Aku Anak yang Tak diharapkan

Kelulusan Sekolah

"Nyampek sini aja Gun, Makasih ya" ucapku 
 
Gunawan pun menghentikan motornya. Aku langsung berlalu meninggalkan nya tanpa menoleh sedikit pun ... fikiranku sudah terpaku dengan Abian, sepertinya aku hanya di permainkan saja oleh Abian. Akunya saja yang besar kepala!
 
"Assalammualaikum" 
 
"Walaikumsalam" jawab nenek dari dalam
 
Nenek tersenyum ke arahku dan menyuruhku duduk di sampingnya ...
 
"Gini Er besok kan hari kelulusanmu, nenek mau ngomong ... nenek udah gak sanggup ngebiayain kamu sekolah nyampek SMA. Nenek gak punya cukup duit Er ... kamu ngerti kan?"
 
Hatiku bagaikan terhantam paku jalanan mendengarnya. Bukankah cita-citaku harus sekolah setinggi mungkin, agar kelak aku bisa membanggakan semuanya. Mungkinkah anak sepertiku tak mampu, untuk meraih masa depan yang cerah? 
 
Aku hanya menunduk, tak mampu untuk menjawab kata-kata nenek. Nenek menggenggam tanganku, nenek tahu sekali dengan cita-citaku yang ingin bersekolah sampai ke perguruan tinggi.
 
"Maapin nenek ya Er ... nenek bingung, kamu lulus SMP langsung kerja gapapa kan?"
 
"Nggak kenapa-kenapa nek," ucapku tersenyum. 
 
Aku berlalu ke kamar meninggalkan nenek. Kubenamkan wajahku di bantal ... perasaan kecewa ada di benakku, dunia seolah tak pernah berbaik hati denganku. Selalu saja apapun yang aku harapkan pasti terhalang.
 
Dan aku ... Abian? Semakin jauh dari harapan. Perasaan minder makin terpampang nyata di hatiku.
 
"Hahahaha Erni ... Erni, sudah sangat jelas kau di permainkan! Untuk apa memikirkan nya lagi " aku menertawai diri sendiri.
 
Tring
 
Kulihat SMS dari Abian, namun kuabaikan. Hpku berdering mungkin sudah puluhan kali Abian menelepon, namun tetap tak kurespon. Tekadku sudah bulat untuk melupakan Abian. 
 
~~~
 
Hari ini, hari kelulusanku saat semua murid bergembira. Namun tidak denganku, bagaimana aku bisa bergembira? Sedangkan ini, hari terakhir aku bersekolah! 
 
"Er ... kau sakit?" Sapa Melati, membuyarkan lamunanku 
 
"Nggak Mel"
 
"Terus?"
 
"Aku sedih. Nggak bisa ngelanjutin sekolah ... nenek bilang, nggak punya duit untuk ngelanjutin aku." Jawabku tertunduk
 
Melati diam sejenak, seperti sedang berfikir. Tetapi, ntah apa yang di fikirkannya 
 
"E-emmm ... gini loh Er, gimana kalo kamu tinggal tempat bapakmu?"
 
"Itu nggak mungkin Mel. Aku nggak mau ngecewain nenek" 
 
Mendengar jawabanku, Melati hanya tersenyum dan merangkulku. Kami berjalan untuk pulang ke rumah, tak seperti anak lainnya yang mengikuti coret-coret baju. Bagiku baju sekolah ini sangat berharga, apalagi dengan perjuangan nenek. Dan Melati tahu itu.
 
~~~~
 
Sesampainya di rumah aku terus memikirkan saran Melati, ini jalan satu-satunya untuk aku melanjutkan sekolah. Namun apa harus aku tinggal di rumah bapak? Nggak! Ini nggak mungkin! 
 
"Yah aku tau. Hahhaha" batinku 
 
Otakku memang sempurna. Tak habis-habisnya memikirkan ide yang luar biasa, rencanaku ... aku akan ke rumah bapak meminta untuk biaya sekolah. Bukankah ini memang kewajibannya? Lagi pula bapak kan belum pernah sepeser pun mengeluarkan uang untukku. Pasti bapak mau, akukan anaknya. 
 
Tring ...
 
HPku tiba-tiba berdering, kulihat SMS dari Abian ...
 
"Er, aku mau ketemu sekarang!" Isi SMS Abian 
 
Tak kuhiraukan, aku sudah tak enak hati berhubungan dengannya. Namun tiba-tiba HPku terus berdering penuh dengan  panggilan Abian. 
 
"Halo? Iya Bii ada apa?"
 
"Huh ... akhirnya kau angkat juga Er. Aku mau ketemu bisa?"
 
"Aku nggak bisa Bi." 
 
"Sekali ini aja Er. Kumohon" 
 
Aku mengiyakan ajakan Abian. Mungkin memang ada yang harus aku dan Abian jelaskan ... aku dan Abian bertemu di perempatan Gang seperti biasanya. Abian mengajakku ke sesuatu tempat. Kami mengobrol di sana, Abian menjelaskan semuanya dan meminta maaf atas kebohongannya. Dan memohon untuk tetap berhubungan dengannya.
 
"Bi ... aku gak pernah marah, atas kebohonganmu"
 
"Lalu?"
 
"Aku hanya sadar diri Bi ... aku hanya anak lulusan SMP, yang tak jelas hidupnya akan kemana."
 
"Nggak masalah! Kan hanya soal umur"
 
"Soal umur? Hahhaha Bi ... Bi ... kau fikir ini cuma soal umur? Nggak Bi! Aku begini ada sebabnya, kita beda Bi ... sangat beda."
 
"Beda? Maksutmu?"
 
"Antarkan aku pulang ke rumah, biar kamu tau perbedaannya ada di mana?"
 
Aku sengaja mengajak Abian mengantarku ke rumah, agar Abian melihat bagaimana keadaanku. Aku tak peduli jika nanti paman melihat kami. Sepanjang jalan ... aku hanya berdiam diri, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
 
"Stop Bi! Nah ini rumahku" ucapku dengan menepuk bahu Abian.
 
Abian memberhentikan motornya, Abian tersenyum ke arahku dan berpamitan untuk pulang ... aku menatap punggung nya sampai tak terlihat lagi, pasti ini hari terakhir Abian menemuiku. Aku yakin itu ... lagi pula jika Abian masuk ke hidupku, dengan tidak langsung aku akan membawanya masuk kedalam malasah yang ada di hidup ini.
 
"Huh ..." aku menghela napas panjang, tak sengaja air mataku menetes.
 
Kulihat keadaan di rumah sepi, ini kesempatan untuk pergi ke rumah bapak. Aku membalikkan badan ke arah perempatan untuk menaiki angkutan umum. Sepanjang jalan aku menguatkan tekad untuk berbicara ke bapak. Ini pertama kalinya aku mengobrol dengan bapak! Rasanya deg-deg'an! 
 
"Gang polri ya om" panggilku dari belakang 
 
Aku turun dari angkutan umum, kulihat di seberang sana rumah bapak di hadapanku jalan kutertatih. Sangat takut! Padahal bapakku? Cuma sekedar mengobrol saja aku takut! Masya Allah ... bantu aku Tuhan ... kumohon. 
 
"Assalammualaikum"
 
"Walaikumsalam" 
 
Degh! Yang menyaut suara mbahku 
 
"Oh ... kamu Er. Ada apa?" 
 
"Nggak mbah, mau ketemu bapak. Ada yang mau di omongin"
 
"Halah! Ada yang mau di omongin, atau minta duit?" 
 
Aku hanya menunduk tak menjawab ... kulihat dari kejauhan bapak datang menghampiriku.
 
"Eh ngapain kamu disini?"
 
"A-anu pak, aku udah lulus SMP"
 
"Oh" jawab bapak singkat dan pergi meninggalkanku, aku mengekori bapak. Pokoknya aku harus ngomong! 
 
"Pak ... ini Erni mau ngomong, Erni kan udah Lulus SMP. Erni pengen nerusin sekolah tapi gak ada duit, boleh gak Erni minta biaya sekolah"
 
"Hah? Nggak ada! Udah, sana ... sana pergi!" Jawab bapak, dengan gerakan tangan yang mengusir.
 
"Hahaha ... sudah kuduga, kau pasti minta uang! Erni kau mau uang? Tinggal lah disini!" Sahut mbah
 
Tak ada jawaban dari mulutku, aku hanya menunduk dan berpamitan pulang, menyalami mbah dengan bapak. Namun tanganku di tepis oleh bapak dan mbah. Aku hanya menunduk dengan berlalu keluar ... ada sedikit rasa kekecewaan di hatiku ... 
 
Bapak? Yang selama ini kuimpikan kasih sayangnya. Namun jangan kan kasih sayang! Menyebut namaku saja tak pernah! Sepanjang jalan aku terus berfikir aku harus apa? Bagaimana aku bisa sekolah? Aku nggak mungkin, merepotkan ibu. Aku sangat tahu keuangan ibu seperti apa.
 
Sesampainya di rumah, nenek menyapaku dan menyiapkan makanan untukku, namun rasanya tak ada selera fikiranku masih kalut untuk bersekolah.
 
Kuhuyungkan tubuhku ke ranjang, tetesan air mata membasahi pipiku ... aku harus apa tuhan? 
 
"Er ..." bibik menepuk bahuku.
 
"Bibik ada temen, katanya ada lowongan kerja. Kamu mau?" Ucap bibik 
 
"Erni mau sekolah bik." Ucapku dengan menunduk
 
"Bibik tau Er. Atau Erni kerja dulu ngumpulin duit nyampek daftar ulang, biar nanti Erni punya biaya masuk sekolah. Gimana?"
 
"Eh ... iya bik, yaudah Erni mau."
 
"Maap ya Er ... bibik cuma bisa bantu ini."
 
"Iya bik ... nggak apa-apa, Erni tau kok." 
 
Mungkin ini jalan satu-satunya untukku melanjutkan sekolah, 
 
"Semoga ya Tuhan ... kumohon, bantulah setiap langkahku." Batinku menangis.
 
 Abian terus menerus menghubungiku, kami saling balas membalas pesan. Tak kusangka, Abian tak mempersalahkan semuanya ... aku juga jujur ke Abian tentang sekolahku, tak ada apapun yang kututupi. Abian menawarkan biaya sekolah darinya ... namun kutolak! Takut ada imbalan di baliknya, apalagi aku tak sepenuhnya mengenal Abian
 
~~~~
 
Ke esokkan harinya, aku berpamitan untuk bekerja. Nenek menangis memelukku kata-kata maaf selalu terucap dari mulut nenek, bibik mengantarku ... aku tak tahu akan kemana, sepanjang jalan aku terus memikirkan ibu, aku belum berpamitan dengan ibu ... bahkan tentang sekolahku ini ibu tak tahu.
 
Ciittt ...
 
Bibik menghentikan motornya di parkiran ... sekitar 30 menitnya kami akhirnya sampai juga, bibik mengajakku ke pasar bawah Ramayana. Yah! Disana tempat kerjaku, Toko baju sekolah. Sangat ramai pembeli nya! Bibik memperkenalkanku dengan temannya, saat itu juga aku mulai bekerja. Bibik berpamitan untuk pulang dan menitipkan aku dengan temannya. Sampai tempat kost pun, katanya teman bibik yang mengatur ...
 
Lelahnya ... tak ada hentinya aku bekerja. Istirahat sejenakpun, uni akan mengomel. Memang, sepertinya pemilik toko konveksi ini sangat bawel! 
 
"Er, jangan lelet ya! Saya gak mau ya karyawan saya ada yang lelet" ketus uni 
 
Aku hanya meneruskan pekerjaanku merapihkan seragam-seragam sekolah itu, harus cepat! Sekitar dari jam 10 pagi sampai jam 5 lamanya aku terus bekerja, jam 12 sholat dan hanya makan siang ... itupun 10 menit tidak boleh lebih! Aku dan linda teman bibikku pulang .
 
Hanya upah 30 ribu yang aku dapat dalam sehari. Sepanjang jalan Linda bercerita tentang uni memang bawel, apalagi dengan karyawan yang lelet. Uni tak segan-segan memotong setengah gaji karyawannya. 
 
Aku berjalan mengikuti Linda, perjalanannya cukup jauh ... dari pasar bawah ke jalan Kaliawi. Sekitar 20 menit berjalan kaki untuk sampai ke kost'an. Linda mengenalkanku dengan pemilik kost ... ibu kost memberi tahu peraturan dari tak boleh memasukkan lawan jenis ke kost'an, pulang lewat jam 10 pintu pagar akan tergembok. Dan biaya kost 250 ribu / bulan. Terbilang cukup murah dengan fasilitas ranjang, lemari baju, meja hias dengan kamar mandi di luar.
 
~~~~
 
Sudah 2 minggu lamanya aku bekerja, upah kerjaku hanya 7ribu kupakai untuk makan ... 5ribu aku belikan nasi cukup untuk sarapan dan makan malam di kost'an dan 2ribunya kubelikan boncabe. Begitulah sehari-hari makananku, sisanya kutabung untuk biaya daftar sekolah. 
 
"Huh ..." aku menghela napas dengan membenamkan kepalaku di bantal, aku mencoba untuk bersyukur dengan semuanya, dan berdamai dengan keadaan.
 
Tring ... HPku berdering kulihat panggilan masuk dari Abian 
 
"Halo Bi?"
 
"Sayang aku kangen ..." ucap Abian dengan genit
 
"Ganding!(menel)" ucapku
 
"Hahahaha ... ketemu yuk Er, kita nonton. Aku jemput ya di kost'an, kirim alamatnya" ucap Abian dengan tertawa
 
Aku mengiyakan ajakan Abian, aku mengirim alamatnya lewat pesan singkat. Dengan sekitar 15 menit Abian sampai! Ntah dengan jurus apa Abian membawa motor itu.
 
Abian sampai dengan tersenyum di depan gerbang ... Masya Allah senyuman itu! Sepanjang jalan Abian menggenggam tanganku sambil menyetir.
 
"Er ... kamu kuat ya" ucapnya samar-samar terbawa angin.
 
Aku hanya diam tak menjawab apapun ... 
 
"Er kita makan dulu ya," 
 
Motor Abian terhenti di depan restoran Mewah, Abian menggenggam tanganku dan mebawaku kedalam resto itu.
 
"Oh Tuhan! Makan Enak ..." batinku 
 
"Sayang ... mau makan apa?" Panggil Abian 
 
"Terserah Bi,"
 
"Oh oke ... " 
 
Abian memanggil pelayan dan memberikan note pesanan.
 
"Er, aku mau ngomong. Tapi kamu jangan marah ya. Tadi malem aku mimpi ada seseorang berjubah putih terang banget, menuntun kamu ke arahku. Terus ngasihin kamu ke aku."
 
"Itu mimpi karna kamu mikirin aku terus Bi, hahaha" jawabku yang tak percaya dengan kata-kata Abian
 
"Sumpah Er, aku nggak bohong ... kamu mau gak Er jadian dengan aku?"
 
"Yah MODUS! Nggak lah Bi, kamu kan tau aku siapa ... dan yang kamu tau tentang aku itu belum seberapa. Hidupku rumit Bi ..." 
 
"Er, aku mohon ... aku pengen ngejagain kamu. Aku janji nggak akan aneh-aneh ke kamu. Kalo misalkan aku aneh-aneh, kamu boleh ngejauhin aku."
 
"Kamu malah aneh sekarang Bi, kenapa harus aku? Sedangkan aku yakin banyak perempuan di kampusmu yang lebih dari aku,"
 
"Er ... cuma kamu yang ngebuat aku kagum, aku kagum dengan ke pribadian kamu." 
 
Abian terus menggenggam tanganku dengan erat, kuperhatikan wajahnya yang manis, nampak ketulusan ada di wajahnya. Tak kusangka calon dokter muda di hadapanku ini adalah calon pacarku.
 
Senang rasanya ... namun rasa tak percaya diriku pun jauh lebih besar dari rasa senang itu ...
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!