Akhir Seorang Penjudi
Mbah Remo Mengetuk Pintu
Tok! Tok! Tok!
Aku mendengar suara ketukan pintu yang sangat pelan, bahkan seperti suara gesekan saja. Saat itu, aku sedang melihat laptop dan memperbaiki beberapa laporan KKN yang belum selesai. Kuliahku hampir selesai, dan kini masa KKN selesai. Beberapa saat lagi, aku akan menyusun skripsi.
Hah... kuliah yang panjang, ingin rasanya cepat selesai.
Kembali ke suara tok di pintu. Aku menggerakkan tubuhku dan keluar dari kamar, siapa yang mengetuk pintu tanpa salam dan tanpa suara. Hanya suara gesekan pada pintu yang begitu pelan. Saat aku membuka pintu, aku kaget melihat siapa yang datang ke rumah.
NGGEEEEEKK!
Mataku mendelik sekaligus penasaran, lelaki tua yang aku temui berjalan tadi pagi. Dia tepat berada di depanku, di depan pintu dan matanya masih melihat ke bawah, tepat di depan ujung jari-jarinya.
Dari dekat, aku melihat keriput di seluruh wajah dan lehernya. Usianya pasti sudah sangat tua, dan di atas tujuh puluh tahun. Punggungnya terlihat melengkung ke depan, tubuhnya sudah bungkuk. Aku kasihan padanya, seketika iba rasa hatiku. Namun, untuk apa lelaki tua yang berjalan begitu sulit itu datang ke rumahku?
”Mbah ke sini ada perlu apa?” aku bertanya pada lelaki tua itu.
Tak ada jawaban, seperti kemarin.
”Mbah ke sini mencari siapa dan ada perlu apa?” aku bertanya lagi dan lebih mengeraskan sauraku.
Dan, bukan jawaban yang aku peroleh. Lelaki tua renta itu menggerakkan tangan kanannya yang lemah, perlahan naik ke atas dan terbuka ke atas. Apa yang dilakukannya? Dia seperti sedang meminta sesuatu?
”Firman, kalau mbak Remo datang. Ambilkan uang di dekat TV, ada uang dua ribu kasihkan ke mbah Remo. Ibu sedang membuat Naga Sari, tangan Ibu kotor!”
Suara dari belakang, Ibu memang sedang membuat kue. Jadi, Ibu tahu kalau ada mbak Remo datang, iya namanya mbah Remo aku baru mengetahuinya setelah ibuku berkata dari belakang. Aku paham, aku mengatakan sebentar kepada lelaki tua itu dan mengambil uang di dekat televisi. Ada beberapa receh uang di sana, aku mengambil uang lima ribuan. Setidaknya, itu lebih pantas buat lelaki tua itu. Siapa tahu, dia ingin membeli makanan dan uang itu bisa untuk membeli makanan untuknya.
Aku memberikan uang lima ribu itu kepada lelaki tua, mbak Remo. Lelaki tua itu menggenggam uang pemberian dariku, tanpa suara sama sekali. Dia juga tidak mengucapkan sepatah katapun, atau terima kasih. Dia pun berbalik dengan sangat pelan dan memulai langkah lambatnya lagi.
Srak! Sraakkk! Sraaaaakkkk!
Seperti biasa, lebih dari sepuluh menit, dan aku masih terpaku di pintu rumahku. Sepuluh menit dan dia baru keluar dari pekarangan rumahku, sekitar 10 meter. Jadi, satu menit, mbah Remo baru berjalan sejauh 10 meter. Aku kasihan pada lelaki tua itu, lalu di mana rumahnya? Dan, bagaimana keluarganya?
Apakah dia hidup sebatang kara?
***
”Bu! Mbah Remo itu rumahnya di mana?” tanyaku pada Ibu yang masih memasukkan beberapa kue yang sudah dibungkus daun, menaruh di manci besar yang sudah dihidupkan apinya. Kue itu ditata dan di masak dengan pemisahan air di bagian bawah.
”Dia itu punya rumah tapi tak seperti punya rumah, rumahnya di ujung desa.”
Ternyata, lelaki tua renta itu masih satu desa denganku. Namun, rumahnya di bagian ujung utara dan dekat dengan ladang perkebunan. Lelaki tua itu memang setiap hari berjalan mengelilingi desa, dia terus berjalan dan meminta uang kepada orang yang sudah biasa memberinya. Kalau orang itu tak memberinya, maka lelaki tua itu tidak akan mendatangi rumah itu lagi.
Jadi, Ibuku rutin memberinya uang ketika dia datang ke rumah dan berkunjung ke rumahku.
”Oya Bu, lalu kenapa dia meminta uang kepada orang-orang? Bukannya dia masih punya anak-anak yang sudah berkeluarga atau punya rumah?” tanyaku penasaran.
”Untuk apa lagi bagi mbah Remo kecuali untuk bermain judi, itu kebiasaannya yang tidak pernah bisa dia tinggalkan!” kata Ibuku sambil memasukkan kue lagi dan menutupnya karena sudah penuh.
”Apa! Main judi!”
Aku kaget bukan main, dan mataku mendelik tak percaya.