"Cih" umpatku dalam hati, keturunan setan katanya? Lalu dia siapa? Jin nya? Aku tersenyum sinis ...
"Kuat juga mentalmu masih bisa tersenyum, hah!"
"Hahaha ... habisnya kata mbah aku keturunan setan, lalu dia siapa?" Ucapku menunjuk ke arah bapak yang berjalan menghampiriku.
"Oh ... ternyata nyalimu besar juga." Ucap mbah, dengan tarikan nya yang semakin kuat di rambutku.
"Memang nyatanya begitu kan? Sudahlah, mbah ngejambak rambutku begini nih ... nggak terasa sakit mbah. Mbah udah tua, tenaga pun sudah tak ada." Sahutku ngeyel.
"Sudahlah buk, dia bukan Lusi ... yang hanya bisa diam saja." Cetus bapak
Mbah melepaskan tangannya dari rambutku, dan bola matanya tetap saja mencoba ingin keluar. Seolah ingin mengajak tarung antara mata dan mata.
"Pak, Erni kangen bapak" ucapku ditengah-tengah keadaan yang mulai memanas.
Dan bapak hanya diam tanpa menjawab apapun, lalu pergi meninggalkan aku dan mbah. Kulirik mbah yang tersenyum sinis melihat bapak pergi meninggalkan kami.
"Kenapa mbah? Mbah itu sudah tua nggak bagus begitu." Ucapku tersenyum dengan meledek.
"Persetan denganmu! Cuih" mbah yang tiba-tiba meledak emosinya, menjambak rambutku dan menariknya ke arah dapur. Di genggamnya rambutku dan wajahku di hadapkan di atas kompor.
Kuakui mbah ini memang kuat tenaganya, meskipun aku sengaja tak melawannya ... tetapi aku tahu dengan beban badanku yang berat ini, pasti butuh tenaga ekstra untuk menarik tubuh ini.
Ctek ... ctek ... suara kompor gas yang sedang di hidupkan aku tahu mbah kesusahan menghidupkan nya. Karena tangan kanannya memegang rambutku dan tangan kirinya mencoba menghidupkan apinya.
"Cukup buk! Cukup! Itu anak Rahmat. Ibuk mau apa? Mau ibu apakan?" Terdengar suara bapak kencang. Dan tanganku ditarik oleh bapak. Kini aku dipelukan bapak.
Pelukan yang selama ini aku rindukan! Pelukan yang selalu kubayang-bayangkan. Aku berlagak sangat ketakutan, gemetaran dan air mata yang terjatuh deras. Agar pelukan ini semakin erat dan tak terlepaskan.
Ini lah yang aku harapkan ... aku sengaja tak melawan perlakuan mbah, agar aku tahu bapak memiliki rasa empati kepadaku atau tidak. Dan ternyata dugaanku sangat tepat!
Bapak masih menyayangiku. Aku bahagia sangat bahagia! Terimakasih Tuhan.
"Buk sudah buk ... apa yang ibuk benci dari Erni? Erni anakku buk." Ucap bapak memelas, kulihat dari raut wajah bapak ... banyak kesedihan di wajahnya. Laki-laki yang selama ini kukenal sangat berwibawa, akhirnya menetes juga air mata di pipinya.
Terasa sakit hati ini melihat tetesan air mata itu ... air mata yang kukira hanya milikku seorang. Namun ternyata kini telah kulihat air mata yang menetes dari kedua orang tuaku.
"Mat kau anak ibuk, ibuk menyayangimu ... ibuk mau kau tetap menyayangi ibuk selamanya!" Sahut mbah
"Buk ... Rahmat selalu menuruti apapun yang ibuk mau, sekarang Rahmat yang memohon, tolong jangan benci Erni! Dia anakku buk" tutur bapak dengan memohon.
Keadaan menjadi hening terutama untukku, hati ini terasa sangat haru mendengar kata-kata itu. Ingin rasanya aku bersujud dikaki bapak, mencium kakinya sebagai tanda baktiku sebagai anak.
Dengan ini aku menyimpulkan bapak memang sangat mencintai ibu, namun terhalang dengan orang tuanya dan status materi ibu yang sangat tak memenuhi standar keluarga bapak.
Kasihan bapak ... hidupnya hanya bergantung kepada mbah, dan tak berani berkutik sedikitpun.
****
Kini kami berdua duduk di halaman rumah belakang, bapak yang mengajakku kesini dan aku menurutinya aku fikir pun banyak yang harus kami bicarakan berdua untuk menebus rasa rindu, karena sudah bertahun-tahun kami berpisah.
"Pak, Erni seneng banget bapak bisa ngebelain Erni tadi. Bapak masih sayang ibuk kan? Kenapa bapak nggak kembali lagi dengan ibuk?" Tanyaku
"Memang sudah seharusnya begitu Er, seharusnya memang dari dulu bapak bisa tegas dengan mbah Jadi ibumu nggak pergi. Bapak nyesel Er" sahut bapak, dengan tatapan kosong mengarah kedepan.
"Terus? Kenapa bapak nggak kembali dengan ibuk pak?"
"Hehhh ... percayalah Er meski bapak nggak pernah bersama kalian namun kabar tentang kalian bapak tak pernah telat untuk mengetahuinya, ibumu sudah bahagia Er, jangan kau rusak lagi untuk permintaanmu itu." Ucap bapak tersenyum
"Erni cuma mau kita bersatu pak, Erni cuma mau ditengah-tengah orang tua Erni seperti anak yang lainnya" Aku mengucapkannya pelan dengan menunduk.
"Nak, nggak semua kebahagiaan kita dapat dengan kebersamaan ... bapak senang melihat ibumu bahagia sekarang, padahal bapak sudah takut jika mental ibumu terganggu dan kamu terbengkalai."
Degh!
Mental ibu terganggu! Apa mungkin amarah ibu yang selama ini, itu hanya pelampiasannya saja? Jika itu benar ... aku mau jadi pelampiasan itu sampai kapanpun, sampai mental ibu benar-benar sembuh.
"Itulah kenapa bapak nggak pernah mencarimu, dan saat kamu kesini bapak menghindar. Bapak nggak mau kamu masuk ke keluarga ini lagi, bapak mohon ... jauhi bapak. Bapak sayang kalian" bapak meneteskan air matanya.
Ntah apa yang bapak fikirkan bapak menyayangi kami, tetapi bersama kami pun tak mau.
"Pak haruskah Erni menjauhi bapak? Lalu dengan siapa pak Erni akan hidup. Erni lelah pak hidup begini" sahutku menangis.
"Bapak tau kamu kuat nak ... pulanglah sekarang, ini ongkos untukmu"
Tanpa basa basi bapak meninggalkanku, kulihat bapak dari kejauhan bapak seperti mengusap air matanya aku tahu bapak sedang menangis. Dan tangisan itulah yang selalu berhasil meruntuhkan hati ini.
Lagi-lagi bapak tak bisa kutebak, fikirannya penuh dengan kekalutan yang tak seorangpun akan tahu apa yang sedang bapak fikirkan.
Kubuka genggaman uang yang bapak beri tadi, 7 uang kertas lembaran merah.
"inimah gajih sebulan aku kerja" fikirku
Segera kuberanjak pergi dari rumah bapak, belum sampai nya didepan rumah langkahku di berhentikan oleh bude Nur.
"Er, mampir rumah yuk bude kangen"
Aku mengiyakan ajakan bude siapa tahu ada informasi tentang bapak yang aku dapat dari bude, apalagi bude Nur termasuk keluarga yang paling dekat dengan mbah.
"A-anu bude, tapi sebentar aja ya, udah sore soalnya takut angkot udah nggak ada lagi"
Bude Nur menuntunku dan mempersilahkan masuk ke rumahnya ...
"Mau minum apa Er? Nanti bude buatin"
"Nggak usah bude, Erni belum haus"
Saat aku dan bude mulai mengobrol, bercanda dan semua hal ditanyakan bude sampai kabar anak ibuku pun bude tanyakan. Inilah saatnya aku memasuki pertanyaan tentang bapak.
"Bude, tadi bapak belain Erni di depan mbah nyampek memohon gitu"
"Huh ... akhirnya Rahmat bisa juga ngebantah ibuk" sahut bude dengan tarikan napas yang kasar.
"Maksutnya?"
"Mbahmu itu Er, bermain dengan dukun itu sudah biasa suaminya pun di guna-guna dan anak kesayangannya pun akhirnya kena juga,"
"Apa anak kesayangannya itu bapak bude?"
Bude hanya menggangguk, itu menandakan bahwa dugaanku itu benar adanya ...
"Kasihan bapakmu Er, kebahagiaannya di renggut dengan ke egoisan ibunya sendiri"
"Kenapa mbah begitu jahatnya bude dengan bapak?" Tanyaku dengan penasaran
"Mbahmu itu mempunya sifat cemburu yang berlebih, mbah nggak mau kasih sayang suami dan anak kesayangannya terbagi meskipun dengan keturunannya sendiri. Contohnya bude ke bapak bude sendiri itu nggak bisa deket Er pasti mbahmu marah dan begitu pun juga bapakmu." Bude menjelaskan dengan sangat pelan
Bude menceritakan dengan sangat detail, bude pun bilang bapak sangat mencintai ibuku ... namun sayangnya bapak tak pernah ada daya untuk menolong ibu dari siksaan mbah, dan bude menyarankan aku untuk tinggal serumah dengan bapak supaya guna-guna itu akan perlahan hilang dari tubuh bapak.
Aku hanya diam dan berfikir keras apa yang harus aku lakukan, apa benar aku harus tinggal serumah dengan bapak supaya guna-guna itu perlahan hilang.
"HUh ..." aku menarik napas panjang
"Fikirkan dulu yang bude bilang Er,"
Aku hanya menggangguk dan berpamitan untuk pulang, saat kaki ini melangkahkan kaki untuk pulang kata-kata bude tetap kufikirkan apalagi ini untuk kebaikan bapak. Tetapi ... aku masih ragu jika aku bisa menyelamatkan bapak dari guna-guna yang dibuat oleh mbah.