Aku Anak yang Tak diharapkan

Astaghfirullah

Aku menatap dalam Abian, benarkah Abian mencintaiku? Aku takut hanya di permainkan, dibuat mabuk kepayang lalu di tinggalkan Dan akhirnya jatuh dengan kesakit hatian.
 
Aku tersenyum tak mampu lagi bicara, aku senang cintaku terbalas. Namun di sisi lain aku takut! Takut dengan perbedaan yang sangat mencolok antara aku dan Abian.
 
"Kamu senyum? Itu artinya kita pacaran nih? Hahahaha," Abian meledekku dengan tawanya yang renyah.
 
Aku hanya menunduk malu ... aku rasa sekarang wajahku sudah merah karena menahan malu yang luar biasa ini.
 
"Er? Aku boleh nanya?" 
 
"Hem" jawabku singkat
 
"Kamu sebenernya kerja dimana?" 
 
"Aku kerja di toko baju seragam sekolah Biii ... di bawah ramayana."
 
"Gajih mu berapa? Apa cukup untuk biaya daftar sekolah? Kalo  gak cukup aku bisa bantu Er." Jawab Abian dengan menggenggam tanganku
 
"30 ribu Bii ... cukup kok. Aku yakin!" 
 
"Hah! 30 ribu? ..." belum sempat Abian meneruskan ucapannya, pelayan datang mengantarkan pesanan Abian
 
"Mas, Mbak. Ini makanannya" Ucap pelayan itu dengan tersenyum.
 
Masya Allah! Perbaikan gizi! Tatapanku nanar ke arah meja dengan Kepiting saus padang, Gurame tepung asam manis, Udang tepung, dan tumis Kangkung. Rasanya inginku lahap semuanya sampai habis! Tetapi, aku malu ... huh! 
 
"Makan yang banyak ya sayang ... biar pinter" ucap Abian sambil mengusap rambutku. Persis seperti kakak laki-laki mengusap rambut adik perempuannya! 
 
Saat ini aku hanya menikmati perlakuan Abian yang sangat romantis. Dari menyuapiku dan tanganku yang tak ada hentinya Abian genggam. Ya Tuhan aku hanya berharap Abian selalu di sampingku.
 
"Er udah jam 11 nih, pulang yuk" ajak Abian
 
Hah Jam 11! Astaghfirullah ... kebetulan aku tak mempunyai jam tangan. Jadi tak sadar jika sudah larut malam. Apalagi sambil menikmati perhatian Abian.
 
Abian berlari ke kasir. Kuamati Abian dari kejauhan ... calon Dokter muda dengan wajah manis, yang kini berpacaran dengan anak kecil yang hidupnya tak jelas akan kemana. Aku tak tahu skenario apa yang saat ini Tuhan buat. Yang jelas sekarang, aku hanya mencoba untuk bersyukur memiliki Abian.
 
"Yuk Er ..." ajak Abian dengan menjulurkan tangannya ke arahku.
 
"Kau pakai jaketku yaa sayang, nanti macuk angin" ucap Abian menirukan suara bocah.
 
Di sepanjang jalan, Abian mengoceh. Ntah apa yang di obrolkan tak kuhiraukan. Karena fikiranku sibuk memikirkan bagaimana nanti aku masuk? Ibu kost kan sudah bilang jam 10 malam gerbang akan di gembok. 
 
"Nah ... udah nyampek, kita gak jadi nonton ya ... karna kelamaan ngobrol. Besok aku janji kita nonton. aku pulang dulu ya Er ... kamu tidur yang nyenyak" 
 
Cup ... Abian mencium keningku! Aku bengong! Terdiam sejenak. Rasanya aku ingin melompat-melompat ini pertama kalinya aku di cium dengan pria yang kucinta. Senang? Malu? Tercampur jadi satu.
 
Abian menghidupkan motornya, aku melambaikan tangan sampai Abian tak terlihat lagi. Kutengok gerbang sudah tergembok.
 
"Huh! Aku harus apa?" Batinku
 
Aku terduduk sejenak di depan gerbang, ya Tuhan bagaimana aku tidur? Oh iya ... aku ingat ada masjid di depan kost yang 24 jam tak di tutup. Aku bisa sholat di sana dan tidur sebentar sampai besok gerbang terbuka. 
 
Sepanjang malam aku sholat, baca Al-quran dan akhirnya tertidur ... dan terbangun karena Adzan subuh berkumandang.
 
Selesai sholat subuh, langsung ku cek gerbang kost. Dan alhamdulillah gerbang itu sudah terbuka. Aku berlalu masuk ke kamar untuk bersiap-siap berangkat kerja.
 
~~~
 
Sudah 1 bulan lamanya, hari-hariku makin terbiasa dengan cacian bos, makan hanya berlauk bon cabe. Bisa memang makan enak, Itupun Abian yang mentraktir. Kalau tak ada Abian. Ntah lah! Mungkin aku akan kekurangan gizi. 
 
Hari ini sengaja aku minta jatah libur, karena akan mengurus daftar sekolah. Sebenarnya sangat sudah telat, namun bagaimana lagi? Tabunganku sampai saat ini saja hanya sekitar 600 ribuan. Masih sangat kurang jauhhh untuk biaya sekolah.
 
Aku mencari sekolahan yang terbilang murah, yaitu di desaku.       Namun dari satu sekolah, ke sekolah lainnya, aku di tolak! Dengan alasan kuota penuh, pendaftaran sudah tutup. Tak bisa menerima siswa baru lagi. Tetap kucari lagi sekolahan yang bisa menerimaku. dengan kesana kemari, turun naik angkutan umum, sendirian. Sengaja memang aku tak menghubungi Abian, aku tak mau merepotkannya.
 
"Om sekolahan disini yang masih buka pendaftaran nya untuk SMA dimana ya?" Tanyaku dengan supir angkutan umum
 
"Oh ... itu neng, Nineteen di Branti." 
 
"Ooohh, Terimakasih om. Antarkan aku kesana ya" 
 
"Oke neng"
 
Nineteen? Terdengar nama sekolahan yang elite. Aku membayangkan sekolahan tersebut, mungkin sekolahannya seperti di televisi seperti namanya ke barat-barattan. Aku hanya berharap, semoga aku di terima.
 
"Neng! Udah nyampek" ucap supir.
 
Aku turun, kulihat gerbang agak besar tepat di depanku dengan tulisan di sampingnya Nineteen. Tak seperti bayanganku, sekolahan ini tampak biasa saja. Agak tak terurus, dan sangat sepi. Namun tak apalah yang penting kan aku bisa bersekolah. 
 
Tanpa ragu-ragu aku masuk ke ruang kantor, kebetulan disana ada salah satu guru, sedang sibuk menyusun berkas pendaftaran anak sekolah. 
 
"Assalammu'alaikum, maaf pak saya mengganggu." 
 
"Wa'alaikumsalam, iya ada ada apa ya?"
 
"Gini pak, saya mau daftar sekolah. Apa masih bisa?"
 
"Masih ... masih. Kebetulan hari ini terakhir. Ini brosur bisa di baca-baca dulu" ucap guru itu dengan menyodorkan kertas brosur.
 
Kubaca brosur itu dengan teliti, yang kulihat hanyalah perincian biaya sekolah. Disana tertulis biaya pendaftaran 450 ribu, biaya baju olahraga 150 ribu, dan SPP 100 ribu. Terbilang cukup murah di banding sekolahan yang lain.
 
"Pak ini saya langsung tulis formulir nya ya, tapi pak saya mau nanya apa biaya baju olahraga dan SPP bisa di cicil?" 
 
"SPP bisa di cicil, namun untuk biaya pendaftaran dan biaya baju harus di bayar lunas." Ucap guru itu tegas
 
"Oh iya pak, ini formulir dan sekalian biaya pendaftaran nya."
 
Setelah menyerahkan formulirnya, aku menandatangani  kertas pendaftaran yang di berikan oleh guru itu. Selesainya aku keluar dari ruang kantor.
 
Aku berjalan keluar ... setengah melamun, apa aku nekat Tuhan? Sekarang saja uangku habis. Sedangkan baju sekolah, buku, tas, sepatu dan keperluan sekolah lainnya. Belum juga kubeli. Lalu bagaimana aku sekolah Sekaligus kerja? Apa bisa aku mengatur waktu? 
 
"Huhhh ..." aku menghela napas panjang. Kurogoh saku celanaku, kosong! Tak tersisa! .
 
"Astaghfirullah ... jalan satu-satunya emang harus ngomong ke Abian" batinku
 
Tut ... tut ... tak lama Abian mengangkat panggilanku.
 
"Halo, Kenapa Er?" 
 
"Bi aku di sekolahan Nineteen Branti, aku kehabisan ongkos untuk pulang, kamu dimana? Bisa jemput aku gak?" Ucapku setengah merengek
 
"Hahaha ... akhirnya pacarku ini minta tolong. Aku lagi di rumah Er, aku langsung kesana ya sayang ..." ucap Abian dan menutup panggilanku
 
Sekitar 5 menit Abian sampai, memang rumahnya tak terlalu jauh dari sekolahan ini ... wajahku selalu berbinar-binar melihat Abian. Abian adalah sosok malaikat yang di sampingku sekarang. Dengan menaiki motor nya tak sengaja di pertengahan jalan kudekap tubuh Abian dari belakang. Kubenamkan wajahku ke punggungnya. 
 
Ntah perasaan apa yang kupunya sekarang, yang jelas aku amat bersyukur dengan Tuhan, telah mengirim sosok malaikat  yang ada di depanku sekarang. Terimakasih Tuhan ... Terimakasih. Tak terasa air mataku menetes, aku takut suatu saat Tuhan mengambil malaikatku ini.
 
"Bajuku basah, kamu ngences?" Ledek Abian 
 
"Iya ini aku ketiduran." 
 
"Hahahaha" Abian tertawa keras 
 
"Jangan nangis, masih ada aku ..." ucap Abian dengan menggenggam tanganku.
 
Aku hanya diam sepanjang jalan aku membenamkan wajahku di punggung Abian ... aku tak tahu harus bagaimana? Tak ada tumpuan hidup sama sekali. Saat ini hanya ada Abian, Abian dan Abian. Di sampingku.
 
"Aku capek Bi ..." ucapku pelan
 
Abian menghentikan motornya di salah satu tempat makan kaki lima.
 
"Kita makan dulu ya Er" 
 
"Iya Bi ..." 
 
Kami duduk dan Abian memesankan makanan kesukaannya. Yah ... pecel lele yang dulu kuanggap lele yang di aduk-aduk dengan saus kacang. Mual kan ngebayangin nya? Tapi nyatanya sekarang, jadi makanan favorit! 
 
"Er, kamu tadi daftar sekolah? Kamu udah beli perlengkapan sekolah?" Tanya Abian. Dan aku hanya menggeleng.
 
"Kapan mulai sekolah?" 
 
"Besok Biii ... tapi ntahlah"
 
"Aku beliin yaa sayang, aku mohon jangan di tolak" 
 
"Aku gak tau Bii, aku bingung. Aku harus gimana? Besok aku udah mulai sekolah, tapi gimana dengan kerjaanku? Kost'anku? Sedangkan dari Kaliawi ke Branti itu bisa 1 jam di jalan."  Ucapku sangat pelan.
 
"Kamu pulang kerumah Er, kan deket dari sekolahan" 
 
"Aku gak mau ngerepotin nenek lagi Bii ..." 
 
"Aku ada pemikiran untuk pindah kost, tapi gimana kerjaanku? Terus gimana caranya aku hidup kalo gak kerja! Tapi kalo aku kerja dan sekolah, aku gimana ngatur waktunya Bii?" Ucapku setengah menangis.
 
"Aku cariin kamu kost di deket sekolahan ya Er, habis makan ini kita beli perlengkapan sekolah dulu. Kamu gausah mikir apapun dulu" 
 
Aku hanya mengangguk. Otakku sudah tak mampu lagi berfikir, baru kali ini aku memikirkan tapi tak ada jalan keluar.
 
Sehabis aku dan Abian makan, kami membeli perlengkapan sekolah. Di sepanjang aku berbelanja Abian sibuk menghubungi teman-temannya, untuk meminta tolong mencarikan kost untukku. Selesai keperluanku Abian mengantarku ke kost dan menyuruhku untuk menyiapkan semua barang-barangku. Karena malam ini juga aku akan pindah kost, kata Abian.
 
Sekitar 2 jam, Abian kembali lagi dengan mobil Livina merahnya.
 
"Padahal barang-barangku hanya 1 ransel. Rasanya tak perlu jika harus memakai mobil hihi." Aku tertawa kecil
 
"Lah? Cuma segini Er?" 
 
"Heee ... iya Biii ... cuma ini doang" ucapku cengar cengir
 
"Yasudah naik gih" 
 
Abian mengantarku ke kost yang dekat dengan sekolahku. Di perjalanan hatiku rasanya gundah gulana, bingung tak menentu. Aku masih memikirkan bagaimana hidupku? Bagaimana aku menjelaskan dengan nenek nanti? Apa nenek kecewa dengan keputusanku? 
 
"Huh ... Bismillah ya Tuhan, aku mohon bantulah jalan hidupku" Batinku
 
"Er, kamu gak ngasih tau keluargamu? Kalo kamu pindah kost?" Tanya Abian memecahkan lamunanku
 
"Aku bingung Bi, aku takut nenek kecewa aku berhenti kerja." 
 
"Aku tau perasaanmu Er, nanti kita fikirkan lagi ya. Yang jelas besok kamu sekolah dulu ..." 
 
Aku hanya tersenyum, otakku sudah tak sanggup lagi menampung masalah. Ntah sampai kapan masalah-masalahku ini selesai, dan sekarang ... aku malah melibatkan seseorang masuk kedalam masalahku.
 
"Huhhh ..." aku menarik napas panjang
 
Tak lama mobil Abian terhenti tepat di depan kost, yang tak begitu besar namun lebih besar kost ini di banding kostku sebelumnya.
 
Aku mulai masuk ke dalam. Air mataku menetes tak sengaja, namun kuhapus buru-buru takut jika Abian melihatku menangis. Aku tak mau Abian menganggapku tak menghargainya ...
 
"Er kostmu udah aku bayar ya, sekalian bayar listriknya. Jadi kamu gak usah mikirin bayar lagi ... ini kasur, tv, kulkas, aku bawa dari rumah. Di kulkas pun sudah ku isi dengan makanan instan, jadi nanti kamu jangan lupa makan." Ucap Abian dengan mengusap rambutku
 
Aku hanya diam, aku bingung harus bagaimana. Sebenarnya aku takut hidupku nanti akan tergantung dengan Abian. Tetapi, keadaan lah yang membuatku mau tak mau harus menerima pemberian Abian.
 
"Kamu gak seneng?" Tanya Abian pelan
 
"Terimakasih Bii ... tapi gimana caranya aku balas kebaikanmu?" 
 
"Cuma satu Er, janji dengan aku kamu harus sukses."
 
Abian memelukku kencang ... menepuk-nepuk bahuku lalu wajahku di dekatkan di wajahnya. 
 
"Aku tau Er, bebanmu selama ini sudah banyak. Ini waktunya kamu melepaskan semua beban itu. Kembalilah untuk bahagia. Seperti remaja lainnya." 
 
Tanpa menjawab Abian ... aku menangis, aku tak tahan dengan ucapan Abian. Ucapan yang tak pernah kudengar sebelumnya oleh siapapun.
 
"Dan aku fikir kau tak perlu pulang menemui keluargamu, sebenarnya aku tadi bertanya, karna aku ingin mendengar jawabanmu. Tapi sepertinya ... bebanmu sudah terlalu berat sampai kau tak mampu lagi untuk berfikir." Ucap Abian tegas.
 
"Terus aku gimana?"
 
"Apa lagi yang gimana Er? Ya kau sekolah saja. Sudah jangan fikirkan apapun. Aku bisa membantumu! Dan kau tak boleh menolak! Kalo ada yang nanya, bilang saja kau sekolah sambil kerja. Bereskan?"
 
"Aku gak mau ngerepotin kamu Bii ..." ucapku pelan
 
"Gini deh Er, supaya kamu gak ngerasa ngerepotin aku. Sekarang aku bilang. Kamu calon istriku! Dan calon istriku harus berpendidikan tinggi, harus sukses! Karna kau calon istriku, aku punya kewajiban membantumu!" Ucap Abian tegas.
 
"Hah? Calon? Aku baru masuk SMA belum mau menikah Bii ... cita-citaku masih panjang. Aku malah jadi takut kamu ngomong gitu" 
 
"Hahaha Erni ... Erni, ntahlah harus bagaimana aku ngejelasin dengan kamu. Yang jelas kau harus bahagia denganku" ucap Abian, dengan wajah yang mendekati wajahku. 
 
Degh! 
 
"Masya Allah ... aku mau di cium kah? Aku harus apa ini?" Batinku sambil memejamkan mata
 
"Hahaha ... kamu ngapain Er mundur gitu? Sambil merem-merem lagi. Aku itu cuma pengen cium kening kamu aja, gak mau yang lain. Aku janji gak akan merusak masa depanmu" 
 
Ya Tuhan. Aku malunya minta ampun ... fikiranku mesum banget! Namun aku tenang Abian adalah pria yang baik. Yang tak memanfaatkan sesuatu dalam kesempitan.
 
"Oh iya sayang, kapan-kapan aku kenalin kamu dengan keluargaku ya." 
 
Degh! Keluarga? 
 
Bagaimana jika nanti keluarga Abian malah nggak suka, apalagi jika keluarga Abian tahu asal usulku yang tak jelas. Apa mereka akan menerimaku? 
 
Ntahlah ... semoga semuanya baik-baik saja, Bismillah.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!