CEO Muda Yang Tampan
Perihal Surat Kontrak
"Kenapa Bell, kok datang-datang mukanya sedih gitu? Terus itu pakaian siapa?" Siska langsung melemparkan beruntun pertanyaan kepada Arabella yang baru saja mendudukkan bokongnya di bangku tinggi disampingnya.
"Aku takut jika ancaman cowok itu benar," ungkap Arabella yang masih memikirkan perkataan cowok itu.
"Ancaman apa maksudnya?" tanya Siska penasaran.
Arabella menceritakan apa yang terjadi kepadanya sehingga bisa berurusan dengan cowok itu, "Terus tiba-tiba dia nyuruh aku buat tanda tangan kontrak dimana isinya itu sama sekali tidak menguntungkan aku terus karena aku menolak perintahnya dia mengancam jika tidak tanda tangan maka aku akan kehilangan pekerjaan ini, aku takut jika sampai cowok itu mengadu kepada bos kita tentang kesalahan yang aku perbuat."
"Emang apa aja isi dalam kontrak itu Bell?" Sedari tadi mendengar cerita Arabella, Siska memang penasaran akan isi kontrak yang diberikan cowok itu.
Arabella nampak mengembuskan napasnya, "Point ke satu aku harus mengirim makanan ke kantornya, point ke dua aku harus membawakan pakaian yang hendak dia pakai, point ke tiga aku harus datang jika dia minta, point ke empat aku harus bersedia melakukan apapun yang diperintahkannya. Perjanjian macam apa itu coba? Siapa dia yang mencoba mengatur hidup aku, kesel banget, oh ya." Arabella mengeluarkan kartu pengenal cowok itu dari dalam sakunya. "Namanya Kevin Rahardian," katanya sembari menganggukkan kepalanya.
"Wah sepertinya dia anak orang kaya deh Bell," ujar Siska melihat kartu pengenal berwarna gold itu.
"Dia meminta aku untuk mengantarkan pakaiannya ini ke kantornya makanya dia memberikan kartu ini." Arabella masih heran mengapa cowok itu begitu menyebalkan. Mana mungkin dia mau mengikuti perintah yang ada di dalam kontrak itu hanya karena dia sudah mengotori pakaiannya saja.
"Dasar orang kaya sukanya menindas rakyat kecil," gerutu Arabella tersulut emosi mengingat wajah dan kontrak cowok itu.
Siska menepuk bahu Arabella, "Sudah yang sabar Bell, aku rasa sih dia hanya ingin bermain-main denganmu saja jadi gak boleh ada rasa benci yang ada kamu bakal jatuh cinta sama cowok itu ckck."
"Dia bukan tipeku! Emang sih kaya dan berpendidikan tapi egois, sombong, keras kepala lagi maunya menang sendiri sudahlah aku gak mau bahas tuh cowok lagi, aku lanjutkan pekerjaanku dulu agar bisa pulang dengan cepat." Arabella turun dari bangkunya untuk kembali bekerja.
"Awas kemakan dengan omonganmu sendiri hehehe," teriak Siska merasa gemas dengan sikap Arabella.
Memikirkan perlakukan cewek itu benar-benar membuat Kevin heran dan tidak habis pikir, kok bisa cewek seperti dia menolak untuk bekerja dengannya.
Setelah selesai makan dia langsung menghubungi seseorang, "Hallo Yah!" sapanya.
"Iyah ada apa Nak? Apa ada masalah di kantor?" sahut laki-laki paruh baya.
"Tidak Yah, aku sekarang sedang mampir ke restoran dan aku mendengar ada pelayan yang bernama …. " Kevin mencoba mengingat-ingat nama cewek tadi. "Ah ya, namanya Arabella Yah, apa Ayah mengenalinya?"
Rendy mencoba mengingat-ingat karyawan yang bekerja di restorannya. "Oh ya Arabella gadis dari Jakarta itu, Ayah mengenalnya ada apa Nak? Apa ada masalah dengannya? Ayah menerima dia waktu itu karena dia seorang anak tunggal yang butuh biaya untuk kehidupannya dan untuk bayar kuliahnya karena dia juga di sini tinggal bersama saudaranya," jelas Ayahnya Kevin panjang lebar.
"Tidak ada masalah Yah, hanya saja Kevin ingin menjadikan dia sekretaris di kantor karena Sindy pun sibuk mengurus orangtuanya yang sedang sakit namun nanti saja Kevin bahas saat bertemu dengan Ayah," kata Kevin mencoba menyampaikan rencananya.
"Oh ya sudah kamu harus bekerja dengan rajin dan jaga baik-baik perusahaan yah, karena sebentar lagi kamu akan menjadi CEO diperusahaan itu." Rendy merasa jika sudah waktunya putranya menjadi penerus perusahaan yang sudah dikelola sejak bertahun-tahun lamanya bersama sang istrinya.
Kevin memutuskan sambungannya dan keluar dari restoran ini, namun pada saat dia hendak melajukan mobilnya dia melihat cewek tadi ditemuinya sedang memberi makan kucing dengan sisa makanan pembeli.
Merasa tertarik Kevin memotret cewek cantik itu lalu kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Arabella memang sangat menyukai binatang salah satunya kucing, baginya kucing itu hewan yang menyenangkan layaknya manusia, kucing bisa diajak main, berbagi makanan dan menghibur dirinya.
Setelah pulang dari restoran Arabella langsung pulang ke kontrakannya menggunakan motor yang baru bulan lalu dia kredit dari dealer, hidup mandiri jauh dari kota kelahiran memberikan Arabella banyak pelajaran dan pengalaman berharga.
"Huhf, lelah sekali hari ini ditambah ketemu cowok brengsek itu," gerutu Arabella tersulut emosi.
Dengan cepat Arabella mencuci pakaian cowok itu lalu menjemurnya agar besok bisa kering, tidak lupa dia juga membersihkan dirinya dikamar mandi.
"Tampan juga sih cowok tadi, tapi mana mungkin seorang Arabella bisa punya cowok tampan, kaya seperti dia hanya mimpi rasanya kalau membayangkan jodohku itu dia." Hampir setiap hari Arabella memikirkan siapa jodohnya kelak, rasa penasaran dalam dirinya selalu menduga-duga kalau cowok yang dekat dengannya kini bisa jadi adalah jodohnya kelak.
"Bella," panggil Sindy seraya mengetuk pintu kamar keponakannya.
"Iya kak sebentar." Dengan cepat Arabella menghampiri gagang kunci dan membukakaknya untuk Sindy.
"Bagaimana berkasnya sudah kamu periksa?" Sindy menengadahkan tangannya sambil menatap Arabella.
"Maaf kak, aku baru saja hendak memeriksanya soalnya tadi aku dapat masalah dengan cowok yang super egois, menyebalkan dan sombong masa aku harus tanda tangan kontrak perjanjian hanya karena aku sudah mengotori pakaiannya." Arabella menceritakannya kepada Sindy masalah yang dihadapinya dengan emosi yang masih menggebu-gebu.
"Benarkah?" Sindy rupanya terkejut mendengar cerita Arabella.
Arabella lantas menganggukkan kepalanya, "Iya kak, baru saja aku selesai mencuci pakaiannya yang kotor itu besok aku harus mengantarkannya ke kantornya."
"Siapa namanya kok berani bersikap seperti itu?" Sindy nampak ikut kesal kepada orang yang diceritakan Arabella.
"Entahlah aku lupa kak, aku janji malam ini berkasnya sudah selesai semuanya besok sebelum kakak berangkat ke kantor aku kasih okey!" ujar Arabella tersenyum lebar dia sudah berjanji untuk membantu tugas Sindy. "Oh ya kak, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Arabella yang ingat jika Ibu Vivin sedang sakit.
"Alhamdulillah tadi Ibu sudah diperiksa sama Dokter katanya Ibu harus upselalu meminum obatnya agar penyakitnya tidak kumat lagi, ya sudah istirahat gih kamu pasti capek." Sindy menepuk bahu Arabella sebelum pergi dari kamar gadis itu.
Melihat kepergian Sindy membuat Arabella merasa sedih bagaimana jika dia ada di posisi saudarinya itu sudah pasti selalu menangis namun Sindy tidak pernah menampakan kesedihannya sama sekali kepadanya membuat dirinya merasa terharu.
Tidak salah memang orangtua Arabella mengirimnya ke Jakarta untuk tinggal bersama Sindy karena untuk bisa menemani Sindy dan membantunya mengurus orang tuanya yang sedang sakit.