Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Qowwam
Malamnya, suaminya mendekati Sophia di kamar.
“Kamu bikin ibu kepikiran,” katanya. “Jangan bawa-bawa anak dalam masalah kita."
Sophia duduk di tepi ranjang. “Anak-anak juga bisa menilai, kok. Mereka paham seperti apa sosok ayahnya di rumah.”
“Agama sudah jelasin aturannya.”
“Agama juga bicara soal kasih,” balas Sophia. “Tentang rasa aman seorang istri juga anak-anaknya.”
Suaminya menatapnya tajam. “Jangan sok pinter. Kamu cuma istri.”
Kalimat itu melayang ke udara. Sophia berdiri. Tangannya gemetar, tapi suaranya tidak.
“Kalau jadi istri artinya harus bodoh, manut karena kelalaian suami sampai kehilangan jati diri,” katanya, “aku nggak yakin itu yang Tuhan mau.”
Suaminya tertawa kecil, getir. “Kamu dengerin siapa sih sekarang?”
Sophia tidak menjawab, ia melangkah keluar kamarnya, masuk ke kamar anak. Di sana ia duduk di lantai, memeluk lutut. Nara tiba-tiba terbangun.
“Ma,” bisiknya, “aku sayang mama. Maafin suka bikin kesal.”
Sophia menahan napas lalu mengangguk. “Nggak apa,” katanya. “Mama juga sayang kalian.”
Di luar kamar, langkah kaki suaminya terdengar mondar-mandir di depan pintu. Senjata yang ia pakai, agama, keluarga, intimidasi, tidak langsung membuat Sophia tunduk. Dan itu membuatnya kesal karena kehilangan kendali.
Pagi itu rumah belum sepenuhnya rapi ketika pertengkaran pecah.
Anak-anak sudah berangkat sekolah. Pintu depan tiba-tiba ditutup lebih keras dari biasanya, meninggalkan gema.
Sophia berdiri di dapur, mencuci piring. Suaminya belum berangkat kerja. Itu jarang terjadi, dan justru itulah yang membuat suasana terasa berat.
“Kamu berubah,” katanya dari ambang pintu. “Sejak kapan kamu berani jawab-jawab begitu ke ibu?”
Sophia tidak menoleh. “Aku nggak jawab-jawab asal. Aku cuma jujur.”
“Jujur menurut siapa?” nada suaminya meninggi. “Kamu bikin ibu mikir macem-macem. Kamu bikin aku kelihatan gagal. Anak itu belum waktunya tau urusan orang tua.”
“Mereka lihat sendiri tiap hari,” jawab Sophia. “Aku nggak nambahin apa-apa.”
Akhirnya Sophia mematikan keran. Ia berbalik, mengeringkan tangan dengan lap. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya lelah.
“Yang bikin kamu kelihatan gagal bukan aku,” katanya pelan. “Tapi karena kamu jarang ada, lalu marah saat kenyataan terbuka.”
Suaminya tertawa pendek. “Lihat tuh. Mulai nyalahin. Ini akibat kebanyakan dengerin omongan orang.”
“Omongan siapa?” Sophia menatap lurus. “Aku bahkan jarang punya waktu ngobrol sama orang. Yang aku denger itu badanku sendiri. Anak-anak tumbuh tanpa figur panutan darimu.”
“Itu tugasmu sebagai ibu, mencontohkan.”
“Dan tugasmu sebagai ayah?” potong Sophia cepat, suaranya tetap rendah tapi mantap. “Selain cari uang?”
Suaminya maju selangkah. “Kamu hati-hati ya kalau ngomong.”
Sophia tidak mundur. “Aku hati-hati selama ini. Aku cuma capek pura-pura nggak apa-apa.”
Hening menggantung. Jam dinding berdetak keras.
“Agama jelas memerintahkan,” kata suaminya akhirnya. “Istri itu wajib taat.”
“Iya,” Sophia mengangguk. “Taat itu bukan karena ketakutan diancam. Bukan dipakai buat nutup kelalaian.”
“Kamu mau ngajarin aku agama sekarang?”
Sophia menarik napas. “Agama juga ngajarin buat dapat ketenangan di rumah dan rasa aman.”
“Kamu selalu bawa-bawa perasaan."
“Karena aku punya perasaan,” jawab Sophia. “Bukan barang.”
Kalimat itu membuat wajah suaminya mengeras. Ada sesuatu yang runtuh di sana, ego sebagai laki.
“Kamu pikir gampang jadi aku?” katanya, nada suaranya berubah sinis. “Aku juga capek. Aku juga ditekan sana-sini.”
Sophia menarik napas. “Aku nggak pernah bilang hidupmu gampang. Tapi capekmu jangan dijadikan alasan buat menutup mataku, telingaku, dan perasaanku.”
Suaminya menggeleng, meraih tasnya. “Kamu sekarang sok pintar.”
Sophia hanya menatapnya. “Aku dari dulu pintar dan kuat. Bedanya, sekarang aku berhenti pura-pura baik-baik saja.”
"Kamu bikin rumah nggak nyaman,” katanya sebelum pergi.
Sophia menatap punggungnya. “Rumah ini nggak nyaman dari dulu. Aku cuma baru berani ngaku.”
Dari ruang tengah itu terdengar suara pintu dibuka. Suaminya keluar tanpa pamit. Motor menyala lalu suaranya perlahan menjauh
Sophia duduk di kursi dapur. Tangannya gemetar, tapi kali ini ia tidak menangis.
Ada takut, iya. Tapi pertengkaran itu tidak membuatnya ingin minta maaf atau merasa bersalah.
Yang ia rasakan, kalau ia terus diam, itu sama saja mengajarkan anak-anaknya bahwa cinta harus ditukar dengan takut karena ancaman dari pasangan. Padahal niat awal menikah adalah bertumbuh bersama.
***
Siang itu, di kantor, suaminya duduk di deretan kedua. Ada kajian singkat sebelum jam kerja dimulai. Biasanya ia sibuk dengan ponsel. Tapi kali ini, entah kenapa, ia menyimaknya.
Ustadz itu bicara tenang. “Laki-laki sering merasa tugasnya selesai saat pulang membawa uang,” katanya. “Padahal rumah tangga bukan cuma soal nafkah. Tapi soal hadir. Soal peka.”
Suaminya menatap lantai.
“Pekerjaan rumah bukan cuma soal nyapu atau nyuci,” lanjutnya. “Tapi soal melihat. Melihat istri lelah, tapi tetap bangun pagi. Melihat anak-anak tumbuh, tapi ayahnya jarang duduk sebentar untuk mendengar.”
Beberapa orang mengangguk. Ada yang tersenyum kecil.
“Istri yang diam bisa jadi dia lelah,” kata ustaz itu lagi. “dan ketika perempuan mulai bicara, seringkali itu bukan karena kurang bersyukur, tapi karena terlalu lama diabaikan.”
Kalimat itu membuat dada suaminya terasa sesak. Ia teringat Sophia, berdiri di dapur tadi pagi. Suaranya tenang, tapi matanya lelah. Terbayang anak-anak berangkat sekolah tanpa ia antar, tanpa ia peluk. Terngiang kalimatnya sendiri: kamu cuma istri. Tangannya mengepal.
“Rumah tangga tidak seharusnya berdiri karena rasa takut,” kata ustaz itu menutup. “Yang dititipkan adalah rasa aman.”
Kajian selesai. Orang-orang beranjak. Ada yang bercanda, ada yang langsung kerja. Suami Sophia tetap duduk beberapa detik lebih lama.
Selama ini ia ada di sana, tapi tidak benar-benar pulang. Ia menarik napas panjang.
Setelah makan siang, suaminya merenung di kubikelnya. Kata qowwam berputar-putar di kepalanya.
Selama ini, kata itu ia pahami sederhana : penanggung jawab, pemimpin, pencari nafkah. Yang berdiri paling depan dan suaranya harus didengar.
Tapi ustadz tadi menyebutnya dengan nada berbeda.
Qowwam itu ibarat berdiri, bukan duduk nyaman sambil menunjuk. Menopang, bukan menekan.
Ia teringat kisah-kisah yang sering didengar sejak kecil. Tentang Rasulullah yang menambal sandalnya sendiri. Menyapu rumah. Membantu pekerjaan istri tanpa merasa harga dirinya runtuh. Tentang para sahabat yang pulang membawa lelah, tapi tetap duduk mendengarkan cerita istrinya—meski hanya soal hal kecil.
Bukan karena mereka tak capek. Tapi karena mereka paham, pulang ke rumah bukan soal dilayani, tapi saling menguatkan.
Qowwam, kata itu tiba-tiba terasa berat. Bukan soal siapa paling berkuasa, tapi siapa yang paling siap memikul. Bukan soal ditaati karena takut, tapi dipercaya karena aman.
Ia menelan ludah. Selama ini, ia menuntut taat, tapi jarang bertanya : apakah rumah ini membuat istriku tenang? apakah aku benar-benar hadir, atau cuma singgah?
Ia ingat wajah Sophia pagi tadi. Tidak marah atau menangis. Justru tenang—dan itu yang paling mengganggunya. Karena ketenangan itu bukan damai, tapi lelah yang sudah terlalu lama dipendam.
Ia baru sadar, mungkin selama ini ia memakai agama sebagai perisai, bukan sebagai cermin. Mengutip ayat, tapi lupa teladan. Menuntut hak, tapi abai pada adab.
"Kalau Rasulullah hidup bersamaku di rumah itu… apa aku masih berani bersikap seperti kemarin?"
Jawabannya membuat dadanya semakin sesak. "Sophia," lirihnya sambil mengusap wajah.
.
.