Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kekesalan Eliza
["El, kamu di mana?"]
Eliza berhenti di pinggir jalan, menatap layar lama. Lalu membalas singkat. "Aku habis dari rumah ibu Anda."
Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi ["Mama bilang apa?"]
Eliza memejamkan mata. Di kejauhan, lampu kosannya udah terlihat.
"Nggak ada." Tulisnya singkat lalu memasukkannya ke tas dan melanjutkan perjalanan pulang.
Dia menyalakan motor, membenarkan helm yang sempat merosot saat menunduk membalas pesan tadi, nyaris menutupi matanya.
Beberapa menit kemudian, motornya masuk ke halaman kos Gulajawa. Suara anak-anak bercampur tawa masih ramai.
Starla berlari menghampirinya begitu melihat Eliza. “Ibu!” Ia memeluk kaki Eliza erat.
Eliza berjongkok, memeluk tubuh kecil itu lebih lama dari biasanya. “Maaf lama. Capek nggak?” tanyanya lembut.
Starla menggeleng. “Hari ini gambar aku ditempel, Bu.” Wajahnya berbinar.
“Wah, hebat.” Eliza tersenyum, sambil menuntun Starla masuk kosan.
Di dalam kamar, Starla bersandar di tembok memandangi ibunya. Eliza merasakan kehangatan itu, sekaligus ketakutan yang merayap, sampai kapan tatapan ini akan jadi miliknya sepenuhnya?
Eliza menyiapkan makan malam sederhana. Starla bercerita tentang sekolah, temannya yang berebut ayunan, dan Bu Guru yang memakaikan sepatunya.
Eliza mengangguk, menimpali seperlunya. Pikirannya melayang ke ruang tamu luas siang tadi, ke kata ~lengkap yang terus bergaung.
Setelah Starla mandi dan berganti baju, ia duduk di kasur sambil menggambar dengan crayon baru. “Bu,” katanya tiba-tiba, “besok ayah antar lagi?”
Eliza terdiam sepersekian detik. “Kenapa nanya gitu?”
Starla mengangkat bahu kecilnya. “Ayah baik, mau gendong aku lama-lama.”
Eliza mengangguk pelan. “Nanti ibu tanyain, ya.”
“Rumah ayah dimana?” Starla menatapnya penuh harap.
Deg.
“Ibu lupa,” jawab Eliza, pura-pura terkekeh.
Starla tersenyum, lalu kembali menggambar. Eliza berdiri di ambang pintu kamar, menatap punggung kecil itu. Ia tahu, jawaban seperti ini masih bisa dipakai untuk mengelak.
Ponselnya bergetar lagi. Saba.
["El, maaf. Aku cuma mau bilang kalau apa pun yang ibu bilang ke kamu, aku nggak mau kepercayaanmu padaku hilang. Aku di pihak kamu."]
Eliza membaca pelan. Jarinya lincah saat mengetik balasan, "Anda masih bilang begitu tuh sekarang."
Beberapa detik berlalu.
["Aku serius."]
Eliza tersenyum miring. Keseriusan juga bisa berubah, pikirnya. Ia tidak membalas lagi.
Starla tertidur dengan crayon masih di tangannya. Eliza memindahkannya perlahan, menarik selimut sampai ke dada kecil itu.
Ia duduk di tepi kasur, menatap wajah Starla yang damai. “Kalau ibu harus berjuang sendirian,” bisiknya, “ibu bakal tetap berjuang.”
Starla sudah mulai memanggil Saba dengan sebutan ayah. Hatinya teriris tapi itu kenyataan.
Ponsel kembali menyala. Kali ini pesan baru masuk tapi bukan dari Saba.
[Besok Starla sebaiknya ikut makan malam keluarga. Kami sudah menyiapkan segalanya.]
Eliza menutup mata. "Ya Allah, kok nggak diskusi dulu." Dan ia merasa waktunya dengan Starla makin menipis.
Eliza tidak langsung membalas. Ia meletakkan ponsel di samping bantal, lalu merebahkan tepat di sisi Starla. Kipas angin berputar pelan, mengaduk udara yang terasa pengap. Matanya menatap langit-langit, tapi pikirannya ruwet.
Makan malam keluarga.
Kalimat itu terdengar seperti ajakan menarik, tapi baginya seperti pembatas yang mulai disematkan padanya. Dia orang asing.
Ia bangkit, duduk kembali di tepi kasur. Mengusap rambut Starla yang sedikit basah. Anak itu bergumam kecil dalam tidur, lalu memiringkan badan.
“Ibu…” gumamnya lirih.
Eliza menahan napas saat mengambil ponselnya. Membaca pesan itu sekali lagi.
Ia mengetik pelan. "Akan saya coba sampaikan ke Starla lebih dulu. Mohon jangan melakukan persiapan apapun sebelum Starla setuju."
Pesan terkirim tapi centang satu.Eliza menggenggam ponsel lebih erat dari yang ia sadari. Dalam kepalanya, muncul wajah wanita itu.
Ponsel bergetar. Pesan baru masuk. [Anak itu senang bertemu keluarga ayahnya.]
Eliza menutup mata. Dadanya terasa sesak, tapi tidak boleh meledak.
"Besok Starla ada les ngaji." Tulis Eliza.
Hening lagi.
Di luar, samar suara langkah orang lewat, tawa anak kos lain. Eliza menarik napas panjang, di dalam kamarnya, didominasi suasana was-was.
Balasan itu akhirnya datang.
[Kami bisa jemput langsung dari tempat les.]
Eliza menoleh ke Starla. Wajah kecil itu damai. Ada gurat Saba di sana, akhir-akhir ini terasa jelas.
Dia memilih menutup ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat menarik selimut Starla lebih rapat.
“Sehat-sehat ya,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Jangan sampai sakit saat mencerna semua hal baru di hidupmu nanti.”
Eliza tahu—besok bukan sekadar soal makan malam.
***
Pagi itu Eliza terbangun dengan kepala berat. Belum sempat benar-benar duduk, ponselnya sudah lebih dulu diraih. Ada pesan dari Saba, masuk subuh tadi. Basa-basi yang membuat dadanya kembali panas.
Eliza membalas cepat, jarinya menekan layar dengan emosi yang belum turun sejak semalam.
"Aku masuk siang. Aku nggak bisa nemenin Starla."
Pesan terkirim. Tak sampai semenit, ia menambahkan lagi, lebih panjang dan tajam.
"Tolong beri pengertian ke ibu Anda. Katanya aku harus di sisinya. Ini yang dimaksud kerja sama? Atau ini cuma akal-akalannya Anda saja, Tuan Saba?"
Eliza menatap layar, menunggu. Satu menit. Dua menit. Tak ada balasan. Tanda centang Abi itu yang tak kunjung berubah biru.
“Diam aja,” gumamnya kesal. Dadanya naik turun akibat amarahnya yang mengendap.
Tanpa ragu, ia membuka kontak Saba. Blokir. “Beres,” katanya pelan.
Ia lalu membangunkan Starla, menyiapkan bekal seadanya, dan mengantar gadis kecil itu ke sekolah seperti biasa.
Di depan gerbang, Starla menggenggam tangan Eliza lebih lama. “Ibu,” katanya sambil menoleh ke kanan-kiri, “Om mana?”
Eliza menelan ludah. Ia memilih diam, menatap jalan di depan sana.
“Ibu?” Starla mengulang, suaranya lebih pelan.
“Om Saba sibuk, Nak,” jawab Eliza singkat.
Starla mengangguk. Tidak bertanya lagi. Ia masuk ke kelas dengan langkah kecil dan wajah ceria di sambut teman-temannya.
Eliza menatap punggung itu sampai hilang di balik pintu. Dalam hatinya, ia mendengus, "Ayahmu kublokir."
Ia memutar motor, berniat langsung pulang. Tapi baru beberapa ratus meter, sebuah mobil hitam berhenti melintang di depannya.
Rem ditarik mendadak. Klakson bersahutan. Orang-orang menoleh.
Pintu mobil baris kedua terbuka. Saba turun. Sopirnya terlihat di dalam.
“El,” panggil Saba.
“Apa?” Eliza membentak. “Aku muak sama kalian!”
Ia hendak melaju, tapi Saba merentangkan tangan, menghalangi jalan. Eliza menekan gas sedikit, tapi Saba tak bergeser.
“El, lihat,” katanya menahan suara, melirik sekitar. “Kita jadi tontonan.”
“Bodo amat!” seru Eliza. “Minggir! Kalian ini perebut anakku!”
Saba menahan stang motor. Gerakannya cepat. Ia memutar kunci dan menariknya keluar. Mesin mati.
“El,” katanya lebih rendah, “jangan begini.”
Napas Eliza memburu. Dadanya sesak. Matanya panas.
“Kita bicara di mana?” tanya Saba, tetap sabar. Teringat Wulan kalau marah, keras kepala seperti tembok.
Eliza tak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Ya sudah,” lanjut Saba pelan. “Aku juga diam.” Ia melirik jam tangannya. “Biar klien nunggu.”
Deg.
Kalimat itu membuat wajah Eliza berubah. Amarahnya masih ada, tapi kini bercampur rasa tak enak yang menjalar pelan.
Ia memejamkan mata sebentar. Tahu, sudah terjebak permainan mereka yang tak bisa lagi dihindari.
.
.