Air Matar di ujung Sajadah
Lebih membela selingkuhanmu
“Plak!!”
Suara itu bukan hanya terdengar ia menghancur di dalam kepalaku.
Pipi kananku seketika terbakar, panasnya menjalar sampai ke dada, sampai ke sesuatu yang tak terlihat tiba-tiba terasa hancur.
Aku terdiam.
Bukan karena kuat tapi karena terlalu kaget untuk merasa apa pun.
Mataku perlahan terangkat.
Menatap wajah yang dulu pernah kupanggil rumah.
Mas Bram.
Tapi hari ini … aku tak mengenalnya.
“Plak!!”
Tamparan kedua datang tanpa jeda. Lebih keras. Lebih kejam. Kepalaku terlempar ke samping, tubuhku oleng. Dunia seperti berputar, tapi yang paling menyakitkan bukan itu melainkan kenyataan … bahwa tangan yang dulu mengusap air mataku, kini menjadi alasan air mata itu jatuh.
Napas ku tercekat.
Aku ingin bicara … ingin bertanya … ingin memohon ….
Tapi tak ada suara yang keluar.
Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku. Kasar. Menyakitkan.
Aku meringis, tapi dia tak peduli.
Seolah aku bukan lagi istrinya.
Seolah aku hanya sesuatu … yang boleh disakiti.
Ditariknya tubuhku mendekat.
Terlalu dekat … sampai aku bisa melihat kebencian di matanya dengan jelas.
Dan saat tangan kanannya terangkat hatiku runtuh lebih dulu sebelum tubuhku sempat menerima pukulan itu.
“Prakkkkk!!!”
Segalanya pecah.
Bukan hanya rasa di kepalaku yang berdenyut hebat.
Bukan hanya pandanganku yang langsung buram.
Tapi juga … harapanku.
Aku kehilangan keseimbangan. Lututku jatuh menghantam lantai. Tubuhku menyusul, lemah, tak lagi punya tenaga untuk berdiri.
Dingin lantai merambat ke kulit … tapi tak sedingin perasaanku saat itu.
Air mata jatuh satu per satu.
Tanpa suara. Tanpa isak.
Karena bahkan untuk menangis pun … aku sudah terlalu lelah.
Di antara pandangan yang mulai gelap, hanya satu hal yang terus berputar di kepalaku, aku menikah dengan laki-laki ini laki-laki yang sekarang bahkan tak ragu menghancurkanku.
Aku meremas perutku kuat-kuat.
Refleks. Takut.
“Astaghfirullah …,” napasku tercekat, suaraku hampir tak terdengar.
Sakit … bukan hanya di tubuhku yang mulai melemah, tapi di hati yang seperti diremas tanpa ampun.
Tiga bulan.
Ada kehidupan kecil di dalam rahimku.
Anak kami.
Tapi di hadapanku sekarang, suamiku lelaki yang seharusnya menjaga kami justru berdiri dengan amarah yang tak tersisa sedikit pun kasih.
Lebih membela perempuan lain dibanding aku, istrinya sendiri.
“Ayok! Kita ke rumahnya! Ayok! Ayok! Kalau kamu nggak percaya!”
Bentakannya mengguncang telingaku.
Belum sempat aku mencerna kata-katanya, tangannya sudah lebih dulu meraih rambutku kasar, tanpa ragu menyeretku menuju mobil.
“Aaa—Mas, sakit …,” lirihku pecah, tapi seperti biasa … tak pernah sampai ke hatinya.
Langkahku terseret. Tubuhku nyaris tak mampu mengikuti.
Satu tanganku memegangi perutku, seolah itu satu-satunya hal yang masih ingin ku lindungi di dunia ini.
Aku mengelak pelan.
Bukan melawan … hanya mencoba bertahan.
“Mungkin … mungkin aku salah …,” bisikku dalam hati, berusaha meyakinkan diri sendiri.
“Mungkin aku hanya terlalu curiga … terlalu banyak menduga .…”
Aku ingin percaya itu.
Aku sangat ingin.
Tapi kenapa … semua yang kulihat terasa begitu nyata?
Begitu jelas.
Begitu menyakitkan.
Dan yang lebih menghancurkan kenapa Mas Bram begitu mati-matian membela perempuan itu?
Bukan aku.
Bukan kami.
Air mataku jatuh lagi. Kali ini tak bisa kutahan.
Bukan karena aku lemah, tapi karena aku sedang berjuang sendirian … bahkan di dalam pernikahanku sendiri.
Dan di saat aku diseret, dipaksa, diperlakukan seperti bukan siapa-siapa yang bisa kulakukan hanya satu, menahan perutku dan berdoa, “Nak… tolong bertahan ya, meski ibu sendiri nggak tahu harus kuat sampai kapan .…”
Tubuhku dipijak tanpa ampun.
Berulang kali.
Seolah aku bukan manusia … hanya sesuatu yang boleh dihancurkan sampai tak bersisa.
Aku mencoba bersuara.
Mencoba berteriak.
“Tolong … tolong .…”
Tapi yang keluar hanya serpihan suara yang patah, tercekat di tenggorokan. Nafasku sesak. Dadaku seperti diremas kuat-kuat, tak memberi ruang sedikit pun untuk hidup.
Sakitnya menjalar ke mana-mana, ke tulang, ke darah, ke setiap bagian tubuh yang tak lagi mampu kurasakan utuh.
Aku menjerit lagi.
Lebih keras. Lebih putus asa.
“TOLONG …!”
Namun dunia di sekitarku … diam.
Sunyi.
Seolah tak ada yang terjadi.
Seolah aku tidak sedang sekarat di sini.
Rumah-rumah itu masih berdiri.
Orang-orang itu pasti ada di dalamnya.
Tapi tak satu pun pintu terbuka.
Tak satu pun langkah datang mendekat.
Kenapa …?
Apa jeritanku tak cukup keras?
Atau … memang tak ada yang peduli?
Air mataku mengalir tanpa henti. Bercampur dengan rasa sakit yang tak bisa lagi ku jelaskan dengan kata-kata.
Aku hampir menyerah.
Pandangan mulai gelap.
Suara-suara menjauh.
Tubuhku melemah … perlahan kehilangan kesadaran.
“Siapa pun … tolong aku … aku belum ingin mati .…”
Seolah doaku yang patah-patah itu masih sempat naik ke langit pukulan Mas Bram mulai melemah.
Tak ada kata. Tak ada penyesalan.
Dia hanya berhenti … lalu pergi begitu saja, meninggalkanku tergeletak di lantai seperti benda tak bernyawa.
Aku terhampar.
Dingin lantai menembus kulitku, tapi tubuhku sudah terlalu mati rasa untuk membedakan dingin dan sakit.
Tanganku gemetar.
Pelan … sangat pelan … aku mencoba meraih kaki kursi di dekatku.
Satu-satunya penopang … agar aku bisa bangkit dari kehancuran ini.
“Ah …,” desahku lirih, nyaris tak terdengar, saat rasa nyeri menjalar lagi ke seluruh tubuhku.
Tapi aku paksa.
Aku harus berdiri.
Aku harus … menyelamatkan diriku sendiri.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, aku berhasil duduk. Napasku tersengal. Pandanganku masih berkunang-kunang.
Pelan aku melirik ke dalam rumah.
Mas Bram ada di sana.
Seolah tak terjadi apa-apa. Sibuk… dengan dunianya sendiri.
Dan saat itu aku sadar, aku benar-benar sendirian.
Dengan tangan gemetar, aku meraih sandal di dekat pintu. Lalu … jemariku menyentuh sesuatu kecil yang tergeletak di meja.
Peniti.
Berisi jenglo bengle … jimat kecil yang dulu katanya bisa melindungi orang hamil dari makhluk-makhluk halus.
Aku tak tahu apakah itu benar.
Tapi di saat seperti ini … aku butuh percaya pada apa pun.
Aku menggenggamnya erat.
Seolah itu satu-satunya pelindung yang tersisa untukku … dan untuk anakku.
Langkahku tertatih.
Satu per satu … pelan … menahan sakit yang seperti merobek setiap gerakan.
Menuju gerbang.
Menuju … kemungkinan untuk selamat.
Hampir saja.
Tiba-tiba tanganku ditarik keras.
“Ingin ke mana!”
Suara itu menghantamku lebih keras dari pukulan sebelumnya.
Tubuhku membeku.
Napasku tertahan.
Aku menoleh perlahan.
Menatapnya … dengan rasa takut yang tak lagi bisa kusembunyikan.
Aku menarik napas panjang. Berusaha menenangkan gemetar di tubuhku.
“A-anu … aku mau ke warung … beli es batu … buat ngompres …,” suaraku pecah, bergetar, nyaris tak meyakinkan.
Beberapa detik terasa seperti seumur hidup.
Tatapannya menusuk.
Mencurigai. Menekan.
Lalu, pegangan itu terlepas.
Aku tak menunggu lebih lama.
Langkahku berubah cepat. Hampir berlari, meski tubuhku menjerit kesakitan di setiap gerakan. Air mata kembali jatuh, bukan karena lemah … tapi karena akhirnya… akhirnya aku punya sedikit kesempatan untuk pergi.
Pergi dari tempat yang seharusnya disebut rumah … tapi kini hanya terasa seperti neraka.
Dan dalam setiap langkah yang goyah itu, satu hal terus ku ulang dalam hati. “Aku harus selamat … demi anakku … harus dan harusss!!!”