Arkadia The Forbidden Game
Arkadia The Forbidden Game
Cahaya biru redup berpendar dari helm VR yang terpasang di kepala Rayan. Suara mesin pendingin berdengung pelan di kamar sempitnya, bercampur dengan degup jantungnya yang tak karuan. Malam itu, ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru—sebuah game yang sedang viral di seluruh dunia: Arkadia Online.
“Sekadar main sebentar,” gumamnya, meski dalam hati ia tahu jarang ada pemain yang benar-benar berhenti sebentar di game itu.
Layar login menyala di balik kelopak matanya. Tulisan holografik melayang-layang, seakan langsung muncul di dalam pikirannya:
Welcome to Arkadia. Please design your soul.
Bukan sekadar avatar. Bukan sekadar nama pengguna. Arkadia menuliskan kata soul jiwa.
Rayan tersenyum miring. “Marketingnya bagus juga.”
Satu per satu pilihan muncul. Bentuk wajah, warna mata, tinggi badan, bahkan nada suara. Semua terasa begitu nyata. Ia mencoba menggeser rambut avatarnya ke kiri, dan seketika hembusan ringan terasa di pipinya—seolah rambut itu benar-benar menyentuh kulitnya.
“Gila…” Rayan terbelalak. “Detailnya kayak dunia asli.”
Setelah hampir setengah jam bereksperimen, ia akhirnya memilih tampilan sederhana: tubuh atletis, rambut hitam sedikit berantakan, dan mata berwarna keperakan. Ia menamai avatarnya Kael, sebuah nama yang dulu hanya ia pakai di forum kecil tempat ia menulis cerita pendek fantasi.
Begitu konfirmasi ditekan, tubuhnya serasa ditarik jatuh dari ketinggian.
Cahaya menelan pandangannya.
Dan ketika ia membuka mata… dunia yang sama sekali berbeda menyambutnya.
Rayan berdiri di sebuah padang luas. Rumput hijau bergoyang ditiup angin, matahari bersinar hangat, dan aroma tanah basah tercium begitu nyata. Ia mengangkat tangannya, merasakan jari-jari avatarnya—atau mungkin jarinya sendiri—bergerak sempurna.
“Arkadia Online,” bisiknya. “Ini bahkan lebih nyata daripada mimpiku.”
Suara lonceng bergema dari kejauhan. Ia menoleh. Di seberang padang, berdiri sebuah kota raksasa dengan menara menjulang ke langit, dinding putih berukir simbol-simbol aneh yang tampak berpendar. Puluhan pemain lain berjalan di sana, masing-masing dengan penampilan unik: ada yang berarmor berat, ada yang bersayap, bahkan ada yang tampak seperti peri bercahaya.
Seorang pemain dengan jubah merah menyapanya. “Baru masuk, ya?”
Rayan mengangguk. “Iya. Aku… masih kagum sama semuanya.”
Pemain itu tertawa kecil. “Nikmati selagi bisa. Arkadia indah di permukaan, tapi hati-hati kalau sudah terlalu jauh. Ada sisi gelap yang tak semua orang siap temui.”
Rayan hendak bertanya, tapi pemain itu sudah berbalik dan menghilang di keramaian.
Sistem menampilkan misi pertama: Pergilah ke Guild Hall untuk menerima panduan.
Ia melangkah memasuki kota. Suara pedagang berteriak, anak-anak berlari, aroma roti panggang memenuhi udara. Semua terasa… sungguh nyata. Terlalu nyata.
Ia berhenti sejenak di depan air mancur. Bayangan wajah avatarnya memantul di permukaan air, namun tiba-tiba—ia melihat sesuatu yang aneh.
Bayangan itu tersenyum, padahal ia tidak.
Rayan tersentak mundur. Air mancur kembali normal, memperlihatkan pantulan yang sesuai dengan geraknya. “Mungkin bug visual…” ia mencoba menenangkan diri, meski bulu kuduknya meremang.
Di Guild Hall, ia disambut oleh NPC—atau mungkin bukan. Wanita berambut perak berdiri di sana, matanya memandang seolah hidup.
“Selamat datang di Arkadia, Kael,” ucapnya lembut. “Di sini kau bisa menjadi siapa pun. Petarung, penyihir, pencipta… bahkan raja.”
Suaranya terlalu nyata, tatapannya terlalu hidup. Rayan hampir lupa kalau ini seharusnya hanyalah program komputer.
“Kenapa rasanya… seperti benar-benar orang?” gumamnya.
Wanita itu tersenyum samar. “Mungkin karena kami bukan sekadar karakter. Kami adalah jiwa yang diciptakan untuk menemanimu.”
Ucapan itu membuat Rayan kaku. Apakah developer memang menulis dialog seperti itu? Atau ada sesuatu yang lain?
Ia menerima pedang kayu sebagai senjata awal dan diarahkan menuju hutan untuk latihan pertempuran.
Hutan Arkadia dipenuhi cahaya jingga sore. Burung-burung beterbangan, ranting patah ketika diinjak, dan jauh di dalam, suara geraman terdengar.
Rayan menghunus pedangnya. “Oke, mari lihat seberapa nyata pertarungannya.”
Seekor serigala bayangan muncul. Tubuhnya hitam, matanya merah menyala. Serangan pertamanya membuat Rayan terjatuh. Rasa sakit menusuk bahunya—tajam, nyata, seperti luka sungguhan.
Ia meringis. “Ini… bukan game biasa.”
Dengan terengah, ia bangkit. Pedangnya menebas, dan serigala itu meledak menjadi kabut hitam.
Namun kabut itu berubah… menjadi sosok manusia.
Seorang pria muda, wajahnya pucat, dengan mata kosong. Rayan terpaku. Itu bukan NPC biasa. Wajah itu… terasa nyata, seolah pernah hidup.
Tubuh pria itu hancur menjadi cahaya sebelum Rayan sempat bereaksi.
“Apaan tadi itu?” napasnya tercekat.
Tiba-tiba, suara lain berbisik dari kegelapan hutan.
“Selamat datang di sisi lain Arkadia.”
Rayan menoleh cepat. Dari balik pepohonan, seorang pemain berpenutup wajah muncul. Namanya hanya tertera sebagai No.7.
“Kau pemain baru,” suaranya dalam. “Dengar baik-baik. Jika suatu hari kau menemukan pintu bercahaya biru… lari. Jangan pernah mendekat.”
“Pintu bercahaya biru?” Rayan mengulang.
No.7 menatapnya tajam. “Itulah Core. Gerbang menuju jantung Arkadia. Mereka yang masuk… tak pernah kembali.”
Sebelum Rayan sempat bertanya lebih lanjut, sosok itu menghilang dalam kabut, meninggalkan Rayan dengan jantung berdebar dan rasa takut yang tak ia mengerti.
Langit Arkadia perlahan gelap, dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan terlalu indah untuk sekadar simulasi.
Rayan berdiri sendirian di hutan, menggenggam pedang kayunya erat-erat. Kata-kata No.7 terngiang-ngiang di kepalanya.
“Pintu bercahaya biru… Core…”
Ia menelan ludah.