Warna Pelangi Cinta

Dua Hati Menyatu (2)

Umar menepuk pundak Faza, “Faz, sesungguhnya yang menjadi ukuran sholeh atau tidaknya seseorang manusia hanyalah Allah yang Maha Tahu. Jangan marah pada Shafwan, karena aku yakin dia berangkat dari kejujuran di hatinya,” kini Umar mengalihkan pandangan kearah hijab, “Aku yakin, Naurah dan kau Faza sudah bukan lagi orang asing. Kalian pernah rapat bersama, untuk mempersingkat waktu karena waktu telah mendekati waktu dzuhur. Aku ingin pertemuan ini diakhiri dengan kalian saling melihat tanpa hijab. Setelah itu, barulah keputusan untuk meneruskan ikhtiar ini atau tidak saya serahkan kepada kalian.”

“Kau siap Naurah?”

“Insyaallah Kak,” suara lembut itu teramat halus.

“Kau Faza?”

Faza tak bisa berucap apapun.

“Berarti kau juga siap. Shaf tolong bantu aku jika kuberi tanda kita geser pemisah hijab ini. Kau siap?”

Shafwan mengangguk, ada senyum bahagia tersungging di bibirnya.

“Kalian berdua, niatkanlah yang baik untuk mencari keridhaan Allah,” senyap beberapa detik, mungkin saja suara detak jantung pun akan terdengar oleh kesenyapan itu.

“Bismillah, geser Shaf,” Umar memberi kode pada Shafwan. Umar menggeser ke kiri dan Shafwan menggeser pemisah hijab itu ke kanan. Terciptalah celah kurang lebih 30 cm, tepat bertemu dua wajah manusia yang sama-sama serba kikuk.

Faza tak sanggup mengangkat kepalanya, airmatanya menetes. Bagaimana Lutfi?  Zilul? Hafidz? Faza mencoba menguatkan hatinya. Dipejamkannya matanya sejenak. Mata tajam itu terbuka pelan, dikuatkan dagunya terangkat. Sebentuk wajah yang teramat sempurna telah menatapnya, senyum Naurah menciptakan deburan aneh di hatinya, membekas jelas. Jantungnya seolah berhenti atau berdetak sangat cepat, Faza tak bisa lagi memperhitungkannya. Naurah dengan jilbab biru muda itu telah menyihir Faza hingga bibirnya bergetar, dalam hidupnya pertama tiga kali dia menatap wanita langsung seperti ini. Wajah ibunya, adiknya Azizah dan Naurah.

“Cukup.”

Kata-kata Faza itu segera membuat Umar dan Shafwan menutup kembali pemisah hijab kayu menjadi bertemu kembali.

Ruangan itu hening. Satu dua orang mulai datang, dan seorang mengumandangkan adzan dzuhur. Pertemuan itu berhenti tanpa pengantar, mereka semua berpisah di ruang wudhu yang terpisah untuk laki-laki dan wanita.

Faza membasuh dirinya dengan air wudhu. Terasa segar, Allah..., kenapa semua ini terjadi pada hamba? Apakah Kau sedang mengujiku? Hamba ini sangat lemah, maka kuatkanlah ya Allah, hambaMu ini sangat miskin, maka kayakanlah ya Allah. hambaMu ini sangat hina, maka mulyakanlah ya Allah. Wahai Rabb yang menggenggam semua jiwa, berilah kemudahan di setiap langkahku.

          

“Apakah kau tak bahagia Kak,” Nirmala yang duduk di sebelahnya sedari tadi hanya diam dan menunduk.

Ini malam zafaf mereka.

Rasyid merasa bersalah, sedari tadi dia diam. Dilihatnya wajah isterinya yang masih menunduk. Mereka baru saja tiba di Mesuji setelah akad di Metro. Besok mereka semua berencana untuk kembali ke Metro dan tinggal disana bersama Ayah dan Ibu Rasyid yang telah memutuskan untuk tinggal bersama-sama di Metro.

“Dik, kau sungguh cantik,” Rasyid gemetaran menggerakkan jamari tangan kanannya  menggapai dagu isterinya. Diangkatnya perlahan-lahan, mata mereka saling bertemu, ada deburan senyum yang menyatu.

Rasyid memegang kedua pipi Nirmala dan mengecup ubun-ubunnya, “Allahumma innii as aluka khoiri haa wa khoiri maa jabal tahaa ’alaihi,” . 

Nirmala memejamkan matanya, seolah ada cahaya teduh yang memayunginya, ”Amiin.”

”Ayo shalat dulu?”

Nirmala tersenyum, mereka bergegas keluar kamar dan mengambil air wudhu. Mereka shalat dua rekaat. Rasyid membaca surat Al-Mulk yang menjadi mahar pernikahan mereka. Mereka larut dalam kebahagiaan dan kesyukuran.

Maha suci Allah yang ditanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? 

Bukankah semua ciptaan Allah cukup sebagai bukti kebesaranNya?

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. 

Takut kepadaNya dalam arti semakin mendekatkan diri padaNya, bukan lari dariNya sehingga kita tidak akan mendapatkan rahmatNya.

Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya dan kepadaNyalah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.’ Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?’ 

Nirmala masih terus menunduk setelah mencium punggung tangan Rasyid. ’Ada empat perkara yang memberi kebahagiaan kepada seseorang. Jika ia mempunyai istri yang seiya sekata dengannya, putra putri yang berbakti, saudara-saudara yang baik dan bila rezekinya dapat diperoleh di tempat tinggalnya,  ”Apakah engkau mencintaiku Dik?”

Nirmala kini memberanikan mengangkat wajahnya, lurus menatap wajah suaminya. Ada bening air yang menyembul di kedua kelopak matanya yang indah, ”Sungguh, aku mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun dan aku mencintaimu seperti engkau adalah bagian dari jiwaku Kak. Kau adalah imamku, aku akan patuh dan taat selama itu dalam jalan Allah. Aku teramat bahagian,” tangan lembutnya mengusap airmata yang kini mulai mengalir ke pipinya.

Rasyid menggerakkan tangannya dan mengganti alih mengusap sisa airmata isterinya yang masih menetes, ”Apa yang membuatmu bahagia hingga meneteskan airmatamu Dik?”

”Aku bahagia karena Allah telah mengabulkan doa ayahku, doa agar aku dapat menikah denganmu Kak. Walau Ayah sudah di sisiNya, dia pasti tersenyum melihat kita menikah. Dia pasti ingin mengucapkan barakallah kepada kita. Allah mengambilnya dan memberi gantinya, teramat dekatlah pertolongan Allah itu. Kini, hanya wajah kak Rasyid yang sejak akad kulihat sedikit suram. Apakah kak Rasyid mempunyai masalah? Katakanlah, kita bukan  orang lain lagi. Kita kini telah menjadi satu tubuh bukan?”

Rasyid menghirup udara pelan dan dalam, ”Aku hanya memikirkan kak Faza kini. Entah kenapa, pikiranku sedari beberapa hari yang lalu selalu bermimpi tentangnya. Aku bermimpi sedang menggapai tangannya, dia berada di ujung bukit dan hampir terjatuh. Aku merasa dia telah menyembunyikan sesuatu dariku, kenapa kak Zilul seperti orang aneh sewaktu akad. Lalu, kak Lutfi tidak biasanya menghilang dan tak bisa dihubungi, namun aku tak berani bertanya lagi jika dia sudah memintaku untuk tidak mencampuri urusannya. Tapi, sungguh jiwaku merasa tak tenang. Aku takut berbuat tak adil, aku merasa bahagia dan mungkin dia sedang tertimpa masalah. Aku bingung hendak mengetahui apa yang terjadi.”

Kamar zafaf itu hening beberapa lama.

Sebegitu kuatkah hubungan persaudaraan mereka? Nirmala Sari baru menyadari hubungan suaminya dengan para penghuni Baitul’ilmi yang sudah bagaikan satu ikatan buhul yang kuat.

”Kak,” mata indah Nirmala menatap suaminya lekat.

Rasyid balik menatap heran, ”Kau punya ide?”

Nirmala mengangguk, ”Jika kak Rasyid tidak mau menanyai lagi pada kak Faza, kenapa tidak mencoba menghubungi Shafwan dan menanyakan perihal sebenarnya? Mungkin dia mau cerita,” Nirmala tersenyum.

Rasyid tersenyum cerah, ”Kau benar adikku, kau mengizinkanku menghubunginya malam ini? Aku takut engkau tersinggung karena mengganggu malam zafaf ini,” wajah Rasyid berubah serius.

”Mereka lebih prioritas Kak, bukankah kita masih mempunyai waktu banyak sebagai suami isteri?” Nirmala kembali tersenyum. Melihat senyummu sudah membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia Kak.

Rasyid segera mengambil Handphone-nya. Dia mengontak nomor Shafwan segera. Tersambung.

Shafwan dari seberang mengucapkan salam, suaranya rada serak. Rasyid menjawab salam.

”Bagaimana kabarmu pengantin baru? Apakah kau tidak ada kerjaan sehingga menelponku malam-malam? Bukankah kini kau di Mesuji?” Shafwan sedikit bergurau.

”Ya, aku sekarang di Mesuji. Sekarang Nirmala di sebelahku, dia yang memintaku menghubungimu.”

”Oya, ada apa memangnya?”

”Sekarang kau dimana Shaf? Suaramu terlihat serak, kau sakit? Katakan padaku,” Rasyid memberondong pertanyaan, tergesa-gesa. Nirmala terlihat memberi isyarat dengan tangannya, jangan gegabah.

”Ibuku sakit Syid, aku baru dapat kabar. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, aku hanya sedikit menitikkan airmata, jadi mungkin suaraku terlihat serak ya? Aku sekarang sedang di warung mbak Uci. Tidak apa-apa kok.”

”Malam-malam begini ke warung, beli apa Shaf?”

”Beli..., Ehm.., beli minyak angin Syid,” Shafwan agak gelagapan.

”Minyak angin?”

”Iya Syid.”

”Untuk siapa Shaf malam-malam begini?”

”Untuk Hafidz, dia sedang masuk angin. Badannya kedinginan.”

Hening sejenak.

”Shaf..., tolong katakan dengan jujur padaku. Apakah kita tidak bersaudara lagi?”

”Apa maksudmu Syid?”

”Ceritakan padaku apa yang terjadi, dari beberapa hari yang lalu aku merasa kalian tak menganggapku sebagai saudara kalian lagi. Kalian menyembunyikan masalah padaku. Ceritakanlah padaku Shaf, kumohon.”

Rasyid menunggu beberapa detik, keheningan tiba-tiba tercipta di seberang hubungan. Sepersekian menit terdengar isak lirih dari Shafwan.

”Kau memang seharusnya mengetahuinya saudaraku. Kak Faza..., kak Faza..., dia sangat membutuhkan kita. Aku yakin dia sedang kesakitan kini,  dia menutupi semuanya dengan rapi. Bahkan, aku tak berani bercerita padamu. Tapi kini kau harus tahu semuanya. Aku tak kuat menyimpannya lagi Syid...,” dan cerita itu mengalir, semuanya. Dua orang yang tengah berhubungan melalui handphone itu sama-sama menitikkan airmata. Nirmala hanya melihat suaminya meneteskan airmatanya, dia tak berani mengganggunya untuk waktu sekarang.

Hubungan itu terputus.

Rasyid segera menghapus airmatanya dengan sapu tangan yang disodorkan Nirmala. Sebegitu beratnya masalahmu Kak? Dan kau mengorbankan segalanya demiku? Apakah kau mengira aku bisa bahagia di atas kesedihanmu? Lalu apa yang telah berlalu dari setiap serpihan kebersamaan kita? Apa yang tersisa dari persaudaraan kita? Kenapa aku demikian egois. Allah..., kuatkanlah dia ya Allah.

Hafidz...

Kak Lutfi...

Kak Zilul

Dan terutama kau kak Faza...

”Dik, besok pagi kita harus segera ke Metro.”

Nirmala hanya mengangguk, dia tahu suaminya belum siap menceritakan kejadian yang dialami kak Faza dan teman-temannya. Mungkin besok pagi, atau sampai kapanpun dia kan menunggunya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!