Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Kerja keras Ujang

Ujang melangkah keluar warung. Mesin motornya meraung sebentar, lalu menyatu dengan suara senja. Hartati memperhatikannya sampai benar-benar hilang di tikungan, lalu kembali mengelap meja.

Sore kian turun. Warung Hartati mulai lengang. Tinggal suara radio kecil, dan sisa hangat obrolan pelanggannya yang tertinggal di bangku-bangku.

Tak jauh dari warung Hartati.

Ujang memarkir motor di dekat pos ronda. Lampunya temaram, hanya bohlam kuning yang digantung seadanya. Di sana sudah ada dua ojol lain, duduk sambil ngopi sachet dan main ponsel.

“Sepi ya?” sapa Ujang sambil duduk.

“Dari sore,” jawab salah satunya. “Algoritma lagi galak.”

Obrolan mengalir ke mana-mana. Tentang order fiktif, jarak jauh tapi bayaran kecil, sampai soal aplikasi.

“Gue sekarang pakai dua aplikasi,” kata salah satu dari mereka. “Lumayan, kalau yang satu sepi, yang satunya kadang nyantol.”

Ujang langsung tertarik. “Emang boleh?”

“Boleh aja. Banyak yang gitu,” jawab temannya santai. “Cuma ya potongan nambah. Badan juga kudu kuat.”

Ujang mengangguk-angguk. Kepalanya langsung menghitung. Kalau satu aplikasi paling dapat dua order sehari, dua aplikasi mungkin bisa empat. Nggak besar, tapi ada tambahan.

Pulang dari pos ronda, Ujang langsung rebahan. Ponselnya di tangan, buka-buka laman pendaftaran aplikasi lain. Syaratnya hampir sama. Ia simpan dulu, belum berani klik daftar.

Tak lama, ada panggilan masuk dari Utami. “Kamu di mana?” suara Tami terdengar lembut tapi lelah.

“Aku baru pulang. Kamu?”

“Sama. Tadi lembur dikit.”

Ujang terdiam sebentar, lalu bicara pelan. “Mi… aku kepikiran daftar aplikasi ojol satu lagi.”

Di seberang sana, Tami langsung diam. “Kamu jangan maksa, Jang,” katanya kemudian. “Kamu itu tulang punggung. Jangan sampai sakit. Kasihan Mama sama adikmu.”

Ujang menelan ludah. “Aku tahu. Tapi aku malu, Mi. Tabungan kamu lebih banyak dari aku.”

Tami terkekeh kecil. “Lah, kan harapan kita nabung bareng. Aku juga baru kerja, masih pengin bakti sama Mama dulu."

Ujang menghela napas. Dadanya agak lega. “Targetmu kapan?” tanyanya.

“Ya sama kayak kamu,” jawab Tami mantap. “Dua atau tiga tahun lagi. Sampai semua siap. Paling tidak, bisa ngontrak dulu. Aku nggak mau gabung sama orang tua. Biar mandiri.”

Ujang tersenyum. “Iya, setuju. Sekarang resepsi mahal. Sayang uangnya. Tapi ya… lihat nanti gimana.”

“Syukuran aja,” potong Tami cepat. “Aku nggak mau ribet. Nggak usah banyak orang nggak penting. Mending buat beli emas.”

Ujang tertawa pelan. “Kamu ini…”

“Kenapa?”

“Bikin aku makin pengin cepet lamar” jawabnya jujur.

Tami terdiam sebentar. Lalu suaranya melembut. “Pelan-pelan aja ya. Aku nunggu. Tapi kamu juga harus jaga diri.”

“Iya, Dek,” kata Ujang. “Makasih sudah sabar.”

Telepon ditutup. Ujang memandangi layar ponselnya yang gelap. Capeknya masih ada, rasa cemasnya juga belum pergi.

Ia membuka lagi laman pendaftaran aplikasi itu. Menarik napas dalam-dalam.

“Bismillah,” gumamnya.

Bukan karena yakin semuanya akan mudah. Tapi karena ia tahu, besok tetap harus dijalani dengan cara yang ia bisa.

Sunyi langsung menekan.

Ujang masih duduk di tepi kasur. Kamarnya sempit, hanya cukup untuk satu kasur lipat, lemari plastik, dan meja kecil di sudut yang penuh charger, kunci motor, serta helm yang tadi ia letakkan asal. Dindingnya kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Kipas angin berderit pelan, mutarnya lambat, tapi cukup mengusir gerah.

Ia merebahkan badan, menatap langit-langit yang bernoda lembap. Bau debu dari jaket ojolnya masih menempel, bercampur aroma sabun murah.

"Kalau begini terus," Ujang menarik napas panjang. "Aku bisa ngasih ibu uang berapa, ya?"

Di kepalanya, angka-angka berputar. Setoran harian. Potongan aplikasi. Bensin. Makan. Sisanya tinggal berapa? Belum lagi sekolah adik. Ujang mengusap wajahnya.

Tami sudah ada rencana masa depan yang dibicarakan. Tapi tanggung jawab itu nggak bisa dikurangi, dia anak sulung. Pengganti ayah, penyuplai segalanya agar dapur tetep mengepul.

Pikirannya meloncat ke sana-sini. Jualan online? Tapi jual apa? Reseller? Modalnya dari mana.

Atau cetak brosur, nawarin antar-jemput offline? Ojek langganan, sekolah, karyawan. 

"Aku berani nggak, ya? Laku nggak?" Ujang mendesah pelan. “STM,” gumamnya, setengah pahit. “Kemampuan juga segini-gini aja.”

Kerja apalagi? Buka bengkel? Ia paham mesin, lumayan. Tapi itu artinya lepas dari ojol. Modal sewa tempat lagi. Dan bengkel sepi itu lebih nyiksa daripada nunggu order, pikirnya.

Menunggu… itu yang bikin jenuh. Duduk lama, lihat layar, berharap bunyi notifikasi. Kadang datang, kadang nggak sama sekali.

Ujang memejamkan mata. Kepalanya berat. Rencana demi rencana bertabrakan, tak ada satu pun yang benar-benar pasti.

“Pelan-pelan,” katanya pada diri sendiri, meniru kata Hartati, kata Tami. Tapi malam itu, otaknya ruwet. 

Kipas angin terus berputar. Suara motor dari gang pelan-pelan menjauh. Pikiran Ujang makin kabur.

Di tengah galau yang belum selesai, ia tertidur. Tubuhnya menyerah pada lelah.

***

Pagi itu Ujang bangun dengan badan masih terasa pegal. Alarm ponsel berbunyi dua kali sebelum akhirnya ia matikan. Kamar sempitnya bau masakan ibu.

Di sudut, tas sekolah adiknya tergantung rapi, dia teringat soal biaya yang harus ia penuhi. Ujang duduk di kasur, punggung sedikit membungkuk membuka ponsel.

Aplikasi pertama : online.

Aplikasi kedua, yang semalam ia daftar, akhirnya aktif. Ada notifikasi: “Selamat bergabung.”

Ada rasa lega. Lumayan, pikirnya. Dua aplikasi, paling nggak empat order sehari bisa lah.

Ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Jalan masih basah sisa hujan subuh. Motor melaju pelan, Ujang hafal betul lubang-lubang kecil di jalan itu. Jam tujuh lewat, ia sudah mangkal dekat perempatan.

Masih ada waktu sebelum mengantar Bapak pelanggan tetapnya di komplek sebelah.

Lima belas menit. Order pertama masuk dari aplikasi lama. Antar jarak dekat. Potongannya tetap sama. Ujang terima tanpa mikir.

Selesai antar, ia cek aplikasi kedua. Masih sepi. Ujang meluncur ke komplek, menjemput si Bapak dan mengantar ke tujuan.

Jam sembilan, akhirnya masuk satu order dari aplikasi baru. Jaraknya agak jauh. Ujang senyum, tapi meringis saat lihat rincian biaya.

Potongannya gede juga… tapi ia tetap jalan.

Matahari mulai naik. Jaket makin terasa gerah. Helm terasa pengap akibat keringatnya. Siang menjelang, total order : tiga.

Ujang duduk di pinggir jalan, beli es teh buntel. Tangannya pegal, lehernya basah keringat. Ia buka ringkasan pendapatan.

Kalau digabung dua aplikasi, memang lebih banyak. Tapi dipotong ini-itu—pulsa, bensin, makan—sisa bersihnya bikin Ujang terdiam. Tambah aplikasi, tapi kok sama saja?

Sore harinya, badan Ujang terasa ngilu semua. Ia pulang lebih awal. Di kamar, ia rebah tanpa ganti baju. Ponsel masih di tangan.

Pesan dari Tami masuk. [“Hari ini gimana?”]

Ujang ngetik lama. Lalu hapus. Akhirnya ia kirim: “Lumayan.”

Tami tak banyak komentar, dia hanya memberi semangat. Hari ini dia memilih pulang sebab ibunya butuh bantuan bikin kue bolu untuk hantaran ke saudara.

Malam merambat naik. Suara televisi dari rumah tetangga tembus lewat dinding tipis. Ibunya di dapur terbatuk kecil. Ujang mendengarnya, tapi tidak keluar kamar.

Ia menatap langit-langit. Angka-angka berputar di kepala. Target dua tahun terasa jauh. Bukan mustahil, hanya berat.

"Bisa cukup nggak ya, buat Tami?" Ia menutup mata.

Besok, ia akan semangat lagi. Berharap lagi sebab harapan sering kali datang tanpa janji. Dia sadar, yang capek bukan cuma badan jika terus mencemaskan hari esok.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!