Warna Pelangi Cinta
Nabil, Wanita yang Memendam Rasa
Azizah baru merasa inilah Kakaknya yang baik itu tiba-tiba marah.
Azizah kaget menatap wajah Kakaknya. Tak pernah dilihatnya wajah yang dulu penuh ketulusan kini berubah hanya gara-gara dia ingin menunda pendidikannya, ”Bukan seperti itu Kak, kumohon. Semua ini kulakukan demi cintaku pada Kakak...,” Azizah menangis beradu dengan suara hujan yang menghunjam genting-genting.
”Bohong! Kau bahkan sama sekali tak mencintai Kakakmu. Kau menyakitinya, lupakanlah aku jika kau tetap bersikeras tak mau masuk kuliah! Lupakanlah aku sebagai Kakakmu dan hiduplah sekehandakmu!”
Azizah berdiri dan meraih tangan Kakaknya untuk menciumnya dan meminta maaf, Faza menepisnya. Bi Husna keluar karena suara ribut-ribut itu terdengar dari kamarnya, ”Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?” Azizah menangis sesenggukan.
Faza menatap bibinya sekilas, ”Bi, katakan pada Azizah yang telah tega menyakitiku. Katakan padanya bahwa aku bukan kakaknya lagi!” Faza membalikkan kepalanya dan membuka pintu, ”Mulai sekarang, jangan anggap aku sebagai kakakmu lagi Azizah!” langkahnya melesat menerobos hujan yang bergemuruh marah.
Azizah tak berfikir lama, hanya Faza yang dimiliki di dunia ini. Bukankah hidup mereka telah sama-sama menderita? Dulu, pernah Faza dipukul gara-gara mengambil makanan di toko sekedar untuk memberinya makan karena kelaparan. Azizah berlari mengejar Kakaknya yang baru beberapa meter keluar dari rumah.
”Kakak! Jika kau tak lagi mengganggapku sebagai adik lagi. Lebih baik aku mati saja! Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku akan melakukan apapun yang Kakak perintahkan!” langkahnya terhenti karena Faza berhenti di depannya.
Faza berbalik dan mereka beradu pandang, diguyur hujan, diterpa dingin malam, di naungi awan gelap.
”Iza, benarkah apa yang kau katakan?” Azizah mengangguk, airmatanya berurai.
Faza memeluk adiknya, ”Sampai kapanpun, kaulah tujuan hidup Kakak. Kaulah kebahagiaanku..., jika kau rela mengorbankan sekolah untuk Kakak, maka kau telah menyakitiku. Kau tahu, kebahagiaanmu adalah jantung kehidupan Kakak.”
”Maafkan Azizah Kak.”
”Semuanya pasti bisa kita hadapi bersama Iza, bukankah Allah yang selalu memberikan cintaNya..., bukankah Ibu dan Bapak hidup di hati kita, ketegaran mereka tumbuh di hati kita. Yakinlah pada Allah..., semuanya akan berjalan dengan sebaik-baiknya,” hujan terus mengguyur mereka. Allah sedang membuktikan cintaNya.
”Cepat masuk! Nanti kalian sakit,” Bi Husna memanggil mereka sambil mengusap airmatanya. Kedua anak Kakaknya itu benar-benar mewarisi karakter kedua orangtuanya, mewarisi rasa cinta dan ketulusan.
Azizah membuyarkan pandangannya dari langit yang cerah. Diusapnya jernih air yang menetes. Kejadian yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi, Kakaknya mengambil cuti selama satu semester untuk membayar biaya masuk kuliahnya di STAIN, prodi Ekonomi Syariah. Hasil semesteran kemarin membuatnya bahagia, indeks prestasinya di semester satu 3,88. Kakaknya sangat bahagia lalu membelikannya satu jilbab yang warnanya begitu indah. Allah..., terimakasih atas semua nikmatMu. Sungguh..., hamba ikhlas bertuhankan Engkau.
Diingatnya pula bagaimana perhatian Kakaknya, betapa cinta itu begitu kuat. Rela berkorban apapun untuknya. Suatu hari Ketika dia pulang kuliah, saat melewati lapangan kampus, seorang pelajar SMA menggodanya. Ketiga pelajar itu bersiul-siul, saat itulah Kakaknya yang kebetulan sedang ada rapat di masjid Babussalam keluar dan menghampiri ketiga pelajar itu. Faza menasehatinya, tapi seorang pelajar rupanya sedang mabuk dan mengatakan sesuatu yang membuat Kakak marah. Perkataan, ’Wanita manapun sebenarnya suka kalau diganggu, termasuk perempuan itu. Atau mungkin jilbabnya itu sebagai kedok saja. Ha..ha...,’ dan pukulan mentah itu memukul wajah pelajar itu hingga terjungkal.
Azizah berazzam tak akan membuat Kakaknya bersedih lagi, dia harus tegar, dia harus menjadi yang terbaik untuk Allah. Allah..., jadikanlah Kakakku juga mendapatkan yang terbaik. Allah..., berikanlah rasa cinta dan keikhlasan dalam setiap langkah kami. Jadikan ikatan cinta kami kuat dan tak retak sedikitpun, jadikan kepercayaan kami seteguh gunung yang menjulang. Allah...
Di asrama Shalehah, letaknya sebelah barat, 800 meter dari STAIN. Seorang wanita yang wajahnya bagai pualam, bersih lagi jernih dengan mata lentik bagai embun dan batu marjan sedang menulis sesuatu dalam diari tebalnya. Kala panas menyengat dan teman-temanya kebanyakan tertidur dalam kamarnya masing-masing, gadis ini menulis kata-kata dalam bukunya. Di dekatnya terdapat kliping yang terbuka.
Kliping yang dikumpulkannya, kliping tentang cerpen, kumpulan sajak atau opini beberapa media massa. Namun setiap lembar demi lembar isi klipingnya mempunyai kesamaan siapa Penulis yang membuatnya. Kliping yang dikumpulkan adalah karya seorang sastrawan pemula dari kota Metro ini, Penulis itu menghentak keterbatasan di antara tidak adanya Penulis kota Metro yang produktif, atau kurangkah percaya diri untuk mempublikasikan karyanya? Atau karena merasa malas? Ataukah karena keterbatasan dalam hal belajar? Nama Penulis yang karya-karyanya dikumpulkan itu adalah Faza Arfani Al Barraq, seorang Penulis pemula yang karya-karyanya amat menyentuh.
Wanita itu menulis beberapa kata dalam buku diarinya
Diariku, hari ini jumat
Kau tahu apa yang akan kutulis? Baiklah, aku akan menceritakannya padamu agar kau mengerti. Kau tahu..., siang ini aku bertemu dengannya sekali lagi, di jalan biasa kala aku menghadiri kajian di Wahdatul Ummah. Kau tahu, hari ini aku melihatnya lebih lama dari biasanya. Kenapa?
Biasanya kan..., aku melihatnya ketika dia naik sepeda melintas di pondok putri Wahdah. Kau tahu bukan? Tapi hari ini, ada musibah kecelakaan di jalan depan masjid. Lelaki itu..., menolong korban kecelakaan. Empatinya begitu kuat, kutahu dia lelaki tegar. Dia mengisi kajian setiap jumat memakai sepeda, dia tak pernah malu, lihatlah wajahnya yang bersinar lebih cerah dari matahari yang menyala.
Lelaki itu tak meninggalkan korban kecelakaan. Dia membopong lelaki tua yang mengendarai motor, kini kutahu bahwa ’Setiap kata yang keluar dari seseorang adalah cerminan akhlaknya’ adalah benar. Kutahu empatinya yang besar, sesuai dengan tulisan-tulisannya yang telah membuatku tertawan olehnya. Allah..., salahkah hamba yang menyimpan perasaan ini? Jika salah mohon ampuni hamba. Tapi..., tak bolehkan hamba berharap mendapatkan pendamping sepertinya? Allah...
Lelaki itu begitu dekat denganMu bukan? Bukankah Kau melihat kebaikan padaku jika dia menjadi pendampingku? Ampuni hambaMu yang berharap tak pantas, padahal dosaku begitu banyak. Akankah aku sebanding dengan lelaki tegar yang selalu diceritakan Kakakku?
Diari..., Kakakku tak pernah sadar. Setiap kali dia bertemu denganku yang dibicarakannya adalah nama Faza..., ya Faza Arfani Al-Barraq. Nama itu telah menghunjam dalam dadaku sangat dalam. Setiap kelebihannya telah menawan diriku, tulisan-tulisannya begitu indah. Perjuangannya dalam dakwah tak ingin diketahui orang lain, ketegarannya dalam menghadapi hidup, prestasi kuliahnya yang membuat kak Lutfi terheran-heran. Semua kebaikan terkumpul pada lelaki tegar yang Kau ciptakan itu ya Allah.
Allah, ampuni hambaMu yang sangat lemah ini. Maka kuatkanlah hambaMu. Allah, hamba miskin, maka kayakanlah. Ya Allah hamba hina, hamba tak tahu jadi apa jiwa ini jika Kau tak Kau tunjukkan jalanMu. Allah mulyakanlah hambaMu ini..., Allah... ampuni hambaMu.
Wanita itu menutup kembali buku diarinya. Airmatanya menetes. Matanya menatap Nisa yang tertidur dalam buaian kipas kecil. Satu kamarnya untuk dua orang, karena baginya yang masih serba kekurangan memaksanya untuk berhemat. 750 ribu dibagi dua orang, jadi biaya kostnya setahun 375 ribu rupiah.
Wanita itu bernama Nabil Zakiah Nashif, dia duduk di semester enam prodi Hukum Islam di STAIN. Dia adalah adik Lutfi A’saru Yasar. Nabil terpaut satu tahun setengah dari Kakaknya, tapi sekolahnya hanya berjarak satu tahun.
Nabil pernah bertanya suatu kali pada Kakaknya Lutfi tentang arti namanya, Lutfi mengambil Jurusan Syariah menjawab;
”Seorang wanita yang cerdas, maka hatinya murni dan bersih dan sikapnya penuh dengan ketawazunan atau penuh dengan sikap keadilan. Dan kau tahu adikku, apa arti nama kakakmu ini. Lutfi A’saru Yasar? Ayo jawablah jika engkau memang cerdas seperti arti namamu?”
Nabil tersenyum, ”Nama Kakak sungguh indah, artinya adalah seseorang yang lembut lagi pekerja keras karena menjaga izzahnya, dia hanya mau makan dari hasil kerja kedua tangannya sendiri. Almarhum Ayah pasti memberi nama itu pada Kakak karena Beliau ingin agar Kakak tidak punya mental pengemis. Kakak harus jadi tegar dan kokoh ketika berjuang,” ucapannya itu diacungi jempol kiri dan kanan kakaknya.
”Kau tahu Nabil, ada seseorang yang teramat aku kagumi. Dia yang menerjemahkan arti namaku sebagaimana sama dengan yang kau ungkapkan barusan. Dia menyemangatiku ketika aku malas, dia membantuku menemukan optimis diri, dia mengajakku bekerja dengan kedua tangan sendiri walaupun hasilnya sedikit karena itu lebih baik dari meminta-minta. Dari dia aku belajar bagaimana menghargai kehidupan, saat aku tak punya tempat kerja yang coba kutawarkan tenagaku. Dia datang, memintaku membantunya berjualan gorengan dan kue di depan kontrakan. Lelaki itu sungguh kekuatan yang tegar. Kau ingin tahu siapa laki-laki tegar itu?”
Nabil menganggukkan kepalanya.
”Dia adalah Faza teman satu kontrakan. Dia begitu tegar, dia lebih hebat dari Kakak. Prestasi kuliahnya sangat jauh dari Kakak, dakwahnya untuk Allah tak pernah dia pamerkan sama sekali, dan apakah kau tahu apa yang diperbuatnya sehingga aku tak akan bisa menyainginya.”
”Dia melakukan apa?”
”Dia mengambil cuti agar adiknya bisa masuk kuliah.”
”Tapi..., bukankah Kakakku ini tidak ada tandingannya? Bukankah konsep Kakak untuk syariah ekonomi di Lampung Timur mendapat apresiasi positif dari Gubernur sehingga Kakak jadi tamu undangan waktu peresmiannya? Prestasi kuliah Kakak juga hebat, comlaude,” Mata Nabil mengerling menggoda Kakaknya.
Lutfi tersenyum, ”Sesungguhnya Faza lebih baik dariku, sewaktu SMA dia sering memenangkan lomba dan beberapa kali menjadi duta untuk perwakilan sekolahnya. Pengorbanannya adalah darah dan keringat. Aku pernah tak sengaja membuka arsip-arsipnya, sungguh prestasinya tak mungkin diraih oleh orang-orang yang hanya bisa bersantai. Dia begitu malas ketika berbincang tentang prestasi dan pengalamannya, dia selalu merendah. Dan satu hal adikku, programku yang diterima pak Gubernur adalah atas ide dan inisiatifnya dan..., dia memintaku merahasiakan ini. Biarlah jadi rahasia yang hanya Allah saja yang tahu karena Faza hanya ingin ekonomi syariah menjadi pilar terang di Lampung,” Lutfi menatap langit-langit rumah.
Sungguh Allah, sebelum Kakakku menceritakan kisah Lelaki itu, aku telah melihatnya setiap jum’at melewati Wahdatul Ummah. Dia lelaki tegar yang kata Kakak tak ada bandingannya? Allah jika Kau berkenan..., persatukanlah hambaMu ini dengannya, persatukanlah aku dengannya ya Allah. Ada titik airmata yang menggembung di antara celah kelopak matanya jernih.