Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Rezeki karena dipercaya

Siang makin condong ke sore. Panas masih menggantung, meski matahari sudah tak seterik tadi.

Ujang masih duduk di bangku pos ronda. Layar ponselnya penuh tab hasil pencarian, rantai motor, kampas rem, harga sparepart. Ia geser satu per satu, membandingkan angka. Selisihnya lumayan kalau beli online. Bisa nyicil buat SPP adik, pikirnya.

“Lagi ngapain, Jang?” tanya salah satu ojol, melirik layar ponselnya.

“Nyari sparepart. Online lebih murah,” jawab Ujang jujur.

Ojol itu menggeleng pelan. “Mending ke bengkel aja. Beli sendiri takutnya nggak cocok. Salah tipe dikit, malah buang duit.”

Yang satu lagi ikut nimbrung. “Anggap aja kamu ngasih rezeki ke tukang bengkel. Siapa tahu rezekimu nanti ditambah. Siklus idup kan muter.”

Ujang tersenyum tipis. Ia paham maksudnya, tapi jumlah uang di kepalanya tetap terpampang di mata. “Iya sih… tapi selisihnya lumayan."

“Kalau kamu ngerti dan punya alatnya, kerjain sendiri aja, Jang,” kata ojol pertama.

Ujang menghela napas pendek. “Ngerti. Dulu STM. Tapi alatnya nggak ada.”

“Nah itu,” sahut yang satunya sambil nyeruput kopi. “Anggap aja uang jasa. Dipasangin orang, kamu tinggal nunggu, tenang. Masang sendiri ribet. Salah dikit malah makin keluar duit.”

Ujang diam sejenak. Menimbang-nimbang. Otaknya capek sendiri. “Iya ya…” gumamnya.

Ia bangkit, menyalakan motor pelan. Sudah hampir pulang ketika ponselnya bergetar. Nama si Bapak pensiunan muncul di layar.

"Jang, bisa jemput Bapak? Pulang kantor. Anak Bapak ada kuliah tambahan."

Ujang tersenyum kecil. “Bisa, Pak,” balasnya cepat.

Ada rezeki, batinnya. Ia memutar arah. Motor masih berisik, tapi ia bawa pelan. Menjemput si Bapak di depan kantor kecil dekat alun-alun.

Lelaki itu naik sambil mengucap terima kasih, seperti biasa.

Perjalanan pulang mereka singkat. Sepanjang jalan, si Bapak bercerita soal anaknya yang mau jadi dosen, masa pensiun yang bikin hari terasa panjang. Ujang mendengarkan sambil sesekali menanggapi.

Sampai rumah, si Bapak membayar lebih dari biasanya. “Buat bensin, Jang,” katanya.

Ujang menolak halus, tapi si Bapak memaksa. Akhirnya ia terima. Rezeki hari ini, pikirnya. Nggak besar, tapi cukup bikin napas agak longgar.

Menjelang Maghrib Ujang sampai rumah. Ia memarkir motor, mematikan mesin yang sejak tadi berdengung aneh. Belum sempat masuk kamar, ponselnya bergetar lagi.

Tami menelpon. “Lagi di mana?” suaranya terdengar lembut.

“Baru nyampe rumah,” jawab Ujang. Ia duduk di teras, membuka helm.

“Kedengerannya capek banget.” 

Ujang tersenyum samar. “Iya. Motor minta jajan, kudu cepet diberesin.”

Tami terdiam sebentar. “Kenapa?”

Ujang menceritakan singkat soal rantai, rem, bengkel, dan uang yang harus dipilih-pilih. Ia tak mengeluh, hanya bercerita.

“Buru ke bengkel,” kata Tami pelan. “Keselamatan kamu lebih penting.”

“Aku tau,” jawab Ujang. “Aku lagi mikir cara paling aman.”

“Kita ada tabungan, kan,” lanjut Tami.

Ujang memejamkan mata sejenak. Kata kita itu menghangatkan. “Iya,” katanya akhirnya. “Makasih, Mi.”

Ujang masih duduk, memandangi langit yang mulai gelap. Di sakunya, ada uang tambahan dari si Bapak pensiunan. Di kepalanya, masih ada daftar kebutuhan yang harus segera dilunasi

Ponsel masih di tangan Ujang ketika Tami kembali bicara, nadanya sedikit ragu. “Jang… kalau buat benerin motor, tabungan kita ambil aja dulu. Nanti kamu lunasi pelan-pelan.”

Ujang terdiam. Kalimat itu seperti diketukkan ke dadanya. Ada rasa hangat, tapi juga ada sesuatu yang berontak di dalam dirinya. Harga diri yang sejak tadi ia jaga mati-matian.

“Nggak usah, Neng,” katanya akhirnya, suaranya dibuat ringan. “Doain Abang aja.”

“Jangan keras kepala gitu,” Tami mendesak. “Nanti kalau motor kamu kenapa-kenapa, kamu kerja gimana?”

Ujang tersenyum kecil, meski Tami tak bisa melihat. “Gapapa. Masih bisa dipake sambil nunggu bayaran mingguan si Bapak pensiunan. Tadi beliau juga banyak ngasih nasihat. Lumayan, dapat kue juga,” katanya sambil tertawa kecil.

Di seberang sana, Tami ikut menghela napas lega. “Oh… syukurlah. Bilang aja ya kalau butuh. Gapapa kok.”

“Iya, Sayang. Makasih,” jawab Ujang pelan. Lalu ia menambahkan, dengan nada yang sedikit bangga, “Anaknya Bapak itu bilang, kalau aku yang jemput ayahnya, dia nggak khawatir. Katanya aku nggak ugal-ugalan.”

“Bagus atuh,” kata Tami tulus.

Ujang tertawa kecil. “Ugal-ugalannya cukup buat mencintai Neng Tami aja.”

“Ih!” Tami tertawa. Tawa lepas, ringan, tanpa beban.

Ujang ikut tersenyum lebar. Untuk sesaat, penat di bahunya terasa berkurang. Realita memang masih berat, tapi tawa milik Tami, membuat semuanya terasa lebih sanggup dijalani.

*

Malam turun pelan di kampung itu. Ujang memarkir motor di depan rumah, mesin ia matikan hati-hati, seolah takut kalau disentak sedikit saja bakal ngambek lagi. Lampu teras menyala redup. Dari dalam rumah, suara televisi kecil terdengar—ibunya pasti sedang menemani adik belajar sambil nonton sinetron.

Ujang duduk di teras lebih lama dari biasanya. Percakapan dengan Tami tadi masih muter di kepalanya. Tawanya. Perhatiannya. Tawaran tadi.

Ia tahu Tami tulus. Justru itu yang bikin dadanya sesak.

Kalau kelak mereka benar-benar bersama, ia ingin jadi suami yang mencukupi. Bukan harus ditopang dari dua arah—ibu dan istri.

Ujang mendorong motornya masuk pelan ke samping rumah. Rantai kembali berbunyi pelan.

Di kamar, Ujang duduk di lantai. Ponsel ia taruh di depan, layar masih menyala menampilkan pencarian terakhir: rantai motor harga murah kampas rem alternatif sparepart original vs kw.

Ia menggeser layar, lalu berhenti. Ingat omongan ojol di pos ronda. “Beli sendiri takut nggak cocok, Jang. Anggap aja rezeki buat tukang bengkel.”

Ujang menghela napas. Selisihnya memang lumayan. Tapi buang uang karena salah beli juga lebih nyesek.

“Uang jasa…” gumamnya.

Dulu, waktu STM, tangannya lincah. Bongkar pasang mesin bukan hal asing. Tapi sekarang? Tang kosong. Alat nggak ada.

Ia mematikan layar ponsel. Kalau dipikir-pikir, hidupnya akhir-akhir ini isinya menunggu. Menunggu order, uang cukup, dan waktu yang tepat. Padahal hidup nggak pernah benar-benar nunggu siapa pun.

Ujang rebahan, menatap plafon kamar. Catnya mengelupas di satu sudut. 

Ia teringat wajah bapak pensiunan tadi siang. Cara bapak itu bicara sambil menepuk pundaknya sebelum turun.

“Nyetirnya enak, Jang. Saya nyaman.”

Kalimat sederhana. Tapi bikin dadanya hangat.

Mungkin rezekinya bukan dari order banyak. Tapi sebab dipercaya.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk. Dari nomor bapak itu. "Jang, besok seperti biasa ya. Mingguan saya bayar sekalian. Terima kasih."

Ujang tersenyum kecil. “Alhamdulillah,” katanya lirih.

Ia menghitung. Kalau mingguan cair, motor bisa dibenerin minimal yang paling darurat. SPP adik bisa dicicil. 

Ujang memejamkan mata. "In sya Allah, selalu yakin." 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!