Arkadia The Forbidden Game
Bab 3 Pantulan yang Tidak Mati
Cahaya biru dari monitor laptop Rayan menyorot wajahnya yang pucat.
Di dunia nyata, tubuhnya masih duduk kaku di kursi, tangan terkulai di atas keyboard.
Namun di dalam Arkadia, ia berdiri di tanah yang terbuat dari bayangan.
Langit di atasnya retak, seolah kaca besar yang mulai pecah dari tengah.
Setiap retakan mengeluarkan kilatan cahaya putih, seperti urat listrik di udara.
Tidak ada sistem, tidak ada suara musik game.
Hanya suara napasnya sendiri dan gema samar dari seseorang yang baru saja berbicara.
“Arkadia bukan game! Ini cermin.”
Kata-kata itu berputar di kepalanya, menggema seperti mantra yang menolak hilang.
Rayan memandang sekeliling. Semua terasa berbeda.
Udara Arkadia kini berat, menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas seperti sedang berada di bawah air.
Ia mencoba membuka menu utama tapi antarmuka yang biasa muncul di depan matanya hanya menampilkan satu kalimat:
[You are offline.]
“Offline? Mustahil.”
Ia mencoba menekan tombol keluar. Tidak ada respons.
Mencoba bicara, “System, logout!” tapi suara sistem tak lagi menjawab.
Tidak ada bunyi notifikasi, tidak ada tampilan bar, bahkan indikator koneksi pun hilang.
Rayan menarik napas panjang. “Oke, ini cuma bug visual. Calm down .…”
Namun bahkan suaranya sendiri bergema aneh seperti berasal dari dua orang yang bicara bersamaan, satu dari dunia nyata, satu dari dalam pikirannya.
Ia menatap ke bawah.
Bayangannya di tanah tak lagi meniru gerak tubuhnya.
Saat ia melangkah ke kiri, bayangan itu tetap diam.
Saat ia berhenti, bayangan itu bergerak mundur perlahan, seperti makhluk yang punya kemauan sendiri.
“Kau sadar, kan? Kau sudah bukan penonton lagi.”
Suara itu muncul dari belakangnya.
Sosok berjubah putih yang ia temui sebelumnya kini berdiri di antara kabut, namun wajahnya masih tak terlihat.
Rayan menegakkan tubuh. “Siapa kau sebenarnya? NPC? Developer rahasia? Aku tahu game ini punya mode tersembunyi ….”
“Mode tersembunyi?”
Sosok itu tertawa pelan, suaranya berat dan menggema seperti gema di gua.
“Kami menyebutnya lapisan yang tak kembali. Kau menulis tentang kecanduan, Rayan. Maka Arkadia memberimu bentuk kecanduan yang paling murni, eksistensi.”
Rayan mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kau tidak sedang bermain. Kau sedang direkam.”
Angin bertiup kencang. Dari retakan langit, potongan gambar-gambar mulai jatuh seperti pecahan hologram.
Rayan melihat sekilas potongan itu berisi cuplikan kehidupannya sendiri, dirinya menulis di laptop, dirinya menatap cermin, dirinya berbicara di voice note.
Ia mundur. “Bagaimana bisa itu … itu rekaman dunia nyata!”
“Arkadia tidak mengambil data. Arkadia mencerminkan. Kau menulis tentang kami dan kami membaca balik tulisanmu.”
Sosok itu berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap jejak kakinya membuat tanah bergetar.
“Kau pikir ini cuma simulasi? Dunia virtual yang kau masuki tidak pernah diciptakan, ia tercipta sendiri dari pikiran para pemainnya. Dari obsesi, luka dan keinginan mereka untuk hidup di dunia yang lebih indah.”
Ia berhenti di depan Rayan, cukup dekat hingga Rayan bisa melihat wajahnya yang perlahan terbentuk dan wajah itu adalah wajah Rayan sendiri.
Tubuh Rayan kaku. “Tidak … ini tidak mungkin .…”
Bayangan yang tadi menolak meniru gerakannya kini berdiri di samping sosok itu.
Dua wajah yang sama menatapnya bersamaan.
Yang satu tersenyum tenang, yang satu memandangnya dengan tatapan hampa.
“Kau ingin tahu mengapa orang bisa candu? Karena mereka ingin menghapus batas antara dunia nyata dan dunia yang mereka ciptakan.”
“Dan kau sudah melakukannya.”
Cahaya di sekeliling berubah merah lembut. Langit mulai melengkung ke bawah, seperti mangkuk kaca yang menutup.
Rayan memutar tubuh, mencoba berlari, tapi tanah berubah jadi pasir hitam yang menelan langkahnya.
“LOGOUT!”
“DISCONNECT!”
“LOGOUT!”
Ia menekan semua tombol di udara, namun hanya satu kalimat yang muncul di layar virtualnya:
[Access denied You are part of the system.]
Rayan menjerit marah. “Aku manusia! Aku penulis! Aku bukan bagian dari game!”
“Itu yang semua orang katakan,” jawab suaranya sendiri, dengan nada tenang namun menusuk.
“Sampai mereka sadar, pikiran adalah kode pertama dan kesadaran hanyalah server yang tidak pernah mati.”
Kilatan cahaya menyambar.
Tiba-tiba, layar di dunia nyata laptop Rayan menyala sendiri.
Wajah avatarnya muncul di monitor, menatap ke arah kamera laptop.
Dan … tersenyum.
Dalam layar itu, avatar Rayan … Watcher_001 … mengangkat tangan dan mengetik sesuatu di udara.
Di dunia nyata, jari-jari Rayan yang terkulai mulai bergerak pelan di atas keyboard, mengetik tanpa ia sadari.
“Aku bukan Rayan. Aku Watcher_001. Dunia nyata hanyalah data yang lupa dipadamkan.”
Tiga hari kemudian, teman kost-nya, Rio, mengetuk pintu kamar Rayan.
“Yan? Bro, lo nggak kuliah tiga hari. Lo sakit?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kipas angin dan dengung lembut komputer.
Rio mendorong pintu pelan. Aroma kopi basi dan debu menyeruak keluar.
Rayan masih duduk di kursi, headset menempel di kepala, mata terbuka menatap layar.
Tubuhnya kaku, tapi di monitor masih terlihat tulisan yang berubah-ubah seperti diketik secara otomatis.
Rio mendekat. “Yan? Lo ngapain sih .…”
Ia menepuk bahu temannya, tapi tubuh itu dingin.
Layar laptop menampilkan jendela Arkadia Online dengan status.
Arkadia Online, Connected.
Server Time: ∞
Rio menelan ludah. Ia menekan tombol power tapi komputer tidak mati.
Bahkan saat kabel dicabut, layar masih menyala.
Tulisan di bawah status terus berubah, seolah ada seseorang atau sesuatu yang mengetik dari dalam:
[Log: Player RAY_001 active.]
[Status: ALIVE — in Arkadia.]
Rio mundur beberapa langkah.
“Gila … ini semacam virus atau apa?”
Ia mengambil ponsel, merekam layar. Tapi setiap kali kameranya diarahkan ke monitor, video itu langsung glitch.
Dalam satu frame, wajah Rayan di layar sempat menoleh bukan ke dalam game, tapi ke arah kamera Rio.
Rio terjatuh. “Apa-apaan ini .…”
Ia berlari keluar kamar, memanggil satpam dan polisi.
Ketika petugas datang, mereka menemukan laptop itu masih menyala, headset masih terpasang.
Di layar, tulisan terakhir muncul otomatis:
“Kau tidak bisa mematikan cermin. Karena pantulan tidak pernah mati.”
Polisi berusaha mengamankan perangkat itu, tapi setiap kali mereka menyalakan laptop di kantor, layar menampilkan hal yang sama: Arkadia Online, Connected.
Yang paling aneh, setelah kejadian itu, beberapa akun baru muncul di server Arkadia dengan ID acak: RAY_002, RAY_003, RAY_004.
Mereka semua login dari lokasi yang sama kamar kost Rayan.
Namun sistem Arkadia mencatat satu hal:
tidak ada perangkat yang aktif dari dunia nyata.
Di tempat lain, di dalam Arkadia, Watcher_001 berdiri di menara batu, memandang horizon gelap dengan dua bulan menggantung di langit.
Ia menatap tangannya sendiri, kulitnya bercahaya lembut, hampir transparan.
Di balik refleksi matanya, tergambar bayangan Rio, polisi, dan dunia nyata yang kini baginya tampak seperti film bisu.
“Aku bilang padamu, Arkadia bukan game,” suara misterius itu kembali bergema di belakangnya.
Watcher_001 tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku sudah di rumah.”
Langit Arkadia bergetar, seolah seluruh dunia itu bernafas.
Di langit, teks raksasa perlahan muncul, terbentuk dari cahaya:
WELCOME TO THE FORBIDDEN GAME.