Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Lelahnya Ibu

Pagi itu Puskesmas sudah penuh sebelum matahari benar-benar tinggi. Bangku plastik hijau berderet rapat, sebagian berderit setiap kali seseorang bergeser. Bau antiseptik bercampur keringat, parfum dan obrolan antar pasien.

Ada kecemasan yang tak diucapkan. Tangisan anak-anak bersahut-sahutan, seperti paduan suara kehidupan yang lelah.

Sophia berdiri di dekat dinding, menggendong anak bungsunya yang tubuhnya masih hangat meski sudah diberi kompres sejak subuh. Napas kecil itu terengah, sesekali merengek lirih. Tangannya menopang kepala anak dengan hati-hati, sementara lengannya sendiri gemetar tipis, karena sejak semalam ia tak benar-benar terlelap.

Anak sulungnya duduk di bangku paling ujung. Punggungnya tegak, tas kecil rapi di pangkuan. Ia memegang botol minum dan buku KIA. Matanya sesekali melirik Sophia, memastikan ibunya baik-baik saja.

Nomor antrean bergerak lambat. Sophia menelan ludah, kepalanya berdenyut pelan. Ia memindahkan tumpuan berdiri dari satu kaki ke kaki lain, lalu mengusap punggung anak bungsunya. “Sebentar ya,” bisiknya, entah padanya atau dirinya sendiri.

Ketika akhirnya dipanggil, dokter memeriksa dengan cekatan. Termometer, senter kecil, stetoskop. Anak bungsu merengek, Sophia mengelus rambutnya, menahan rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali anak sakit, seolah ia seharusnya bisa mencegah segalanya.

“Demam karena infeksi ringan,” kata dokter, suaranya datar dan terbiasa. “Dehidrasi ringan juga."

Sophia mengangguk cepat. “Iya, Dok.”

Dokter melirik Sophia lebih lama, lalu menambahkan, menyelipkan catatan kecil di antara baris-baris rutinitas, “Ibu juga kelihatan kurang makan dan kurang istirahat.”

Kalimat itu sederhana. Tapi sesuatu di dada Sophia berdesir. Ia tersenyum tipis, refleks. “Saya nggak apa-apa, Dok.”

Padahal ia tak ingat kapan terakhir kali makan tanpa terburu-buru. Tak ingat kapan terakhir kali tidur pulas.

Di ruang tunggu, sambil menunggu resep, Sophia duduk. Anak bungsunya tertidur di gendongan, keningnya masih hangat. Anak sulungnya berdiri di samping, menyodorkan botol minum. “Minum dulu, Ma,” katanya pelan.

Sophia menerima botol itu, meneguk sedikit. Di sekelilingnya, ia melihat ibu-ibu lain. Ada yang ditemani suami, obat diuruskan. Ada yang diajak ngobrol, ada yang bahunya dirangkul. Pemandangan biasa, tapi membuatnya iri.

Ia teringat kalimat yang pernah meluncur di rumah, semalam. Kamu jangan sakit, nanti aku makin repot. Meski bukan bentakan, tapi itu yang membuatnya mati rasa. Seolah tubuhnya hanyalah alat yang harus terus berfungsi.

Sejak kapan capek dianggap normal? pikirnya. Sejak kapan bertahan tidak butuh alasan?

Obat ditebus dengan uang pas-pasan. Resep diterima plus instruksi singkat petugas. Sophia mengangguk lagi, mengucap terima kasih.

Mereka pulang. Matahari kini lebih terang, menyorot debu di jalan. 

Di rumah, pintu dibuka perlahan. Suasana sunyi, hanya kipas yang berdengung. Sophia menaruh obat di meja makan yang semalam kosong. Bekas muntahan masih menumpuk di belakang, piring belum sempat dicuci. Ia menidurkan anak bungsunya di kamar, menutup pintu setengah agar udara tetap masuk.

Suaminya keluar dari kamar, rambutnya masih berantakan. “Udah pulang?” tanyanya singkat, matanya melirik sekilas dari ambang pintu.

“Iya. Tadi buru-buru ke Puskesmas,” jawab Sophia.

“Oh.” Hanya itu, suaranya menjauh. Ia mengambil gelas, minum, lalu duduk di sofa. “Nggak ada sarapan?”

Sophia diam, lalu kembali ke meja makan, menyusun obat, membaca ulang dosisnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia duduk sebentar. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Anak sulungnya masuk, menaruh buku di meja. “PR-nya sudah selesai, Maa,” katanya.

“Terima kasih,” ujar Sophia. Suaranya lembut, hampir pecah.

Dia membiarkan dirinya duduk lebih lama. Di tengah sunyi rumah yang penuh tuntutan tak bersuara itu, sebuah kesadaran tumbuh pelan.

Bertahan juga butuh alasan. Dan hari itu, ia mulai mencarinya.

Sophia benar-benar lelah. Malas bicara, malas menjelaskan, malas membela diri. Ia memilih diam, karena setiap kata terasa terdengar seperti tuduhan.

Suaminya belum juga berangkat kerja. Masih di ruang tengah, ongkang kaki, ponsel di tangan. Sementara itu, anak sulungnya sudah rapi. Siap berangkat sekolah, meski izin terlambat satu jam pelajaran.

Sophia menoleh ke kamar. Anak bungsunya baru saja tertidur setelah rewel sejak subuh. Wajahnya masih pucat, napasnya belum stabil. Ia tahu, ia tak bisa pergi. Cucian menumpuk di ruang cuci, perutnya melilit lapar, kepalanya berat.

Dengan gerakan pelan, Sophia mengambil ponsel. Mengetik singkat. "Jang, bisa antar Nara ke sekolah?"

Tak lama, balasan masuk. ["Ok."]

Sophia menghela napas, sedikit lega. Ia mendekati anak sulungnya. “Pergi sama Kang Ujang ya,” katanya lirih.

Nara mengangguk tanpa banyak protes. Ia mendekat ke ayahnya yang masih rebah di ruang tengah, menunduk, mencium tangan. Ayahnya hanya melirik sekilas.

“Berangkat?” tanyanya datar

“Iya,” jawab Nara singkat.

Ia melangkah keluar, berdiri menunggu di teras. Dari dalam rumah, ayahnya melihat ke arah pintu, lalu berteriak keras, “Maaa! Anakmu sudah siap berangkat tuh! Lama amat!”

Tak ada jawaban.

Sophia masih di dapur, lalu ke ruang cuci. Tangannya sibuk, telinganya berdengung.

“Maaaaa!”

Nara menoleh ke dalam, ragu sejenak. Ia menarik napas, lalu berkata pelan tapi jelas, “Mama capek, belum tidur. Sekarang lagi bersih-bersih.”

“Ah, kebiasaan mama kamu pemalas!” sentak ayahnya.

Kalimat itu jatuh seperti benda keras ke lantai. Nara menegang. Matanya berkedip cepat. “Semua serba mama. Kasihan mama,” lanjut Nara sinis.

Nara mengepalkan tangan kecilnya. “Aku bisa pergi sendiri,” ucapnya, lalu melangkah pergi tepat saat motor Ujang berhenti di depan pagar.

“Hey! Nara! Sama siapa?” teriak ayahnya dari dalam.

Tidak ada jawaban, Nara tampak kesal pada ayahnya. Sama sekali tidak membangunkan mama, pikirnya.

Sophia muncul dari arah dapur. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat. Tangannya membawa ember cucian kosong. “Harusnya kamu yang antar,” katanya, suaranya bergetar tapi tertahan. “Cuma sepuluh menit. Daripada bengong scroll hape.”

Ayahnya berdiri. “Aku capek kerja! Kamu ngapain aja di rumah?”

Brak.

Ember di tangan Sophia jatuh ke lantai. Air cucian memercik, pakaian basah berserakan. Ia berdiri kaku, menatap ke bawah, dadanya naik turun cepat—bukan karena kaget, tapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya meledak.

“Capek?” Katamu… capek?” Suara Sophia lirih, tapi matanya nanar saat menatap suaminya. Tangannya terangkat, telunjuknya mengarah ke lantai yang basah, ke dapur, ke meja makan yang belum tersentuh, lalu ke arah kamar anaknya.

“Kamu pulang, capek, tidur. Rumah cuma buat makan sama tidur,” katanya pelan tertahan. “Terus kami yang di rumah ini apa? Makan tidur juga?”

Suaminya diam. Bibirnya mengeras.

“Itu anak,” lanjut Sophia, nadanya turun, dingin. “Anakmu, bukan? Siapa yang rawat dia? Siapa yang bangun tiap dia muntah? Siapa yang pastiin isi rumah aman dan bersih? bahkan sofa yang kamu duduki itu bebas kutu?” Ia tertawa pendek, pahit. “Siapa yang jaga semua itu?”

“Aku kan ngasih kamu uang,” jawab suaminya akhirnya. “Tugasmu ngelola, lah.”

Sophia mengangguk. Lalu tertawa lepas. “Ngasih uang, lalu berharap semua beres?” Ia menatap lurus. “Kamu kira lagi bayar ART rangkap babysitter, koki, sama pelayan nafsumu?”

Ia mendengus. “Dengan kerjaan sebanyak itu, kamu ngerasa uangmu cukup, ya?”

“Oh, jadi mau ungkit tugas istri sama suami sekarang?”

“Nggak.” Sophia merunduk, meraih baju-baju basah di lantai. “Cuma mau ngasih tahu kalau di kepalamu, takaran segalanya itu uang, tidak akan pernah cukup.” 

Ia berbalik ke dapur, meninggalkan suaminya yang menatapnya kesal.

Hari itu, Sophia tidak memasak. Ia mengirim pesan singkat pada Ujang agar menjemput Nara sekalian mengambil pesanannya di warung Hartati—telur, minyak, dan kopi. Setelah itu, ia masuk kamar dan tidur.

Saat terbangun menjelang siang, ia heran melihat suaminya masih di rumah. Duduk di tempat yang sama.

Sophia tak bertanya. Ia hanya menggoreng nugget dan tahu. Makan siang sederhana untuk dirinya dan si bungsu. Ia menyuapi anak itu, memberinya obat, lalu makan di kamar.

Setelahnya, ia ke belakang. Mengangkat jemuran, melipat asal agar tidak tampak menggunung. Lalu kembali ke kamar.

“Kamu nggak masak?” tanya suaminya dari luar.

Sophia diam.

"Heh!"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!