Perempuan katanya bebas memilih.Nyatanya yang disediakan hanya dua,bertahan sampai habis … atau pergi lalu dihabisi. Banyak yang tetap tinggal bukan karena cinta, tapi karena sejak awal sudah ditanamkan takut, tanpa laki-laki, hidupmu dianggap cacat. Berpisah bagi perempuan bukan sekadar berani pergi. Itu berarti siap diusir dari rumah, diputus dari sumber hidup, diperebutkan dari anak,dan dihakimi tanpa sidang oleh mulut-mulut yang selalu lapar. Ironisnya, yang pergi dicap gagal yang bertahan dipuji seolah paling benar. Seolah luka yang dipelihara itu prestasi.Seolah diam itu kehormatan. Padahal … tidak semua yang bertahan itu kuat. Sebagian hanya belum diberi ruang untuk pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelID , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelID sendiri
Comments