CEO Muda Yang Tampan

Insiden Malam di Hotel

Di luar sana, lampu-lampu Singapura berkilauan seperti lautan bintang. Namun entah kenapa, di mata Bella, semua itu kalah terang dibanding tatapan pria di depannya.

Tiba-tiba… Tok! Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuat keduanya tersentak.

Kevin langsung berdiri. Wajahnya kembali dingin dalam sekejap. Refleks, ia mengangkat satu tangan memberi isyarat agar Bella diam.

"Siapa?" tanyanya tajam.

"Room service, sir."

Bella mengerutkan kening. "Bukannya makanan tadi sudah diantar?"

Kevin menoleh cepat, tatapannya menegang.

Ia berjalan perlahan ke arah pintu, tidak langsung membukanya. Dengan hati-hati, ia melihat melalui peephole, wajah Kevin seketika mengeras.

Di depan pintu, memang ada seseorang mengenakan seragam room service. Tapi di belakang pria itu, berdiri dua laki-laki berbadan besar yang jelas bukan staf hotel.

Kevin segera mundur. "Bella, ke belakang saya. Sekarang."

Bella langsung pucat. "T-Tuan?"

"Jangan tanya. Ikut."

Jantung Bella seolah jatuh ke lantai. Dengan kaki gemetar, ia bangkit dari kasur dan bergerak mendekat ke belakang Kevin.

Ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini lebih keras.

"Sir, your late order."

Kevin meraih ponselnya cepat dan menekan nomor keamanan hotel, suaranya ditahan serendah mungkin.

"This is Kevin Rahardian, suite 27A. Send security now. There are suspicious men outside my room."

Bella menutup mulutnya sendiri, napasnya tercekat.

Ketukan berubah menjadi gedoran.

Brak! Brak! Brak!

Bella spontan mencengkeram lengan Kevin.

Kevin memindahkan Bella ke belakang tubuhnya, melindunginya penuh. "Jangan takut."

Bagaimana mungkin dia tidak takut? Namun anehnya, di tengah kepanikan itu, saat Kevin berdiri tegak di depannya seperti benteng, Bella justru merasa sedikit lebih aman.

Di balik pintu, suara laki-laki terdengar kasar. "Open the door!"

Kevin menyeringai dingin. "Mimpi."

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki berlari terdengar dari koridor. Teriakan petugas keamanan hotel menyusul. Ada keributan di luar, suara gaduh, lalu langkah kaki menjauh terburu-buru.

Gedoran berhenti, suasana mendadak hening. Bella masih gemetar hebat.

Kevin berbalik cepat. "Kamu gak apa-apa?"

Bella menatapnya, matanya sudah berkaca-kaca. "Saya takut..."

Tanpa berpikir panjang, Kevin langsung menarik Bella ke dalam pelukannya.

Melihat Bella yang hampir menangis, Kevin tak berpikir panjang. Ia langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Bella membeku.

Tubuh Kevin hangat, lengannya kuat melingkari tubuh Bella dengan perlindungan yang terasa begitu nyata. Untuk sesaat, dunia seperti berhenti, tak ada lagi suara dari luar, tak ada lagi gemuruh kota, hanya ada detak jantung Kevin yang terdengar samar di telinganya, dan kehangatan yang perlahan menenangkan seluruh tubuhnya.

"Ssst..." bisik Kevin lembut di atas kepalanya. "Saya di sini."

Kalimat itu sederhana sangat sederhana namun entah kenapa, justru kalimat itulah yang membuat pertahanan Bella runtuh. Air matanya jatuh satu per satu.

Bella tak pernah menyangka akan sampai pada titik di mana ia merasa begitu aman di dalam pelukan laki-laki yang beberapa waktu lalu bahkan membuatnya kesal setengah mati. Kevin yang dingin. Kevin yang arogan. Kevin yang memaksanya menandatangani kontrak.

Namun malam ini, Kevin adalah satu-satunya tempat yang ingin ia percaya.

"Tuan..." suaranya tercekat. "Mereka... mereka benar-benar datang ke sini?"

Kevin mengusap pelan punggung Bella, gerakannya lembut, jauh berbeda dari sifat kerasnya sehari-hari.

"Iya," jawabnya jujur. "Dan itu artinya, ancaman Tasya bukan cuma omong kosong."

Bella menegang lagi, jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung kemeja Kevin.

Kevin merasakan hal itu, tatapannya berubah gelap. Ia sangat marah.

Marah pada Tasya. Marah pada dirinya sendiri, marah karena sudah membawa Bella masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya hingga gadis itu ikut terseret ke dalam lingkaran yang berbahaya.

"Aku gak akan biarin siapa pun nyentuh kamu," ujar Kevin pelan, tetapi tegas. Suaranya rendah, dingin dan penuh tekad. "Selama kamu ada di dekat saya, saya pastikan kamu aman."

Bella memejamkan mata, entah kenapa ia ingin mempercayai ucapan itu, ingin sekali.

Mereka tetap seperti itu beberapa saat. Kevin tidak melepaskan pelukannya. Bella pun tak berusaha menjauh, di tengah rasa takut yang masih mengendap, pelukan itu terasa seperti satu-satunya hal yang mampu menenangkan jiwanya malam ini.

Tak lama kemudian, bel kamar berbunyi. Bella langsung tersentak, tubuhnya refleks menegang lagi.

Kevin segera melepaskan pelukannya, lalu menatap Bella dengan tenang. "Tenang. Ini security."

Ia berjalan ke pintu, kali ini tetap waspada. Setelah memastikan identitas orang di luar, Kevin membuka pintu sedikit. Dua petugas keamanan hotel berdiri di sana, bersama seorang manajer hotel yang terlihat panik dan berkali-kali meminta maaf.

"We are so sorry, Mr. Kevin. The men have escaped, but our team is checking all CCTV footage. We have increased security on this floor," ujar manajer hotel itu.

Kevin menatap mereka dingin. "No one enters this floor without my permission. And I want two guards outside this room all night."

"Of course, sir."

Setelah beberapa penjelasan singkat, Kevin menutup pintu kembali. Ia menoleh dan mendapati Bella masih berdiri di tempat yang sama, kedua tangannya saling menggenggam erat.

"Mereka akan jaga di luar," ujar Kevin. "Kita aman untuk malam ini."

Bella mengangguk pelan namun jelas sekali, rasa takut itu belum benar-benar hilang.

Kevin menghela napas, lalu berjalan mendekat.

"Kamu mau minum?" tanyanya.

Bella menggeleng.

"Mau saya panggil dokter hotel? Kamu pucat."

Bella kembali menggeleng. "Enggak usah. Saya cuma... masih syok."

Kevin terdiam beberapa saat lalu tanpa banyak bicara, ia menggandeng tangan Bella dan mengajaknya duduk di tepi kasur.

"Tarik napas pelan-pelan," katanya.

Bella menurut. Ia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Kevin duduk di depannya, menatap wajah gadis itu lekat-lekat, tak biasanya ia setelaten ini menghadapi seseorang namun pada Bella, semuanya terasa berbeda. Gadis itu punya cara aneh untuk membuatnya peduli lebih dari yang seharusnya.

"Kamu masih takut?" tanyanya.

Bella tertawa kecil, hambar. "Tuan, kalau orang hampir didatangi orang jahat tengah malam, ya jelas takut."

Kevin terdiam, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. "Masih sempat ngomel."

Bella menatapnya, lalu untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, ia ikut tersenyum kecil.

Senyum itu membuat dada Kevin menghangat.

"Kalau kamu bisa ngomel, berarti kamu mulai baikan," ujar Kevin.

Bella menunduk, menatap jemarinya sendiri. "Saya belum pernah ngalamin hal kayak gini, biasanya hidup saya biasa-biasa aja. Kuliah, kerja, pulang. Gak pernah kepikiran kalau ada orang yang beneran... mau nyakitin saya."

Kevin menatap wajah Bella yang terlihat rapuh dalam cahaya lampu kamar yang temaram.

"Mulai sekarang, hidup kamu gak akan biasa-biasa aja lagi," katanya pelan.

Bella mendongak.

"Apa itu berarti saya harus menyesal kenal sama Anda?" tanyanya setengah bercanda, setengah serius.

Kevin tak langsung menjawab. Ia justru menatap Bella lebih lama dari seharusnya.

"Mungkin," katanya akhirnya.

Jawaban itu membuat Bella tertegun.

"Tapi..." Kevin mengulurkan tangan, lalu menyentuh lembut pipi Bella yang masih sedikit dingin. "Kalau kamu menjauh sekarang, saya gak akan izinin."

Jantung Bella langsung berdegup lebih keras. "A-apa?"

Kevin mendekat sedikit, matanya tak lepas dari wajah Bella. "Kamu pikir setelah sejauh ini, saya bakal biarin kamu pergi begitu aja?"

Bella menelan ludah, hawa di sekelilingnya mendadak terasa berubah. Tegang, tetapi anehnya juga hangat.

"Tuan..." suaranya mengecil.

Kevin tersadar dirinya terlalu dekat. Ia mengembuskan napas, lalu menarik diri perlahan. "Sudah malam. Kamu harus istirahat."

Bella masih mematung beberapa detik, lalu mengangguk cepat. "Iya..."

Kevin berdiri, mengambil bantal dan selimut dari sofa. Namun saat ia hendak meletakkannya, Bella spontan menahan lengannya.

"Tuan..."

Kevin menoleh. "Hm?"

Bella menggigit bibir bawahnya, tampak ragu. "Boleh... jangan jauh-jauh?"

Kalimat itu membuat Kevin diam.

Bella langsung menyesal. "Maksud saya bukan begitu saya cuma... saya takut kalau tidur sendiri."

Kevin memandang Bella yang salah tingkah, lalu senyum kecil muncul di bibirnya. Bukan senyum mengejek, bukan senyum jahil tapi senyum yang lembut dan nyaris tak terlihat.

"Baik." Ia meletakkan kembali bantal dan selimut itu.

Kevin mematikan sebagian lampu, menyisakan lampu tidur berwarna keemasan yang membuat kamar terasa lebih hangat. Suasana menjadi sunyi, tidak mencekam seperti tadi, tapi justru menghadirkan ketegangan yang berbeda.

Bella berbaring perlahan di sisi kiri kasur, tubuhnya kaku seperti papan. Ia memeluk selimut sampai ke dada. Kevin naik ke sisi kanan, menjaga jarak yang cukup. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Bella sadar betul bahwa mereka berada di atas satu ranjang yang sama.

Jantung Bella berdebar keras. Ia menatap langit-langit, sama sekali tidak berani bergerak.

"Kalau kamu terus tegang kayak gitu, sampai besok pagi pun gak bakal tidur," ujar Kevin tiba-tiba.

Bella menoleh sedikit. "Saya kan belum pernah..."

Kevin menatapnya, lalu menghela napas pelan.

Tanpa banyak bicara, ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk membuat Bella bisa merasakan kehangatan dari sisi tubuhnya.

"Lihat saya," katanya pelan.

Bella menoleh, dalam remang cahaya lampu tidur, wajah Kevin terlihat jauh lebih lembut dari biasanya, tak ada sorot dingin, tak ada ketegasan seorang CEO. Hanya ada seorang pria yang sedang berusaha menenangkan perempuan yang membuat hatinya kacau.

"Selama saya ada di sini, gak akan ada siapa pun yang bisa menyentuh kamu. Paham?"

Bella menatapnya lama, lalu mengangguk.

Kevin mengangkat tangannya, ragu sesaat, lalu akhirnya menarik tubuh Bella pelan ke dalam pelukannya.

Bella tercekat.

Kepalanya kini bersandar di dada Kevin. Lengan pria itu melingkar di bahunya, memeluknya dengan erat namun tetap lembut. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada sesuatu yang membuat Bella merasa tidak nyaman. Hanya pelukan hangat. Pelukan yang penuh perlindungan.

Degup jantung Kevin terdengar jelas.

Aneh.

Detak itu justru membuat Bella jauh lebih tenang.

"Kalau begini... saya bisa tidur," bisik Bella nyaris tak terdengar.

Kevin tersenyum samar. "Baru tahu kalau kamu manja."

Bella ingin membantah, tapi rasa hangat itu membuat kelopak matanya perlahan terasa berat.

Beberapa menit berlalu.

Kevin mengira Bella sudah tidur. Namun tiba-tiba gadis itu bersuara lagi, pelan sekali.

"Tuan..."

"Hm?"

"Terima kasih."

Kevin menunduk sedikit, menatap puncak kepala Bella yang berada tepat di bawah dagunya.

"Untuk apa?"

"Untuk... tetap di sini."

Kalimat sederhana itu menghantam dada Kevin dengan cara yang tak biasa.

Ia tak menjawab langsung, tangannya justru mengusap pelan rambut Bella.

"Mulai sekarang," bisiknya pelan, nyaris seperti janji yang hanya didengar malam, "saya akan selalu di sini."

Bella tidak menjawab lagi.

Napasnya mulai teratur, tubuhnya yang tadi tegang perlahan mengendur, gadis itu akhirnya benar-benar tertidur dalam pelukan Kevin, seolah dunia paling aman malam ini hanyalah dada pria itu.

Kevin sendiri belum bisa tidur, matanya menatap langit-langit kamar tetapi pikirannya jauh melayang.

Tasya sudah melangkah terlalu jauh, kalau sampai orang-orang itu berhasil masuk tadi, Kevin bahkan tak ingin membayangkan apa yang bisa terjadi pada Bella. Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuat darahnya mendidih.

Ia menatap wajah Bella yang tertidur lelap di pelukannya. Wajah polos itu tampak damai, sama sekali tidak mencerminkan betapa kacau malam yang baru saja mereka lewati.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!