Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Ujian itu masing-masing

Sore itu warung Hartati kembali ramai. Matahari sudah rendah, bayangannya jatuh miring di aspal depan warung.

Pak Slamet sudah duduk lebih dulu, kopi hitamnya tinggal setengah. Ujang datang belakangan, jaketnya kali ini dia lepas. Reza menyusul, duduk agak ke pinggir. Hima datang paling akhir, wajahnya terlihat tenang hari ini.

Mereka saling menyalami, menyapa ringan dengan para penghuni warung.

“Ngopi sore itu wajib,” celetuk Pak Slamet sambil mengaduk kopinya. Dia mampir setelah mengambil uang setoran kue-kue di warung-warung. “Biar hidup nggak kerasa pahit-pahit amat.”

Ujang terkekeh. “Kalau sama pahitnya hidup, kopi mah kalah jauh, Pak.”

Hartati menyahut dari balik etalase. “Makanya jangan minum kopi doang, diminum juga sabarnya.”

Mereka tertawa kecil.

Pak Slamet menyandarkan punggung. “Kadang kalau liat ke belakang ... Hidup ini lucu,” katanya pelan. “Masih muda pengin nikah. Yang baru nikah pengin punya anak. Yang udah lama nikah… doanya beda lagi.”

Reza menoleh. “Doanya apa, Pak?”

Pak Slamet tersenyum tipis. “Bukan minta rezeki gede. Tapi minta dikuatin.”

Ujang mengangguk. “Saya baru nabung aja udah kerasa berat. Nikah tuh kayak jauh banget.”

Reza ikut bicara. “Aku mau nikah, Pak. Tapi makin ke sini malah mikir… siap nggak ya? Bukan pestanya. Hidup setelahnya.”

Pak Slamet mengangguk pelan. “Itu pemikiran normal.” Ia lalu menoleh ke Hima. “Kalau kamu, Mas?”

Hima terdiam sebentar. Kopinya disentuh, tapi tak diminum. “Nunggu,” katanya singkat.

“Nunggu apa?” tanya Ujang.

Hima tersenyum tipis. “Hasil.”

Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Seolah semua paham, menunggu itu salah satu ujian paling mendebarkan.

Pak Slamet menghela napas panjang. “Saya tuh sekarang beda lagi masalahnya,” katanya. “Bukan soal duit harian. Tapi mikir biaya anak. Yang satu baru kerja eh udah bawa pacarnya ke rumah. Adiknya mau kuliah. Belum lagi sikapnya ke orang tua … anak sekarang hidup di dunianya sendiri.”

Hartati menimpali, suaranya lembut tapi kena. “Capeknya beda, ya Pak. Dulu capek fisik. Sekarang capek mikirin semuanya.”

“Iya,” Pak Slamet mengangguk. “Dan kadang, kita kangen masa-masa dulu.”

Hima menunduk. Kalimat itu masuk ke dadanya pelan-pelan. 

Reza bicara lirih. “Berarti… tiap fase ada ujiannya sendiri.”

Pak Slamet tersenyum. “Nah. Itu.”

Ujang menggaruk kepala. “Berarti nggak ada fase yang benar-benar santai ya?”

Hartati terkekeh. “Santai itu bukan fase. Tapi cara.”

Mereka tertawa kecil lagi.

Lalu Hartati menatap mereka satu per satu. “Terus janda kayak saya gimana?” katanya setengah bercanda, setengah serius. “Kalian ngelihatnya apa?”

Warung mendadak lebih hening.

Pak Slamet tersenyum duluan. “Jujur nih?”

Hartati mengangguk.

“Janda itu,” Pak Slamet berkata pelan, “bukan orang lemah. Dia pernah berani mencintai, lalu tetap hidup meski kehilangan.”

Reza mengangguk pelan.

Ujang menimpali, kikuk tapi jujur. “Saya malah lihat Bu Hartati kuat. Nggak nyusahin orang. Ngehidupin banyak orang malah.”

Hima akhirnya bicara. Suaranya rendah. “Buat saya… warung ini kayak tempat singgah. Orang-orang boleh ngeluh. Dan itu ... rasanya nggak sendirian.”

Hartati terdiam sebentar. Matanya berkaca, tapi senyumnya tetap ada. “Kalian ini,” katanya pelan, “kalau ngomong suka bikin orang tua terharu.”

Pak Slamet berdiri pelan. “Intinya gini,” katanya menutup. “Mau nikah, nabung, nunggu anak, ngurus anak, mau sendirian… hidup itu tetap jalan. Yang bikin beda cuma: kita jalan sambil saling nyalahin pasangan atau saling nguatin.”

Hima menatap cangkir kopinya. Kata nunggu terasa lebih manusiawi sekarang. 

Sophia datang saat Pak Slamet sudah bersiap pergi. Satu anak di motor, satu lagi berjalan sambil merengek kecil, tangannya menarik ujung baju ibunya.

“Bu, gorengan sepuluh. Sama mie dua,” katanya cepat, napasnya masih tersengal. “Hari ini nggak sempat masak.”

Hartati mengangguk. “Padat jadwal, ya.”

Sophia tersenyum tipis. “Iya. Jadi masaknya yang praktis aja.”

Anaknya merengek minta beli biskuit dan Chiki yang menggantung di atasnya. Sophia menyesuaikan posisi, berjinjit saat menggunting cemilan itu.

Pak Slamet menoleh, senyum ramah di wajahnya. “Pinter curi-curi waktu aja, Mbak,” katanya sambil meraih jaket. “Nggak semua hari harus sempurna. Yang penting selesai.”

Sophia mengangguk. “Iya, Pak. Tapi kadang susah juga.”

Pak Slamet melanjutkan, nadanya lembut. “Jangan lupa ngasih jatah buat istirahat. Meski sebentar. Bebasin pikiran.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Meski susah, ya… soalnya perempuan.”

Sophia terkekeh lelah. “Suka overthinking.”

“Nah,” sahut Hartati cepat sambil membungkus gorengan. “Itu.”

Pak Slamet pamit. Langkahnya menjauh, menyisakan suara sandal yang beradu pelan dengan aspal.

Sophia menerima bungkusan, membayar, lalu pamit juga. Anak-anaknya sudah lebih tenang, sibuk dengan cemilan di tangannya.

Hima dan Reza bergantian pergi setelah pak Slamet. Ujang pun ikut kabur sebab notifikasi ponselnya bunyi, ada pelanggan katanya.

Warung kembali sunyi. Tinggal Hartati sendiri, berdiri di balik etalase.

Gorengan tinggal beberapa. Minyak di wajan sudah dingin. Kursi-kursi kosong seperti baru saja selesai dipakai ramai-ramai, lalu ditinggalkan begitu saja.

Hartati berdiri di balik etalase. Matanya mengikuti Sophia yang menjauh sambil menaikan anaknya ke motor lalu jalan pelan. 

Ia menghela napas. Begitulah hidup orang-orang. Datang, cerita, tertawa, ngeluh, lalu pulang membawa bebannya masing-masing.

Hartati duduk. Tangannya meraih cangkir kopi yang sudah setengah dingin. Ia tidak langsung minum. Menatap jalan di depan warung, seperti menatap masa depan yang tidak pernah ia rencanakan lagi.

Menikah lagi?

Pertanyaan itu sesekali mampir. Bukan karena sepi, tapi karena dunia sering menganggap perempuan sendirian itu patut dikasihani. Padahal tidak selalu.

Hartati tersenyum tipis. Ia pernah jadi istri. Pernah ribut soal hal sepele. Pernah menunggu suami pulang sambil menyiapkan makan. Pernah merasa hidupnya utuh.

Lalu Tuhan mengambilnya.

Awalnya terasa seperti dihentikan di tengah jalan. Tapi lama-lama, Hartati sadar—hidup tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk. Sekarang ia jadi tempat orang-orang numpang istirahat.

Tempat Reza belajar menata niat. Hima menimbang harapan. Sophia meluapkan lelah tanpa harus kuat-kuatan. Tempat Pak Slamet bercanda, meski pikirannya berat.

Hartati mengaduk kopi pelan. “Ya Allah,” gumamnya lirih. “Kalau ini peranku sekarang… aku ikhlas.”

Ia tidak tahu apakah suatu hari akan menikah lagi. Apakah kesepian akan datang lebih sering dari biasanya. Yang ia tahu, dirinya masih berguna, dibutuhkan, meski bukan sebagai istri siapa-siapa.

Angin sore berembus. Hartati menatap langit yang mulai berubah warna. Ia teringat satu kalimat lama yang dulu sering diucapkan almarhum suaminya : “Yang penting bukan rame atau sepinya rumah, tapi hatimu bahagia atau nggak.”

Hartati tersenyum kecil.

Warung ini sederhana. Hidupnya mungkin tidak seperti kebanyakan orang. Tapi di sini, doa-doa sering mampir. Keluh-kesah sering dititipkan.

Ia berdiri, merapikan kursi satu per satu. Besok, mereka akan datang lagi. Dengan cerita baru. Dengan ujian baru. Dan Hartati akan tetap di sini—menyeduh kopi, mendengarkan, dan percaya : bahwa setiap orang sedang berjalan di waktunya masing-masing.

Langit makin gelap. Lampu warung dinyalakan. Hidup tidak pernah adil, tapi bisa dijalani—dengan keyakinan pada Tuhan, bahwa pertolongannya akan datang.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!