Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Ikhlas itu apa
Malam itu, Hartati duduk di teras rumahnya.
Angin malam nyentuh kulit. Lampu teras rumah Hartati temaram. Di atas, beberapa bintang kelihatan, sisanya sembunyi.
Cangkir kopi hitam masih hangat di tangannya. Uapnya naik pelan, bercampur udara malam yang adem.
Hartati menarik napas panjang lalu menyandarkan punggung ke kursi plastik. Kakinya selonjor. Badannya capek, tapi pikirannya justru jalan ke mana-mana.
Wajah murung Reza kebayang lagi.
Kondisi anak itu mirip mereka dulu. Kerjaan ada. Penghasilan cukup meski bukan yang bergelimang. Sama persis kayak almarhum suaminya dulu.
Hartati senyum sendiri. “Kita dulu juga ribet, ya, Mas…” gumamnya pelan.
Dulu ribut cuma gara-gara menu prasmanan. Dia pengennya ayam goreng sama sambel. Suaminya ngotot ditambahin daging biar kelihatan enak. Belum lagi buku tamu—Hartati pengen yang motif bunga kecil, suaminya bilang norak. Souvenir? Lebih parah, bisa debat semalaman.
Hartati terkekeh kecil. “Sekarang kupikir lucu. Tapi dulu rasanya kayak mau cerai sebelum nikah.”
Ia menyeruput kopi. Rasanya pahit, tapi hangatnya menjalar sampai hati.
“Ternyata ribetnya nikah masih berlaku sampai zaman sekarang yo, Mas…” katanya lirih. “Kayaknya malah lebih ruwet dibanding kita dulu.”
Angin menyapu wajahnya pelan. Daun mangga di samping rumah bergesekan, suaranya khas.
Hartati menunduk. Tangannya tanpa sadar memegang cincin di jari manisnya. Sudah agak longgar, tapi masih setia dia pakai.
“Dulu kita ngerasa semua udah ditata rapi,” lanjutnya. “Undangan bagus. Makanan cukup. Orang tua bahagia. Kita pikir… ya udah, tinggal jalan.”
“Ternyata dari dulu sampai sekarang, nikah memang bukan soal gampang. Tapi juga bukan buat dipersulit.”
Hartati menatap langit.
“Mungkin Allah bukan pengen kita sempurna dulu, Mas,” katanya lirih. “Tapi pengen lihat… kita mau taat ikut perintahNya dulu apa nggak.”
Ia tertawa kecil, tapi nadanya menhana getir. “Ternyata semua yang kita impikan, semua yang kita susun itu… nggak cukup buat Tuhan percaya sama aku ya, Mas.”
Tangannya mengusap cincin itu pelan, seperti sedang mengelus sesuatu yang rapuh.
“Kamu diminta lagi sama Allah.”
Dadanya naik turun. “Apa ini karena aku terlalu bawel waktu jadi istrimu?” tanyanya pelan, hampir berbisik. “Terlalu banyak ngomel… terlalu sering ngatur… kurang bersyukur…”
Air matanya mulai menggenang. Hartati buru-buru menengadah. Menatap langit gelap, menahan agar butir bening itu tak jatuh.
Katanya ikhlas itu bisa karena terbiasa, bukan berarti lupa.
Ikhlas itu, tahu … kalau rindu tetap ada, tapi hati nggak lagi marah sama takdir.
Tapi kenapa dia masih sering merasa suaminya ada.
Masih kebiasaan nyiapin kopi dua cangkir atau refleks manggil namanya kalau kesepian. Masih ngerasa dia cuma lagi telat pulang.
“Aku ini ikhlas… atau cuma terbiasa menganggap kamu masih ada, sih?” gumamnya.
Hartati tersenyum getir. Bintang-bintang tetap kelap-kelip di sana. Ia menghela napas panjang. Menghabiskan kopinya. Lalu duduk lebih lama di teras, membiarkan malam menutup sisa-sisa rindu yang nggak pernah benar-benar habis.
***
Sementara di tempat lainnya.
Mereka bertemu dan pindah duduk ke sudut yang lebih sepi. Reza ngeluarin catatan kecil dari saku tasnya.
“Aku mau jujur dari awal ya, Rin,” kata Reza sambil membuka catatan itu. “Biar nanti pas ngadep orang tua, kita satu suara.”
Rini mengangguk. “Iya. Aku dengerin.”
Reza menarik napas sebentar. “Angka yang sanggup aku siapin sekarang… empat puluh juta.”
Rini diam, mencerna.
“Dengan angka segitu,” lanjut Reza pelan, “pesta tetap bisa digelar. Tapi… kita harus milih.”
Rini mengangguk pelan. “Milih yang mana?”
Reza mulai jelasin satu-satu, jarinya nunjuk catatan.
"Kalau mau dekor bagus, MUA beken, ya makanannya standar. Kalau mau prasmanan enak, souvenir pantas ... dekor dibikin simpel. Undangan digital biasa aja. Organ tunggal, nggak band full. WO juga cari yang terjangkau, bukan paket wah.”
Rini menyandarkan punggung ke kursi. Pilihan-pilihan itu berputar di kepalanya.
Yang dulu : paket all in, serba wah, nyaris seratus juta. Yang sekarang : harus dicoret, diganti, dipilih satu-satu.
“Berarti… nggak bisa semuanya,” gumam Rini.
Reza tersenyum kecil. “Iya. Kalau dipaksa semuanya, aku takut kita ngos-ngosan sebelum nikah, ngutang sana sini.”
Rini menunduk, menatap catatan itu. Beberapa detik berlalu. “Souvenir,” katanya akhirnya. “nggak usah mahal, tapi berguna.”
Reza langsung nyatet. “Oke. Kita cari online.”
“Dekor simpel nggak apa-apa,” lanjut Rini. “Yang penting bagus di fotonya.”
Reza mengangguk. “Berarti fokus ke makanannya?”
Rini mengangguk balik. “Iya. Biar tamu pulang kenyang dan puas."
Reza ketawa kecil. “Itu baru istriku.”
Rini melirik. “Belum.”
“Calon,” koreksi Reza cepat.
Mereka ketawa bareng. Suasananya mencair.
Reza lalu berhenti di satu poin. “Soal mahar…”
Rini langsung menatapnya.
“Aku baru sanggup siapin gelang,” kata Reza jujur. “Gimana?”
Rini ragu sebentar. Tangannya refleks memegang pergelangan sendiri. Lalu ia mengangguk pelan. “Nggak apa.”
Reza tersenyum lega. “Tujuh gram. Pas di tangan kamu,” katanya sambil kekeh, mencoba bercanda.
Rini ikut ketawa kecil.
“Lima gram aja. Dua gramnya buat cincin,” katanya. “Dapet dua item jadi keliatan banyak pas disebut penghulu,” kekehnya lepas.
Reza terdiam sebentar. Lalu mengangguk, ikut tertawa geli. “Oke.”
Beberapa poin lagi dicoret. Tidak ada seragam bridesmaid. Tidak ada band sampai sore. WO sesuai budget.
Catatan itu penuh coretan, tapi justru terasa lebih nyata, bisa dijangkau bersama-sama.
Sebelum pulang, Rini melihat ulang semuanya. Yang hilang memang banyak. Tapi entah kenapa, dadanya terasa lebih ringan.
Ia menutup catatan itu pelan. Lalu menatap Reza. “Siap, kan?” tanyanya.
Reza mengangguk mantap. “Siap. Barengan.”
Mereka pulang. Reza mengantar sampai di depan rumah Rini menjelang magrib.
Langit mulai gelap pelan, lampu teras sudah menyala. Reza mematikan motor. Rini turun lebih dulu.
Baru beberapa langkah, pintu rumah terbuka. Ibunya Rini berdiri di ambang pintu. Kerudungnya rapi, wajahnya datar tapi matanya menyelidik.
“Kok lama?” tanyanya singkat.
“Macet, Ma,” jawab Rini.
Reza langsung menunduk sopan. “Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam,” balas ibunya, lalu menatap Reza agak lama. Pandangan yang bikin dada orang deg-degan tanpa harus marah.
“Kamu sehat?” tanyanya, melirik dahi Reza yang masih ada bekas plester.
“Alhamdulillah, Bu. Sudah mendingan.”
Ibunya mengangguk. Lalu langsung ke inti. “Gimana kesiapanmu?” tanyanya. “Nikah itu bukan cuma janji. Ada lamaran dulu. Keluarga kami nunggu kejelasan.”
Reza menelan ludah. Tapi wajahnya tetap tenang. “Kami datang sewajarnya, Bu,” kata Reza pelan tapi jelas. “Membawa apa yang bisa kami bawa. Tidak berlebihan, tidak pula asal.”
Ibunya menyipitkan mata sebentar.
“Asal jangan sampai malu-maluin Rini,” katanya datar.
Reza tersenyum kecil.
Dalam hatinya, kalimat itu terasa menyudutkan. Bukan karena takut dianggap kurang, tapi karena yang ia pikirkan bukan cuma Rini.
Mana mungkin dia datang hanya supaya Rini tidak malu. Di belakangnya ada ayah dan ibu yang ia jaga harga dirinya. Ia tidak ingin satu pun dari mereka merasa direndahkan.
Rini maju setengah langkah, mendekati ibunya. “Kami sudah sepakat, Ma,” katanya.
Ibunya menoleh cepat. “Sepakat apa?”
.
.