Aku Bukan Anak Haram - Starla

Intimidasi Sang Nyonya

“Bu—bukan gitu maksudnya…,” suara Eliza tercekat. Tenggorokannya kering, kata-kata terasa berat keluar.

“Dengar baik-baik,” suara Hasnawati tetap tenang, tapi menusuk. “Starla bukan hanya milikmu. Ada keluarga yang juga berhak atasnya.”

Eliza menelan ludah. Tangannya reflek memeluk tubuh kecil di pangkuannya lebih erat, seolah takut Starla bisa direnggut hanya dengan jentikan jari.

“Saya cuma ingin bicara,” lanjut Hasnawati. “Sebagai orang dewasa. Sebagai sesama perempuan. Jangan buat semuanya jadi rumit.”

Di sampingnya, Saba melirik. Ia tak mendengar jelas percakapan itu tapi wajah Eliza yang memucat cukup membuatnya penasaran.

“El…?” panggilnya pelan.

Eliza mengangkat telunjuk kecil, memberi isyarat agar Saba diam. Napasnya naik turun. “Bicaranya soal apa, Bu?” ia bertanya lirih.

“Hak kami,” jawab Hasnawati singkat. “Dan masa depan.”

Deg.

Kata itu jatuh tepat di dada Eliza. Masa depan, yang selama ini ia pikir sudah ia bangun sendiri, pelan-pelan, dengan segala kekurangannya. Kini terancam dirombak total.

“Saya tidak melarang Saba membangun bonding dengan anak itu,” Hasnawati melanjutkan. “Tapi jangan sampai Starla bingung karena orang dewasa di sekitarnya tidak memberitahu dengan benar.”

Eliza memejamkan mata. Di pangkuannya, Starla bergumam kecil dalam tidur, pipinya menempel hangat di dadanya.

“Besok sore,” kata Hasnawati lagi, nadanya seperti keputusan. “Kita bertemu. Berdua saja. Jangan libatkan Starla.”

Sambungan terputus.

Eliza menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya gemetar. Dadanya sesak, seperti baru saja ditarik ke dalam pusaran angin beliung.

“Siapa?” tanya Saba akhirnya, suaranya rendah.

Eliza tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Starla yang tertidur, damai, polos.

“Nyonya Hasnawati,” katanya pelan.

Saba menghela napas panjang. Mobil melaju pelan keluar dari parkiran, lampu-lampu kota memantul di kaca depan.

Eliza menyandarkan kepala ke kursi. Dalam hatinya, satu kalimat berputar-putar tanpa henti. Hak… 

Mobil melaju dalam senyap. Hanya ada suara musik instrumen dari audio dan napas Starla yang teratur di pangkuan Eliza.

Saba memegang setir lebih erat dari biasanya. Rahangnya mengeras. “Mama nggak seharusnya ikut campur dulu,” katanya tanpa menoleh.

Eliza tersenyum tipis. “Beliau ibu Anda,” jawabnya pelan, mengingatkan diri sendiri.

“Iya. Tapi tetap nggak adil.” Saba menarik napas panjang. “Aku bilang ke mama … semuanya harus pelan-pelan. Starla masih kecil.”

Eliza tidak menjawab. Perlahan ia mengusap punggung Starla, gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali. Menenangkan anaknya atau mungkin dirinya sendiri.

Sampai di kos, Saba turun lebih dulu. Ia membuka pintu dan membantu Eliza turun tanpa banyak bicara.

“Aku gendong aja,” kata Saba saat melihat Starla masih terlelap.

Eliza ragu sesaat, lalu mengangguk. Saba mengangkat Starla hati-hati, seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh. Keduanya berjalan beriringan tanpa percakapan.

Di depan pintu kos, ia berhenti. “Besok… kamu akan datang?” suara Saba nyaris berbisik.

Eliza menatapnya sejenak. Ada ragu lalu menunduk. “Aku belum tahu.”

Saba mengangguk. Ia menyerahkan Starla kembali ke pelukan Eliza. Ujung jarinya sempat menyentuh tangan Eliza, membuat Eliza menarik napas lebih dalam.

Di dalam kamar, Eliza membaringkan Starla. Anak itu bergerak sedikit, lalu tidur lagi. Eliza duduk di sampingnya, termenung.

Ponselnya kembali bergetar, pesan dari Saba.

["Aku nggak akan ambil apa pun darimu, El. Aku cuma mau dianggap ada oleh Starla."]

Eliza membaca pelan. Lalu meletakkan ponsel di bawah bantal.

Malam makin larut. Eliza berbaring, menatap langit-langit. Ia tahu, pertemuan besok bukan sekadar obrolan. Akan ada keputusan yang jelas soal posisinya di sisi Starla.

*

Keesokan pagi.

Eliza mengantar Starla ke sekolah seperti biasa.

“Ibu yang jemput, ya,” kata Starla sambil memeluk leher Eliza.

“Iya,” jawab Eliza, tersenyum.

Setelah Starla masuk kelas, Eliza tidak langsung pergi. Ia berdiri di depan gerbang, menatap halaman sekolah yang mulai sepi.

Sore ini, ia harus memilih kata-kata dengan hati-hati. Salah sedikit, dirinya bisa tersisih dari sisi Starla.

Ponselnya kemudian bergetar. [Jam lima. Di rumah saya.] Nama Hasnawati muncul di layar.

Eliza menghela napas panjang, saat membaca pesan selanjutnya yang berisi alamat kediaman beliau.

“Baik,” gumamnya pada diri sendiri. “Kita lihat sejauh mana aku boleh bertahan.” Ia menyalakan motor, meninggalkan sekolah.

Jam lima kurang sepuluh, Eliza sudah berdiri di depan rumah besar itu.

Pagar besi hitam menjulang kokoh di depannya. Eliza menarik napas dalam sebelum menekan bel. 

"Mbak Eliza?" tanya suara dari interkom.

"Iya."

Pintu samping gerbang, dibuka oleh seorang perempuan berseragam. “Silakan, Mbak Eliza. Ibu sudah menunggu.”

Eliza dipandu masuk. Melewati taman panjang, dan fasad minimalis nan asri. Hingga sampai di ruang tamu luas, wangi teh melati samar.

Hasnawati sudah duduk tegak di sofa, gaunnya sederhana tapi terlihat sempurna. Rambutnya tetap tergelung rapi. Ia berdiri saat Eliza berjalan mendekat.

“Terima kasih sudah datang,” katanya tenang.

Eliza mengangguk. “Saya datang karena Starla.”

Hasnawati tersenyum tipis. “Tentu.”

Mereka duduk berhadapan. Tidak ada basa-basi. Hanya dua perempuan yang sama-sama merasa punya alasan kuat.

“Saya tidak ingin mengambil Starla dari Anda,” Hasnawati membuka pembicaraan. Suaranya lembut, terukur. “Tapi dia cucu saya. Dan Saba ayahnya.”

Eliza menahan napas. “Saya tahu posisi Tuan Saba,” jawabnya pelan. “Tapi selama lima tahun, cuma ada saya di hidup Starla.”

Hasnawati menatapnya lama. “Dan itu tidak akan saya hapus,” katanya. “Justru karena itu, saya ingin kita jelas.”

“Jelas soal apa?” tanya Eliza.

“Peran,” jawab Hasnawati. “Starla butuh keluarganya. Lengkap.”

Kata lengkap itu menghantam pelan. Eliza menegakkan punggung. “Lengkap versi siapa, Nyonya?”

Hasnawati tidak tersenyum kali ini, wajahnya datar. “Versi yang memberi masa depan lebih aman.”

Hening.

Eliza menggenggam tasnya. “Saya tidak pernah menahan Starla dari ayahnya. Tapi saya juga tidak akan jadi orang asing di hidup anak saya sendiri.”

Hasnawati menghela napas. “Tidak ada yang meminta Anda pergi.”

“Belum ... tepatnya,” jawab Eliza jujur.

Tatapan Hasnawati mengeras sesaat, lalu melunak kembali. “Saya hanya ingin Starla lebih sering bersama kami. Menginap. Liburan. Sekolah yang lebih baik nanti.”

Eliza menggeleng pelan. “Dia masih kecil. Jangan menjejali terlalu banyak hal baru, Starla bisa bingung.”

“Justru itu,” potong Hasnawati lembut. “Ikatan dibangun sejak dini.”

Eliza bangkit berdiri. Dadanya terasa penuh. “Kalau itu semua harus terjadi tiba-tiba, saya tidak bisa.”

Hasnawati ikut berdiri. “Kami lebih paham dari kamu ... Lagipula, tidak ada yang tersingkir kalau Anda mau bekerja sama.”

Eliza menatap perempuan itu, mencari celah empati sebagai nenek. Tapi, nyatanya Hasnawati hanya orang yang terbiasa memerintah.

“Terima kasih waktunya,” kata Eliza akhirnya. “Saya janji tidak pulang terlambat.”

Hasnawati mengangguk. “Pikirkan baik-baik. Demi kebaikan Starla.”

Di luar, langit mulai gelap. Eliza naik motor dengan kepala berisik. Saat ponselnya bergetar, ia mengabaikannya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!