Andai Tiada Mertua
Tuduhan Aisyah
"Kamu! Ngapain di sini?" tanya Afnan pada Aisyah yang duduk sambil mengangkat kakinya di sofa.
Aisyah gelagapan, dia langsung menghambur masuk ke kamar Iwana. "Maaaaa!"
Afnan tersulut emosi, dia belum mengizinkan mantan iparnya itu tinggal satu atap dengan mereka sebab Aisyah masih memiliki orang tua. Ziya berusaha menenangkan suaminya saat Iwana muncul dari dalam.
Wanita paruh baya itu berdiri di depan kamar, siap membela menantunya.
"Ma!" keluh Afnan sembari menarik napas berat. Dia mulai bosan dengan sikap Iwana yang seenaknya.
"Mereka tinggal di sini. Titik!" Iwana berkata dengan wajah serius, sambil bersedekap di depan dada.
Ziya berkali menarik pelan lengan Afnan. Dia tak ingin suaminya stres karena tekanan sana sini. Rupanya sang suami peka, Afnan pun menyerah karena kode dari istrinya.
"Serah, deh. Tapi, dia bukan tanggung jawabku," ucapnya melenggang pergi menggandeng tangan wanitanya ke atas.
Karena kehadiran Aisyah, Afnan enggan bercengkrama di ruang keluarga. Dia mulai merencanakan mendekor ulang kamarnya dan melengkapi dengan beberapa furniture tambahan agar mereka tak perlu sering turun ke bawah.
Dia belajar dari masa lalu. Jangan sampai Ziya tertekan dan malah menjadi bulan-bulanan keduanya nanti.
Keesokan pagi, seperti biasanya Ziya menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah. Kali ini, dia juga membuat bekal untuk Arman-putra Aisyah atas permintaan Afnan.
Tidak ada komplain dari Iwana seperti kemarin. Situasi kondusif sampai Afnan berangkat kerja dan Ziya merapikan ruangan itu kembali.
Beberapa jam berlalu, saat Ziya turun ke lantai dasar, hendak ke kampus untuk urusan administratif lainnya. Aisyah mencegah langkah di nyonya muda.
"Ziya, mau kemana? sekalian jemput Arman ya," pinta Aisyah yang tengah asik menonton telenovela.
"Aku hanya mengikuti perintah suamiku. Silakan izin pada Mas Afnan lebih dulu," balas Ziya, berhenti sejenak sambil melihat ke arah sofa.
"Kamu lah yang izin," sahut adik ipar Afnan chairi. "Kan kamu istrinya."
"Dan Mbak adalah Ibu Arman. Sudah jadi kewajiban sebagai orang tua," kata Ziya, menuju dapur mencari Iroh untuk pamit.
Iroh muncul dan terkejut saat Ziya menyalami tangannya untuk salim. Dia merasa tak pantas, apalagi ketika melihat lirikan sinis Aisyah padanya.
"Nggak ada uang bensin, minta," ucap Aisyah menyodorkan tangan kala Ziya melintas.
"Kata Mas, Mbak itu bukan tanggung jawabnya," pungkas Ziya meninggalkan iparnya.
Aisyah melotot. "Ziyaaaa!" serunya tapi tak di gubris kakak iparnya itu.
Iroh sedikit heran, sebelum pergi Iwana sudah memberikan uang bensin juga jatah jajan untuk satu pekan padanya.
Asisten paruh baya itu lantas bertanya pada Aisyah. "Bukannya tadi sudah ya, Mbak?"
"Diam kamu!" sergah Aisyah seraya beranjak dari sana, menuju kamar dengan menghentakkan kaki.
Seperti kemarin, pasangan Chairi memasuki hunian setelah separuh hari mereka habiskan diluar. Namun, alangkah terkejutnya Ziya kala sang asisten rumah tangga menghampiri dengan tergesa-gesa.
"Kenapa, Mbak?" tanya Afnan melihat Iroh panik.
"Arman, demam tinggi. Saya sudah telepon mbak Aisyah tapi tidak aktif. Nak Arman nggak mau makan dan minum," katanya. Wajah Iroh terlihat pias tanda dia ketakutan.
Iroh juga mengatakan bahwa Iwana belum pulang dari toko, mungkin masih di jalan sebab saat dia menelpon, tidak diangkat meski tersambung.
Ziya gegas menuju kamar Arman. Bocah itu menggigil hebat. Afnan membantu dengan melepas semua pakaian Arman lalu mengusap badan kemenakannya menggunakan handuk lembab yang Iroh bawa.
"Mana yang sakit, Sayang?" tanya Ziya lembut saat tubuh kecil itu mulai tenang.
"Ini, Onty." Dia menunjuk dada dan perutnya.
Atas saran Afnan, Ziya membalur obat gosok ke punggung dan dada Arman. Keduanya menunggui bocah kelas satu SD itu dengan sabar meski azan Maghrib mulai terdengar.
Tiba-tiba, suara gaduh langkah kaki mendekat. "Ziya! kamu apakan anakku?" sergah Aisyah menarik bahu kakak iparnya.
Arman yang semula tenang kembali terjaga, dia menangis, takut akan kemarahan ibunya.
"Kamu ini, datang-datang bukannya bilang makasih malah nuduh!" sindir Afnan, sambil bangkit berdiri.
"Arman mual dan demam tinggi saat kami tiba, aku juga nggak tahu kenapa," balas Ziya membela diri tak terima menjadi tertuduh.
"Anakku nggak terbiasa sarapan begituan. Apalagi bawa bekal. Jangan-jangan anakku keracunan, awas ya Ziya, kalau sampai kenapa-kenapa dengan Arman," ancam Aisyah menatap tajam Ziya. Dia bersiap menggendong Arman ke dokter.
"Kenapa lagi ini? Ziya?" Suara Iwana tiba.
"Kok aku? dia yang mulai, Ma," tunjuk Ziya pada Aisyah.
"Bohong, Ma!" seru Aisyah tak kalah geram sembari mendekap Arman.
Iwana masih berdiri diambang pintu, menatap mereka bergantian.
Kali ini, Afnan yang bicara. Dia menjelaskan situasi tersebut dan diperkuat oleh pengakuan Iroh.
Namun, tampaknya Aisyah tak puas. Dia kesal dengan Ziya yang bersikap sok pagi tadi. Aisyah mulai mencari-cari kesalahan Ziya.
"Ini semua gara-gara sarapan dan bekal dari Ziya. Anakku anti makan begituan," tuduh Aisyah lagi.
"Memang kamu tahu, Arman sarapan apa setiap pagi, Ais?" Iwana bertanya balik pada menantunya.
Aisyah mendelik ke arah sang mertua, dia merasa disudutkan. "Mama 'kan tahu kebiasaan Arman. Yang jelas bukan menu macam tadi pagi," sergahnya lagi.
Lewat tatapan matanya, Ziya meminta Afnan tetap diam. Dia ingin mendengar ocehan kedua wanita ini terhadapnya.
"Kamu sudah tanya pada anakmu, hari ini makan apa saja. Lagipula jika menu di sini bermasalah, semua pasti mengalami hal seperti Arman," cecar Iwana kali ini membela Ziya.
"Gimana mau tanya, Arman gemetaran gini, Ma," elak Aisyah mempertahankan pendapatnya.
"Lalu, bagaimana bisa kamu timpakan tuduhan pada istriku? jangan ngadi-ngadi, Ais," balas putra sulung Iwana sengit melihat ke arah Aisyah.
Iwana memijat pelipisnya. Dia mendekati Arman dan meletakkan punggung tangannya di dahi si bocah.
Sang mama juga meminta pada Afnan agar mentransfer dana untuk kebutuhan pokok ke rekeningnya. Kejadian ini membuat Iwana merasa harus turun tangan langsung sebab tidak ada yang becus mengurus pekerjaan rumah tangga.
Afnan menolak. "Biar Ziya yang mengurusi semua kebutuhanku. Mama cukup duduk menikmati apa yang kumiliki, oke?" bujuk Afnan, sebisa mungkin meminimalisir gesekan antara dirinya, Ziya dengan Iwana.
Iwana menatap tajam Ziya bergantian dengan putranya. "Buktinya istrimu nggak bisa memenuhi kepuasan seisi rumah. Gimana mau adem ayem tentrem kalau kisruh melulu setiap hari," ucap sang bunda.
Afnan melihat ke arah istrinya. Ziya tersenyum samar seraya mengangguk. Putra Chairil akhirnya menarik napas panjang, lagi-lagi harus mengalah.
"Tapi jangan larang Ziya untuk memasak apa yang kuminta. Kalian tidak berhak mengatur seleraku," tegas sang pemilik hunian.
"Pemborosan itu namanya, Afnan," keluh Iwana kemudian, seakan tak terima keputusan putranya.
Afnan kembali menghela nafas. "Begini saja ... karena selera kita berbeda, mulai besok, kamu siapkan sarapan Arman sendiri. Aku tak mengizinkan Ziya meladeni keperluan kamu." Dia melihat ke arah Aisyah.
"Dan untuk Mama, terserah," pungkas Afnan pada Iwana, sembari menarik pergelangan tangan Ziya dan meninggalkan ruangan itu.
Aisyah gusar, dia melayangkan protes pada Afnan. Lelaki itu pun berbalik badan lalu berjalan ke arah Aisyah. Jelas tersirat ketakutan di wajah Aisyah saat Afnan mencondongkan tubuhnya seraya berbisik, " ...."
"Afnan!"
.
.