Warung Kecil Istriku

Recehan yang Kau Hina

Asap minyak panas mengepul dari wajan besar di teras kontrakan sempit itu. Sari, dengan daster batik yang sudah pudar warnanya, cekatan membolak-balik bakwan yang mulai menguning. Peluh menetes di pelipisnya, kontras dengan udara subuh yang masih sedingin es.

"Masih kurang, Sari? Jam segini suara serokanmu sudah berisik. Mengganggu orang tidur saja!"

Suara bariton yang sarat akan kekesalan itu membuat gerakan tangan Sari terhenti. Deni, suaminya, berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja yang disetrika licin—baju yang dicuci dan disetrika sendiri oleh Sari semalam suntuk.

Sari tersenyum tipis, mencoba meredam suasana. "Maaf, Mas. Ini gorengan kloter terakhir. Sebentar lagi pelanggan nasi uduk sudah mau datang."

Deni mendengus, melangkah keluar sambil memakai jam tangan kulitnya. Ia memandang sinis deretan baskom berisi adonan, potongan kol, dan termos nasi besar di atas meja kayu reyot.

"Gorengan, nasi uduk... setiap hari rumah ini bau minyak jelantah. Kamu tidak malu apa, Sari? Suamimu ini kepala kompartemen di kantor, tapi istrinya penampilannya seperti pembantu begini," cemooh Deni sembari melirik sinis daster Sari yang terciprat noda kunyit.

"Aku cuma mau bantu ekonomi kita, Mas. Biaya kontrakan naik, kebutuhan dapur juga—"

"Bantu apa?" Deni memotong tajam. Ia merogoh dompetnya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu melemparkannya ke atas meja, tepat di samping toples plastik tempat Sari menyimpan uang kembalian.

Plak!

"Ini! Ini uang belanja dari aku. Cukup, kan? Berhenti sok jadi pahlawan di rumah ini. Penghasilanmu dari jualan beginian itu cuma receh, Sari! Buat beli bensin mobilku saja tidak cukup!"

Sari menatap lembaran uang di meja, lalu beralih menatap suaminya. Dadanya sesak, tapi ia sudah terlalu biasa menelan harga dirinya bulat-bulat. Selama lima tahun pernikahan, Deni selalu menganggap dirinya sebagai dewa penolong yang memberi makan Sari.

"Uang receh ini yang menjaga kita tetap makan waktu gajimu telat tiga bulan lalu, Mas," bisik Sari lirih.

Deni tertawa remeh, tawa yang menyepelakan. "Jangan mengungkit-ungkit hal kecil. Intinya, di rumah ini aku tulang punggungnya. Kamu itu cuma numpang hidup. Jadi, jangan bikin malu aku dengan jualan seperti pengemis begini!"

Tepat setelah kalimat pedas itu terlontar, sebuah mobil Honda Jazz putih berhenti di depan gang kontrakan mereka. Klaksonnya berbunyi dua kali.

Sari mengernyit. "Siapa, Mas? Tumben jemputan kantor pakai mobil pribadi?"

Wajah Deni yang tadinya ketus mendadak berubah agak gugup, namun dengan cepat ia merubah ekspresinya menjadi dingin dan angkuh. Ia merapikan kerah kemejanya.

"Itu Lisa. Rekan kerjaku sekalian manajer keuangan yang baru. Mulai hari ini aku berangkat bareng dia," kata Deni ketus.

Seorang wanita turun dari kursi kemudi. Pakaiannya sangat modis—blazer merah muda yang pas di badan, rok span hitam, lengkap dengan riasan wajah yang tebal dan wangi parfum mahal yang langsung menusuk hidung, mengalahkan bau minyak goreng di teras.

"Pagi, Mas Deni. Sudah siap?" sapa wanita bernama Lisa itu dengan suara yang sengaja dibuat semanis tebu. Matanya kemudian melirik Sari dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghinaan. "Oh... ini... pembantunya ya, Mas? Kok bau asap banget?"

Jantung Sari seperti dihantam godam. *Pembantu?*

Sari menatap Deni, menunggu suaminya meluruskan ucapan wanita itu. Namun, Deni justru terdiam. Pria itu malah tersenyum canggung pada Lisa.

"Mas...?" panggil Sari, suaranya bergetar. "Kenapa kamu diam saja?"

Deni berdehem, lalu menatap Sari dengan mata dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lisa, kenalkan, ini Sari. Perempuan yang selama ini mengurus rumah ini."

Deni sengaja tidak mengucapkan kata 'istri'. Hati Sari mencelos. Sakitnya menembus dada.

Lisa tersenyum sinis, seolah sudah tahu segalanya. "Oh, pantesan. Ya sudah, Mas, ayo berangkat. Nanti kita telat meeting-nya. Lagipula, hawanya di sini kurang nyaman, bikin pusing bau gorengannya."

"Ayo," jawab Deni cepat. Sebelum melangkah, ia berbalik dan menatap Sari dengan tatapan final. "Sari, nanti malam kita bicara. Ada hal penting yang harus kusampaikan. Dan tolong, bersihkan mukamu itu, menjijikkan melihatnya."

Tanpa menunggu jawaban, Deni melangkah pergi, masuk ke dalam mobil Lisa. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan debu dan sisa wangi parfum yang bersaing dengan bau jelantah.

Sari berdiri mematung di teras. Air matanya menetes satu per satu, jatuh ke dalam toples plastik berisi uang recehan sepuluh ribuan dan lima ribuan hasil jualannya kemarin.

"Numpang hidup ya, Mas?" gumam Sari dengan suara bergetar.

Ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan ujung daster. Rasa sedihnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa asat yang membakar di dalam dada. Sari berjalan ke dalam kamar, mengunci pintu, lalu merangkak ke bawah tempat tidur yang reyot.

Di sudut paling dalam, ia menarik sebuah kotak kue kaleng yang sudah berkarat. Di dalam kotak itu, bukan berisi uang kertas, melainkan sebuah buku tabungan bank swasta yang tidak pernah diketahui oleh Deni, lengkap dengan lembaran-lembaran surat perjanjian jual beli tanah dan kuitansi pembayaran material bangunan.

Sari membuka buku tabungan itu. Angka di dalamnya sudah mencapai ratusan juta rupiah.

"Kamu menganggapku pembantu, Mas? Kamu bilang uangku recehan?" Sari berbisik pada dirinya sendiri, matanya menatap tajam sertifikat tanah atas nama ibunya yang tersimpan rapi di sana. "Tiap bulan, dari uang receh yang kamu hina ini, aku sudah mencicil tanah dan membangun rumah dua lantai di pusat kota. Rumah yang bahkan tidak akan pernah sanggup kamu beli dengan gajimu."

Selama ini, Sari sengaja mengalah. Ia membiarkan Deni merasa menjadi raja di kontrakan ini. Ia sengaja memakai daster robek dan berbau asap agar Deni tidak pernah curiga ke mana larinya keuntungan melimpah dari bisnis katering kecil-kecilan dan jualan sarapan paginya yang selalu habis ratusan porsi setiap hari.

Tok! Tok! Tok!

"Mbak Sari! Nasi uduknya sudah siap? Saya mau beli lima bungkus buat orang proyek!" suara Bu RT dari luar membuyarkan lamunan Sari.

Sari segera menyimpan kembali kotak kalengnya dengan rapi. Ia menarik napas dalam-dalam, berdiri, dan merapikan dasternya. Luka di hatinya akibat perlakuan Deni tadi memang dalam, tapi Sari tahu, menangis tidak akan menghasilkan uang.

"Iya, Bu! Sebentar, sudah siap semua!" seru Sari dengan suara tegar.

Saat melangkah keluar untuk melayani pembeli, Sari memandang uang beberapa ratus ribu yang dilemparkan Deni di atas meja tadi. Senyum sinis terukir di bibir manisnya.

Silakan nikmati masa-masa di atas anginmu, Mas. Karena sebentar lagi, aku sendiri yang akan memastikan kamu jatuh ke tempat paling bawah, batin Sari bertekad. Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Deni nanti malam, tapi satu hal yang pasti: Sari sudah siap untuk skenario terburuk sekalipun.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!