Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Kegalauan Reza
"Kenapa, Mas?" tanya Hartati, menoleh cepat ke arah Reza. Ada kuatir dalam nadanya.
"Eh, gak apa, Bu," ujarnya tersenyum kaku ke arah Hartati.
Hartati mengangguk. Lalu melanjutkan menyeka meja karena sebentar lagi warungnya akan tutup.
Reza duduk lebih lama dari biasanya, sampai kopi di gelasnya tinggal setengah dan sudah tidak panas lagi.
Tangannya masih memegang ponsel, seolah itu satu-satunya benda yang bisa menahan pikirannya agar tidak berlarian ke mana-mana.
Jam dinding di warung berdetak lebih cepat dari jam di pergelangan tangannya.
“Berat bebannya, euy,” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan.
Hartati tidak menyahut. Ia tahu, ada kalanya orang hanya perlu didengar, bukan ditimpali. Ia mengelap etalase, merapikan toples, lalu menyeduh kopi lain untuk pelanggan lain. Dapur warungnya tetap mengepul meski isi kepala pelanggannya juga tak kalah panas.
Reza akhirnya berdiri. Membayar kopi. Mengangguk kecil ke arah Hartati.
“Saya pulang dulu, Bu.”
“Hati-hati, Mas,” jawab Hartati.
Di luar, sore makin merangkul petang. Langit mulai meninggalkan senja. Reza melangkah pelan menuju motornya. Ponselnya dia masukkan ke saku celana.
Motor dinyalakan. Ia tidak langsung tancap gas. Melainkan duduk sebentar, helm belum dipakai, Reza menatap jalan di depannya.
Ingatannya kembali ke pembicaraan siang tadi dengan calon istrinya.
Tentang daftar kewajiban seserahan yang harus membawa ini itu. Bukan ia tidak mau mengikuti adat dan bertanggung jawab. Tapi tabungannya minim.
Gajinya segitu. Kebutuhannya segini. Sisanya selalu tipis, kadang malah tidak ada.
“Padahal aku udah bilang mampunya segini,” katanya lirih, pada diri sendiri.
Ia menghela napas, menarik gas lalu melaju pelan. Satu jam memutari kota tanpa tujuan, Reza akhirnya pulang setelah salat di mushola kecil.
Rumah kontrakan Reza ada di gang sempit. Dindingnya sedikit lembap. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Ia memarkir motor, membuka pintu, lalu duduk di lantai tanpa menyalakan lampu.
Sunyi.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka chat yang namanya sudah ia hafal di luar kepala. Terakhir dibaca, belum dibalas. Reza mengetik satu baris, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Dihapus lagi.
Akhirnya ponsel itu diletakkan begitu saja. Ia berbaring telentang di lantai. Menatap langit-langit.
Dalam pikirannya, Reza membayangkan kehidupan setelah menikah berjalan sederhana. Tidak sibuk cari pinjaman sana sini buat nutupin kekurangan resepsi.
Dia tidak ingin punya hutang. Cukup menikmati rezeki hari ini. Seperti orang kebanyakan. Meskipun ada keinginan punya ini itu, tapi nanti, sambil jalan.
"Salah emang, kalau nggak mau ngutang? Aku kasian ke kamu nanti, hidup setelah menikah kok nyicil utangan baru," gumamnya masih menatap kosong ke atas.
"Kalau langsung hamil, harus nyicil buat syukuran ini itu lagi," lanjut Reza. "Kapan mau tenangnya?" Dia meraup wajah, lalu berbaring miring.
Dalam pikirannya, terlintas sosok sederhana yang dilihatnya bila sedang di warung Hartati. Pak satpam, Ojol, nampak bahagia dengan cara hidupnya yang apa adanya.
Orang-orang kecil yang hidupnya ngalir seperti tanpa beban, meskipun Reza tahu, setiap manusia punya medan juangnya sendiri.
Sedangkan ia, merasa berjalan cepat, tapi seperti tidak maju ke mana-mana.
“Kalau batal aja…,” bisiknya lagi. Kalimat itu menggantung. Tidak berani diselesaikan.
Ia teringat ucapan Hartati. Tuhan tahu batas pundak hamba-Nya.
Reza bangkit. Menyalakan lampu. Mengambil buku kecil dari laci. Di dalamnya ada tulisan soal rencana, mimpi yang pernah ia tulis sebelum ini.
Ia membuka halaman kosong, mencatat ulang apa yang mampu dibelinya. Bukan soal sanggup atau tidak, tapi berusaha jujur sama keadaan.
Malam berlaku begitu saja. Dari luar terdengar motor lewat, orang berbincang di gang. Hidup nyatanya terus berjalan tanpa tahu isi kepala setiap manusia.
Reza berwudu. Shalat. Duduk lebih lama setelah salam. Dia hanya berdoa agar melembutkan hati orang-orang yang dia sayang. Agar mendengar pendapatnya.
“Tolong aku ... semoga mereka ngerti, ya Tuhan.”
Selain minta dimudahkan segala urusannya, dia juga memohon petunjuk, mana yang harus diperjuangkan dan bagian mana yang perlu dilepaskan dengan ikhlas.
***
Cahaya pagi masuk lewat celah jendela kontrakan.
Reza bangun, mandi, lalu berangkat seperti biasa. Tapi hari ini ada janji yang membuat langkahnya lebih berat dari biasanya.
Reza mampir ke rumah calon mertuanya. Halamannya sudah disapu bersih. Saat menyentuh teras, bau kopi hitam menyambutnya.
Calon istrinya keluar lebih dulu. Wajahnya tenang, tapi matanya sedikit sembab. “Kamu udah sarapan?” tanyanya.
“Udah,” jawab Reza singkat, padahal perutnya kosong sejak pagi.
Mereka duduk berdampingan, tapi kaku, seperti sedang perang dingin.
Tak lama, ibu calon mertuanya keluar membawa nampan. Ayahnya menyusul, duduk perlahan, menumpu tangan di atas lutut.
“Reza,” kata ayahnya membuka percakapan. “Kemarin ibumu nelpon.”
Reza mengangguk. Dadanya langsung berdebar.
“Katanya kamu keberatan sama beberapa permintaan.”
“Saya bukan keberatan, Pak,” kata Reza pelan. “Cuma ada beberapa hal yang saya rasa bisa dikurangi.”
Ibunya calon istri mengaduk kopi. Sendok beradu pelan dengan cangkir. “Dikurangi gimana maksudnya?” tanyanya.
Reza menelan ludah. Tangannya saling bertaut. “Saya mau menikah dengan niat baik. Tapi kemampuan saya segini. Kalau semua harus dipenuhi sekarang, saya takut setelahnya malah jadi beban.”
Calon istrinya menunduk. Tidak membelanya membuat Reza merasa sendirian.
“Adat itu bukan buat memberatkan,” kata ayahnya. “Itu bentuk tanggung jawab.”
“Iya, Pak. Saya paham.” Reza mengangguk. “Makanya saya datang jelasin.”
Ibunya menghela napas panjang. “Tapi kalau nanti orang ngomong gimana?”
Kalimat itu melayang di udara. Kekuatiran orang tua pasti soal penilaian dari sekitar, Reza tahu ini.
Reza terdiam sebentar. Lalu berkata, lebih lirih, “Saya takut bukan sama omongan orang, Bu. Tapi sama hidup kami setelahnya.”
Calon istrinya akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca. “Kamu pikir aku gak kepikiran?” katanya. Suaranya tertahan isak. “Aku juga capek dengar ini itu. Tapi ini keluarga aku, Za.”
Reza menunduk. Ia tahu itu. Dan justru karena tahu, kepalanya makin berat. “Aku cuma pengen sederhana,” lanjutnya. “Nikah. Tinggal bareng. Beres.”
Ayahnya menyandarkan punggung. “Sederhana itu relatif.”
Sunyi sebentar.
Reza menarik napas. Lalu mengeluarkan buku kecil dari tasnya, yang semalam ia tulis ulang.
“Saya catat semua yang saya mampu,” katanya sambil membuka halaman. Reza meletakkan buku itu di meja.
Ibunya calon istri melirik sekilas, tidak mengambil buku itu.
“Kalau tidak bisa semua sekarang,” kata Reza, “saya minta waktu, Pak, Bu.”
Calon istrinya menutup wajah dengan telapak tangan. Bahunya bergetar pelan. “Kamu jangan nyesel,” katanya lirih.
Reza menatapnya. “Aku lebih takut nyesel karena memaksakan.”
Ayahnya akhirnya bicara lagi. Lebih pelan. “Kami gak mau anak kami susah.”
“Saya juga, Pak,” jawab Reza cepat. “Makanya saya ngomong begini.”
Waktu berjalan lambat. Tidak ada kata sepakat pagi ini. Saat Reza berpamitan, ibu calon istrinya berkata pelan, “Kami pikirkan dulu.”
Reza mengangguk. Di jalan menuju kantor, motor melaju pelan. Angin pagi menyapu wajahnya. Pikirannya semrawut, dadanya masih sesak. Tapi setidaknya, hari ini, ia berani jujur.
"Maaf ya," gumamnya, "kalaupun nantinya batal..."
Tiiiinn.
Gubrak.
.
.