3 Duyung Cantik
Cinta itu Egois
"Eh jangan! Jangan!" pekik Ara menatap Amy dengan melotot karena adiknya sudah mulai berani mengusilinya lalu dia pun menangkap Amy.
"Mamah! Mamah!" teriak Amy yang tidak bisa berlari.
"Diem enggak! Awas aja kalau bilang-bilang sama Mamah," ancam Ara berusaha menghentikan Amy.
"Mamah, Mamah!" Amy berteriak dan berhasil lolos dari Ara dengan cepat dia berlari mencari Mamahnya.
"Amy, Amy jangan!" seru Ara yang ikut mengejar sang adiknya yang akan melaporkan semuanya kepada Mamanya.
"Cie, cie kak Ara, Mamah!" ledek Amy sembari berlari-larian dengan diikuti oleh Ara di belakangnya.
"Amy diamm!!" pinta Ara sembari menggapai Amy namun dia malah menghindar.
"Ett, ett gak bisa, gak kena," ledek Amy dengan menjulurkan lidahnya.
Sampai akhirnya Amy bertemu dengan Melly yang sedang berjalan dengan membawa teko dan gelas lalu bersembunyi di belakangnya. Ara yang takut mencoba menarik Amy yang bersembunyi di belakang Mamahnya. namun malah membuat Mamahnya pusing.
"Aduh, aduh nanti tumpah nih," ujar Melly merasa kerepotan membawa gelas dan teko yang berisi air. "Kalian berdua apa-apaan sih?"
"Iya tuh Mah, Amy," sahut Ara pelan.
"Mamah, Mamah tahu enggak? Ada yang lagi jatuh cinta nih, cie-cie ... ya kan? Ya kan?" Amy kembali mengungkapkan semuanya kepada Mamahnya sembari tersenyum ke arah Ara mengejek kakaknya itu.
"Apaan sih, enggak itu cuma teman sekolah aja, masih kecil juga!" Ara sembari terkekeh dia mencoba kembali menangkap Amy agar diam dan tidak mengejeknya lagi.
"Udah, kamu ini hobby banget sih gangguin kakak kamu," sergah Melly meleraikan keributan yang terjadi kepada anak-anaknya.
"Ya abisnya kak Ara egois sih, masa dia boleh jatuh cinta sedangkan Mamah enggak itu namanya gak adil," pekik Amy dengan polosnya membuat Ara terdiam dan menundukkan kepalanya.
Melly melirik ke arah Ara yang menunduk membuatnya merasa gak enak, "Ya gak gitu juga kok Amy, Ara gak pernah larang Mamah!"
Seketika Amy terdiam menyadari bahwa ada yang salah dengan ucapannya.
"Ara itu hanya mengingatkan saja dia enggak pernah melarang Mamah cuma itu aja kok, ya kan?" Melly menatap Ara yang dibalas dengan senyuman saja.
"Udah,kamu juga gak mau kan masa puber kamu diejekin?" tukas Melly menatap Amy kembali.
"Hemm." Amy hanya diam menatap Mamahnya karena dia tidak bisa menjawabnya.
"Makanya, jangan suka usil!" Melly memberikan nasehat untuk Amy. "Ya sudah, Ara kamu ganti seragam dulu ya kita akan siap-siap makan bersama."
"Iya Mah," sahut Ara dengan tersenyum.
"Cie, cie!" ejek Amy kembali menggoda kakaknya.
Ara menoleh dan melotot kepada Amy sambil memberikan peringatan untuk diam bukan sekali Amy terus menerus mengejek Ara sampai kakaknya itu berlalu pergi.
"Cie, cie!" ejek Amy kembali menatap kepergian kakaknya. Dia sangat suka mengejek kakaknya karena dia sudah tahu perasaan kakaknya kepada Dirga dari buku diary yang dia baca waktu itu.
"Udah, cie, cie! " sergah Melly sembari mengusap rambut Amy.
***
Dengan senangnya Ara bisa berenang bebas di dalam air namun tiba-tiba ada yang aneh di dalam sana, begitu Ara semakin berenang seketika seseorang menarik tangannya.
"Heh Ratu! Ngapain lo ada di sini?" pekik Ara terkejut melihat sahabatnya ikut berenang bersamanya.
"Ya enggak ngapa-ngapain emang kenapa kalau gue disini, gak boleh?" sahut Ratu dengan ketus wajahnya terlihat cemberut.
"Ya gak apa-apa sih, kenapa kok mukanya bete gitu?" ujar Ara sembari mengusap wajahnya.
Ratu memutarkan bola matanya kesal, "Gara-gara Lo," pekiknya.
"Gue? kok gara-gara gue sih, emangnya gue kenapa?" Kedua alis Ara berkerut dengan bingung mendengar ucapan Ratu.
"Ya karena lo itu," ucapan Ratu terputus begitu mendengar langkah kaki seseorang.
"Mamah!" pekik Ara dengan mengambil napas lalu kembali tenggelam ke dalam air.
Begitupun dengan Ratu karena bahaya jika sampai Mamahnya Ara mengetahui semuanya, mereka berdua berenang ke tepian kolam untuk bisa bersembunyi dengan aman di sana.
Terlihat Melly yang sedang bersama dengan Verry Papahnya Teri entah apa yang akan mereka bicarakan membuat Ara penasaran.
"Kalau menurut saya yah, tidak perlu dilanjutkan lagi hubungan kita ini," ucap Melly pelan ada luka yang dia rasakan dengan mengatakan hal itu.
Mendengar keputusan Melly membuat Verry mengembuskan napasnya yang terasa berat, "Hem. Tapi kenapa Mell? Bukannya hubungan kita berjalan baik-baik saja," sahut Verry nelangsa.
"Sangat baik bagi kita Mas, tapi tidak untuk anak-anak dan mereka tidak setuju kalau kita melanjutkan hubungan ini ke lebih serius lagi," jelas Melly lirih wajahnya menatap Verry sendu.
"Enggak-enggak menurut saya bukan begitu mereka masih butuh waktu dan kita harus sabar untuk mereka lebih mengerti kita, itu saja please! Jangan ambil keputusan dengan terburu-buru, percaya sama saya Ara pasti akan ngerti kita," terang Verry mencoba menjelaskan semuanya kepada Melly bahwa anak-anaknya butuh waktu untuk mengerti.
Di pinggir kolam renang Ara merasa sedih mendengarnya, ketika nama Ara disebut Ratu menoleh menatap sahabatnya itu yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi sayanya yang enggak bisa mas, saya gak mau mengorbankan perasaan mereka jadi saya mohon sama mas untuk jangan hubungi saya lagi! Maaf Mas," tukas Melly ketika keputusannya sudah bulat.
Verry kembali menarik napasnya, "Okey kalau memang itu yang menjadi keputusan kamu," sahutnya sumarah.
"Ini demi kebaikan semuanya Mas," seru Melly wajahnya terlihat sedih. "Maaf," lirihnya begitu Verry menepuk sebelah bahunya pelan sebelum benar-benar pergi.
Suasana pun menjadi sedih Melly yang sebenarnya tidak mau berpisah harus mengikhlaskannya, Ara dan Ratu yang melihatnya juga ikut bersedih.
Begitu Melly hendak pergi dia membalikan tubuhnya, Ara memberi kode kepada Ratu untuk langsung menyelam.
Byuurr!
Melly kembali menoleh begitu mendengar seperti ada orang yang sedang berenang di sana, dia berjalan mendekat membuat Ara dan Ratu menahan napas mereka di dalam air agar tidak ketahuan.
"Kaya ada yang berenang, tapi di kolam gak ada orang?" tukas Melly keheranan menatap kolam renang yang sepi tidak ada orang. Dia juga menemukan ada handuk di sana, "Hallo! Hallo!!" Begitu tidak melihat ada seseorang Melly kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Suara genangan air menarik daya tarik Melly untuk menoleh sebab dia masih memikirkan handuk yang berada di bangku sana namun di kolam renang terlihat sepi akhirnya dia kembali berjalan meninggalkan tempat itu.
Begitu tahu Nyokapnya sudah pergi Ara dan Ratu muncul ke permukaan.
"Duhh untung aja Nyokap Lo gak lihat gue," seru Ratu sembari mengatur napasnya.
"Iyahh." Ara sendiri merasa deg-degan tadi karena dia takut kalau Nyokapnya sampai lihat wujud duyungnya.
"Ara! Ara di mana kamu!" teriak Melly dari dalam rumah mencari anaknya.
"Duhh gawat Nyokap gue nyariin," pekik Ara yang berusaha naik ke atas untuk mengeringkan ekornya.
Disusul oleh Ratu yang naik ke atas sampai akhirnya dia mengeringkan ekornya dengan kekuatannya sendiri.
"Ayo cepetan Lo!" pekik Ara menyuruh Ratu agar mengeringkan ekornya sendiri.
Ketika Ara masuk ke dalam rumahnya dia melihat Mamahnya sedang duduk di dekat jendela memandangi derai hujan, Ara jadi merasa kasihan kepada Mamahnya.
"Mamah benar-benar terpukul aku harus ngapain ya?" ujar Ara bingung harus berbuat apa untuk bisa menghibur Mamahnya yang sedang sedih.
Seketika Ara tersenyum begitu dia mempunyai ide, dia keluar dari rumahnya dan mengeluarkan kekuatannya kepada air hujan itu lalu dia menuliskan pada kaca jendela lafadz 'Allah'.
Melly yang pandangannya tertuju pada kaca jendela kaget, "Astagfirullah hal adzim," tukasnya sembari membetulkan kacamatanya lalu mencabutnya untuk memastikan apa yang dilihatnya itu benar.
"Ya Allah apa ini pertanda bahwasanya aku harus tetap tabah dan sabar menghadapi semua ini, dan apa itu artinya ...," lirihnya memandang lafadz Allah itu dengan perlahan dia menarik napasnya lalu mengembuskannya.
"Aku udah buat Mamah sedih, gimana ya caranya biar bisa buat Mamah senang lagi?" gumam nya dan berlalu masuk ke dalam rumahnya lagi.