Bisikan Pembalasan
Announcement
Dedi memiliki ide bagus selanjutnya, lima Hp telah dimatikannya, ditaruh di meja salah satu guru. Saatnya beraksi, ini aksi pertama.
Diambilnya satu Hp, milik Mega. Pada awalnya Dedi sama sekali tak ingin Mega terlibat dalam hal ini. Hp itu diaktivkan, beberapa detik saja setelah hidup, sms masuk demikian banyak, tak terhitung lagi jumlahnya.
Saat Dedi hendak membukanya, Hp itu telah membunyikan suaranya.
”Berikan padaku Ded,” Mega menerjang maju, hendak merebut Hp itu. Namun, langkahnya terhenti, karena moncong pistol diarahkan padanya oleh Dedi tanpa menoleh kearahnya.
”Dari Ayahmu, sang kepala sekolah Karya Bakti.”
”Berikan padaku Ded,” Mega meminta penuh pengharapan.
”Baiklah, tapi katakan bahwa kau baik-baik saja. Setelah ini, aku akan pergi. Aku hanya ingin membuat mereka berempat kapok saja. Kau paham?” mata itu masih dingin.
Mega mengangguk. Dedi menyerahkan Hp itu, Mega menerimanya dan menerima panggilan itu.
”Halo, Halo Pap.”
Entah apa yang dibicarakan, namun Dedi tak mau ketinggalan, dia mendekati Mega. Perbincangan terjadi biasa, namun Mega terlihat seolah ketakutan.
Setelah berbicara agak lama, Mega melirik kearah Dedi, ada keraguan dalam tatapannya. Lalu...
”Pap, kami disandera di ruang kantor guru. Selamatkan ka...,”
”Plak!” Hp direbut paksa oleh Dedi, Mega memegangi pipinya yang panas terasa tamparan kuat itu. Mega masih tak percaya pada apa yang dialaminya, tamparan itu, dari teman sebangkunya, teman yang dianggapnya baik itu, menamparnya.
Dedi mendekatkan Hp itu di telinganya.
”Halo! Halo! Puteriku apa yang terjadi! Halo!”
”Pak kepala sekolah, dengarkan baik-baik. Jangan lapor polisi, puteri bapak aman, tidak akan lama. Ingat, jangan lapor polisi, jika tidak ingin puteri anda terjadi sesuatu. Ingat itu Pak.”
”Tunggu, apa maumu sebenarnya? Katakan saja, kau butuh uang!”
”Aku tak butuh uangmu. Sudah kubilang, puterimu tidak akan kusakiti, selama Bapak mau bekerja sama.”
”Hei!”
Tut...tut...tut...
”Kenapa kau melakukannya Mega? Sudah kubilang aku tak akan menyakitimu sama sekali, aku hanya berurusan dengan empat orang biadab itu!” nada terakhirnya teramat keras.
”Kau memang gila Ded, kau tak perlu membalas mereka begini, kau kejam!”
”Kau bilang aku kejam? Kau tak tahu Mega, kau tak tahu apa-apa! Kau tak tahu siksaan macam apa yang telah mereka lakukan padaku! Kau tak tahu apa-apa!” telunjuk Dedi mengarah ke muka Mega, mata itu tajam dan dingin, seolah menusuk demikian tajam, membuat Mega gentar.
”Tapi, kau membalasnya mereka berlebihan Dedi,” nada Mega memelan.
”Berlebihan kau bilang? Mereka sering meminumkan air kencing mereka, mereka memaksa meminumkannya padaku. Itu kau bilang tidak berlebihan? Mereka memukuliku, hingga tubuhku remuk! Mereka mempermainkanku, mereka menyiksaku dan mengunciku di kamar mandi, mereka..., mereka...,” airmata Dedi menetes, ”Mereka menganggapku binatang! Kau bilang itu tidak berlebihan. Masa depanku hancur! Mereka lebih keterlaluan daripada iblis!”
Mega tak berani bicara lagi. Bibirnya tergetar, sungguh, dia baru tahu kini, dan airmata Dedi yang mengalir itu, tak pernah dilihatnya sebagai orang yang nelangsa di dunia. Mungkinkah itu, yang membuat Dedi marah dirinya berpacaran pada Roni?
@ @ @
Kepala sekolah Karya Mukti tampak kebingungan, bolak-balik di ruang tamu rumahnya.
”Sudah Pap, laporkan saja pada Polisi. Puteri kita terancam Pap,” isterinya tampak gelisah dan menangis terus dari tadi.
”Sabar Mam, sabarlah,” dia telah menghubungi semua guru, termasuk pak Mahfudz. Namun, penyelesaian pertama belum terselesaikan. Apalagi, Hp puterinya sudah dinon aktivkan kembali.
”Kita harus berbuat sesuatu Pap.”
”Tenanglah Mam, bersabarlah, puteri kita pasti baik-baik saja,” namun, di lubuk hatinya, tersimpan kecemasan yang besar, namun berusaha ditutupinya, agar isterinya tidak bertambah panik.
@ @ @
Mahfudz menatap isterinya, kelelahan masih membayang di wajahnya dan sorot matanya. Seharian belum beristirahat, melayani setiap orang yang menghadiri acara pernikahannya. Belum lagi, baru saja hendak berduaan dengan isterinya, telepon dari kepala sekolah telah kembali membuatnya cemas.
”Dik, maaf ya, Kakak harus meninggalkanmu malam ini.”
”Kakak mau kemana?” gadis berjilbab itu terlihat kecewa wajahnya.
”Ini masalah hidup dan mati Dik, beberapa murid di Sekolah Karya Bakti di sandera di Sekolah. Kakak harus kesana. Kakak mohon pengertian adik.”
Setelah berpikir agak lama, ”Baiklah Kak, tapi segera kembali ya Kak.”
”Insyaallah Dik.”
Mahfudz mengganti bajunya, dengan baju lengan pendek. Kenapa perasaanku tak enak, apakah ini ada hubungannya dengan Dedi? Astaghfirullah, kenapa pikiranku kesana? Saat mendekati pintu kamar.
”Kak.”
”Ada apa Dik?”
”Kau tahu, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kakekku telah meninggal, Kakak harus kembali.”
Mahfudz tersenyum, ”Adik tak pernah sendirian, selalu ada Allah di hati setiap orang yang beriman. Bukankah itu yang diajarkan Kakek pada kita?”
”Iya Kak.”
Mahfudz mengucapkan salam dan pergi mengendarai motornya. Semoga bukan kau yang melakukannya Ded, tapi kenapa perasaanku selalu mengarah padamu Ded. Tolonglah hambaMu ini ya Allah, tolonglah Dedi, dan umat muslimin sekalian. Amin.
@ @ @
”Sial! Kenapa jadi begini!” Dedi merutuk, dipandangnya Mega yang terduduk, mereka saling tatap. Dedi menghembuskan napasnya keras, mau menyalahkan Mega, tapi hati terdalamnya tak tega menyalahkan orang yang tak berbuat jahat padanya. Niat awalnya hanyalah membuat keempat orang itu kapok, tapi semua menjadi demikian.
Beberapa orang telah sempurna di gerbang sekolah, mereka bahkan hendak mendobrak pintu-pintunya. Dedi telah mengunci gerbang, mengunci gerbang kedua menuju masuknya siswa kesekolah, mengunci masuk pintu di koridor depan kantor. Pikirannya kacau, bagaimana jika massa itu masuk, dan bergerombol, akan sulit diatasi. Mereka pasti orangtua dari keempat orang yang selalu menyakitinya itu.
Terpaksa! Dedi berdiri, meraih Hp milik Mega. Lalu, mengontak kepala sekolah, memberitahukan agar memanggil polisi. Dan mengamankan keadaan yang kacau di sekolah, dengan ancaman para sandera akan dibunuhnya jika tak bisa menangani massa yang ingin memaksa masuk.
Dalam beberapa menit, polisi telah memasang garis kuningnya. Massa dapat dicegah, terutama dari keluarga empat orang yang disandera. Kepala sekolah, malam itu segera bergegas ke Sekolah. Ramailah sekolah itu, beberapa media segera mendapat informasi, mereka berdatangan baik dari stasiun televisi, maupun media massa koran, bahkan informasi segera cepat diserap oleh kalangan manapun.
Dedi semakin terdiam, namun, bukannya khawatir karena rencana awalnya hanyalah memberi pelajaran pada empat orang preman sekolah itu. Namun, wajahnya semakin terlihat tenang.
”Dunia kini melihatku! Ha..ha...ha...”
Tawanya menggaung, memenuhi koridor-koridor sekolah yang sunyi, namun di luar sekolah keramaian tampak membayangi wajah-wajah orang yang berkumpul. Sekedar ingin tahu, apa yang terjadi sebenarnya, atau siapakah yang melakukan penyanderaan.
”Sudahlah Ded, ini tidak lucu. Lihatlah, semuanya sudah berakhir. Akhirilah semuanya, maka semua akan baik-baik saja Ded.”
Mereka terdiam sejenak, ada suara keras muncul dari megaphone, milik polisi.
”Serahkan diri anda, lepaskan para sandera. Kita bisa bekerja sama dengan baik-baik. Anda telah terkepung!”
”Dengarlah itu Dedi, akhirilah semuanya.”
”Kau salah Mega, ini memang di luar rencanaku. Tapi, kurasa, semuanya baru dimulai detik ini. Ya, detik ini, semuanya baru dimulai. Karena, dunia telah melihatku. Inilah saatnya, permainan dimulai.”
Dedi memainkan pistolnya, lalu menghidupkan handphone Mega kembali. Lalu menghubungi kepala sekolah. Ada senyum yang terukir di bibirnya, benar, permainan baru saja dimulai.