Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Rumpies
Siang merambat pelan.
Sophia pulang dari warung menjelang zuhur. Rumah masih sepi. Piring sudah dicuci, lantai sudah bersih dia pel sebelum pergi tadi.
Ia salat, lalu duduk di tepi kasur. Membiarkan lelahnya muncul.
Dulu, di jam-jam seperti ini, ia sering merasa bersalah kalau istirahat sejenak. Seolah rehat adalah kemewahan yang tidak pantas dia rasakan.
Ia teringat kalimat suaminya semalam. Sophia tersenyum tipis. Kata-katanya terdengar ringan dan meyakinkan, tapi butuh tekad untuk menepatinya. Karena hadir bukan soal niat baik saja. Ini termasuk mau repot, siap mendengar dan bersedia mengalah.
Menjelang asar, ponselnya bergetar. Pesan dari suaminya masuk.
["Aku pulang agak cepat. Mau jemput anak-anak sekalian."]
Sophia membaca pesan itu dua kali. Lalu membalas singkat. "Iya."
Sore itu, ia menyiapkan teh hangat lalu menanak nasi. Membiarkan dirinya menikmati aktivitas rumah tanpa tergesa-gesa.
Tak lama, suara motor terdengar. Lalu pintu dibuka.
Nura berlari masuk duluan. “Mama!”
Nara menyusul, menaruh tas sekolahnya di kamar lalu menghampirinya di dapur. Suaminya masuk paling akhir. Membawa kantong belanja kecil.
“Buah potong,” katanya singkat.
Sophia mengangguk. “Makasih.”
Suaminya gegas ke kamar, mandi dan membantu anak-anaknya bersih-bersih.
Malam pun merambat pelan.
Setelah anak-anak tidur, mereka kembali duduk berdampingan di ruang tengah. Sophia memandangi layar televisi yang gelap.
Sophia menarik napas pelan. Tangannya meremas ujung bantal sofa, lalu dilepas lagi. Seperti sedang menimbang kata-kata.
“Aku tuh…” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh dengung malam. “Kadang capek, tapi nggak tahu harus mulai ngeluh dari mana.”
Ia tersenyum kecil, pahit. Jarinya mengusap bekas lipatan di dasternya. “Capeknya bukan cuma fisik. Lebih ke… capek mikir.” Ia berhenti sebentar. “Mikir besok anak-anak gimana, uang cukup apa nggak, rumah nyaman dan bersih belum, yaa. Terus ... aku masih dianggap ada apa nggak sama kamu.”
Suaminya tidak menyela. Tangannya bertaut di depan perut, bahunya sedikit condong ke arahnya.
“Aku sering ngerasa makin cerewet,” lanjut Sophia. “Padahal aku cuma pengin didenger. Bukan didebat apalagi diceramahi.”
Ia menoleh sebentar, memastikan suaminya masih di sana, diam mendengarkan.
“Kadang aku ngomel soal hal kecil,” katanya lagi, suaranya lebih pelan. “Handuk basah ditinggal. Piring nggak langsung dicuci. Kamu mungkin mikir itu sepele.”
Sophia menghela napas. “Tapi buat aku, itu tanda kerjaan aku makin banyak dan sendirian ngerjain semuanya.”
Tangannya kini bertumpu di lutut. Bahunya turun, seolah melepas beban yang lama disimpan.
“Aku nggak butuh kamu jadi pahlawan,” katanya jujur. “Aku cuma pengin ngerasa ditemenin. Diperhatiin. Ditanya, ‘kamu capek nggak?’” Ia tertawa kecil, getir. “Sesederhana itu.”
Suaminya menggeser posisi duduk sedikit lebih dekat. Cukup untuk membuat Sophia sadar ia tidak bicara ke ruang kosong.
“Aku sering mikir, mungkin aku kurang bersyukur,” kata Sophia. “Soalnya orang lain lebih berat hidupnya. Tapi ternyata, capek itu nggak bisa dibandingin.”
Ia mengusap sudut matanya dengan cepat, ada haru tertahan di sana. “Aku cuma pengin rumah ini jadi tempat aku istirahat juga,” katanya. “Bukan cuma kamu doang.”
Hening.
Suaminya menelan ludah. Tangannya bergerak ragu, lalu berhenti di sandaran sofa, dekat jari Sophia.
“Maaf,” katanya pelan.
Sophia mengangguk. Dadanya terasa longgar, meski belum sepenuhnya sembuh. “Aku juga masih belajar ngomong tanpa marah,” katanya. “Kadang lelah nyimpen unek-unek.”
Ia menoleh. Kali ini menatap suaminya.
Suaminya mengangguk. “Iya.”
Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya terpejam sesaat. Dia merasakan jemarinya menghangat, karena digenggam suaminya.
Tidak ada pembicaraan lain, hanya tautan tangan yang mengerat, seolah berkata : aku ada di sini, kok. Dan itu, cukup membuat mereka sadar bahwa belajar menyampaikan dengan baik itu perlu dipupuk lagi.
***
Sore keesokan harinya, Sophia menunggu jam jemput di warung Hartati. Matahari masih terasa hangat, tapi semburatnya sudah mulai nyaman di kulit.
Ia duduk di bangku kayu sambil memutar sedotan di gelas es teh. Sesekali matanya melirik jam di ponsel. Setengah jam lagi harus menjemput anak-anak.
Tak lama, wanita cantik datang dan langsung duduk di sebelahnya.
“Mas Hima belum nyampe, Bu?” tanya Anggun ramah, menyapa Hartati.
Hartati menggeleng. “Belum. Mungkin masih di jalan, mba.”
Anggun mendesah pelan. “Di jalan ... wanita mah buru-buru, takut suaminya nunggu dan bete... Eeh, malah dia nya belum nyampe.”
Sophia tersenyum kecil. “Iya. Curang ya, baru nunggu 5 menit, sudah ngomel lama lama lama.”
Hartati yang sedang menata gorengan ikut menyahut, “Mereka sengaja muter-muter dulu, biar nggak nungguin lama.”
Anggun terkekeh. “Bu Hartati ngerti banget.” Ia lalu bersandar sedikit. “Lelaki tuh emang capek kerja, aku ngerti. Cuma kadang… capeknya kayak jadi alasan buat nggak mikirin yang lain.”
Sophia mengangguk pelan. “Iya. Kita juga capek, tapi tetep mikir ini-itu.”
Anggun menoleh ke Sophia. “Bener. Capek kerja, capek ngurus rumah, capek mikir besok makan apa. Tapi ya tetap dijalani.”
Sophia menatap es tehnya yang mulai mencair. “Kadang pengin diem aja. Tanpa harus jelasin kenapa.”
Hartati berhenti sebentar, lalu berkata, “Perempuan tuh sering ngerasa jenuh, lelah tapi diem. Giliran dipendem dan meledak, dikatain macam-macam.”
Anggun tertawa pendek. “Nah itu, Bu. Giliran mereka diem, langsung kita tanya. Giliran kita diem, malah dicuekin.”
Sophia ikut tertawa lepas. Bukan karena lucu, tapi karena merasa senasib.
“Suamiku tuh nggak jahat,” lanjut Anggun. “Cuma kurang peka. Pulang ya pulang. Duduk. Main HP.”
Sophia mengangguk. “Kadang kita cuma pengin ditemani. Nggak harus dinasehatin.”
Anggun mengangkat alis. “Iya. Duduk aja. Dengerin. Itu doang.”
Sophia menoleh, matanya berbinar. “Nah! Itu! Duduk. Dengerin. Kok susah, ya?”
Hartati tersenyum sambil menggeleng. “Dengerin itu nambahi rasa capek buat laki-laki. Mereka maunya pulang ya selesai, bukan malah dapat masalah baru.”
Anggun menepuk meja pelan. “Bu Hartati pinter ngomong.”
Hartati nyengir. “Pengalaman.”
Mereka kembali tertawa. Kali ini lebih panjang. Dari kejauhan, suara motor terdengar.
Anggun menoleh ke jalan. “Kayaknya itu Mas Hima.”
Sophia ikut melihat. “Semoga.”
Anggun berdiri sambil merapikan tas. “Kalau besok gitu lagi, ya sudahlah. Yang penting kita tahu caranya menghibur diri, Mbak.”
Sophia tersenyum kecil. Ada rasa hangat yang pelan-pelan naik di dadanya. Obrolannya ringan, tapi rasanya cukup bikin napas lebih lega.
Dia masih tersenyum ketika Anggun pamit dan melangkah pergi. Ia menyesap sisa es tehnya yang sudah hampir tawar, lalu bangkit dari bangku kayu. Membayar minumnya lalu meluncur ke sekolah.
Sophia berdiri di tepi jalan, menunggu anak-anak keluar. Angin sore menggerakkan ujung jilbabnya.
Dari seberang, ia melihat suaminya turun dari motor. Berbincang sebentar dengan seseorang, tampak menunduk dan mendengarkan. Sophia tidak dapat melihat wajahnya sebab sosok itu memunggunginya.
"Itu, siapa?"
.
.