Warna Pelangi Cinta
Perjuangan Cinta (2)
Faza membuka matanya kembali. Gemuruh tahmid berkumandang, wajah-wajah di hadapannya nampak ceria meski airmata mereka tak bisa ditutupi.
Faza memaksakan dirinya untuk mengangkat kepalanya, berat. Azizah membantunya untuk duduk. Rasyid, Shafwan dan dua orang wanita berjilbab ada di kamar itu ditambah Azizah yang sedari tadi tak pernah berhenti meneteskan airmatanya.
“Jangan banyak bergerak dulu Kak,” wajah itu selalu membuat jiwanya tegar, wajah yang dapat membuatnya selalu bersemangat untuk melakukan yang terbaik.
“Iza..., hari apa sekarang?
“Selasa Kak.”
“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”
“Dua hari Kak.”
“Dua hari?” Faza memaksakan dirinya untuk dapat duduk dengan tegak, “Shaf.”
“Ada apa Kak?” Shafwan mendekati Faza dari arah kiri berseberangan dengan Azizah, namun mata mereka bertemu sejenak dan saling menunduk menatap Faza kembali.
“Tolong, ambilkan aku air untuk berwudhu. Aku harus mengganti shalatku yang terlalaikan. Barangsiapa lalai dalam shalatnya maka dia menggantinya ketika dia ingat. Tiada kafarat kecuali itu. ”
“Tunggu sebentar Kak,” Shafwan berlalu dan beberapa detik kemudian kembali membawa ember kecil dan gayung. Semua orang keluar kecuali Faza dan Shafwan yang membantunya mengambil air wudhu. Faza meminta Shafwan untuk keluar dulu, dia ingin bermunajat pada Allah dan Shafwan meninggalkan kamar itu.
Faza shalat dalam posisi duduk dengan isyarat-isyarat, rasa sakit di perutnya yang robek dilupakannya. Dia menuntaskan rindunya, airmatanya bagai tak terbendung lagi. Semua ruangan itu serupa cahaya, semua terasa bagaikan cinta yang menelingkupinya, bagaikan seluruh alam menyertai desah lafadznya.
Sudah dua jam, Azizah menengok dari jendela. Kakaknya masih belum selesai, dilihatnya airmata Kakaknya yang berjatuhan, Kak..., sungguh kesyukuran apa yang harus kuberikan pada Allah yang telah menganugerahiku seorang Kakak yang telah memperjuangkan segala apa yang dimiliknya untukku, untuk saudara-saudaranya. Sungguh kau teladan dalam hidupku. Allah..., Kaulah yang Maha Mengetahui dan Berkehendak, berikanlah yang terbaik pada kak Faza. Bukankah seluruh wujud karuniaMu ada padanya? Ya Allah, dialah kebahagiaan yang Kau sisakan untukku di dunia ini. Kumohon, jangan ambil dia ya Rabb. Azizah menitikkan airmatanya, benar-benar hatinya tak tahan lagi.
Sebuah tepukan lembut di pundaknya menyadarkannya kembali, “Bersabarlah Azizah, aku tahu kesedihanmu. Walau aku tak mempunyai seorang saudara pun, tapi aku tahu, dia adalah seorang Kakak yang bertanggung jawab. Dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan seseorang, Allah juga menuntunnya untuk menolongku bukan? Dia yang memperjalankan hambaNya untuk melakukan kehendakNya, aku yakin, Allah mempunyai rencana tersendiri atas hamba-hambaNya,” Salwa mencoba menenangkan Azizah, dia sadar bahwa kini dia haruslah menguatkan saudarinya itu.
“Kumohon..., peluklah aku Salwa. Aku tak kuasa sama sekali, aku tak bisa membayangkan sedikitpun jika harus ditinggal kak Faza,” airmata itu terus membanjir.
Salwa memeluk Azizah, pertama kali ini bagi Salwa membuka hatinya untuk mau mengerti orang lain. Sesungguhnya akulah yang harus belajar banyak dari kalian Azizah dan kak Faza..., semua masalah yang menimpaku dan ujian yang kualami belum seberapa dibandingkan dengan yang kalian alami. Dan kalian tegar dalam jalan Allah. Aku sangat iri dengan kalian. Aku baru tahu makna sms dari kakakmu dulu. Salwa mengingat kembali sms yang dulu dikirimkan Faza untuknya, sms itupun hingga kini masih disimpannya.
”Asw.Masyaallah, bertaubatlah saudaraku.Kekasihku itu tahu dari setiap gerakku, dia tahu dari sorot mataku jika aku khianati cintanya, dia tahu jika hatiku mendua, dia tahu jika berpaling darinya walau hanya besitan dalam jiwaku.kau tak akan bisa menyainginya.maaf saya sedang bekerja, nanti saya akan menghubungi anda untuk membayar pulsa yang anda kirim.afwan.”
Kini, aku tahu makna kata-kata mutiaramu. Sms yang kau katakan Kekasih adalah Rabb Semesta Alam. Karena Dia tahu dari setiap gerakmu, Dia tahu dari sorot matamu yang khianat, Dia tahu jika hatimu mendua kepada selainNya, Dia tahu seandainya kau berpaling dariNya walau hanya besitan dan dari hati dan jiwa. Tidak ada yang bisa menyaingiNya. Dia adalah Allah..., Dia adalah Allah..., Dia adalah Allah. Sungguh, Dia hanyalah Allah.
Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Salwa telah menetapi dirinya setelah peristiwa yang hampir merenggut kesuciannya. Dia sadar, ada yang menyelamatkan dirinya, Dialah Allah. Dia telah menetapi dengan sepenuh keyakinan untuk membaktikan dirinya hanya untuk Rabb Semesta Alam. Belajar dan akan terus belajar, menyemai dan memikul amanah namanya dari almarhum Ibunya, Salwa Salsabila, Madu dari air mata dari sumber surga. Bukankah itu keindahan?
Setelah kejadian itu dia belajar agama bersama Azizah dan Zulfa, mereka menasehatinya kala hatinya enggan bertaubat karena ragu apakah Allah masih bisa mengampuninya. Zulfa membacakan sebuah ayat Al-Quran padanya, ”Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.”
Dan, Azizah memberinya tambahan yang meneduhkan dan menguatkannya, ”Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah Maha Pengampun, kau harus mengetuk pintu taubatNya, walau dosa sepenuh bumi dan setinggi langit, jangan pernah berhenti mengetuk pintu taubatNya. Allah akan gembira dengan taubat hambaNya melebihi seorang yang menemukan kuda dan bekalnya yang hilang di tengah padang pasir, hingga orang itu salah berucap, ”Ya Allah, aku tuhanmu dan kau memang hambaku.” Allah lebih gembira akan taubat hambaNya.
Jika kita tidak bertaubat sekarang, kapan lagi kita akan mengakui semua kesalahan kita? Sampai kapan lagi kita yang sebenarnya sangat lemah ini akan menyombongkan diri di hadapanNya? Belumkan semua kebesaranNya mengetuk hati kita? Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
Tanpa terasa air matanya menetes, meresap ke dalam kain jilbab birunya. Dua gadis itu sama-sama menitikkan kesombongan, mereka mengakui kelemahan mereka di hadapan Allah. Di hadapan Allah, mereka bukanlah siapa-siapa. Hanya salah satu ciptaanNya yang lemah. Mereka menyerahkan segala ketetapan kepadaNya, berusaha untuk mengikhlaskan seluruh ketetapan.
Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.
Setelah mengurus Hafidz yang sudah tertidur, Shafwan sore itu ke Rumah Sakit Umum Kota Metro. Hafidz setidaknya sudah dititipkan kepada tetangga kost mereka yang juga menjadi muridnya ngajinya karena masih SMK di Kampus. Kini, dia harus menjenguk kembali kak Faza, melihat keadaannya. Hafidz membeli dua nasi bungkus di rumah makan Barakah di Kampus, Pasti Azizah dan Salwa belum makan, mereka terlalu lelah menunggui kak Faza. Shafwan baru mengenal dua wanita berjilbab itu, satunya adalah adik orang yang dipanutinya dan sekarang dalam pinangannya, yang satunya ternyata adalah seorang yang kost di samping mereka. Salwa juga baru saja mulai berkomitmen untuk mengenakan jilbab, semoga dia bisa bertahan dalam segala terpaan ujian, amiin. Begitu doa Shafwan dalam hati.
Shafwan segera turun dari angkot warna merah di pertigaan Rumah Sakit, wajahnya tampak gembira. Rindunya segera ingin bertemu Faza. Dipercepat langkahnya setengah berlari.
Kamar yang merawat Faza tertutup, tampak di luarnya duduk di kursi Azizah dan Salwa. Salwa sedang membaca sebuah buku berjudul, ‘Lautan Jilbab’ sedangkan Azizah sedang tilawah Al-Quran. Shafwan memelankan langkahnya, mendekati mereka.
“Assalamu’alaikum,” Shafwan berucap salam saat Azizah menyelesaikan bacaan Qurannya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” Salwa dan Azizah menjawab hampir bersamaan.
“Kak Faza sedang tidur?”
Azizah mengangguk, “Tadi kak Faza merasakan kesakitan di perut kirinya, kemudian dokter menyuruhnya untuk istirahat dulu. Jangan banyak berpikir.”
Shafwan menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana kabar kak Hafidz?”
“Insyaallah semakin baik, ada apa?”
“Alhamdulillah, kak Faza selalu menyebutnya dalam igauan. Ketika sadar pun tadi yang ditanyakannya adalah keadaan Hafidz.”
Kemulyaan Allah memang untukmu sahabatku Hafidz, wajahmu adalah cahaya, Shafwan kembali hanya manggut-manggut, “Oya, aku bawakan nasi. Pasti kalian belum makan siang kan? Kak Faza kadang bercerita kalau Azizah susah untuk makan dari kecil, pasti harus diingatkan. Ini,” Shafwan menyerahkan dua bungkus nasi yang dibungkus dalam plastik berwarna hitam.
Azizah menerimanya. Kak Faza, alangkah rindunya engkau bisa bercanda lagi seperti sediakala. Aku rindu, “Kak Shafwan pasti juga belum makan bukan? Kak Faza juga pernah cerita tentang salah satu temannya yang hobinya membaca. Bahkan dia punya motto hidup, lebih baik menahan lapar daripada menahan ilmu untuk dipelajari, atau lebih mudahnya lebih baik beli buku daripada tiga kali makan sehari.”
Shafwan menggaruk-garuk kepalanya sambil menunduk, dia merasa malu.
“Satu bungkus biar aku dan Azizah yang makan separuh-separuh, yang satunya buat kak Shafwan saja. Bagaimana?” Salwa menimpali.
“Sepakat,” Azizah langsung merespon.
“Tidak. Biar aku beli lagi saja.”
“Merepotkan, ini sudah cukup buat kami. Pasti kalau belinya di Barakah akan dapat nasi banyak, itu sudah cukup,” semua mahasiswa tahu rumah makan Barakah, satu porsi nasi dan sayurnya sangat banyak, Azizah kembali menghulurkan nasi bungkus yang masih di dalam plastik, dan satunya diambilnya.
Shafwan terpaksa menerimanya kembali.
“Kami akan makan di dalam,” Salwa mengajak Azizah, dan mereka langsung masuk ke ruangan Faza. Faza sedang tiduran di dalam, tangannya bergerak-gerak menghitung dekak garis tiap jarinya. Berdzikir.
Shafwan mengambil nasi bungkus dalam plastik, ada bunga yang bermekaran di hatinya. Hati kecilnya berharap banyak bahwa lamarannya sudah disampaikan kepada Azizah. Menikah adalah jalan terbaik baginya kini, menjaga kesucian dirinya sekaligus mendapatkan wanita yang tentu tidak terlalu beda dengan kakaknya, Faza. Ada senyum manis yang terukir dari bibirnya, senyum keindahan dan senyum keikhlasan untuk hanya meraih ridha Allah. Apapun kehendakMu ya Allah, apapun kehendakMu, hamba akan selalu menerima setiap keputusan dengan hati terbuka, hati yang taat, dan hati yang ridha. Tetapkanlah yang terbaik, duhai Rabbi, duhai cintaku, duhai cinta sejati, duhai Allah. Tiada sekutu bagiMu.
Subhanallah. Shafwan membawa nasinya, di pojok ruangan ada kran air yang ditampung dalam sebuah porselen yang mengelilingi di bawahnya. Cuci tangan.
Kakinya mulai melangkah mendekati kran, tangannya telah jauh-jauh dari mulai langkahnya terhulur untuk menggapainya. Perutnya memang telah lapar, semenjak pagi dia hanya sarapan dengan dua kue yang dibelinya dari ibu-ibu yang keliling dari kost ke kost.
Apakah memang jalan pintas yang kuambil ini baik ya Allah? Shafwan tiba-tiba meragukan kembali keputusannya untuk melamar Azizah. Karena jujur, lamarannya itu karena dia tidak bisa membayangkan wanita yang pernah ditemuinya sekali di toko Taqwa. Wanita bermata biru indah itu.
Astaghfirullah. Shafwan memejamkan matanya, tidak mau terjerat dalam buaian bayang-bayang wanita itu lagi. Dia ingin melupakannya, dia kini tengah melamar seorang wanita yang bernama Azizah. Insyaallah ini yang terbaik dariMu ya Allah.
Saat jaraknya tinggal satu meter di depan kran itu, di pojok ruangan itu, di tikungan itu, kembali imannya harus bergetar. Wanita bermata biru lazuardi itu muncul dari tikungan itu, tepat saat matanya menoleh wanita itu juga melihatnya.
Nasi bungkus dalam kepalan tangan kirinya terjatuh ke lantai keramik. Seluruh tubuh Shafwan gemetaran, entah apa yang dirasakannya, semua dalam pikiran dan yang terbersit dalam otaknya telah sirna bagai kapas yang diterbangkan oleh angin yang tiba-tiba menghancurkan segalanya. Nasi berhamburan di bawah kakinya, hanya Allah yang mengetahui gerangan apa yang sekarang ada di hatinya.
Sosok bermata biru indah itu kini di hadapannya. Akankah dia percaya?