Aku Datang, Aeera!
Perjalanan Berlanjut (Selesai)
Ha .. ha.. ha..
Kenan tertawa lepas, Kenan kini sedang berbincang dengan Sadewa, Bos Mega Multi. Mereka berbincang di belakang panggung. Kenan langsung tertawa di belakang panggung setelah selesai memberikan pidato, atas terpilihnya mencari perwakilan perusahaan dalam mengelola seluruh CSR perusahaan.
Sekretaris Sadewa tak habis pikir, kenapa sang Bos memilih pemuda itu. Pemuda itu bahkan tidak punya sopan santun pada bosnya, Sadewa. Mereka berdua terlihat akrab, dan Feri si Sekretaris tak habis pikir. Kapan mereka bertemu dan kapan mereka menjadi sangat akrab. Selama ini, sebelum bangun dari komanya, Bos Sadewa terkenal sangat tegas, disiplin dan tak peduli dengan orang lain kecuali hanya bisnis.
Selama Sadewa Koma, seluruh perusahaan ditangani oleh Feri. Dia sangat setia pada Sadewa, meskipun begitu dia masih penasaran kenapa pemuda di depannya ini dipilih begitu saja tanpa ada proses seleksi sama sekali.
Sadewa melihat keheranan sang sekretaris, dia membiarkan Kenan tertawa lalu menepuk pundak Feri.
”Kamu tidak usah heran, Fer. Dia telah menolongku bangun dari koma, hal itu karena dia yang menemukan cincin yang aku buang pemberian dari Ibuku. Dia membangunkanku dengan kekuatan sihir dari cincin tersebut. Dan ... terima kasih sudah mengurus perusahaan selama ini.”
Sadewa tersenyum sekali lagi pada Feri.
Bosnya sudah berubah, sekarang dia sering tersenyum. Dan bahkan satu lagi, kenapa ada kata-kata sihir cincin yang membangunkan seseorang dari koma. Apakah ini ilusi atau bosnya terkena hipnotis?
”Jangan-jangan, anda dihipnotis pemuda ini Bos.”
Wajah keheranan Feri semakin membuat Kenan dan Sadewa tertawa, hingga mereka meneteskan airmatanya.
Sebelumnya, di panggung Kenan memberikan pidato singkat tentang rencananya mengelola dana CSR seluruh perusahaan Sadewa. Sadewa ingin menguji keberanian Kenan. Dan, Kenan berbicara pendek yang intinya, dia akan menggunakan dana CSR untuk berkeliling seluruh Indonesia, bahkan mungkin dunia untuk membantu para korban bullying baik di sekolah, ataupun di tempat kerja. Kenan akan fokus dengan dedikasi mencegah pembullyan di semua sektor, terutama sekolah.
Dan, Sadewa mendukung penuh semua hal yang akan dilakukan Kenan. Maka dengan itu, Kenan resmi bekerja di bawah komando Sadewa menyalurkan semua dana CSR untuk kemanusiaan.
***
”Gadis bernama Luna itu sangat perhatian padamu. Dia selalu datang dan memberikan surat-surat itu pada Ibu.”
Ghina menunjuk pada Luna yang keluar dari keramaian bersama ayahnya. Kenan sudah tahu sekarang. Selama ini, dia berprasangka tidak ada yang peduli padanya dan semua orang menghina keberadaannya. Ternyata itu semua hanyalah imajinasi liarnya, buktinya wanita idola semua orang dan sekarang menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Luna, dia masih khawatir padanya dan memberinya surat dan meminta Kenan untuk kuat dan berani menghadapi kenyataan.
Dunia tak sesempit yang dipikirkan, Kenan tersenyum.
”Iya Ibu, ayo kita pulang.”
”Iya, Kenan. Oh ya, bagaimana kamu mengenal bos besar itu? Bahkan kamu mendapatkan pekerjaan sekarang. Ibu merasa itu sangat aneh.”
”Oh itu. Ibu ingat sewaktu aku harus pergi menyelamatkan orang? Ya, saat itu aku sedang menyelamatkannya. Aku menemukan cincin pemberian ibunya yang dia hilangkan, makanya aku harus menemukan cincin itu agar dia dimaafkan oleh Ibunya.”
Sang Ibu mengerutkan keningnya, berpikir keras.
”Sudahlah Ibu, ayo kita pulang. Aku sudah lapar.”
Kenan memutar stang motornya, namun suara langkah kaki cukup cepat menghampirinya. Itu adalah Luna.
”Ke ... Kenan.”
Kenan terpaksa menyandarkan motornya lagi, dia gugup berhadapan dengan wanita yang pernah menjadi idamannya dulu. Dan, wajah itu adalah wajah putri Kalya, sang putri Elf.
Luna menyapa Ghina dan juga Kenan, sang ayah menunggu di mobil. Mereka terlibat pembicaraan sebentar. Tentu saja, mereka sudah lama tak bertemu dan bahkan beberapa hari lalu bertemu saat tabrakan di pinggir jalan. Pembicaraan terasa sangat biasa.
”Apa Kenan punya waktu ... saya ingin bicara.”
Kenan berpikir sejenak, Ibunya mengangguk.
”Bukan masalah penting. Aku hanya ingin interview tentang upayamu bangkit dari keterpurukan, maaf jika ini lancang. Namun, semua ini penting berkaitan dengan upayaku selama ini dalam menyelesaikan masalah sosial. Aku mengambil jurusan sosial dan ingin mengabdikan diriku untuk kebaikan sosial. Aku mohon kamu bersedia, dan ini penting bagi krisis sosial yang terjadi. Jika bersedia, kamu tentukan saja waktunya.”
”Iya, saya bersedia.”
Luna mengernyitkan dahinya, dan itu menambah kecantikannya. Kenan tersenyum, dia sudah mulai berdamai dengan keadaan. Luna juga tak menyangka jawaban Kenan akan sangat cepat.
Keduanya kemudian berpisah dan bertukar nomor telepon.
”Dia sangat cantik dan baik hati.” Ghina berbicara di jalanan saat dibonceng puteranya itu.
”Jangan berpikir macam-macam Ibu.”
”Ibu kan hanya bicara sebagai seorang wanita. Dia wanita yang baik.”
Kenan terdiam dan ibunya tersenyum.
***
Di pinggir danau kecil buatan yang ada di taman kota. Kenan dan Luna duduk di kursi taman sambil melihat ke arah danau kecil.
”Begitulah ... aku mencoba berdamai dengan semua keadaan. Melawan rasa marah, malu dan lemah bersamaan. Hal itu berat, tapi ada Ibu yang selalu membantuku untuk bangkit. Saat menyadari ada keluarga yang mencintai kita dan berharap kita sembuh. Maka sekuat itulah usaha untuk bisa sembuh dan tidak membiarkan Ibuku menangis lagi.”
Luna mencatat semua hal yang diceritakan Kenan. Dulu, saat sekolah bahkan mereka tidak akrab sama sekali. Namun, seolah mereka menjadi teman baru yang saling terbuka.
”Apa kamu tahu, Kenan. Aku mengambil jurusan sosial karena memperhatikanmu selama ini. Aku mencoba merasakan apa yang kamu rasakan. Hatiku tergerak agar tidak ada lagi kasus sepertimu yang menimpa orang lain. Dan ... kita adalah teman. Aku berharap kamu sembuh dan menjadi manusia normal. Jika hal itu berhasil, maka orang lain yang mengalami hal yang sama pasti juga bisa sembuh mentalnya.”
”Aku tahu ... aku sudah membaca semua surat-suratmu. Terima kasih atas perhatianmu, dan kamu satu-satunya yang peduli dari teman sekolah kita.”
Angin bertiup.
”Oh ya, bagaimana kamu mengenal Tuan Sadewa? Dia adalah orang terkaya di negara ini. Lalu ... kapan kalian bertemu?” Luna antusias bertanya.
”Oh ya, kamu mengingatkanku tentang Tuan Pedang ... eh maksudku tuan Sadewa. Aku akan membentuk tim sukarelawan, meskipun sukarelawan akan ada gaji yang mereka terima. Aku akan berkeliling seluruh kota maupun desa, membawa pesan untuk menghentikan pembullyan di sekolah dan tempat kerja. Tuan Sadewo mensupport semua programku, jadi ... apakah ... Luna mau bergabung dengan tim kami.”
Kenan mendapatkan seorang anggota tim yang tepat, dia adalah pejuang keadilan sosial.
”Aku akan sangat senang bisa bergabung, sekaligus aku sudah mulai menyusun tugas akhir sekolahku tentang perubahan sosial di sekolah. Jadi, aku bersedia!”
Sangat cepat, Kenan tersenyum.
”Aku ada jadwal bertemu dengan salah satu siswa yang terkena bullying atas laporan orangtuanya. Dia tidak mau sekolah selama dua minggu. Apakah kamu mau menemaniku?” tanya Luna.
Kenan mengiyakan. ”Baiklah, aku juga sudah mengatakan pada Ibu pulang sore hari.”
Luna memberikan alamat pada handphone Kenan, mereka akan menaiki kendaraan masing-masing menuju tempat yang ditunjukkan Luna.
”Kenan ...”
Suara Luna membuat Kenan berhenti sebelum menuju motor yang diparkirnya.
”Ada apa, Luna?”
”Maaf ... aku ingin jujur. Aku bergabung dengan tim yang kamu bentuk. Sebenarnya, aku juga ingin menulis kisahmu ... sejak kamu tak mau keluar rumah dan tak mau berinteraksi. Aku ingin mengikuti kisahmu hingga kamu bisa bangkit dari keterpurukan. Jadi ... sampai sekarang, aku akan mengikuti perjalananmu kemana pun kamu pergi.”
”Tentu saja, Luna. Kamu boleh menulis tentangku, sampai kapanpun kamu mau.”
Mereka berpisah, dan Kenan merasa bahwa Luna sangat mirip dengan putri Kalya. Saat tim yang dibentuk Aeera pergi meninggalkannya, putri Kalya kembali dan bertarung bersamanya. Mereka sangat mirip.
***
Kenan memarkir motornya, Luna sudah berada di rumah yang ditentukan dalam map. Kenan masuk dalam rumah, saat dia masuk dan meminta izin. Luna memperkenalkan Kenan pada orangtua siswa yang tidak mau berangkat sekolah. Luna bersama satu angkatannya, Nana.
”Ini adalah tuan Feri, dia adalah ayah dari Lira.”
Kenan kaget dan matanya melihat tak percaya.
”Raja Alex!” Kenan mengucapkan hal itu begitu saja.
”Raja Alex? Maaf, saya Feri. Ayah dari Lira.”
Kenan segera sadar, dunia ini berbeda. Dia segera paham situasi.
”Maafkan saya, anda sangat mirip dengan tokoh film yang saya tonton.”
Mereka pun terlihat akrab dan berbincang biasa, hingga Feri permisi ke belakang untuk memanggil puterinya. Puterinya hanya mau bertemu jika Ayahnya menemaninya, sang Ayah bertemu Luna karena kasus perundungan siswa dan sekolah sudah diselesaikan pihak sekolah. namun, Lira belum mau ke sekolah hingga sekarang.
"Lira belum mau berangkat sekolah, ayahnya sudah membujuknya tapi Lira belum mau ke sekolah. Ibunya sudah meninggal sejak Lira masih kecil.”
Kenan mendengarkan cerita Luna dan Nana bergantian. Nana bahkan meminta pada Kenan untuk digabungkan ke dalam tim yang dibuat Kenan, Nana memohon dijadikan apapun dalam tim dia siap. Kenan melihat kearah Luna, Luna memberikan tanda mengatupkan kedua tangannya tanda meminta maaf karena sudah menceritakan tentang tim yang akan dibentuk Kenan.
Kenan menghela napas sejenak, dan akhirnya dia mengiyakan permintaan Nana. Nana pun merasa senang.
Saat itulah, Feri keluar dari dalam bersama puterinya. Puterinya itu memegang tangan ayahnya, bagi Feri dia adalah satu-satu puteri kesayanganna. Dan karena puterinya itulah dia bisa bertahan hidup di dunia ini meskipun ditinggal oleh isterinya.
Saat Feri memperkenalkan puterinya itu, Kenan berdiri seketika, matanya tak bisa lepas dari pandangannya pada puteri bapak Feri.
”Aeera! Kamu Aeera ...”
Semua orang kebingungan, Kenan memanggil Lira dengan Aeera. Kenan terlihat aneh untuk sejenak, tapi dia segera paham situasinya.
”Maafkan saya ... saya terbawa suasana lagi. Saya sering menonton sinema, dan wajah Lira mirip dengan salah satu tokoh puteri kerajaan.”
Semua orang yang ada disana memahami sekarang. Mereka tahu kisah Kenan dan bagaimana sekarang dia bangkit dari ketidakberdayaan. Itu pasti sulit untuk Kenan.
Kenan melihat Lira yang sekarang duduk dengan ayahnya. Luna dan Nana mencoba memberikan semangat pada Lira untuk berani menghadapi kenyataan dan kembali untuk sekolah. Hal itu membuat Kenan menyadari sesuatu ... kembalinya Kenan ke dunia ini, semua ada artinya.
Dia telah ditakdirkan untuk membantu orang-orang yang sedang dalam keterpurukan. Tentu saja, dengan kemampuan terbatas yang dimilikinya sebagai manusia.
”Lira ...”
Kenan memanggil Lira hingga Lira ragu-ragu mengangkat kepalanya melihat ke arah Kenan.
”Kakak bisa membantumu melawan Raja Monster dan Raja Iblis.”
Tiga orang dewasa di sana mengernyitkan dahinya karena tidak paham apa yang dimaksud oleh Kenan. Namun, Lira tiba-tiba menatap tajam ke arah Kenan dengan perasaan ingin tahu.
”Kakak kenal dengan Raja Monster dan Raja Iblis?”
”Tentu saja!”
Semua orang di ruang tamu itu pun bengong, bagaimana Lira yang baru mengenal Kenan bisa mau mendengarkan pemuda itu.
***
Cerita Tambahan.
Kenapa Lira begitu kaget dengan kata-kata Kenan? Hal itu karena ada satu rahasia Lira di catatan diary pribadinya. Dan, hanya dia yang tahu. Lira menyebut dua pembully yang selama ini selalu mengejek dia dengan sebutan Raja Monster dan Raja Iblis di buku hariannya, hingga dia berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan malaikat yang bisa memberinya cara mengalahkan Rasya dan Rania, dua siswa kembar yang selalu mengejeknya kurus.
Lira tidak tahan dan akhirnya tidak pernah masuk sekolah lagi. Itulah kenapa, dia kaget seorang pemuda memberinya cara untuk mengalahkan Raja Monster dan Raja Iblis.
Jadi begitulah ceritanya.
***
Cerita Tambahan.
Sebulan yang lalu, tepat saat Sadewa bangun dari komanya selama tiga tahun. Dia membuka matanya dan melihat seorang wanita tua duduk di samping ranjangnya.
”Ibu ...” suara Sadewa lirih.
Sang Ibu, Nia kaget dan tak percaya melihat puteranya membuka matanya. Dia tertidur sambil mendoakan anaknya itu agar bisa bangun setelah koma beberapa tahun. Dan, doanya terkabul.
”Sadewa! Sadewa!” Wanita tua itu segera bangun dan memegang pundak puteranya. Kemudian, dia berteriak-teriak memanggil dokter hingga seorang perawat datang. Perawat memanggil dokter dan dokter memeriksa keadaan Sadewa.
Dokter mengatakan pada Ibu Nia bahwa puteranya sudah bangun dan dia butuh istirahat sejenak. Sang Ibu izin keluar dan membiarkan dokter memeriksa Sadewa lebih intensif.
”Kamu tahu, tuan Sadewa. Selama tiga tahun, Ibumu selalu menunggumu di sini dan seringkali aku melihatnya menangis. Dia menyesal mendoakanmu lebih baik tidur saja sehingga dia bisa dekat denganmu.”
Sadewa meneteskan airmatanya. Dirinya dikutuk menjadi makhluk lain di dunia sihir. Hal itu karena, dia tak pernah datang sama sekali menemui ibunya. Terlalu sibuk dan lupa pada ibunya, bahkan dia membuang cincin pemberian ibunya.
Sadewa berjanji, selama hidupnya, dia akan membuat ibunya tersenyum. Dia teringat kata-kata pemuda yang menjadi makhluk panggilan di dunia tempatnya dikutuk. Apabila seorang ibu tersenyum, maka dunia sedang baik-baik saja.
Jadi, tersenyumlah dan buat ibumu tersenyum. Sekian dari Penulis, mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung. Jumpa lagi di cerita selanjutnya dan dukung saya agar lebih produktif menulis lagi ya, terima kasih.