Aku Bukan Anak Haram - Starla

Nyonya Aditya

Satu kalimat itu seperti nyangkut di sudut pikirannya. “Mulai kangen aku, ya?” Eliza sempat membalas singkat—“Heh.” Dia pikir cukup untuk menutup percakapan absurd semalam.

Beberapa menit setelahnya, panggilan dari Saba masuk. Ia menatap layar itu lama… lalu menekan reject dan mematikan ponsel.

Tidak ada pesan baru lagi setelah itu, sampai keesokan pagi, saat Eliza membuka ponselnya.

Sorenya, Eliza ke cafe. Apron terpasang rapi, rambut diikat sederhana. Tangannya sibuk menyusun cangkir di rak, satu per satu, sejajar.

Tubuhnya di sana tapi kalimat Saba semalam kembali mengusik. Entah kenapa, justru setelah ditolak, suara Saba terasa makin dekat. Mengganggu ritme, menyelip di sela kerja, muncul lagi di jeda-jeda kecil. Eliza mendengus pelan, pura-pura biasa. Padahal, diam-diam… kalimat itu masih berputar.

“El.” Suara Arka memotong lamunannya.

Eliza tersentak kecil. “Iya?”

Arka berdiri di ujung bar, memperhatikannya beberapa detik, “Cangkirnya udah rapi dari tadi.”

Belum sempat Eliza membalas, layar ponselnya kembali menyala. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan masuk.

Eliza menatapnya beberapa detik, lalu menekan reject dengan gerakan cepat, seolah kalau terlambat satu detik saja… ia bisa berubah pikiran.

"Fokus!" Suara Arka terdengar lagi.

Eliza buru-buru memasukan ponsel ke saku apron dan kembali bekerja. 

Jelang cafe tutup, Eliza baru membuka handphonenya. Beberapa pesan Saba masih menggantung di sana.

“Ap—”

Tiba-tiba, panggilan dari Saba masuk. Eliza buru-buru mengangkatnya, ingin bilang jangan ganggu. Namun, suaranya kalah cepat dengan Saba.

“Masih di cafe?” potong Saba langsung, suaranya rendah. 

Eliza mengernyit. “Kenapa?”

“Tunggu!"

Klik. Sambungan terputus.

Eliza melongo sebentar, ponselnya masih menempel di telinga. “Ih… nyuruh-nyuruh,” gumamnya, tapi kakinya sudah lebih dulu bergerak mengambil cardigan tipis.

Beberapa menit kemudian, cafe tutup dan ia berjalan ke parkiran belakang. 

Tin! Tin! Eliz menoleh, tapi dia tak peduli, lanjut jalan.

Mobil itu sudah ada di sana. Lampu depannya redup, tapi mesin masih menyala. Saba turun, gegas mengejar Eliza.

"Ngapain?" sinis Eliza saat Saba sejajar di sisinya.

"Ikut bentar. Aku mau bicara serius," pintanya pelan. Tangan lebar itu menahan dashboard beat karbu saat Eliza akan menyalakannya.

"Nggak ah. Ngantuk." 

"El, please," ujarnya menatap lembut sang gadis.

Eliza celingukan, mencari satpam cafe untuk menitipkan motornya di sini. Setelah semua dipastikan aman, Eliza bersedia ikut dengan Saba.

Eliza membuka pintu, masuk tanpa banyak bicara. Satu tangan Saba di setir, satu lagi di jendela yang terbuka. Wajahnya tenang seperti biasa.

Mobil melaju pelan, menyusuri jalan malam yang mulai sepi.

“Ke café?” tanya Saba.

Eliza langsung menggeleng. “Nggak mau, bosan.”

Jeda.

“Angkringan aja,” tambahnya cepat, menunjuk ke arah lampu temaram di pinggir jalan yang terlihat dari kejauhan. “Yang santai.”

Saba melirik sekilas, lalu mengangguk tanpa debat.

Angkringan itu sederhana. Bangku kayu panjang, lampu kuning menggantung rendah, aroma kopi hitam dan gorengan menyatu dengan udara malam yang dingin.

Mereka duduk berdampingan. Saba menyandarkan siku di lutut, kedua tangannya saling bertaut. Kepalanya sedikit menunduk. Untuk beberapa detik, ia hanya diam.

Eliza melirik, menunggu.

Akhirnya, Saba menghembuskan napas panjang. “Aku kewalahan, El.”

Eliza menoleh, mendengarkan.

“Starla…” lanjutnya, jemarinya saling mengunci lebih erat. “Aku coba bawa ke kantor, tapi nggak bisa fokus. Dia butuh ditemenin. Butuh… sesuatu yang aku nggak selalu bisa kasih.”

Jeda.

“Mama…” Saba berhenti sebentar, menelan kata berikutnya. “beliau juga lagi sering sakit. Mungkin kepikiran banyak hal," tuturnya lembut.

Eliza meraih gelas teh hangat, menggesernya pelan mendekat, tapi tidak diminum.

“Aku tertarik sama kamu, El.”

Deg. Eliza membeku.

Saba menoleh. Tatapannya lurus, “Aku punya niat serius,” lanjutnya. “Bukan karena Starla.” Ia menggeleng samar, seakan menegaskan maksudnya. “Tapi aku…”

Kata-katanya sempat menggantung, seolah ia sendiri sedang memilih mana yang paling jujur. “Karena kehadiran kamu.”

Suara sendok beradu gelas dari meja lain terdengar samar. Eliza menunduk. Jemarinya bermain di pinggir gelas.

“Banyak hal terjadi cepat,” lanjut Saba, lebih pelan. “Tapi itu nggak menghapus rasa yang datangnya perlahan.”

Ia menatap ke depan, “Ini bukan tentang Julia atau kondisiku.” Ia menggeleng. “Ini soal kamu.”

Eliza menarik napas panjang. “Banyak wanita di sekitar Anda, Pak.”

Saba mengangguk tanpa menyangkal. “Memang.” Lalu ia menoleh lagi. “Tapi aku maunya ibu Eliza.”

Deg.

Eliza mengangkat wajah, kaget. “Kenapa aku?”

Saba terdiam sebentar. Ia tersenyum tipis, “Nggak ada alasannya,” ujarnya jujur. “Nggak tahu.” Bahunya naik sedikit. “Pokoknya kamu.”

Eliza menghela napas, menggeleng pelan. “Tiba-tiba banget…”

Saba menggeleng. “Nggak tiba-tiba.” Suaranya lebih tenang sekarang. “Ada proses… cuma nggak semuanya gak disadari aja.”

Ia menggeser duduknya sedikit menghadap Eliza. “Aku nggak minta jawaban sekarang,” lanjutnya. “Aku juga nggak mau maksa.”

Tangannya terbuka di atas meja, jari-jarinya kini terurai. “Tapi aku serius.”

Tatapannya turun sebentar, lalu kembali memandang Eliza. “Aku mau jalanin ini dengan benar, tidak sembunyi-sembunyi.”

Ia menarik napas. “Kalau kamu bilang nggak, aku terima.” Suaranya rendah, “Kalau kamu butuh waktu, aku tunggu.”

Jeda.

“Entah kamu ngerasain hal yang sama atau nggak…” lanjutnya pelan, “…yang penting aku sudah jujur sama perasaanku.”

Sunyi kembali menggantung.

Eliza menunduk lebih dalam sekarang. Pikirannya berisik. “Jauh banget…” bisiknya.

Saba mendengarnya, dia manggut-manggut dan mengulas senyum. “Nggak ada yang jauh,” katanya ringan. “Kalau Tuhan yang deketin.”

Eliza mendongak, lalu… terkekeh. “Alay,” celetuknya.

Saba ikut tertawa, bahunya bergetar pelan. “Iya, maaf,” balasnya santai. “Sesekali.”

Eliza menatap gelas di tangannya, lalu bicara pelan tanpa menoleh, “Anda kan katanya lagi proses cerai.” Jeda. “Selesaikan dulu itu. Aku nggak mau terseret masalah kalian."

Saba hanya mengangguk kecil, rahangnya mengendur, seolah memang sudah menduga arah ini.

“Lagian…” lanjut Eliza, menarik napas sebelum meneguk tehnya pelan, “banyak hal yang mau aku kejar sendiri.”

Saba bergeser sedikit, menegakkan punggungnya. Tatapannya tetap ke Eliza, tapi kali ini lebih hati-hati. “Sama aku dan Starla, El,” ucapnya pelan. “Izinkan kami nemenin setiap prosesmu.”

Eliza diam. Gelas di tangannya berputar pelan di atas meja. Uap hangatnya sudah menipis.

“…entah,” jawabnya akhirnya. “Aku nggak tahu.”

Saba mengangguk lagi. “Oke,” gumamnya ringan. “Berarti aku harus sabar dulu… biar nyonya Aditya nyaman.”

“Seenaknya ganti nama orang," sindir Eliza.

"Nggak ganti, kan nambahi aja biar beda dikit," balas Saba, menyeruput wedang jahenya yang mulai menghangat. 

Eliza masih memeluk gelas hangat yang perlahan kehilangan uapnya. Ia pura-pura fokus pada garis-garis retak di meja, pada suara sendok beradu dari ujung gerobak, pada apa saja… selain lelaki di sampingnya.

Padahal... Kenapa sih dia harus lihat aku kayak gitu…?

Tatapan Saba tidak sering. Tapi jantungnya berdenyut tak sopan.

Biasa aja, El. Ini cuma ngobrol. Cuma… ngobrol, batinnya.

Aroma kopi hitam bercampur gorengan memenuhi udara. Di sela itu… ada satu wangi lain yang pelan-pelan ikut menyentil penciumannya.

Parfum Saba yang lembut, anehnya… bikin nyaman. Eliza menelan ludah, menegakkan punggung sedikit, seperti mencoba mengusir perasaan yang mulai merayap tanpa izin.

Ia melirik cepat. Saba lagi-lagi terlihat biasa saja. Siku bertumpu, bahunya rileks. 

Kenapa dia bisa setenang itu sih…?

Eliza buru-buru memalingkan wajah lagi, menatap ke jalan yang mulai sepi. Motor lewat sesekali, lampu kuning berayun pelan tertiup angin.

Dadanya naik turun.

Ini salah… harusnya aku biasa aja…

Tapi semakin ia menahan, semakin terasa jelas. Eliza menutup mata sepersekian detik. 

Ya Allah… ini kenapa jadi begini…?

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!