Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Dikabulkan eh Lupa
Hima terdiam. Kalimat itu pendek. Tapi di telinganya terdengar seperti pukulan palu, tepat dan meninggalkan bekas.
Sekali ini aja.
Ia menatap Anggun. Mata istrinya tidak memohon dengan tangis. Tatapannya lurus, jujur, dan penuh harap.
Harapan yang kalau ia tolak, mungkin tidak akan hancur seketika, tapi retaknya akan makin membesar.
Hima menelan ludah. Dadanya naik turun.
“Sekali ini,” ulangnya pelan, seolah mencicipi kata itu. “Dan kalau… kalau nggak berhasil?”
Anggun menghela napas. Bahunya turun sedikit. “Aku nggak janji bakal kuat seratus persen,” katanya jujur. “Tapi aku janji nggak nyalahin kamu.”
Hima tahu. Ia menunduk, mengusap wajah. Ingatan tentang ayahnya kembali muncul.
~Menjaga itu kadang artinya menahan. Kadang artinya mengalah. Tapi jangan sampai dua-duanya bikin kamu kehilangan dirimu sendiri.
Hima mengangkat wajahnya lagi. “Kalau kita jalan,” katanya pelan tapi tegas, “aku mau batas yang jelas, kita jalani proses ini sampai dimana.”
Anggun mengerjap. “Maksud Mas?”
“Kita konsul dulu. Dengerin dokter. Hitung biaya dengan matang. Tanpa gadai SK dulu,” ujarnya hati-hati. “Kalau memang harus utang, aku mau utang yang kita sanggup bayar tanpa saling nyiksa. Hidup itu panjang, Dek.”
Anggun terdiam. Harapan di matanya tidak padam, tapi kini bercampur ragu.
“Dan,” Hima melanjutkan, “kalau dokter bilang peluangnya kecil… kita berhenti. Bukan karena nyerah. Tapi karena jaga diri.”
Sunyi lagi.
Anggun memejamkan mata. Napasnya tertahan beberapa detik, lalu keluar perlahan. “Aku takut Mas,” katanya lirih. “Takut kalau berhenti artinya selesai.”
Hima menggeser duduknya, lebih dekat. Tangannya menyentuh jemari Anggun—ragu, tapi mantap. “Berhenti dari satu cara,” katanya pelan, “bukan berarti berhenti berharap.”
Anggun menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Air matanya jatuh, tapi kali ini tanpa suara.
“Jadi… Mas setuju?” tanyanya pelan, hampir berbisik.
Hima menghela napas panjang. Keputusan itu terasa berat, tapi tidak lagi dia pendam sendirian. “Aku setuju mencoba,” katanya akhirnya. “Dengan cara yang kita sepakati berdua. Dan kalau nanti lelah lakuin ini semua … kita bicara. Jangan dipendam."
Anggun mengangguk cepat. Tangannya menguat menggenggam. “Aku janji.”
Hima tahu janji itu rapuh. Ia menarik Anggun ke dalam pelukannya. Seperti dua orang yang sama-sama lelah, akhirnya duduk di bangku yang sama.
Di luar kamar, malam masih sunyi. Tidak ada tanda-tanda jaminan berhasil. Tapi Hima tidak lagi merasa harus memilih antara menjadi suami yang bertanggung jawab atau lelaki yang berani berharap.
Malam itu, mereka memilih berjalan—pelan, dengan tangan yang saling menggenggam. Bukan karena yakin akan hasilnya. Tapi karena mereka sepakat menjalani bersama.
Sore keesokan harinya.
Hima kembali ke rumah orang tuanya. Hanya mampir seperti biasa. Tapi wajahnya lebih tenang dari kemarin.
Ibunya sedang menyapu teras. Ayahnya duduk di kursi kayu, menjemur kaki sambil membaca koran lama.
“Pak… Bu,” sapa Hima pelan.
Ibunya menoleh. “Masuk, Mas.”
Hima duduk di bangku kecil dekat pintu. Ia tidak langsung bicara. Menunggu sampai ibunya selesai menyapu, seolah ingin memastikan kalimatnya nanti tidak terdengar tergesa.
“Masalah bayi tabung itu…” Hima membuka suara pelan, “kami sudah konsultasi dokter.”
Ibunya mengangguk. “Terus?"
“Dan soal gadai SK juga,” lanjut Hima, menatap ayahnya. “Aku tahu Bapak sama Ibu keberatan.”
Ayahnya melipat koran. “Berat, iya. Tapi itu keputusan hidup kamu.”
Hima mengangguk. “Aku nggak datang buat minta izin nekat, Pak. Aku juga nggak menutup mata soal risiko.”
Ibunya duduk di sebelahnya. “Terus kamu datang buat apa, Mas?”
Hima menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun perlahan. “Aku cuma minta restu,” katanya jujur. “Dan doa.”
Ibunya terdiam.
“Aku dengar semua nasihat Bapak dan Ibu. Soal sabar, soal nunggu, soal jangan maksa,” lanjut Hima. “Itu aku simpan. Tapi sebagai suami, aku juga nggak pengin Anggun ngerasa berjuang sendirian.”
Ayahnya menatap Hima lama. “Kamu siap dengan segala kemungkinan?” tanyanya akhirnya.
Hima mengangguk. “Aku siap bertanggung jawab, Pak. Apa pun hasilnya.”
Ibunya menghela napas panjang. Matanya berkaca, tapi suaranya tetap tenang. “Kalau itu niatmu,” katanya pelan, “Ibu nggak bisa melarang, cuma bisa mendoakan.”
Ayahnya mengangguk. “Bapak juga, tapi jangan lupa satu hal.”
Hima menatap ayahnya.
“Kalau nanti gagal,” lanjut ayahnya, “atau kecewa hasilnya. Jangan gengsi buat curhat, ngobrol...”
Hima menunduk. “Iya, Pak.”
Ibunya meraih tangan Hima. Digenggam erat. “Anak itu titipan,” katanya lembut. “Dikasih sekarang atau nanti, tetap ada waktunya. Tapi suami istri itu… harus saling jaga.”
Hima mengangguk. Dadanya terasa hangat. “Doakan kami, Bu. Pak.”
Ibunya tersenyum kecil. “Selalu.”
Sore itu Hima pulang dengan langkah lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu—apa pun yang terjadi nanti, ia tidak berjalan tanpa doa.
Lusanya.
Ruang tunggu klinik putih dan dingin. Anggun duduk tegak, map hasil pemeriksaan ada di pangkuannya. Hima di sampingnya, tangannya bertaut, tapi jarinya terasa dingin.
Dokter bicara dengan nada profesional. Data pemeriksaan. Persentase keberhasilan dan risiko.
“Peluang keberhasilan ada,” kata dokter itu. “Tapi tidak seratus persen. Bisa perlu lebih dari satu kali.”
Anggun mengangguk cepat. “Saya siap.”
Hima menoleh. “Kalau gagal?”
Dokter menatapnya. “Secara medis, itu mungkin.”
Kalimat itu terdengar seperti sayatan kecil. Perih.
“Dan secara biaya,” lanjut dokter, “memang lumayan.”
Keluar dari ruangan itu, Anggun diam. Bukan kecewa, tapi berpikir keras. Hima justru yang bicara lebih dulu.
“Kita pulang dulu ya.”
Anggun mengangguk.
Hari-hari setelahnya terasa aneh. Tidak ada pertengkaran.Tapi ada jarak kecil yang tumbuh diam-diam.
Anggun jadi lebih rapi dari biasanya. Jadwal ditempel di kulkas. Makan teratur. Tidur lebih cepat.
Hima jadi lebih sering diam. Mengurangi jajan. Menunda beli laptop yang sudah lama diincar.
Mereka tetap sholat berjamaah. Tetap makan bareng. Tapi doa Anggun lebih panjang, sementara Hima lebih sering terdiam setelah salam.
***
Warung Hartati sore itu lengang. Matahari menggantung rendah, sinarnya menembus sela terpal biru yang sudah pudar.
Hima duduk di bangku paling ujung. Sendirian. Kopi hitam di depannya belum disentuh. Sejak tadi ia lebih banyak menatap jalan, seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Sophia muncul sambil mengibaskan tangan ke arah wajahnya. Tas selempang besar menggantung di bahu.
“Bu, es teh satu,” katanya cepat. Baru duduk, napasnya langsung dihela panjang.
Hartati menoleh dari balik etalase. “Tumben pesan es teh.”
Sophia tertawa kecil. “Biar ademan dikit, Bu.”
Ia membuka kerudung sedikit, mengipasi lehernya. “Pagi tadi anak-anak drama. Bangun susah, makan ribut, satu nggak mau telur, satu maunya mie. Padahal udah telat semua.”
Hartati mengangguk pelan sambil menuang es teh. “Pagi memang jam paling rawan.”
Sophia menyandarkan punggung ke bangku. “Belum lagi kalau demam. Semalam panasnya naik. Aku yang begadang. Aku yang lap-lap. Bapaknya kerja, pulang udah capek langsung tidur.”
Hartati mendorong gelas ke arahnya. “Minum dulu.”
Sophia menyeruput. “Kadang aku mikir, Bu…” ia tertawa pendek, hambar, “emang jadi ibu nggak capek?”
Hartati tersenyum kecil. “Boleh, kok.”
Hima tetap diam. Pandangannya turun ke meja kayu yang penuh bekas goresan. Tangannya melingkar di cangkir kopi.
Sophia melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Dulu pengin banget punya anak. Nangis, berdoa, takut nggak dikasih. Sekarang punya… kok rasanya sering marah sama mereka.”
Ia mengaduk es tehnya. Bunyi sendok beradu pelan.
Hartati berdiri di dekat rak rokok. “Bukan karena kamu nggak sayang,” katanya tenang. “Tapi peduli.”
Sophia menghela napas. “Kadang aku ngerasa bersalah.”
Hartati menoleh, tatapannya lembut. “Jangan keburu nyalahin diri sendiri. Ibu itu bukan malaikat. Ibu itu manusia yang tiap hari belajar sabar.”
Sophia tersenyum tipis. “Iya sih, Bu.”
Hartati duduk. “Yang bahaya itu kalau kita lupa… anak-anak juga lagi belajar jadi manusia. Sama kayak kita.”
Sophia terdiam sebentar.
Hima mendengar semuanya. Tidak satu pun kalimat itu diarahkan ke dirinya. Tapi entah kenapa, masuknya ke dalam.
Sophia berdiri, merapikan tas. “Aku jemput dulu, Bu.”
Hartati mengangguk. “Hati-hati.”
Sophia melangkah pergi. Warung kembali sepi.
Hartati menoleh ke arah Hima. Tidak bertanya apa-apa. Hanya berkata pelan, seperti bicara ke dirinya sendiri.
“Hidup itu lucu, Mas. Yang dulu kita kejar mati-matian, kadang setelah dapet… kita lupa caranya nikmatin.”
Glek.
.
.