"Hoam ... senin pagi ini pokoknya Aku harus ke rumah Nenek!" Aku membulatkan tekat.
Aku bersiap-siap untuk mandi dan segera berpamitan dengan Bapak, tetapi ... Aku tak bilang dengan Bapak jika Aku pergi ke rumah Nenek.
"Pak, Erni ada urusan kemungkinan Erni pulang sore. Nggak apa-apa kan pak?"
"Iya Er, hati-hati ya"
Aku bergegas pergi ... dan di sepanjang perjalanan Aku masih mempersiapkan diri untuk jawaban-jawaban Nenek nanti. Karena Aku sangat yakin, pasti Nenek sangat kecewa dengan keputusanku nanti.
****
"Assalammualaikum Nek, ini Erni"
"Walaikumsalam Masya Allah Er akhirnya Kau ingat juga ke rumah Nenek, Nenek kira Kau lupa" jawab Nenek sambil menuntunku kedalam.
"Maaf Nek, Erni lagi Ujian Sekolah kemarin jadi belum sempat untuk kesini"
"Oh ya tak apa jika kamu sibuk, nggak kerasa ya Er kamu udah mau lulus. Kamu memang cucu Nenek yang hebat" ucapnya bangga.
"Nek sebenarnya ada yang ingin Erni bicarakan,"
"Apa Er? Bilang saja"
"A-anu Nek, Erni sudah 3 bulan ini tinggal di rumah bapak?"
"Hah? Yasudahlah Er, Kau kan sudah besar sudah bisa memilih tinggal dimana yang enak untukmu. Nenek mah cuma ngurusin Kamu aja nyampek gede. Dan sekarang udah gede kamu balik lagi dengan Bapakmu nggak apa-apa." sahut Nenek, dengan wajah yang kecewa.
"Tapi nek, Erni ngelakuin semuanya karena Erni pengen jadi cucu yang ngebanggain nenek."
"Er Nenek selalu bangga dengan Kamu, Nenek nggak perlu Kamu menjadi orang yang hebat. Tapi cukup nemenin Nenek di rumah Nenek sudah bangga Er."
"Maaf Nek, maaf ... Erni mohon maaf belum bisa nemenin di masa tua Nenek. Tapi Erni janji suatu saat Erni akan menjaga Nenek, seperti Nenek menjaga Erni waktu Erni kecil." Ucapku dengan tangisan sembari memegang tangan nenek.
Nenek melepaskan tanganku mengusap Air mataku, lalu memelukku ..
"Nenek tahu impianmu itu sangat tinggi Er, maaf jika Nenekmu ini Egois. Nenek yakin kau bisa menjaga dirimu disana tak seperti Ibumu dulu" Nenek mencoba menenangkanku.
Dan tiba-tiba fikiranku terarah ke Ibu, karena sudah sangat lama Aku tak mengunjunginya. Rasanya sudah sangat teramat merindukan wanita hebat itu.
"Nek, minap kerumah ibuk yuk ... udah lama kan kita nggak kumpul." Ajakku
Nenek mengiyakan ajakanku, lalu Aku menelepon Bapak meminta izin dengannya Aku menginap di rumah Ibu. Dan Alhamdulillah Bapak mengizinkanku.
Aku dan nenek bersiap-siap kerumah Ibu, dan sengaja tak memberi tahunya terlebih dahulu. Kami ingin membuat kejutan untuk Ibu, pasti Ibu senang melihat Kami menemuinya.
Setibanya disana, Ibu terlihat dari kejauhan sedang menjemur pakaian. Aku berlari menemuinya Aku tak tahan untuk ingin memeluknya, kerinduan ini sudah tak tertahankan.
"Buuuk ..." teriakku
Ibu menoleh dan dia menangis melihatku, Aku tahu kerinduannya pun sudah sangat mendalam padaku. Maafkan Aku Ibu ... Aku begini untuk masa depanku.
"Er, Kau ini kenapa tak pernah menemui Ibu? Ibu kira kau sudah melupakan Ibu!" Ucapnya sembari mengusap tetesan-tetesan air mata, yang terjatuh tak tertahan oleh ibu.
Ibu menuntun Kami masuk kedalam, dan Adik-adikku yang kini semakin membesar memelukku. Aku tahu mereka sudah menganggapku Kakak mereka sendiri, bagi Kami tak ada hubungan tiri antara Kakak Beradik.
Kami mengobrol berjam-jam dan tibalah pembicaraan tentangku ..
"Buk Erni sekarang udah tinggal dengan Bapak," ucapku
"Ibuk nggak setuju Er! Pokoknya besok Kau ambil semua bajumu dan pergi dari sana!" Sahut Ibu dengan nada keras
"Buk Aku tau, Ibuk mengkhawatirkan aku karena Mbah kan? Aku bisa ngatasinnya Buk, Aku bisa ngelawan Mbah."
"Ibuk takut Er, semua perlakuannya terulang padamu"
"Nggak Buk tenang aja, Ibuk tahu kan maksut Erni untuk tinggal disana?"
Ibu hanya mengangguk, mengusap air matanya dan mencium keningku. Meminta maaf atas apa yang selama ini Ibu perbuat padaku. Dan Aku memahami itu bahkan Aku bersedia tubuh ini menjadi pelampiasan emosi karena masa lalunya, supaya hatinya bisa sembuh karena sakit dan pahitnya masalalu itu.
"Buk, ibuk nggak perlu minta maaf. Erni tau kok semuanya, dan Erni memaklumi itu."
"Ibuk merasa bersalah Er, sudah menumpahkan semua kesakit hatian Ibuk padamu."
"Terus bagaimana sikap Bapak terhadapmu Er?" Sambung Nenek.
"Bapak sangat manis Nek, dan Bapak juga bilang dia sangat mencintai Ibuk" ledekku
Ibuk tak menjawab apapun mendengar ledekanku, mungkin Ibuk takut jika Ibuk berbicara tentang Bapak, Aku akan tersinggung. Aku tahu Ibuk sangat membenci Bapak, karena selama ini setiap Ibuk marah, Ibuk selalu mengumpat soal Bapak.
Setelah banyaknya kami mengobrol, Ayah tiriku pulang dari pekerjaannya. Dia sama sekali tak menyapaku hanya menyapa Nenek. Ayah masih saja seperti beberapa tahun yang lalu, Tetap dingin dan kaku terhadapku. Apa ayah masih tak mau menerimaku?
Kukira ayah sudah berubah setelah bertahun-tahun lamanya, namun sepertinya Ayah sudah sangat membenci keberadaanku. Kenapa dia begitu? Ntahlah Akupun tak tahu.
Yang jelas semoga Ibu selalu bahagia dengan Ayah, meskipun kutahu kondisi materi mereka sangat minim. Terkadang ibu rela ngutang dengan tetangga hanya untuk Adik-adikku merasakan makan ayam.
Ayah bekerja sebagai kuli panggul pabrik, yang penghasilannya terkadang hanya 5000 rupiah perhari. Namun jika ramai bisa 250 ribu perhari, semua tergantung sepi dan ramainya barang yang masuk di pabrik mereka.
Tetapi, jika pekerjaan Ayah ramai upah nya hanya mampu untuk menutupi hutang piutang mereka saja sewaktu pekerjaan Ayah sepi.
Kasihan bukan? Namun Ibuku senang, Senang katanya fikirannya tenang tak tertekan batin dan tersiksa fisik. Itulah Ibuku wanita yang hebat panutan hidupku.
Tak ada wanita hebat melebihi Ibu terkecuali Nenek, Nenek juga wanita hebat dan melahirkan wanita hebat seperti ibuku. Benar kata Orang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Kupandangi wajah Ibu dan Nenek, inilah Wanita yang paling berjasa di hidupku. Mungkin tanpa kesadaran Nenek untuk membawaku tinggal ditempatnya, sekarang Aku sudah hanya menjadi nama dan menyisakan kenangan pahit bagi Ibu.
Aku tahu Tuhan telah merancang skenario di setiap kelahirann Kita, percaya atau tidak? Apa yang kita lewati sekarang ini semua sudah tertulis di buku skenario itu. Dan kita hanya tinggal menjalaninya.
"Er, Kau melamuni apa?" Nenek membuyarkan lamunanku
"Kau bingung dengan keputusanmu sendiri?" Tanya Ibu
"Nggak Buk, Erni cuma kangen dengan Nenek dan Ibuk"
"Kangen kok melamun" sahut nenek
"Yaudah nggak apa-apa Er, nanti malem Kita tidur bertiga ya ... biar Adik-adikmu tidur dengan Ayah saja." Celetuk Ibu
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, Nenek mengelus-elus rambutku dan menidurkanku di pangkuannya. Aku bersyukur akhirnya keadaanku kini baik-baik saja, tidak seperti dulu hidup di penuhi dengan amarah dan keresahan.
****
Malam ini Aku tidur di tengah-tengah wanita hebatku, Nenek disisi kanan dan Ibu disisi kiriku. Kami bercerita tentang masalalu Ibu, masalalu Nenek dan keadaanku selama di rumah Bapak.
Ini pertama kalinya Kami tidur bertiga seperti ini, semua terasa hangat bagiku tak ada kecemasan dalam hidup jika ditengah-tengah mereka.