Warna Pelangi Cinta
Memory with Father
Di sebuah rumah kecil itu seorang lelaki berusia 35-an tahun tengah duduk di kursi tuanya, menatap jendela yang memburai terkena percikan curahan air dari langit bagai hembusan uap yang menghempas cermin. Memburam dan samar-samar.
Petir menggema susul-menyusul bagai teriakan suara pemilik ladang ketika para ternak gembalaan memakan hasil panennya, atau seumpama hunter-hunter yang berkeliaran melihat para pengintip lalu menyambarnya dengan kilat yang dahsyat, lecutan mengkilap patah-patah dan bagai ekor api yang menjilat-jilat. Garang, marah, dan penuh dengan amukan tanpa kendali, lepas hingga membentur angin sekalipun. Matanya yang semakin lama seolah redup, ditimpa kantuk dan hawa dingin yang menjalari tapi kemilau dari kelopak itu mencoba berdebur, melebur bersama aliran air yang membasah menempel di kaca yang telah buram. Beberapa kaca jendela itu telah pecah, tak diganti hingga percikannya masuk dan membecek di lantai tanah tak rata.
Tangannya yang kasar bergerak pelan, mirip gerakan penari jaipongan, sangat pelan dan lembut seolah gemulai tak bertenaga. Tangan itu mengusap lembut aliran bening yang mendekati bibirnya. Tak ada sesenggukan, hanya saja aliran itu mengalir pelan. Matanya berkedip-kedip lebih cepat, agar airmatanya tak jatuh lagi. Agar meresap kembali masuk ke dalam kelopak, tapi tak kuasa.
Pikirannya melayang, membayang dua orang yang kini menjadi tanggungannya. Faza dan Azizah. Tiada lagi dalam hidupnya yang layak diperjuangkan kecuali kedua darah dagingnya itu. ’Ayah macam apa aku?’ membiarkan anak tertuanya bekerja memarut kelapa di rumah Hasan, tetangganya yang mempunyai pabrik minyak kelapa. Matanya berkaca kala melihat tangan Faza mencium punggung tangannya, terdapat luka carut-marut, ujungnya penuh dengan sayatan besi kawat kecil-kecil. Adiknya yang baru kelas dua Sekolah Dasar harus membantu bibinya, Husna. Membantu menjualkan kue dan nasi sayur di warung makan sepulang sekolah. Husna adalah adiknya yang membuka warung makan. Walau anak Husna tiga namun mereka malu jika harus membantu berjualan. Azizah dengan kemauannya sendiri membantu berjualan, dengan bayaran seberapapun.
Dua anaknya begitu riangnya ketika matahari menyapa hari, mereka segera berlari mandi di sungai yang letaknya hanya berjarak sekitar dua puluh meter, memasukkan satu buku untuk semua pelajaran, memakai sepatu paling murah yang dibeli di toko dan telah usang, dengan tas plastik hitam, mereka berangkat Sekolah dengan senyuman mesra. Tak ada kesedihan dan keputusasaan, kecuali wajah mereka yang bercahaya untuk Menjemput ilmu, di antara keterbatasan.
Lelaki itu kembali mengusap airmatanya yang berguguran semakin banyak. Mulutnya sedikit mengaduh karena geseran kakinya sedikit keras menyentuh meja di samping kanannya. Dua hari yang lalu dia baru saja jatuh dari pohon kelapa ketika memetik buahnya. Kakinya sedikit lecet dan linu-linu. Tiga hari ini, dia beristirahat di rumah. Tidak kerja. Pekerjaannya adalah sebagai buruh pemetik buah kelapa. Kakinya masih terseok untuk berjalan. Matanya menangkap siluet kilat patah-patah, sepatah hatinya.
Bayangannya kuat mengingat istrinya, Rahma. Wanita tegar itu benar-benar melahirkan anak-anak yang tegar pula. Rasa rindunya bagai meledak-ledak, pemicunya seolah menyulut. Gelengan kepalanya pelan, sambil meletakkan tangga di keningnya.
Isteriku..., alangkah kurindu padamu wahai bidadariku. Sudah tujuh tahun kau meninggalkanku. Aku tak pernah merinduimu seperti ledakan rinduku malam ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dengan baik anak-anak kita, lihatlah aku mencampakkan kesenangan mereka. Lihatlah..., ketegaranmu mengalir dalam darah mereka. Mereka anak-anak yang baik, mereka tegar bagai karang, mereka ceria bagai mentari, mereka pintar sepertimu.
Oh..., aku tak akan membiarkan ketidakberdayaanku ini. Aku akan memulai kerja kembali esok, biarlah kakiku yang masih remuk ini. Aku tak kuasa membiarkan jemari-jemari mungil Faza semakin hancur terkena parut. Aku tak kuasa melihat Azizah kelelahan hingga kaki-kakinya yang putih itu retak-retak atau tanggannya mengelupas karena mencuci peralatan makan. Besok aku akan memaksakan tubuh ringkih ini.
Hujan semakin deras, menciptakan ritme bunyi gaduh ketika menabrak seng-seng atau plastik-plastik. Rembesan air mengucur dari semua tempat, bocor. Wadah-wadah plastik telah nampak berantakan menangkap air yang nyasar masuk dari lubang-lubang genteng.
Sebuah langkah kecil membunyi pelan di antara air-air yang tergenang. Matanya yang indah mencari-cari sesuatu di dapur. Dia haus, ditegukknya barang setengah gelas. Ayahnya tak ada di kamar, langkahnya menuju ke ruang tamu mengendap dari balik pintu memastikan. Takut ketahuan, pasti dimarahi karena tidak segera tidur. Dilihatnya ayahnya termenung, menatap jendela berair.
”Pak..., ayo tidur?” suara kecilnya tercekat pelan.
Hamdan menatap anaknya yang setengah wajah dan tubuhnya di balik pintu. Matanya menatap teduh, bagai temaram langit jingga yang melindungi matahari.
”Kesinilah..., Bapak ingin bicara padamu.”
Faza melangkahkan kakinya. Sedikit memilih lokasi pendaratan yang tidak tergenang air. Keadaan sangat gelap, Faza hanya melangkahkan satu kakinya ketika kilat membelah angin. Cahaya pantulnya akan sejenek menerangi ruangan dan menuntun kakinya untuk memilih tanah yang kering. Selangkah demi selangkah, seperti sebuah kisah dalam Al-Quran tentang perjalanan di tengah hujan lebat.
”Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan kematian. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 19-20).
langkah Faza berhenti ketika Malaikat tidak memotretnya lagi. Langkahnya terhenti ketika tak ada garis di langit. Hanya suara hujan yang terus beradu. Saat kilat menyinari, Faza meneruskan langkahnya mendekati Bapaknya. Bedanya, Faza sama sekali tak menutupi telinganya kala suara menggelegar. Suara pemilik pabrik minyak tempatnya bekerja lebih keras dan lebih menyakitkan dari petir. Bukankah petir adalah musik Tuhan? Bukankah itu hiburan untuk didengarkan? bukan dengan kengerian dan menutupi telinga.
Diambilnya sebuah kursi kayu reot, ditariknya pelan demi pelan mendekati Bapaknya yang terus tersenyum memerhatikan lakunya. Kursi itu diletakkannya di depan Bapaknya duduk, Faza langsung melompat naik dan kini telah duduk di hadapan Bapaknya. Mata kecil itu menatap Bapaknya yang masih berkilat-kilat. Tangannya bergerak mengusap sisa air yang bergenang di pipi Hamdan.
”Bapak teringat Ibu lagi ya?” mata mungil itu semakin berkedip-kedip.
Hamdan mengelus rambut klimis anaknya, anak yang penurut. Kemampuan anak itu membuatnya bangga, Faza selalu mendapatkan ranking satu. Pekerjaannya sebagai buruh parut daging kelapa tak sama sekali membuatnya malas belajar. Ditatapnya wajah mungil itu semakin dalam. Wajah tampan dan kokoh itu mengingatkannya akan rindu yang berdebam-debam dalam dadanya kuat. Teringatlah akan isterinya.
”Badan Bapak masih sakit? Biar Faza pijit ya Pak?”
”Gak..., Bapak udah sehat bahkan sangat sehat. Lihatlah...,” Hamdan menggerakkan kedua tangannya menarik kulit pipinya ke atas dan ke bawah hingga wajah itu reot peyot, sungguh lucu.
Faza tersenyum merekah, ”Bapak mirip badut!” tertawanya semakin terkekeh-kekeh. Hamdan juga ikut tertawa lepas, walau tawanya hambar. Bukankah sehari ini mereka hanya baru makan sekali sewaktu sarapan dengan sambal dan lauk krupuk. Perut mereka masih keroncongan sebenarnya, tapi ketabahan dan kesyukuran telah mengakar kuat dalam hati mereka atau tadi sore mereka makan singkong rebus dibumbuhi sambal.
”Za..., apa cita-citamu jika kau besar nanti?”
Faza menangkap keseriusan bagai pemancing yang takzim menunggu kailnya bergerak dengan keteduhan dan kesabaran.
”Faza ingin menjadi sesuatu yang akan membuat Bapak bangga. Apapun itu Pak.”
Hamdan menatap dalam menusuk dalam kelopak mata anaknya, ”Bapak ingin kamu menjadi cahaya di tengah kegelapan ummat ini, Bapak ingin kamu tegar seperti Nabi Muhammad dalam membenarkan ayat-ayat Allah, Bapak ingin kamu seperti Ali bin Abi Thalib yang mendalami ilmu walau kemiskinan menghimpitnya, Bapak ingin kamu menjadi Khalid bin Walid yang kuat menerima ujian apapun demi kemulyaan, Bapak ingin kamu seperti Abu Bakar yang membenarkan kebenaran. Bapak ingin...,” kata-kata Hamdan terhenti, isaknya pelan meruas.
”Bapak ingin kamu seperti air atau cermin yang menunjukkan manusia pada kekurangannya. Bapak sangat ingin Za, suatu kali kelak suaramu didengarkan seluruh makhluk, kedatanganmu dirindukan oleh kehidupan, setiap manusia merindukan wajahmu yang bercahaya. Dan Bapak ingin melihatnya suatu kali kelak. Di dunia ini atau di sisiNya, Bapak akan terus mendoakanmu sampai kapanpun. Dan maafkan Bapak yang tidak bisa memberikan apa-apa padamu kecuali Bapak meninggalkan sesuatu yang paling berharga di hatimu anakku. Bapak meninggalkan Allah di hatimu dan hati Azizah. Maafkan Bapak anakku,” lelaki itu merangkul erat tubuh mungil yang terdiam mendengarkan kata-katanya yang menyala. Biasanya Hamdan bercerita tentang kepahlawanan Rasulullah saw dan Para Sahabat, dengan cerita yang menggebu-gebu. Walau belum mahir, setidaknya dia ingin memberikan yang terbaik.
”Maafkan Bapak anakku..., maafkan Bapak...” tangisnya terdengar menyayat.
Faza memejamkan matanya dalam pelukan Ayahnya. Airmatanya memburai, pikirannya melayang. Diingatnya baru pertama kali ini ayahnya menangis dan meminta maaf padanya. Bapak selalu keras mendidiknya, jika tidak mau shalat dan mengaji di surau saja pasti rotan akan mengayun. Tapi didikan itu telah membuatnya menyadari akan pentingnya kerja keras dan kesungguhan dalam belajar.
”Pak..., Bapak tak boleh meninggalkan kami. Aku dan Azizah sangat membutuhkan Bapak. Berjanjilah pada kami Pak, kau tak akan pergi meninggalkan kami. Cukuplah Ibu yang bersama Allah, dan Bapak akan tinggal bersama kami,” mata mungil itu berkaca-kaca.
”Kenapa kamu berpikir Bapak akan meninggalkanmu Za?”
Faza mengusap airmatanya, ”Rasulullah ketika akan wafat pada haji wada’ pasti berwasiat, orang-orang yang berwasiat pada keluarga atau orang terdekatnya adalah perpisahan. Aku bersumpah demi Allah! Faza tak pernah membiarkan Bapak pergi! Bapak tidak usah berwasiat. Faza mohon..., Faza tidak punya siapa-siapa,” Faza menggeleng-gelengkan kepalanya dan air menciprat ke semua tempat.
”Dengarkan Bapak..., dengarkan Bapak Za,” lelaki itu memegang pundak Faza agak kuat, ”Kau anakku, kau tegar seperti Ibumu. Ingat itu Za. Di hati kita ada Allah..., ada Allah. Jika suatu saat kita berpisah, yakinlah Bapak dan Ibumu ada di hatimu. Bukankah selama ini Ibu di hati kita, dia hidup membisiki dan menyemangati kita untuk bertahan. Hapus airmatamu, dan jadilah yang terbaik!”
”Apa Faza bisa bertahan jika tanpa Bapak?”
”Apakah kamu ingin melihat Bapak bahagia Anakku?”
”Sangat ingin Pak, bahkan Faza ingin Ibu bahagia disana, Faza ingin Azizah tersenyum padaku, aku ingin bermanfaat untuk manusia seperti yang Bapak inginkan. Faza sangat ingin, tapi Faza tak akan bisa melakukannya tanpa Bapak di sisiku. Faza tak akan bisa Pak,” matanya semakin memburam, mengkilat saat kilat kembali menciptakan garis-garis patah apinya.
”Tataplah Bapak,” Hamdan memegang kedua pipi Faza dengan lembut, mata-mata mereka beradu lama, ”Kamu mau jika Bapak selalu berada di sisimu, di hatimu?”
Faza mengangguk, bibirnya bergetar, ”Mmauu Pak.”
”Berjanjilah untuk melakukannya, dan Bapak akan selalu bersamamu sampai kapanpun. Bapak akan menyertaimu kemanapun kau pergi. Berjanjilah.”
”Faza janji, Faza janji. Asalkan Bapak selalu menemaniku.”
”Berbuatlah Ikhlas anakku. Berbuatlah ikhlas..., ikhlaslah.”
”Ikhlas...,” wajah ayahnya mengangguk. Ikhlas...
Malam itu Faza tertidur di pangkuan ayahnya hingga fajar baru datang ketika mendekati subuh. Matanya terbuka pelan. Dia mengucek-ucek matanya. Tubuhnya dijalari rasa dingin yang menyergap ke seluruh pori-porinya. Dua buah tangan melingkar memeluknya, terasa kaku dan kokoh. Ayahnya tertidur pasti kedinginan hingga menjadi selimut untuknya. Faza hendak bangkit dan berwudhu.
”Pak..., hampir subuh. Ayo kita ke Masjid,” Faza menggoncangkan tangan itu, tak ada suara.
”Ppakkk..., Bapak..., kumohon bangunlah Pak. Bapak...!” teriakannya mengangkasa, apa yang dipikirkannya semalam benar. Semalam adalah kata-kata wasiat. Dan dia telah berjanji untuk ikhlas. Ya! Ikhlas.
Sosok gadis kecil berkerudung pink mendatanginya, melihatnya berurai airmata, ”Kak Faza kenapa menangis di depan Bapak, nanti Bapak bisa marah.”
”Kesinilah...,” setelah gadis itu dekat, Faza memeluknya, ”Bapak sedang tidur, tidur untuk selamanya...”