Aku Datang, Aeera!

Tangis Bahagia

”Tolong panggil aku lagi Aeera! Tolong panggil aku lagi, kumohon ...” sudah berapa kali Kenan mengatakan hal itu. Dia gemetaran, berpindah dari satu sisi di kamarnya ke sisi yang lain. Dia pindah dari pojok kamar, lalu pindah lagi di kursi, di kamar dan berputar berjalan kesana dan kemari.

Dia melihat ke jendala, menunggu adanya halilintar menyambar. Dia bahkan sangat ingin agar halilintar itu segera datang. Tak peduli apapun!

”Apakah itu semua hanya mimpi?” Kenan memejamkan matanya, jika hanya mimpi. Kenapa terlalu nyata untuk dapat dikenang. Wajah itu, wajah yang sangat cantik dan lugu milik Aeera. Sebelumnya, Kenan berdoa pada Tuhan agar ada orang dari dimensi lain atau dunia manapun yang memanggilnya dan membawanya pergi dari dunianya.

Tapi, sudah satu minggu, tidak ada lagi keajaiban mimpi itu. Tidak ada lagi tentang sihir panggilan! Apakah memang itu hanya mimpi?

Internet!

Kenan mencari tahu semua hal tentang sihir pemanggilan, bisa jadi dunia itu benar-benar nyata dan ada di dunia ini. Sebelumnya, Aeera mengatakan bahwa itu adalah bumi. Apakah ada di belahan bumi yang sekarang ditempati oleh Kenan adalah sebuah tempat yang tersembunyi di suatu negara terpencil?

Kenan mencari semua kata tentang witch, sihir, necrokap atau necromancer, multiverse. Semua teori tentang apapun dicari di internet. Tidak pernah dalam hidup Kenan bersemangat mencari sesuatu informasi baru seperti saat ini. Tangannya terus mengetikkan apapun tentang sihir pemanggilan dan juga apapun yang berhubungan dengannya.

Dia membaca semuanya, dia melihat sebagian besar hanyalah orang yang tidak percaya dan semuanya hanyalah bualan orang-orang yang berhalusinasi. Sihir yang aneh, kota yang dipenuhi penyihir. Makhluk jadi-jadian seperti werewolf dan vampire. Semua hal mistis dipelajari oleh Kenan.

Semua hal tentang dunia fantasi, makhluk mitologi. Celah dimensi, reinkarnasi, portal waktu. Time traveller pun tak lepas dipelajari oleh Kenan. Jadi ..., Kenan mulai gila dengan semua itu dan dia terus mencari informasi.

Kenan diam dan tidak berteriak lagi, hingga ada suara yang memanggil dari luar pintu.

” Kenan! Kenan..., kamu harus makan meskipun sedikit. Ibu sudah mengganti makananmu tiga kali dan kamu belum menyentuhnya Nak!” kata bu Ghina.

Ghina telah menaruh makanan dan menggantinya tiga kali, namun sore itu semua makanan hanya dibiarkan saja dan ini sudah pulul 20.00 WIB malam.

Kenan baru menyadari bahwa ini sudah malam hari. Dia tak menyangka kalau dia sudah terdiam sangat lama di dalam kamarnya. Tanpa terasa dan hanya mencari informasi aneh tentang sihir dan dunia fantasi.

Kenan mulai menggerakkan tubuhnya dari kursi di depan layar laptopnya. Dia berdiri dan perlahan mendekati pintu. Tangannya gemetaran, setiap kali menyadari keberadaannya di dunia ini. Dia merasakan tubuhnya gemetar dan tak berani keluar dari kamarnya. Semua seperti makhluk besar yang ingin memakannya dan menertawakannya.

Dia tak tahan akan semua hal itu. Namun, dalam ketidakberdayaannya itu, dia teringat masih memiliki seorang Ibu yang tak pernah meninggalkannya. Dia menempelkan telapak tangannya ke daun pintu. Dia melihat kalau Ibunya masih di luar pintu, terlihat kakinya dalam bayangan di bawah lubang pintu bawah.

Ibu masih bertahan, dengan segala ketidakberdayaan yang dialami Kenan. Ibu yang paling mengerti dan tidak mau dirinya merasa sendiri. Ibu!

Jari telunjuk Kenan bergerak mundur, gemetaran dan dia melakukan hal itu. Dia mengetukkan ujung telunjuknya ke pintu tersebut

Tuk!

Ibu Ghina di luar yang menahan tangisnya. Dia menempelkan keningnya pada pintu itu karena kesedihan yang tidak bisa ditanggung oleh seorang Ibu yang pernah mengangdung anak satu-satunya. Perasaan Kenan dan kebahagiaan puteranya itu adalah hidup itu sendiri. Dia hanya ingin anaknya bisa bangkit dari keterpurukannya.

Ghina sedikit kaget, apakah dia salah mendengar dan merasakan? Dia baru saja mendengar suatu bunyi menekan pada daun pintu. Apakah itu puteranya? Apakah dia sedang berada di balik pintu? Ghina ingin dalam hidupnya bisa mendengar curhatan Kenan kembali.

Sudah lama sekali, Ghina kehilangan suara puteranya itu kecuali hanya saat dia berteriak-teriak di kamarnya karena merasa frustasi. Dia pasti mengingat dengan baik ejekan dan juga perundungan yang didapatkannya saat sekolah.

Ghina menghapus airmatanya lagi, dia menahan agar tidak bersuara namun Kenan mampu merasakan bahwa Ibunya sedang menangis di luar pintu itu. Kenan merasa tak berdaya, dia menyentuhkan keningnya ke pintu juga, persis seperti yang Ibunya lakukan.

Tangan Kenan bergerak kembali, kali ini dia harus bisa melakukannya. Dia akan membuat Ibunya tidak bersedih lagi dan akan memakan makanannya.

Benar!

Kenan menarik jari telunduk dan jari tengah ke belakang. Dan, dia melakukan perubahan besar selama beberapa tahun ini. Dia mengetuk pintu itu dengan cukup kuat sebanyak tiga kali dengan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.

Tuk! Tuk! Tuk!

Di luar pintu, airmata bahagia tak bisa lagi dibendung oleh bu Ghina. Dia mampu merasakan bahwa anaknya sudah mau mendengarkannya. Bu Ghina yakin bahwa itu adalah tanda bahwa Kenan akan keluar dan mengambil makanannya. Namun, dia masih belum bisa berkata apapun dan hanya bisa memberi tanda.

”Kenan! Ambil makananmu, Ibu akan pergi. Kamu makanlah, Ibu tak akan mengganggumu lagi,” suara lembut Ibunya disertai isak kebahagiaan. Dia bergerak dan mengusap airmatanya dan meninggalkan kamar puteranya itu. Langkah kakinya mampu didengar oleh Kenan.

Beberapa hitungan detik kemudian, Kenan membuka pintunya dan mengambil piring makanan serta mengambil air minum. Gemetar dia mengambilnya dan masuk kembali sambil menutup pintu dan menguncinya kembali.

Airmata Kenan tak bisa ditahan, dia bisa melakuakn satu kemajuan. Dia sangat bahagia meskipun dia melakukannya dengan seluruh kaki dan tangannya gemetaran. Dia menangis, meneteskan airmata yang bisa ditahan. Tak bisa diceritakan bagaimana bahagianya dirinya bisa membuat Ibunya bahagia meskipun hanya dengan ketukan jarinya.

Itu luar biasa bagi Kenan.

Kenan makan dengan lahap, sambil meneteskan airmatanya dan airmata itu menetes bercampur dengan nasi dan lauk makanannya. Dia tak peduli, dia terus makan saja sambil terus meneteskan airmata. Sesekali, dia mengusap airmatanya tak peduli apapun lagi.

Kemajuan pertama yang dilakukannya, dia melakukannya dengan baik! Melawan ketidakberdayaannya dengan memberikan tanda pada ibunya, bahwa dia mendengarkan Ibunya. Di ujung lorong sana, Ibunya menangis bahagia dan tak henti meneteskan airmatanya. Dia bahkan sangat bahagia dan kembali membuat kue sambil terus tersenyum.

Kenan, kamu pasti bisa bangkit!

Di saat Kenan sedang makan dengan lahap, dia menggunakan sendoknya. Dia masih saja menangis dan meneteskan airmata. Dia makan dengan lahap, segelas minuman. Dia sangat haus, haus sekali!

Saat tangannya hendak hendak menggapai gelas berisi minuman di meja kamarnya.

JEGLEEERRR!

Halilintar menyambar tubuhnya, saat dirinya sedang makan dan juga cahaya yang tak punya celah. Semua bercahaya dan jiwa Kenan tersedot dengan kuat.

Tidak! Jangan sekarang! Aku sedang makan, dan aku haus!

Splash!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!