CEO Muda Yang Tampan
Ancaman Dari Tasya
"Kamu lapar?" tanyanya.
Bella mengangguk pelan. "Sedikit."
Kevin meraih telepon hotel dan memesan makan malam ke kamar. Tidak lama kemudian, berbagai hidangan datang. Aroma makanan yang hangat dan menggoda langsung memenuhi ruangan. Ada sup krim, pasta, steak, salad segar, dan beberapa dessert kecil yang tampilannya begitu cantik sampai Bella nyaris ragu untuk menyentuhnya.
Bella kembali dibuat terpana melihat makanan yang tersaji di meja.
"Tuan... ini kebanyakan."
"Makan saja," ujar Kevin singkat.
Bella duduk perlahan lalu mulai makan. Awalnya ia berusaha menjaga image, mengambil suapan kecil dan duduk manis seolah-olah dirinya adalah perempuan anggun dari keluarga konglomerat. Namun karena memang lapar sejak perjalanan panjang tadi, perlahan-lahan pertahanannya runtuh. Ia mulai makan lebih cepat, bahkan tanpa sadar menghabiskan sup dan setengah porsi pasta dalam waktu singkat.
Kevin diam-diam memperhatikannya sambil menopang dagu.
"Kamu kalau makan kayak anak hilang tiga hari."
Bella tersedak. "Huft... Tuan!"
Kevin menyerahkan air minum sambil menahan senyum. "Pelan-pelan."
Bella meraih gelas itu cepat-cepat, pipinya memerah karena malu. "Salah sendiri, Tuan. Dari tadi saya lapar."
"Memangnya saya larang kamu makan?"
Bella mendelik. "Wajah Anda itu loh, bikin saya takut salah gerak."
Kevin mengangkat satu alis. "Wajah saya kenapa?"
"Menyebalkan," gumam Bella refleks.
Kevin justru terkekeh pelan. "Berani juga kamu."
Bella langsung menunduk lagi, berpura-pura fokus pada makanan. Padahal di dalam hatinya, jantungnya berdebar tak karuan. Ada sesuatu yang berubah sejak mereka tiba di Singapura. Kevin terasa lebih santai, lebih sering menggodanya, dan itu justru membuat Bella semakin sulit menjaga jarak.
Setelah makan malam, Kevin kembali sibuk dengan berkas dan laptopnya. Besok pagi mereka harus menghadiri pertemuan penting dengan klien besar. Ia duduk di sofa dekat meja kerja, sesekali mengetik, sesekali membuka file, sesekali menjawab pesan yang terus berdatangan.
Sementara Bella duduk di atas kasur, bersandar pada kepala ranjang sambil memperhatikan pria itu dari jauh.
Wajah Kevin terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. Tatapannya tajam, bahunya tegang, dan garis lelah samar tampak jelas di sekitar matanya. Di balik sikap dinginnya yang kadang menyebalkan, Bella mulai menyadari satu hal: Kevin memikul tanggung jawab yang besar. Ia bukan hanya laki-laki kaya yang hidupnya enak. Ada beban yang terus menempel di pundaknya, beban yang mungkin tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Mungkin itu sebabnya ia jarang benar-benar terlihat santai.
"Tuan..." panggil Bella pelan.
"Hm?" Kevin tak langsung menoleh.
"Kenapa kamu gak tidur dari semalam?"
Jari Kevin berhenti di atas keyboard.
Untuk sesaat, suasana mendadak hening. Hanya suara pendingin ruangan dan samar gemuruh kota Singapura dari balik kaca besar yang terdengar.
"Banyak kerjaan," jawabnya singkat.
Bella tahu itu bukan jawaban sepenuhnya. Namun ia tidak memaksa. Ia bukan siapa-siapa yang berhak menuntut Kevin membuka seluruh isi hidupnya.
"Kalau begitu, jangan dipaksa terlalu keras. Nanti sakit."
Kevin menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan mereka bertemu tanpa ada candaan, tanpa ada godaan. Hanya ada ketulusan murni di mata Bella. Perhatian sederhana. Kalimat biasa. Namun entah kenapa, terdengar begitu tulus.
Hal kecil yang mungkin tidak pernah ia dapatkan dengan tulus dari orang-orang di sekelilingnya.
Kevin menutup laptop perlahan. "Kamu peduli sama saya?" tanyanya pelan.
Bella langsung salah tingkah. "Saya cuma... maksud saya... Anda kan bos saya. Kalau bos saya sakit, saya repot juga."
Kevin tersenyum samar. "Cuma itu?"
Bella menelan ludah. "Iya."
Bohong. Kevin tahu itu, Bella pun tahu dirinya sedang berbohong.
Kevin bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekat ke arah kasur. Setiap langkahnya membuat Bella makin gugup. Hingga akhirnya pria itu berdiri tepat di hadapannya.
"Tuan..." suara Bella mengecil.
Kevin mengulurkan tangan, lalu menyibakkan lembut helaian rambut yang menempel di pipi Bella. Sentuhan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Bella menegang.
"Saya senang kamu ikut ke sini."
Bella terdiam. Dunia seolah berhenti.
Detik itu, hanya ada Kevin... dan debar jantung yang begitu keras di dada Bella.
Belum sempat Bella menjawab, tiba-tiba ponsel Kevin berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresi Kevin berubah.
Tasya Calling.
Bella refleks menunduk. Senyum tipis yang tadi sempat muncul di bibirnya perlahan memudar. Seolah-olah seseorang baru saja mengingatkannya pada batas yang tidak boleh ia lewati.
Kevin menatap layar itu beberapa detik, lalu mematikan panggilan tanpa mengangkatnya.
Namun tak sampai semenit, ponselnya kembali berdering dan kali ini, bukan hanya telepon.
Sebuah pesan masuk muncul di layar.
"Kalau kamu terus menghindar, jangan salahkan aku kalau perempuan itu kenapa-kenapa."
Kevin langsung menegang. Tatapannya berubah dingin, rahangnya mengeras.
Sedangkan Bella yang tak sengaja melihat perubahan wajah Kevin, ikut merasa tidak enak.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya pelan.
Kevin menggenggam ponselnya erat.