Andai Tiada Mertua

Mamaz

Fawwaz masih menunggu Aisyah. Di balik wajah tenangnya, senyum itu seperti hendak melompat dari bibirnya. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia sembunyikan, bercampur geli melihat ekspresi malu-malu dari wanita di hadapannya.

Aisyah melirik sekilas, lalu buru-buru menunduk lagi. Gerak kecil itu justru membuatnya semakin manis di mata Fawwaz. Ingin rasanya Fawwaz menjawil pipinya—astaga, bisa-bisanya dia naksir wanita seimut ini.

"Ma—..." Aisyah mengangkat wajah, nyaris berkata, tapi segera mengatupkan mulutnya lagi saat tatapannya bertemu mata Fawwaz. Sontak ia menunduk, wajahnya merona.

"Aku sabar menunggu, kok...." Fawwaz menimpali dengan senyum yang hampir membelah wajahnya.

Aisyah menarik napas dalam, menegakkan duduk, lalu memejamkan mata sejenak seperti mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Mamaz ... ajah," ujarnya tegas, lalu berdiri cepat. "Ke toilet dulu, ya!" tambahnya, kabur dengan wajah merah padam.

Tawa Fawwaz pecah, ringan, bahagia, dan tidak bisa ditahan. Matanya mengikuti langkah Aisyah yang menjauh, seolah tak mau kehilangan momen sedikit pun. Bahkan saat Aisyah menghilang di balik tembok, senyumnya masih melekat.

Beberapa saat kemudian, Aisyah kembali ke meja. Wajahnya lebih segar, langkahnya lebih mantap. Dia duduk tenang, meski rona merah belum sepenuhnya pergi dari pipinya.

"Eheem ... Selamat makan," ucapnya, lalu langsung mengambil sendok.

Fawwaz hanya mengangguk dan mempersilakan dengan gerakan tangan. Mereka makan dalam diam, tapi bukan diam yang canggung—melainkan yang penuh degup tak terucap.

Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Fawwaz bertanya dengan nada polos.

"Mamaz, itu artinya apa?"

Aisyah sedang merapikan isi tasnya. Mendengar pertanyaan itu, dia mendecak pelan, lalu melirik sebal tapi manja. "Masa nggak ngerti?" ucapnya datar.

Fawwaz menggeleng cepat, memasang wajah polos. "Nggak."

Aisyah berdiri, memutar badan hendak pergi, lalu menoleh sebentar. "Mas Fawwaz," katanya singkat, meninggalkan pria itu dengan jantung berdebar.

Fawwaz terpaku sejenak. Lalu senyumnya melebar. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta, dia meraup wajahnya sendiri, menggenggam tangan di udara dan memejamkan mata. “Yes!” nyaris berjingkrak dan berteriak, tapi keburu sadar bahwa suasa a kafe sedang ramai.

Dia kemudian menyusul Aisyah—sang kekasih yang belum resmi, tapi sudah mengubah ritme harinya.

***

Empat Bulan Kemudian.

Di halaman belakang rumah Iwana, tenda kecil didirikan. Tirai putih dan hiasan bunga mawar putih dipadu baby breath memberi sentuhan lembut pada acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Ziya. Hawa sore itu hangat, ditemani suara pelan lantunan doa yang baru saja selesai dibacakan.

Ziya duduk bersandar di kursi kayu lebar, perutnya yang membesar dilapisi kain batik halus, senyumnya mengembang penuh syukur. Afnan duduk di samping, menatap Ziya dengan mata tak lepas. Tangannya tak pernah jauh dari bahu istrinya—melindungi, menjaga.

"Istirahat saja, jangan banyak berdiri," bisik Afnan penuh perhatian dan dibalas senyuman manis Ziya.

Iwana, yang biasanya keras dan penuh protes, kini justru sibuk mengatur posisi duduk Ziya. Dia mengipas pelan, mengingatkan untuk minum, bahkan menolak tamu yang ingin terlalu lama mengobrol. Sikap itu tak luput dari pengamatan Salamah, yang menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca.

“Ziya sudah bahagia sekarang,” bisiknya lirih, menatap putrinya dengan doa yang terus-menerus mengalir dalam hati.

Fawwaz terlihat menggendong Arman yang rewel, berkeliling dengan sabar. Sesekali Aisyah menghampiri, mengelus kepala Arman yang mulai tenang. Putranya agak kurang nyaman berada di keramaian dalam waktu terlalu lama. Namun, berkat Fawwaz, Arman merasa aman dengannya. Mereka saling melempar senyum kecil, sederhana tapi hangat.

Di sudut taman, Fawwaz memangku Arman yang sedang tertawa melihat balon terbang ke langit. Aisyah datang bersama ibunya dan duduk agak jauh, memilih mengamati suasana yang syahdu. Pandangannya beberapa kali jatuh pada Fawwaz yang tengah membetulkan sandal Arman dengan sabar.

Aisyah tersenyum tipis. "Yang sabar ya, Mamaz," gumamnya.

"Lucu ya, lihat mereka," komentar ibunya.

Aisyah mengangguk pelan. "Tenang ... kayak bukan dia yang biasanya tegas dan disiplin."

Tak jauh dari situ, Yasmin muncul perlahan di pintu halaman bersama ibunya. Mereka diundang oleh Iwana karena tak enak hati berada dalam grup arisan yang sama.

Yasmin mengenakan kerudung tipis dan gamis longgar. Tubuhnya tampak lebih kurus, wajahnya pucat, tapi senyum yang tersungging tetap lemah-lembut seperti biasanya. Beberapa tamu sempat terdiam melihat kehadirannya.

Aisyah segera menghampiri, menyambut Yasmin dengan pelukan singkat lalu menggandengnya mendekati Ziya.

"Assalamu’alaikum, Ziya," sapa Yasmin pelan. "Selamat ya ... semoga selalu sehat, kamu dan bayinya," ujarnya lembut sembari mengulas senyum tipis. 

Ziya tersenyum lembut, menatap Yasmin penuh rasa campur aduk. Sedang sakit tapi tetap cantik dan tidak kehilangan pesona, batinnya. Tapi ia mengangguk. “Aamiin. Terima kasih sudah datang, Mbak Yasmin.”

Yasmin hanya membalas dengan senyuman kecil, lalu pamit singkat. Dia memaksakan datang padahal kondisinya sedang tidak begitu baik. Rasanya tak lagi sama menjalani hidup setelah operasi besar kemarin, dia ingin memanfaatkan sisa waktunya sebaik mungkin.

Saat Yasmin hendak keluar, Salamah menyusul mereka. Dia menggenggam tangan Yasmin dan berkata pelan, “Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, dan kelimpahan hal baik menyertai langkah kalian," ucapnya lembut, diikuti senyum tulus dan sorot mata teduh, khas miliknya.

Yasmin menunduk, hampir menangis, lalu pergi dengan meminta ibunya memapah.

Di dalam, Afnan memandangi punggung Yasmin yang menjauh. Dia lalu menggenggam tangan Ziya yang berada di sampingnya.

“Sayang ... aku ingin minta maaf pada Yasmin dan ibunya, bukan karena aku merasa harus, tapi karena aku nggak mau meninggalkan beban apapun di belakang.” Afnan menelisik ke wajah Ziya, mencari izin dari sorot matanya.

Ziya hanya menatap, lalu mengangguk perlahan. “Aku ngerti, Mas. Pergilah.”

Beberapa saat kemudian, Afnan mengejar Yasmin di luar pagar. Dengan suara rendah dan mata jujur, ia berkata, "Terima kasih sudah datang. Aku nggak akan pernah bisa menghapus kenangan yang dulu ada ... tapi aku juga mendoakan yang terbaik buat kalian. Aku nggak minta apa-apa, cuma ingin kalian hidup lebih baik.”

Yasmin hanya diam, menatap Afnan, lalu mengangguk sekali. "Semoga kamu juga bahagia seterusnya, Mas."

Ibu Yasmin hanya menunduk, lalu kembali memapah putrinya. Aisyah pun menyusul mereka, memastikan Yasmin sampai ke mobil dengan baik.

Hari itu berakhir dengan syukur yang melingkupi hati semua yang hadir. Langit senja menutup acara dengan kehangatan yang tak terucap, menyisakan pelukan kecil, senyum damai, dan cinta yang, pelan-pelan, menemukan jalannya masing-masing.

***

Sementara itu, di dapur belakang, Fawwaz menghampiri Iwana yang sedang duduk meneguk minuman dingin. Tangannya gemetar saat menyodorkan kotak kecil beludru biru tua.

"Bu, ini ... saya ingin minta restu. Saya ingin melamar Aisyah, kalau Ibu berkenan." Fawwaz berdiri kaku.

Iwana menatapnya lama, lalu tersenyum kecil." Kau yakin siap untuk mencintainya ... dengan seluruh kisah yang ia bawa?" katanya pelan. Iwana melihat usaha Fawwaz mendekati Aisyah tidak tergesa-gesa, dia masuk perlahan melalui Arman.

Fawwaz mengangguk mantap. "Saya bahkan siap menerima kalau kisah ini cuma jadi pelengkap kisah dia."

Iwana mengelus kotak itu dan menatapnya teduh. Dia mengangguk pelan, dan melirik ke arah taman, isyarat untuk sang Wakasek sebab di sana orang tua Aisyah masih bercengkrama dengan keluarganya. Kesempatan bagus untuk Fawwaz meminta restu mereka sebagai wali sah Aisyah.

Tak lama, ponsel Afnan bergetar. Dia mengabaikannya tapi Ziya meminta Afnan agar mengangkatnya. Tak lama, Afnan terlihat diam sebentar.

Wajahnya berubah. Dia menatap Ziya yang sedang tertawa pelan bersama keluarga.

Merasa diperhatikan, Ziya melihat ke arah suaminya. "Mas?" tanya Ziya lirih.

Afnan menatapnya, lalu menggenggam tangan istrinya erat.

"Itu dari rumah sakit. Yasmin ... masuk IGD, kritis."

Ziya membeku. Afnan memejamkan mata, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Salamah yang biasanya tenang, mendadak tak enak hati tapi dia berusaha tenang agar Ziya tidak panik. Kehamilan trimester ketiga rentan, jangan sampai memicu kontraksi.

"Kalau Mas pergi ... Mas harus yakin kembali." Ziya

menatap suaminya dengan sorot mata kuatir, jemarinya meremas Afnan erat seolah tak ingin kehilangan.

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!