu ke rumah sakit untuk diperiksakan, ternyata beliau terkena serangan jantung dan membutuhkan perawatan intensif dan secepatnya harus dioperasi. Aku hanya bisa menangis, aku bingung saat itu. Dan kejadian itu tiba-tiba menghampiriku.”

Nurul mengambil tisunya dan mengelap airmatanya.

”Aku tidak tahu dia siapa, dia hanya menawarkan uang satu milyar jika saya bisa melaksanakan tugas yang dia berikan. Saat itu, yang ada di benakku hanyalah keselamatan ibuku sehingga aku menganggukkan kepalaku. Aku tidak peduli lagi apapun pekerjaan itu, akupun seolah pasrah saat itu jika aku harus menjual diriku. Saat itu aku sungguh bingung.”

Faza dan Shafwan hanya menunduk dan mendengarkan cerita Nurul. Mereka belum mengetahui hendak kemana cerita wanita itu.

”Hingga tiba hari itu. Saat tugasku harus kulaksanakan, aku diberi uang muka setengah milyar dan segera kuberikan pada dokter biaya untuk operasi. Dan aku berangkat dijemput mobil jeep, saat itulah aku baru tahu tugas apa yang harus aku laksanakan. Aku..., aku...,” Nurul merasa berat untuk menceritakannya.

”Aku harus menggoda seorang lelaki di sebuah hotel, aku harus tidur dengannya dan merayunya hingga lelaki itu terjerumus dan aku akan mendapatkan uang sisa dari uang muka yang telah diberikan. Aku diantar oleh dua orang di hotel, ’Marcopolo’ dan masuk ke dalam sebuah kamar. Mereka memberikan intruksi agar aku tetap disana dan menunggu seseorang yang akan datang dan aku harus merayunya aga berbuat maksiat denganku.”

Nurul terisak.

”Akhirnya aku..., aku menunggu di kamar itu. Saat pintu hendak dibuka dari luar aku segera bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Salah satu diantaranya mengucapkan salam, Seseorang masuk beserta dua orang temannya dan akhirnya dua orang temannya berpamitan. Satu orang yang tertinggal itulah yang harus kugoda, dia..., dia berjalan ke kamar mandi dan setelah itu terdengar air shower terbuka.

Saat itu aku tak tahu lagi. Wajah Ibuku selalu terngiang di benakku. Rintihannya begitu jelas kudengar walau saat itu beliau di Rumah Sakit. Aku meneteskan airmata dengan segala ketidakberdayaanku, karena aku tahu aku akan melakukan dosa besar tapi rasa cintaku kepada ibuku telah mengalahkan rasa imanku.” Nurul sesenggukan, Faza dan Shafwan sama-sama menghirup udara dalam-dalam.

”Dan..., aku tak lagi memikirkan dosa itu lagi. Aku mendekati pintu kamar mandi itu karena aku telah diberi kunci serep maka aku akan dengan mudah melaksanakan pekerjaan hina itu!” wanita itu kembali mengusap airmatanya, ”Aku membuka pintu itu pelan, saat aku hendak memutar gagang pintunya tiba-tiba aku gemetaran dan mengundurkan niatku membuka pintu itu agak lama. Agak lama aku ketakutan dengan dosa yang hendak kuperbuat. Aku tak pernah sekalipun melakukan dosa besar, aku teringat Allah namun tiba-tiba gambar wajah Ibu yang kesakitan memenuhi otakku kembali. Saat itulah aku kembali memutar gagang kunci kembali dan saat hendak terbuka tiba-tiba tubuhku gemetaran kembali. Aku sangat takut dan tanganku kuundurkan kembali dan aku sempurna terjatuh ke lantai. Saat itu aku bingung. Aku teringat Ibuku yang meraung kesakitan dan aku telah gila,” wajah Nurul banjir oleh airmata.

”Aku nekat, biarlah Allah mengadzabku sekehendakNya tapi aku hanya berharap agar Dia jangan mengambil Ibuku dariku. Aku tak akan bisa hidup tanpanya, siapa lagi yang akan menanggapi keluh kesahku nantinya? Siapa yang akan memperhatikanku selanjutnya? Karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku mengambil keputusan yang hina. Saat itu aku berpikir biarlah aku diadzab Allah, dan aku melepaskan semua pakaianku, biarlah aku hancur sekalian. Dan seperti orang gila aku akhirnya nekat membuka pintu kamar itu. Saat itulah aku benar-benar kaget dan gemetaran tanpa mampu bergerak sama sekali, seluruh tubuhku gemetaran. Karena aku melihat cahaya, ya. Cahaya! Cahaya dari wajah lelaki yang tengah gemetaran di dalam kamar mandi itu. Lelaki itu gemetaran, dan aku pun tak dapat berbuat apa-apa, seluruh tubuhku kaku.

Entah apa yang terjadi, lelaki itu berlari cepat ke arah pintu kamar dan menendang pintu kamar dengan kuat sambil berteriak-teriak, ’Allah! Allah! Allah!,’ saat lelaki itu telah pergi dari kamar barulah seluruh tubuhku dapat bergerak kembali. Aku bergegas menutup pintu kamar dan mengenakan pakaianku kembali. Aku terduduk lama di kamar itu, aku menangis. Setelah aku tersadar, aku telah menyakiti lelaki itu aku berlari keluar kamar dan mencarinya. Kulihat dia di bawah diseret dua orang satpam dan diteriaki orang gila.  Lelaki yang wajahnya bercahaya itu di lemparkan ke pinggir jalan raya, hatiku terasa perih saat itu. Aku mengikutinya, dan dia hanya mengenakan celana pendek. Aku mendekatinya, tapi ketika dia melihat wajahku dia langsung berlari menyebrang jalan walau keadaan mobil lalu lalang. Terdengar klakson bersahutan riyuh. Lelaki itu terus berlari dan masuk ke sebuah gang, aku kehilangan jejaknya.

Kuputuskan kembali ke kamar dan melihat seluruh barang bawaannya. Aku mengetahui semua identitasnya, dan aku bergegas pergi membawa barang-barangnya. Saat sehari setelah kejadian itu Ibuku benar-benar tak bisa ditinggalkan, dan aku harus berada di sisinya. Setelah operasi berjalan, ternyata operasi itu tak bisa meredam sakit Ibuku. Dokter hanya bisa mengatakan kalau seluruh ketetapan ada di tangan Tuhan. Tapi dokter mengatakan kalau Ibuku mengalami kritis, semoga dia bisa melewati masa kritis ini. Sebuah keajaiban kata mereka karena Ibuku masih bisa bertahan. Setiap hari aku menungguinya.

Hingga seminggu lebih Ibuku masih belum sadar. Malam itu seorang lelaki yang tidak aku kenal masuk ke kamar itu dan memberikan tas yang berisi uang sebagai  bayaran sisa karena keberhasilanku telah membuat lelaki yang mereka incar lebih parah dari apa yang mereka rencanakan. Aku sempat bertanya pada mereka, kenapa mereka melakukan hal itu.

Lelaki itu menjawab, ’Tujuan kami hanyalah menjadikan mereka melupakan Al-Quran dengan membuat mereka menyukai maksiat. Dengan menawarkan kepada mereka kenikmatan sekali saja, mereka akan ketagihan. Ha...ha...ha..., dan engkau lebih hebat dari wanita lain yang kami sewa. Selain kamu cantik, kamu ternyata juga cerdas. Lelaki yang menjadi korbanmu itu setelah menikmati tubuhmu, kini dia berkeliaran di jalan-jalan, dia telah menjadi gila! Aku sangat puas dengan kerjamu.’ Lelaki itu meninggalkan tas itu. Aku diam saja.

Malam itu tiba-tiba hatiku tergerak untuk melakukan shalat taubat, hatiku benar-benar perih dan tercabik-cabik. Malam itu rasanya pertamanya bagiku dapat menangis dalam shalat, yang biasanya shalatku hanya sekedar rutinitas karena dimarah Ibu ketika aku lupa shalat. Tangisku tumpah di malam itu, dan sebuah usapan tiba-tiba teduh menyentuh ubun-ubun kepalaku yang tertutup telekung.

”Ibu...,” kulihat Ibuku tersenyum di atas pembaringannya, tanggannya gemetaran menyentuh kepalaku dan mengusapnya.

”Kau..., kau sangat cantik anakku. Wajahmu bercahaya,” Ibu menangis.

”Ibu jangan menangis,” aku berdiri dan mengusap airmatanya dengan jemariku, ”Kita akan selalu bersama, Nurul akan selalu menjaga Ibu.”

”Tidak Anakku, kita tidak akan bisa bersama selamanya. Ibu menangis karena dalam tidur, Ibu melihat kamu sedang memukul seseorang yang tak bersalah. Ibu terpaksa bertahan untuk mengingatkanmu Rul. Ibu ingin kamu meminta maaf pada orang yang telah kau sakiti,” lelehen airmata itu semakin deras, ”Ibu memberi nama padamu Nurul Fajriyah agar dapat bersinar melebihi sinar mentari. Ibu ingin kamu menjadi penerang bagi jiwa-jiwa yang gelap. Ibu ingin kamu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.”

”Ibu...,” aku memeluk ibuku, ”Aku telah menyakiti orang lain Bu, bahkan dia telah menjadi gila. Dia seorang pria yang sholeh, wajahnya benar-benar bercahaya. Apa yang harus kulakukan Ibu?”

”Anakku..., aku telah dipanggil. Ada yang memanggil Ibu, jadilah cahaya mentari, temui lelaki itu, mintalah maaf padanya dan tawarkan dirimu untuk menjadi isterinya untuk mengajarimu mencintai Allah. Heehhhh! Heehhhh! Allah....”

”Ibu...”

Begitulah cerita saya, setelah itu Ibuku meninggal. Sejak itu aku berusaha menjadi hamba Allah yang baik, aku mulai menjalankan perintahNya memakai hijab. Harapanku kini hanyalah ingin meminta maaf pada lelaki bernama Hafidz. Lelaki yang bercahaya wajahnya. Jika dibolehkan aku ingin mengabdikan seluruh hidupku padanya, aku juga tidak tahu apakah dosa besarku karena telah menyakiti orang lain dapat diampuni Allah. Seluruh uang yang dibayarkan untukku kini aku masukkan ke Muamalat. Karena uang itu ditujukan untuk merusak Hafidz, maka seluruh uang itu akan kuberikan padanya juga agar nanti dapat bermanfaat untuknya. Maafkanlah aku...”

”Jadi...,” Shafwan agak gemetaran menuding kearah Nurul.

Faza menurunkan tangan kanan Shafwan yang terulur, ”Dik Nurul, semua kejadian itu ada di tangan Allah. Manusia adalah tempatnya salah, tetapi manusia yang terbaik adalah yang segera menyadari kesalahannya dan bertobat kepada Allah. Bukankah pernah ada dalam riwayat seorang pelacur saja yang telah banyak melakukan maksiat kemudian dia bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Allah mengampuni semua dosa-dosanya.”

Shafwan hanya terdiam memerhatikan penjelasan Faza, amarahnya hilang seketika tergantikan jiwa yang jernih. Dia tahu, yang paling sedih dengan sakitnya Hafidz adalah Faza namun kejernihan jiwanya telah cukup menjadi contoh keteladanan baginya. Mungkin aku tidak salah harus melamar adiknya, seandainya tidak jadi pun sudah cukup bagiku pernah mengenalnya.

”Apakah dik Nurul hendak melihat Hafidz?”

Wanita itu mengangguk.

”Marilah,” Faza mengisyaratkan pada Shafwan untuk duluan. Shafwan masuk duluan diikuti Faza dan Nurul di belakang.

Memasuki kamar itu, terlihat Hafidz sedang duduk di atas ranjang dan bibirnya terus-menerus mengeja kata, ’Allah...,Allah...,’ jemarinya bergerak-gerak seolah menghitung garis-garis yang tiga di setiap jemarinya. Bibirnya yang pucat terus-menerus komat-kamit, wajahnya tampak kurus tapi cahaya wajahnya dapat dirasakan oleh siapa saja yang melihatnya.

Nurul sesenggukan menangis dan keluar ke luar rumah dan terduduk di kursi.

Faza dan Shafwan keluar kembali.

”Aku telah menyakiti orang yang berhati suci..., aku benar-benar wanita hina!”

”Sudahlah..., kini yang terpenting adalah kita berdoa dan berusaha agar dia bisa kembali seperti semula. Setelah ini Nurul hendak ke Karang lagi?”

”Saya ingin menetap di Metro, saya tidak mau lagi tinggal di Karang yang selalu mengingatkan saya akan masa lalu dan dosa. Saya juga akan mengurus kepindahan kuliah disini, dan mencoba menjalankan wasiat Ibu untuk menawarkan diriku pada Hafidz, itupun jika Allah menghendakinya.”

”Semoga Allah mempermudah jalan kita semua, amiin.”

Nurul pamitan. Hari ini dia hendak mencari tempat kost, Faza segera mengontak adiknya melalui Hp teman sekamarnya, siapa tahu bisa kost disana juga. Dan Kota Metro kembali mencatat sejarah apa saja yang berlaku di hari ini. Semoga kita tercatat dalam catatan yang terbaik, amiin.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!