Andai Tiada Mertua

Persekongkolan 2 Sahabat

Keesokan pagi, wanita yang telah sepakat bertemu kemarin langsung bercengkrama di sebuah meja yang terletak di sudut cafe.

 

Salah satu dari mereka tak sabar mendengar kisah tentang kisruh saat Iwana mengenalkan Shakira, sampai berhasil membuat Ziya pergi.

 

Sang wanita juga menceritakan hasil memata-matai kediaman baru Afnan. Tak lupa menyampaikan bahwa dirinya bertemu pasangan Chairi di rumah sakit.

 

"Jadi apa rencanamu, Yaz?" tanya Aisyah sembari menyeruput iced coffee miliknya.

 

"Ke dukun minta pelet atau pengasihan biar Afnan luluh lagi," kekeh Yasmin, menjeda kalimatnya karena menyesap soda float miliknya. "Kamu ada ide?" 

 

"Menurutmu, Ziya atau Shakira dulu yang harus kita eksekusi?" ujar Aisyah, menimbang keinginan Yasmin.

 

"Ziya dulu, lah. Shakira masih gampang. Mama nggak akan kebablasan selama wanita itu masih bertengger di sisi Afnan," ujar Yasmin lagi.

 

Yasmin pun membisikkan rencana yang akan mereka lancarkan. Aisyah mengangguk berseri. Namun, dia mengeluhkan tentang keamanan dirinya. Belum lagi, jika Afnan tahu maka jaminan masa depan Arman bisa dicabut pria itu.

 

Yasmin mengerti isi hati wanita matre di hadapannya. Dia memberikan sebuah cek dengan periode pencairan sesuai kesepakatan.

 

Dua jam mereka menghabiskan waktu bersama sebelum keduanya berpisah. Sepanjang perjalanan pulang betapa Aisyah membayangkan akan menempati hunian lamanya dengan Arman.

 

Dia juga berencana akan lebih gencar mendekati Iwana agar toko material milik sang mertua diwariskan padanya kelak.

 

"Arman, maafin bunda ya nggak bisa fasilitasi kamu seperti dulu. Uwa hanya membantu kebutuhan utamamu ... sehingga ibumu ini malu jika ke sekolah tak dapat lagi membaur dengan para genggong," gumam Aisyah, mengusap foto Arman dan Arif yang dia jadikan wallpaper gawainya.

 

***

 

Dua hari kemudian, setelah pulang dari bimbel, pasangan Chairi kembali ke rumah sakit untuk mendengarkan penjelasan dokter.

 

Saat masih menunggu antrian, Afnan tanpa sengaja melihat seseorang di sana. Dia berniat mengajak Ziya menghindar, tetapi gerakannya yang tiba-tiba justru mengundang perhatian beliau.

 

Pikiran Afnan buntu, ruang geraknya sempit sehingga sulit mengelak. "Zie, masih pake headset?" bisiknya menepuk bahu sang istri.

 

Ziya yang sedang fokus nyambi mengerjakan tugas kuliah pun menoleh sekilas lalu mengangguk.

 

"Mas!" panggil seorang wanita saat mengenali sosok yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. "Afnan!" sebutnya seraya mendekat.

 

Wanita cantik yang kini merubah style hijab, semringah saat berdiri di depan pasangan Chairi. Ada rasa bahagia menyelinap dalam lubuk hati Yasmin, dapat berjumpa lagi dengan Afnan.

 

Afnan acuh saat Yasmin memilih duduk di hadapan mereka. Jemarinya menarik ponsel dari saku celana lalu membuka aplikasi game. 

 

"Hai," sapanya ramah, tak melepas pandang pada gadis yang sedang serius menatap gawai.

 

Lelaki yang mengenakan outfit serba abu selaras dengan setelan Ziya siang itu lantas memasang headset. Dia berusaha tenang meski otaknya curiga dengan keberadaan Yasmin saat ini.

 

Yasmin tersenyum samar, memperhatikan gerak gerik Ziya. Sesekali tatapan mereka bertemu. Putri Salamah lama-lama merasa rikuh. Dia menarik Afnan menjauh dari sana.

 

Ziya seakan familiar dengan wajah wanita tadi, ingin bertanya pada sang suami tapi sungkan sebab tatapan gadis itu seolah membuntutinya. Dia berinisiatif mengirimi Afnan pesan.

 

["Mas, gadis itu ... ehm, mbak yang tadi kok liatin aku terus?"]

 

Afnan melihat pop-up notifikasi pesan muncul di layar atas. Dia tak membukanya langsung sebab nama Ziya dipanggil suster.

 

Ziya berjalan anggun di depan Afnan. Hijab panjangnya menjuntai membuat siluet tubuh dibalut setelan blazer abu tua itu nampak jelas terlihat. Sosok ayu itu kian memancing perhatian Yasmin.

 

"Ck, body goals, cantik alami," gumamnya, masih mengikuti langkah Ziya. Fokus Yasmin pecah kala suster memanggil namanya di poli sebelah.

 

Saat dirinya keluar dari ruangan dokter, tak lagi dia dapati pasangan tadi. Yasmin pun melanjutkan langkah menuju instalasi farmasi.

 

Rupanya Afnan lebih dulu selesai, Yasmin melihat keduanya saat akan menuju eskalator turun. Ingin menyusul pun percuma, jarak mereka terlalu jauh.

 

"Paling nggak, aku tahu wujud istri Afnan dari dekat," lirihnya sembari menyunggingkan senyum.

 

Tak lama, Yasmin pun selesai. Dia berjalan tergesa menuju parkiran sambil memasukkan vitamin yang baru ditebus tadi. Sayang, benda itu jatuh dan ditemukan seseorang yang berjalan di belakangnya.

 

"Mbak, maaf, obatnya jatuh," seru si penemu.

 

Yasmin menoleh dan terkejut ketika melihat sosok yang menegurnya barusan.

 

"Lah! ... Naufal!"

 

"Khan! Yasmin Khan?!" kekeh sang pria, sembari menyugar rambutnya.

 

"Ya ampun, ketum BEM dah jadi dokter aja. Dinas di sini?" tanya Yasmin seraya menyalami kawan kuliahnya ini.

 

"He em." Angguknya antusias. "Vitamin hormon? Lagi program?" selidik sang dokter sambil menyerahkan strip obat tersebut.

 

Yasmin hanya mengangguk, tak lupa mengulas senyum manisnya. Mereka pun berbincang sejenak hingga pembahasan itu sampai pada topik yang ingin Yasmin ketahui.

 

Sang dokter menolak secara halus sebab berkaitan dengan kode etik profesi. Hanya saja, memori lama mereka membawa Naufal pada titik ... setuju membantu Yasmin.

 

"Nanti kukirim namanya, ya. Do you're best!" pungkas Yasmi, diangguki oleh Naufal. 

 

Kedua insan yang pernah terpaut kisah di masa lalu itu akhirnya berpisah. 

 

Sementara itu, ditempat lainnya. Pasangan Chairi saling menautkan jemari semenjak keluar dari rumah sakit. Sungguh Afnan tak menduga hal seperti ini akan menimpa mereka.

 

Ziya sedari tadi hanya diam. Ketika tiba di rumah pun, wanita ayu itu masih bungkam. Sedangkan Afnan dilanda gelisah, bagaimana memulai obrolan sensitif tapi tetap santai.

 

Hingga jelang tengah malam, keduanya masih belum memejam. Namun, sejurus itu suara Ziya terdengar meski bernada lemah.

 

"Apa kita balik ke rumah aja, Mas?" cicit Ziya, memunggungi Afnan seiring tarikan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

 

"Nggak!" ketus Afnan. "Justru pengobatan ini bisa gagal bila salah satu dari kita stres." Dia menoleh ke arah Ziya, batinnya ikut sakit melihat kesabaran sang istri selama ini.

 

Ziya mulai terisak, pikirannya carut marut menduga bahwa mungkin ini adalah tulah, akibat karena membangkang pada Iwana.

 

Afnan beringsut, menarik Ziya dan mendekapnya erat. Hatinya pun belum merasa tenang sehingga ide ikut buntu. Dia hanya mampu menenangkan dengan sentuhan seperti ini.

 

"Sayang. Kita coba aja dulu saran dokter, gimana?" bisik Afnan, sambil menghela napas. 

 

"Iya. Tapi, kita juga harus minta maaf ke mama, Mas," cicit Ziya di sela isakan halusnya.

 

"Nggak sekarang. Kalau Mama neror kamu lagi gimana?" balas Afnan pelan. "Aku yakin kamu cuma diam nanti."

 

Ziya tak dapat menjawab. Bayangan ekspresi wajah Afnan yang kecewa, marah, kesal dan putus asa mulai menghantui. 

 

Afnan tak melepas pelukannya sampai fajar menjelang. Dia bahkan tidak pergi bekerja dan Ziya pun melakukan hal serupa. 

 

Mereka butuh ketenangan pikiran dan keterbukaan dalam memilih metode pengobatan nanti. Komitmen untuk tetap teguh, sadar akan risiko dalam menjalani proses yang panjang pun harus disepakati berdua.

 

"Mas," 

 

"Ya, Sayang." 

 

"Ehm ... aku masih rumahnya Mas, 'kan?" 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!