Warna Pelangi Cinta
Hati yang Bertanya
Azizah tak menyangka Kakaknya mengalami banyak peristiwa tanpa diketahuinya. Peristiwa-peristiwa yang semua menyudutkan. Dilihatnya wajah tenang Kakaknya, wajah itu masih saja bercahaya. Namun, kesedihan itu tak bisa disembunyikan darinya yang telah menjalini segala getir kehidupan bersama. Diingatnya, dulu kak Faza pernah membawakannya satu bungkus nasi dan sayur, sangat sedikit. Memintanya untuk memakan, dan bilang bahwa dia sudah makan. Azizah makan dengan lahapnya. Namun, di malam hari Azizah terbangun dari tidurnya ketika mendengarkan desahan. Ternyata desahan itu dari Kakaknya yang memegangi perutnya setelah diintip dari pintu rumah sebelum dijual, Azizah menangis dan ingin rasanya memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya. Itu terjadi setelah ayah mereka meninggal dunia, Faza bekerja sebagai buruh parut setelah pulang sekolah.
Masa-masa itu telah menjadikan hubungan mereka bagaikan satu tubuh.
“Selain kak Lutfi, Kak Naurah dan kak Zilul, kak Faza masih punya masalah yang lain kan?”
Faza diam menatap adiknya. Aku bahkan tak bisa lagi berbohong padamu Azizah, sekuat apapun kusembunyikan masalahku. Kau selalu tahu.
Faza tak kuat lagi menahan airmatanya, dia sempurna meneteskan airmatanya hingga berguguran membasahi pipinya, “Aku seolah tidak siap menghadapi cobaan Allah kali ini Adikku. Aku lebih memilih cobaan ketika aku tidak makan seperti dahulu daripada aku harus melihat sahabat-sahabatku mengalami ujian, aku benar-benar tak kuat melihat Hafidz menderita dalam kegelapan. Dialah Hafidz yang hatiku dulu condong untuk berikhtiyar menjodohkanmu dengannya, dialah yang selama ini sering menasehatiku. Tapi, kini Allah sedang menguji keimanannya.”
“Apa yang dialaminya Kak? Apakah dia Hafidz yang sering Kakak ceritakan karena perjuangan kerasnya menghafal Al-Quran?”
“Iya, dia kini sedang melawan nafsu yang menawannya. Setiap saat kini, desahnya hanyalah asma Allah. Dia telah berjuang menjaga kesuciannya, dia telah berupaya keras menjaga kehormatannya. Dia telah berhasil mengenyahkan nafsu syahwat yang mengajaknya pada kemunkaran. Tapi keberhasilannya harus ditebus dengan gangguan di otaknya, aku tahu dalam ketidaksadarannya kini dia sedang tersenyum karena dia memang memilih begini daripada melakukan maksiat pada Allah,” Faza mengusap airmatanya.
“Ceritakanlah kisahnya padaku Kak,” Azizah penasaran.
Faza menceritakannya bermula dari kedatangan dua orang yang mengaku diutus oleh Syeikh Wahab, hingga kejadian di hotel Marcopolo, kejadian dua orang yang datang dari pesantren Darul Fatah yang membawa Hafidz dalam keadaan seperti orang yang tidak hidup dan tidak mati. Hingga kedatangan seorang wanita bernama Nurul Fajriyah yang telah menceritakan semua kejadian yang dialami Hafidz sebelum pikirannya terganggu dan sakit.
“Apakah Kakak yang meminta Nurul untuk kost disini?”
“Iya, apakah dia sekarang tinggal disini?”
“Nurul Fajriyah adalah penghuni baru di salah satu kamar disini Kak, dan setiap malam dia sering menangis. Jadi peristiwa inikah yang selalu membuatnya menangis?” Azizah baru tahu sekarang, karena ketika ada yang bertanya pada Nurul selalu saja Nurul tak mau menceritakan kisahnya dan mengatakan belum siap bercerita.
“Kau harus membimbingnya juga Iza.”
“Insyaallah Kak,” Azizah mengangguk.
Faza terdiam. Bibirnya bergetar ingin mengatakan pokok utama kedatangannya ke kost adiknya. Tentang lamaran Shafwan, bibirnya tiba-tiba kelu jika teringat permintaan Shafwan. Tapi ini adalah amanah.
“Adikku, Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi, janganlah berpikir ini sebagai paksaan untukmu karena kau juga mempunyai pilihan atas hidup yang akan engkau jalani, dan tidak selamanya aku bisa menjagamu.”
“Maksud kak Faza?”
“Iza jangan salah paham dulu. Kamu masih ingat Shafwan yang pernah Kakak ceritakan? Dia adalah teman kakak di kontrakan.”
“Insyaallah ingat, si kutu buku?”
“Iya, dia mengamanahkan padaku untuk melamarkan seorang wanita untuknya. Dia ingin menjaga kehormatan dan kesuciannya dan dia akan berusaha bekerja untuk memenuhi kebutuhannya ketika berumah tangga. Aku percaya pada rasa tanggung-jawabnya karena aku telah lama tinggal bersamanya, masalahnya adalah apakah wanita itu bersedia atau tidak. Di satu sisi aku ingin berusaha menyatukan mereka namun di satu sisi aku takut jika si wanita menolak dan akan timbul masalah baru.”
“Bukankah tugas Kak Faza hanya menyampaikan? Bukankah itu yang sering kak Faza wacanakan pada Azizah untuk selalu berdakwah? Sehingga di akhirat nanti, kita akan mengatakan pada Allah, ‘Allahumma, hal ballaghtu?’ ,”
Faza tertohok dengan kata-kata adiknya, “Benar adikku, bukankah itu sebagai tanggung jawab kita untuk menyampaikan amanah. Kini, aku akan menyampaikannya padamu dan pada akhirnya Allah jualah yang akan menentukan segalanya.”
“Apa maksud kak Faza?”
Faza telah mantap mengatakannya, dipejamkan matanya sejenak, “Shafwan memintaku untuk melamarkanmu adikku, dia memang belum pernah melihatmu dan jika engkau setuju maka akan dilakukan ta’aruf, jika sama-sama cocok maka akan diteruskan jika tidak maka pernikahan itu tidak jadi,” Faza menatap wajah adiknya yang tampak kaget.
Suasana tampak hening, ditingkahi mendung yang tiba-tiba berarak dan seolah berkumpul. Gerimis tiba-tiba membasahi mereka yang berada di luar tempat jahit itu. Gerimis sangat tipis diterpa angin lembut.
Azizah memeluk tubuh Kakaknya, Faza membiarkan dadanya untuk menjadi penyangga isak adiknya. Faza teringat kejadian setahun yang lalu, persis. Kala itu hujan dan Azizah menolak untuk meneruskan pendidikannya masuk kuliah. Kini, ikatan cinta itu diterpa ujian kembali.
“Aku belum bisa berpisah dengan kak Faza, aku masih ingin melayani kak Faza,” gerimis tipis itu semakin menguatkan getaran di hati kedua kakak beradik itu.
“Kau mempunyai pilihan tersendiri akan hidup yang akan kau jalani Iza, kau yang memutuskan segalanya namun janganlah memberi keputusan yang gegabah dan terburu-buru karena ketergesaan itu datangnya dari Syetan. Istikharahlah, aku percaya pada akhir keputusanmu nantinya. Apapun yang menjadi keputusanmu,” Faza mengusap airmata adiknya.
Hp Faza berdering. Sms. Faza membukanya, dari Shafwan.
”Asslkum, Kak bs pulang skrg? Aku baru dpt kabar ibuku sakit dan skrg di Rumah sakit. Aku hrs menemninya, Hafidz sudh tidur, tolong ditunggu.”
Faza membalas mengetik beberapa kata dan mengirimkannya langsung.
”Wa’alaikmsalm, Baiklah Kau duluan saja, semoga Allah memberi kemudahn pada kita. Salam buat keluargamu.”
”Ada apa Kak?” Azizah bertanya penasaran, wajah Faza tiba-tiba berubah.
”Ibu Shafwan sakit dan aku harus segera pulang menjaga Hafidz.”
Azizah mengangguk paham.
”Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh Allah telah berjanji dua kali ditambah penekanan sehingga firman tersebut bernama Insyiraah yaitu kelapangan. Yakinlah padaNya, maka kemudahan dan kelapangan akan diberikan pada kita. Yakinlah, pertolongan Allah sangatlah dekat.”
”Hati-hati Kak,” Azizah kini telah bukan gadis kecil lagi yang dulu selalu dijaganya, dia telah menjadi gadis dewasa yang matang.
Faza tersenyum mengangguk, ”Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” senyuman mereka bertemu.
Faza pulang berjalan kaki, sudah tidak ada kendaraan. Sudah sore plus ini hari minggu, banyak angkot yang libur. Dipercepat langkahnya melewati jalan dalam melewati irigasi kecil, dia agak takut terjadi apa-apa pada Hafidz. Keadaannya tadi pagi sudah mulai membaik, karena kondisi tubuhnya berangsur-angsur kembali seperti semula.
Kontrakan Baitul’ilmi sudah terlihat dari jembatan kecil penghubung jalan di sebelah kontrakan. Gerbang rol depan kontrakan telah terbuka, mungkin kebetulan. Setiap hari libur, pasti gerbang itu tertutup karena rata-rata pulang ke kampungnya atau rumah orangtuanya masing-masing. Mungkin Shafwan sudah pulang dan lupa menutup gerbang. Ketika memasuki rumah, pintu telah terkunci berarti Shafwan telah pulang duluan. Di samping kontrakan, Faza sempat melihat mobil Avanza silver nongkrong di parkiran. Mungkin ada anggota keluarga anak kost yang datang.
Faza mengambil kunci pintu, setiap orang memegang satu kunci.
”Krek! Krek!”
”Assalamu’alaikum,” Faza membiarkan pintunya terbuka. Dia masuk dan menengok ke kamar Hafidz, masih tertidur. Faza mendekati Hafidz, diambilnya selimut yang melorot, diangkat dan diluruskannya menutupi hingga di leher Hafidz. Ada senyum yang tersungging di bibir Faza melihat kondisi Hafidz yang mulai membaik. Hanya wajah pucat itu masih nampak jelas, walau terkurangi dengan cahaya yang terpancar dari wajah yang bersih itu.
Faza memegang tangan kanan Hafidz dan menggenggamnya erat, kau pasti sembuh, rasakanlah sentuhan tangan saudaramu ini. Kau pasti dapat merasakannya bukan? Bangkitlah dan tersenyumlah seperti dulu, senyum kala kau dapat menambah hafalanmu, tapi kau telah menghafal semuanya bukankah kau kemarin ingin mengadakan syukuran? Aku yang salah karena tak mengizinkanmu. Aku rindu akan senyummu ketika mendengar murajaah kami yang belepotan, hafalanku, hafalan Shafwan dan Rasyid. Bangunlah..., tegarlah..., kuatlah...
Allah..., hanya Kaulah yang menentukan. Kaulah yang Maha Perkasa, kembalikanlah dia pada kami seperti dulu.
”Toloooong!”
Faza mengucek airmata di pipinya. Sepertinya ada suara yang meminta bantuan? Difokuskannya pendengaran, beberapa detik. Nihil. Mungkin perasaanku.
”Toloong! Toloooong!”
Tak salah lagi! Faza berlari keluar. Sauranya dari arah kost-an di belakang dan samping kiri baitul’ilmi. Ada pintu penghubung antara asrama dengan ruang depan, Faza mendorongnya. Terkunci dari dalam.
”Toloooong!” suara itu kini seolah menyayat, berupa tangisan.
Faza mengambil ancang-ancang dan berlari sekuat tenaga dengan menabrakkan pundak kanannya. Pintu itu terkuak paksa. Engsel pintu itu patah. Sepi, hanya jejeran kamar kost yang memanjang, sekitar ada 20 lebih kamar. Tidak mungkin salah dengar. Pasti ada di salah satu kamar.
Faza mengurutkan dari kamar paling dekat dengan pintu yang telah jebol. Langkahnya sedikit di percepat, kamar pertama kosong. Diketuknya. Kakinya tergesa ke kamar kedua, diketuknya. Tak ada jawaban. Dia gelisah dan bingung, kamar ketiga, keempat, kelima. Saat kakinya mengetuk kamar keenam, suara teriakan itu terdengar lebih pelan.
”Tolooooong!”
Kini terasa jelas di telinganya. Kamar nomor lima. Faza mempersiapkan kekuatan kaki kanannya. Segenap pelatihan yang dilakoninya semenjak mengikuti mukhoyam dan pelatihan bela negara membuatnya percaya diri untuk mendobrak pintu dengan sekali tendang.
Bismillah!
”Brakk!” pintu terkuak patah.
Tampak seorang lelaki berjaket hitam tengah membungkam mulut seorang wanita dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegangi kedua tangan yang berusaha berontak. Tampak pipi wanita itu memerah, seperti telah ditampar.
”Apa yang kau lakukan!” Faza berteriak keras.
”Tolong aku!” wanita itu berteriak ketika bungkaman di mulutnya longgar, rambut sebahunya acak-acakkan.
Lelaki itu kebingungan, hasrat yang telah mendidih di ubun-ubunnya tak bisa membuat otaknya berpikir sehat. Nafsu yang semula berkobar-kobar, kini berantakan, dilepaskannya cekalannya pada tangan wanita yang hendak dinodainya. Matanya yang merah segera menghambur kearah Faza dengan kepalan tinjunya, ”Kurang ajar!”
Beberapa kali mukhoyam yang diikutinya setidaknya berguna di kala genting. Faza telah mengetahui gelagat tidak baik, maka posisi kuda-kuda yang diambilnya pertama adalah tenang, jangan panik. Tangan kanannya diangkat menyilang keatas hingga jemarinya berada di leher sebelah kiri dan tangan kirinya sempurna lurus seperti orang shalat. Inilah kuda-kuda terbaik untuk melindungi diri, posisi siap sedia.
”Plak!” pukulan itu tertahan oleh kibasan tangan kanan Faza. Saat tubuh lelaki berjaket hitam itu sedikit berputar ke kanan, kesempatan bagi Faza terbuka lebar. Dikumpulkan tenaga di tangan kanannya membentuk lancipan, lurus jari-jarinya dan pukulan kuat bersarang di tengkuk lelaki itu. Tubuh itu terhuyung, menabrak lemari kaca di samping ranjang. Alat rias di depan cermin itu berantakan.
”Bangsat!” lelaki itu berusaha bangun. Tangan kirinya masih mengelus leher belakangnya yang terasa nyeri sedang tangan kanannya ke belakang dan sesuatu di ambilnya dari selipan di pinggang di balik bajunya. Belati. Kilatan tajam itu diangkat di depan wajahnya. Matanya semakin menyalak bagai serigala yang tak ingin sekalipun melepaskan buruan yang tengah diincarnya. Sejenak matanya menatap wanita yang ketakutan di pojok kamar itu. Sangat dekat dengannya.
Lelaki itu lebih dekat dengan wanita itu, kesempatan baginya. Satu langkah cepatnya segera sampai sebelum Faza mengejarnya, tangan lelaki itu segera mencekal tangan wanita itu dan mengacungkan belati di leher wanita itu. Tangan lelaki itu berputar dari belakang dan wanita itu sempurna menjadi sanderanya.
”Lepaskan dia,” Faza melembutkan suaranya. Kakinya pelan melangkah ke depan, kedua tangannya terulur ke depan, bersiap-siap jika ada kemungkinan terburuk.
”Jangan mendekat! Atau leher wanita ini akan berlumuran dengan darah. Kau memang bangsat! Kenapa kau tiba-tiba datang! Siapa kau! Kau tahu..., aku teramat mencintai wanita ini. Dia menolakku! Dia mengacuhkanku! Aku teramat mencintainya sehingga aku mengorbankan segalanya demi mendapatkannya! Dan kau! Bedebah dengan dirimu! Kenapa kau tiba-tiba mengganggu hidupku!”
”Tenanglah sahabatku, kau hanya khilaf. Lepaskan wanita itu, biarlah dia memilih jalan hidupnya sendiri jika kau memang mencintainya.”
”Tidak! Dia hanyalah milikku! Dia hanya akan menjadi milikku!” lelaki itu kalap.
”Sadarlah, hidup itu bukanlah hanya untuk sebuah hal yang hina seperti engkau katakan. Manusia itu hanyalah milik Allah, Tuhan yang telah menciptakan. Lepaskan dia, dan bertaubatlah, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosamu.”
”Banyak tingkah! Aku tidak membutuhkan nasehatmu!”
”Masyaallah! Syetan telah menjeratmu. Sadarlah,” Faza berusaha meminimalisir segala kemungkinan terburuk sekalipun.
”Kau tidak memahami cinta yang kurasakan! Kau tidak tahu apa yang aku rasakan, makanya kau bisa bilang begitu.”
”Cinta itu kemurnian, dia adalah ketulusan dan bukan paksaan. Lepaskan wanita itu, dan kembalilah ke jalan Allah. Wanita itu pasti juga memiliki cinta, biarkanlah dia memilih jalan cintanya sendiri.”
”Jika aku tak bisa memilikinya, maka biarlah tidak akan ada yang memilikinya. Tuhan sekalipun!”
Suasana hening tercipta, tidak orang lain. Rata-rata hari minggu, para Mahasiswa dan Pelajar sedang mudik. Angin semilir membawa hening menerpa wajah mereka.
Dan...
”Aduuh!” lelaki berjaket hitam itu menjerit, tangan kanan ditariknya karena wanita yang disanderanya tanpa diperkirankan telah menggigit punggung tangannya.
Wanita itu menggerakkan kedua tangannya memegang tangan yang memegang pisau itu dan mengangkatnya di depan wajahnya dan giginya yang putih segera menancap di punggung lelaki yang mencekalnya. Dalam benak wanita itu, hanya satu hal yang dipikirkan setelah semua kejadian dan musibah yang tiba-tiba menghantam bahtera hidupnya. Satu yang dipikirkannya, jika memang kematian merupakan kehendak Allah, maka dia telah ikhlas.
Wanita itu segera berlari ketika cekalan lepas, dia berlari menuju Faza.
Faza tak menyangka wanita itu menubruk dirinya dan sempurna memeluknya, Faza tidak memperkirakan sama sekali. Dia kaget dan bingung hendak berbuat apa. Saat hendak melepaskan pelukan wanita itu, lelaki berjaket hitam sudah bergerak kearahnya dengan pisau siap menerjang. Fokusnya kini adalah melindungi, bukan mementingkan diri sendiri. Allah..., semua atas kehendakMu.
”Matilah kalian semua!” mata itu lebih berkilau daripada ketajaman pisau yang telah siap menerjang punggung wanita itu.
Sangat cepat, Faza tidak memiliki persiapan khusus karena wanita itu memeluknya erat. Bingung hendak mengelak, dia memutar tubuh wanita itu ke kanan dan pisau itu sempurna menembus dagingnya di perut sebelah kiri. Matanya seolah berkunang-kunang, kelebatan wajah Ibu dan Ayahnya tiba hadir di pelupuk matanya. Mereka tersenyum kepadanya. Kakinya gemetar hebat, tusukan pisau itu seolah semakin nyeri masuk lebih dalam seolah ditekan sedemikian kuat. Tubuhnya terasa berat dan hendak melorot ke bawah.
Wajah Azizah tiba-tiba membayang di pelupuk matanya, Tidak! Aku harus bertahan, aku harus menjaganya. Aku telah berjanji untuk menjaganya. Bukankah harapan-lah yang membuat Rasulullah saw memperjuangkan seluruh hidupnya di jalan Allah? Harapan untuk menegakkan Kalimatullah di bumi. Bukankah harapanlah yang membuat seluruh manusia berjuang dan bertahan? Dan selama ini aku hidup untuk sebuah harapan, harapan untuk mendapatkan tempat yang baik di sisiMu?
Mata yang semula redup itu tajam membuka. Wanita di pelukannya histeris melihat darah keluar dari balik baju Faza, merembes.
Rasa nyeri seolah tak dirasa lagi ketika lelaki berjaket hitam itu menarik kuat belatinya dan hendak menikamkannya kembali. Namun, sasarannya kini adalah wanita di hadapannya.
Mata Faza kini menajam, dipegangnya kedua pundak wanita itu dan di dorongnya kuat ke samping kanan hingga terdorong hingga membentur dinding. Kedua tangan Faza langsung memegang pergelangan tangan kanan lelaki berjaket hitam, memijit telapak tengah dan memencetnya kuat serta memelintirnya ke kanan, lelaki itu meraung kesakitan. Pisau itu terlepas.
Faza menarik tangan kanannya dan sempurna dengan kuat memukul tengkuk tepat di bagian vital ketika lelaki itu kesakitan dan sedikit membungkuk. Kesempatan melumpuhkan. Dan suara tercekat mengakhiri kesadaran lelaki berjaket hitam itu, dia terkulai tak sadarkan diri. Faza menguatkan pijakan kakinya, namun semuanya terasa semakin memburam. Wanita yang tadi terbentur di dinding seolah panik dan berlari mendekatinya, namun sayang matanya telah samar menatap dunia. Semua bagai menghilang. Dan terbang. Fly.