Aku Bukan Anak Haram - Starla

Dia Ibumu

Saba menarik napas pelan sebelum menyodorkan foto itu.

Starla yang sedang mewarnai berhenti. Krayonnya menggantung di udara.

Di foto itu, seorang perempuan berhijab berdiri menyamping menoleh menghadap kamera. Senyumnya lembut. Matanya teduh. Angin membuat ujung hijabnya sedikit terangkat.

Starla menatap lama. Tangannya pelan-pelan mengambil foto itu. Matanya membesar sedikit.

“Ini…” suaranya kecil sekali.

Saba mendekat, duduk sejajar dengannya. “Itu Ibu kandung kamu.”

Starla tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah perempuan itu, lalu tanpa sadar menyentuh bagian pipinya di foto.

“Yang di kuburan itu…” bisiknya.

Saba tercekat. Di kuburan? Apa Starla pernah melihatnya? Apa maksud ucapan putrinya barusan?

Starla menelan ludah kecil. “Yang waktu itu aku lihat… pakai kerudung… di mimpi.”

Saba masih terdiam, mencerna kalimat Starla, halusinasi atau nyata?

Hening.

Starla menatap lagi. Lama sekali, seperti takut wajah itu hilang kalau ia berkedip. “Cantik,” katanya polos.

“Iya. Cantik sekali.”

Starla menggeser duduknya, kini menghadap Saba. “Itu Ibu aku?”

“Iya. Namanya Ibu Wulan.”

Starla mencoba mengucap pelan, “Wu…lan.”

Lalu ia mengerutkan kening kecilnya. “Tapi… wajahnya kok beda dengan di kuburan.”

Pertanyaannya datar, mencirikan sekali bahwa Starla bingung. Saba menelan ludah. Ia mengusap pelan punggung Starla.

"Starla pernah liat ibu Wulan dimana?"

"Kuburan, di mimpi. Cuma wajahnya sedih, nggak senyum begini," lirihnya nyaris tak terdengar.

Glek. Saba mengusap wajah, dia tak percaya takhayul tapi anak-anak masih murni untuk bisa melihat hal yang tak dinalar logika orang dewasa.

"Kata ibu, dia wanita baik. Makanya didoakan banyak orang dan aku pernah diajak ibu ke makamnya."

Deg. Benar, Starla berarti pernah melihat refleksi Wulan di tempat itu, pikir Saba.

Starla tidak langsung bereaksi. Ia kembali melihat foto itu. “Dia sayang aku?" tanyanya pelan.

“Iya.” Pertanyaan itu membuat suara Saba nyaris pecah. “Sangat.”

Starla terdiam. Lalu perlahan menoleh ke arah meja gambarnya.

Ia melihat kembali kertas yang barusan ia warnai—gambar perempuan muda berambut ikal panjang yang selalu ia sebut “Ibu”.

"Ibu Eliza juga selalu bilang gitu."

“Karena kamu punya dua orang ibu yang sayang,” ucapnya hati-hati. “Ibu Wulan itu yang melahirkan kamu. Ibu Eliza yang merawat kamu.”

Starla diam, hanya memeluk foto itu ke dadanya.

"Ayah…” panggil Starla tiba-tiba.

“Iya, Sayang.”

“Kalau Ibu Wulan sudah di surga… Makanya ada kuburan?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Makanya aku cuma bisa lihat di mimpi?”

Saba mengangguk. Tangannya mengusap rambut Starla lembut.

Beberapa detik sunyi. Lalu suara kecil itu muncul lagi.

“Kalau gitu…” ia berhenti, mencari kata yang pas. “Ibu Eliza ke mana?”

Saba menegang.

“…kenapa Ibu Eliza juga pergi?” Pertanyaan itu lebih lirih dari sebelumnya.

Saba berlutut sedikit agar wajah mereka sejajar. “Ibu Eliza cuma lagi pergi kerja jauh sebentar.”

Starla tampak cemas.

Saba menatap dalam manik matanya. “Dia masih ada di dekat Starla”

Starla menatap lantai. Krayonnya terjatuh, tapi ia tak mengambilnya. “Kenapa semua ibuku jauh?” suaranya mulai bergetar, belum menangis.

Saba tak tahan lagi. Ia menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan. “Maaf,” bisiknya, menempelkan dagunya di kepala Starla. “Ayah lagi belajar juga.”

Starla tidak memeluk balik atau melepaskan diri. Tangannya tetap menggenggam foto Wulan erat-erat.

Saba memeluk Starla cukup lama, sampai napas kecil itu kembali teratur.

Malam itu, Starla tertidur sambil menggenggam foto Wulan dan gambar Eliza di dadanya.

Saba memindahkan kedua kertas itu ke atas meja, dan menatap wajah dalam foto itu lama sekali.

“Aku gagal ngertiin Starla ya, Wulan…” gumamnya pelan.

***

Sepekan berlalu.

Starla tetap seperti sebelumnya, menjawab, mengangguk kalau ditanya. Tapi tak pernah memulai percakapan. Kecuali satu hal, kalau ada yang menyebut nama Eliza, matanya langsung berbinar.

“Boleh telepon Ibu?”

Lalu diam lagi jika tak mendapatkan izin dari Hasnawati.

Di sekolah, saat jam istirahat, Starla duduk membuka bekalnya.

Rafika memperhatikannya dari meja sebelah. Hari itu ia membawa cokelat banyak dan membagikannya ke beberapa teman.

“Aku dengar sesuatu,” ucap Rafika setengah berbisik, tapi cukup keras agar didengar satu meja.

“Apa?” tanya anak lain.

“Katanya kan dia itu anak pungut.” Beberapa anak menoleh ke arah Starla.

Starla tetap makan. Ia memang mendengar, tapi belum mengerti sepenuhnya arah kalimat itu.

“Dibuang,” lanjut Rafika sambil mengangkat bahu. “Soalnya nggak jelas ibunya siapa.”

Beberapa anak kecil itu tertawa kecil, meskipun sebagian dari mereka mungkin ada yang belum paham arti, hanya ikut-ikutan.

Starla berhenti mengunyah. Ia menoleh sekali ke arah Rafika lalu melanjutkan makan lagi.

“Darimana kamu tahu?” tanya seorang anak.

“Kata ibuku. Pembantuku juga bilang gitu,” jawab Rafika bangga. "Anak dibuang itu tidak diinginkan."

Starla kembali melihat bekalnya. Dibuang. Ia tahu kata itu. Anak-anak di kosan juga pernah menyebutnya anak Dajjal.

Tangannya menggenggam sendok lebih erat.

'Aku punya ayah dan ibu.' Batin kecilnya mencoba membantah.

Tiba-tiba Rafika berdiri dan menunjuknya. “Anak haram!”

Beberapa anak tertawa lebih keras, tanpa benar-benar mengerti makna ucapan Rafika. 

Starla menoleh perlahan, tidak marah atau menangis. Lalu ia menunduk lagi, merapikan kotak bekalnya, tepat saat Miss Rani masuk ke kelas.

“Ada apa ini?” suara guru itu tegas tapi tenang.

Hening.

Miss Rani melihat meja Rafika yang masih cekikikan. “Rafika?”

Gadis kecil itu cepat-cepat menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Miss.”

Teman-temannya ikut mengangguk. “Nggak ada, Miss,” jawab mereka hampir serempak.

Kecuali Starla, hanya duduk diam. Miss Rani memperhatikan itu.

“Starla, nanti ikut Miss dulu ya, setelah pulang sekolah.”

Starla mendongak pelan. Mengangguk kecil.

Sore itu, di ruang guru yang lebih sepi, Starla duduk di kursi kecil sambil memeluk tasnya.

Miss Rani duduk di depannya, berlutut agar sejajar.

“Tadi ada yang ganggu Starla?” tanyanya lembut.

Starla mengangguk.

“Apa yang mereka bilang?”

Starla menunduk. Jemarinya memainkan ujung ritsleting tas. “Mereka bilang… aku anak haram.”

Miss Rani menarik napas perlahan. Wajahnya tetap tenang. “Siapa yang bilang begitu?”

Starla mengangkat wajahnya sedikit. “Rafika.”

Deg.

Miss Rani menahan ekspresinya agar tidak terlihat kaget di depan anak sekecil itu. “Starla tahu artinya?”

Starla menggeleng. “Tapi…" Suaranya mulai bergetar. “Aku punya ayah dan ibu,” ucapnya pelan, membela diri.

Miss Rani tersenyum lembut dan mengusap kepala Starla. “Iya. Starla punya ayah. Dan Starla anak baik.”

Starla menatapnya, mata mulai berkaca-kaca.

“Ibu juga ada,” lanjutnya cepat. “Dua.”

Miss Rani tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menarik Starla ke pelukan hangat. “Dengar ya,” bisiknya pelan. “Kadang orang bicara sesuatu karena mereka nggak tahu cerita yang sebenarnya. Bukan karena itu benar.”

Starla diam.

“Kalau ada yang bilang begitu lagi, Starla bilang apa?”

Starla berpikir lama. Lalu pelan sekali ia menjawab, “Aku punya ayah.”

Miss Rani tersenyum. “Dan?”

Starla menelan ludah kecil. “Aku juga punya ibu.” Air matanya akhirnya jatuh. Bukan karena ia mengerti semua makna kata-kata itu. Tapi karena merasa harus membela dirinya sendiri.

"Ada apa ini?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!