Cincin Bulan Persahabatan

Kemenangan yang Kalah

Keindahan yang menyusup membuat Mawar mengangkat tubuhnya, duduk dan kunang-kunang itu terbang berkelip-kelip di atas air, menciptakan pantulan yang begitu mengindahkan cerminan air, ditambah sinar bulan yang menyatukan cahayanya.

“War, tadi kamu mau bicara apa?” Ihsan teringat sesuatu

“Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi, ayo pulang. Aku marah padamu!” Mawar mulai melangkah berlalu.

“Tapi War, aku hanya ingin menjadi temanmu…”

Mawar menoleh seketika, dari balik pohon jambu, tiba-tiba menghambur kunang-kunang yang entah dimana sebelumnya bersembunyi, begitu pun dari rerimbunan di pinggir balong, begitu banyak mirip lebah yang sedang mencari madu. Tiada keindahan kecuali terangnya cahaya, semesta begitu indah. Bulan tersenyum, gemintang penuh memenuhi langit, angin malam rindu membelai, dan kunang-kunang layaknya lampu berkelip, memenuhi semesta terpantul air, menimbulkan sinar terang.

Mawar tiba-tiba memeluk Ihsan, isaknya lirih terdengar, “Kumohon, jadilah sahabatku? Kumohon.” Kepalanya tersandar di pundak Ihsan.

“Aku akan selalu menjadi temanmu War. Tapi kenapa kamu menangis?”

“Besok Umi akan menjemputku, aku akan kembali ke Jakarta.”

Ihsan melepaskan pelukan Mawar dan memegang bahunya, “War, pergilah. Suatu saat aku akan mencarimu, dan kita akan menjadi sahabat selamanya,” sorot mata itu begitu tajam, menyiratkan keyakinan.

“Benarkah?” Mawar mengusap air matannya, dengan punggung tangannya.

“Tapi kamu harus janji?”

“Janji apa?”

“Kamu tidak akan nakal lagi, jangan memukul orang lagi, dan harus menurut dengan keluargamu.”

“Baiklah, aku akan menepatinya. Tapi kamu juga harus janji.” Mawar meneruskan perkataannya setelah melihat anggukan Ihsan, “Kamu tidak boleh memakan hewan-hewan yang kamu tangkap lagi, kamu harus menyayangi mereka. Mereka juga ingin hidup seperti kita.”

“Satu hal lagi,” Mawar menghirup udara mengembun sejenak, “Ini hanya akan menjadi rahasia kita, ini janji rahasia kita,” senyum pun berpadu.

Ihsan menganggukkan kepalanya lagi, “Aku akan menepatinya untukmu,” tangannya membentuk huruf V, “Ayo kita pulang.”

Sepeda kecil itu mengayun menuju rumah pak Bayan Yadi, yang letaknya kurang lebih 250 meter dari balong. Malam telah senyap, kehidupan manusia banyak dihabiskan di ranjang.

“Aku pulang dulu ya War,” Ihsan memutar stangnya setelah Mawar turun dari boncengan, kakinya hendak mengayuh pedal.

Mawar mendekati Ihsan dari arah depan, “San!” wajahnya setengah menunduk, “Maafkan semua kesalahanku selama ini?”

Ihsan hanya tersenyum meringis, “Gak pa-pa, aku sudah memaafkannya,” seperti biasa, garukan kepalanya yang memang benar-benar gatal, karena jarang keramas.

Sebuah ciuman di pipi Ihsan, yang serba singkat membuatnya melongo, tangan yang semula menggaruk kepala terkulai lemas jatuh ke bawah. Mawar berlari sambil mengucapkan salam dan menuju pintu.

Ihsan sempat diam sejenak, seperti terpaku di bumi. Tangannya perlahan menyentuh pipinya, yang mungkin kini berwarna merah tak menentu. Dunia seperti khayal, sebentar-sebentar berubah drastis, lalu kayuhnya membahana bersama riangnya ayam yang telah siap-siap berkokok, untuk mengingatkan manusia.

Sebuah pandangan melihat kejadian itu, dengan perasaan bingung dari balik jendela, malam ini dia tidak bisa tidur, lalu menutup horden dan membuka pintu, karena gadis kecil itu mengetuk pintu.

* * *

Malam itu walau mendekati pagi, Mawar tidak bisa memejamkan matanya, dihampirinya kamar kakaknya. Dilihatnya seorang wanita berada di ruang tamu, mbak Ningsih. Mawar tidur bersama anak perempuan pak Bayan yang telah SMP.

“Mbak, bolehkah aku meminta bantuan?”

“Kesinilah, apa yang bisa mbak lakukan untukmu?”

“Aku belum bisa menulis. Tolong tuliskan ucapanku.”

“Baiklah. Mbak Ningsih ambil kertas dulu ya?” anggukan kecil itu membuat Ningsih mengambil tasnya, dan mengambil selembar kertas dengan pena-nya.

“Katakanlah, Mbak siap menuliskannya,” tanpa bertanya, Ningsih menyanggupinya.

Beberapa kata terbata-bata, keluar dari bibir kecil Mawar, Ningsih pun sibuk menulis sambil beberapa kali sorot matanya menengadah ke atap. Entahlah! Kenapa hanya menulis seperti berpikir. Mungkin karena bacaan kesukaannya adalah sastra.

* * *

Ihsan, sesampai di rumah juga tidak bisa memejamkan matanya, Bapak yang membukakan pintu tidak banyak bertanya, hanya mengatakan kalau pulang jangan malam-malam, lalu beranjak tidur kembali masuk ke kamarnya.

Dilihatnya Fajar masih terlelap. Pulau telah terbentuk di bantalnya. Sesekali pandangannya menengadah, besok Mawar akan pergi lagi, aku harus memberinya sesuatu untuk mengingatkannya padaku. Langkahnya segera digerakkan menuju dapur, mengambil sebongkah kayu dan mematahkan bagian kecilnya, kebetulan kayu jati.

Diambilnya sebilah pisau, lalu berjalan menuju kamarnya kembali, sedetik kemudian jemarinya bekerja mencoba mengukir kayu kecil itu. Serpihan-serpihan kayu mulai mengelupas kecil-kecil, hingga waktu merambat tanpa mengenal kata henti. Senyumnya tiada tertinggal senyum, yang mengiringi gerak jemarinya.

Matanya mulai merasa perih, namun tangannya terus menari memegang pisau, membuat lekukan-lekukan imajinasi yang ada di pikirannya, telah ada lubang yang nampak, di pinggirnya seperti garis melingkar, dengan salah satu tengah membentuk lincipan melengkung. Ah! Entahlah bentuknya memang mirip cincin, tapi masih penuh lika-liku seperti jalanan yang terjal. Akhirnya mata itu benar-benar tak kuat, setelah menguap beberapa kali, dan tubuh itu jatuh di tikar yang digelarnya di atas alas tanah dalam kamarnya. Matanya nampak begitu lelah, tidurnya bagitu lelap.

Suara langkah lelaki itu, tidak membuat Ihsan bangun. Ali setelah shalat malam sebenarnya sedikit terganggu dengan suara menyisik kayu, setelah memasuki kamar kedua anaknya, didapatinya Ihsan tertidur di tikar bawah, sedangkan Fajar di atas dipan. Tangan kanan Ihsan masih memegang pisau, dan tangan kirinya mengepal. Ali mengambil pisau itu dan membuka kepalan tangan kiri Ihsan, di dapatinya sebuah ukiran yang belum jadi, diamatinya, mencerna bentuk yang belum jadi itu.

Jemari lelaki yang kini memiliki tiga orang anak itu, meraba ukiran kecil itu, merasakannya dengan hati, Ukiran yang dibuat dengan penuh rasa cinta, walau raga tidak kuat, namun kekuatannya mampu menggerakkan sendi yang telah lelah menjadi bercahaya. Anakku, engkau memang belum mengetahui banyak makna kehidupan, tapi cinta akan menjadi bekalmu dalam melangkah. Dibopongnya tubuh Ihsan, lalu membaringkannya di dekat Fajar. Diambilnya ukiran itu dan sebilah pisau, meneruskannya, diambilnya beberapa lembar amplas di dapur. Subuh hampir menyapa, Ali meletakkan ukiran itu dalam genggaman Ihsan kembali. Sebuah cincin bulan sabit

Sabtu seolah semesta hening, membawa perasaan Mawar yang semakin gelisah, hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Mandinya begitu lama, seperti tidak ingin pergi meninggalkan Gedung Dalam Baru, hingga Ningsih dari tadi merengek seperti anak kecil meminta gantian. Mawar tidak menghiraukannya, dia melamun, diingatnya suratnya tadi malam telah dititipkannya kepada mbak Ningsih untuk diberikan kepada Ihsan.

Setelah mandi pun, Mawar mendiamkan dirinya di dalam kamar, duduk menekur menatap lantai, hingga suara yang amat dikenalnya terdengar dari arah depan. Mawar buru-buru mengenakan bajunya, dan mengintip pelan dari jendela kamar Harmi yang telah keluar rumah bersama teman-temannya. Mbak Fatimah sedang berbicara dengan Ihsan, suaranya terdengar walau pelan. Terdengar percakapan yang aneh di telinganya.

“Terimalah San, Mbak sudah tahu kalau kamu berhasil,” tangan itu telah mengalihkan bungkusan kotak itu ke tangan Ihsan.

“Tapi Mbak, sebenarnya…,” kalimat itu tercekat, berat hendak mengungkapkan.

“Sudahlah, bukankah kamu dulu begitu antusias menginginkan coklat ini. Mbak ikhlas memberikannya untukmu yang telah menjaga adikku.”

“Bukan itu maksud Ihsan mbak, tapi…,”

“Ihsan!” sebuah suara keras lagi serak keluar dari celah jendela yang membuka, membuat Fatimah dan Ihsan segera menengok. Wajah itu nampak berurai airmata, mengusapnya dengan punggung tangannya.

“War! Dengarkan dulu penjelasanku, aku akan menjelaskannya.”

Terlambat, jendela itu segera tertutup rapat, Ihsan mulai berlari hendak memasuki rumah, namun suara Fatimah menghentikannya sejenak, “Sebenarnya ada apa San?”

“Aku tidak mau hadiah itu, buat Mbak saja!”

“Tapi ini untukmu San.”

“Berikan saja buat Fajar. Aku tidak mau menerimanya,” Ihsan berlari masuk menuju kamar Mawar dan mengetuknya hingga berkali-kali, “War, aku akan menjelaskannya! Aku hanya ingin menjadi sahabatmu,” tapi yang terdengar hanya isakan lirih, membuatnya lemas dan meninggalkan rumah itu untuk pulang. Fatimah semakin bingung, namun pertanyaannya tak diungkapkan melihat situasi yang tidak tepat.

Hari ini Ali tidak berangkat kerja, entahlah, dia merasa tak enak badan. Ihsan pulang dengan wajah kuyu, kotak yang telah dipersiapkannya untuk diberikan kepada Mawar masih dipegangnya erat.

“Kenapa cincinnya belum diberikan kepada Mawar, katanya kesana untuk memberikannya?” Ali menangkap kegelisahan anak pertamanya itu.

“Pak, tadi aku bahagia sekali, karena Malaikat telah menyelesaikan ukiranku tadi malam yang belum selesai, tapi… Mawar marah padaku dan tidak mau menemuiku, karena dia tahu, kalau selama ini aku hanya menginginkan hadiah dari mbak Fatimah.”

Ali mengelus kepala Ihsan lembut, “Berikan kotak itu pada Bapak, biar Bapak yang memberikannya. Bapak tahu sebenarnya kamu tidak hanya menginginkan hadiah itu, buktinya Malaikat telah membantumu membuat hadiah itu.” Walau tidak tahu masalahnya secara jelas, tapi Ali tahu perasaan anaknya.

Ihsan memberikan kotak itu pasrah, “Tolong katakan padanya Pak, kalau aku ingin menjadi sahabatnya sampai kapanpun juga, bukan karena hadiah.”

Ali menganggukkan kepalanya dan pergi ke rumah pak Bayan. Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang Ihsan ketahui, Bapaknya bertemu dengan Mawar dan memberikan kotak hadiah itu kepada Mawar.

Sebuah mobil yang sangat dikenalnya melewati rumahnya, Ihsan tidak berteriak seperti biasanya dikala sebuah mobil lewat. Kini tatapannya kosong, tapi hanya sementara, segera diraihnya sepedanya dan mengayunnya dengan cepat.

Terlambat. Mobil itu telah meluncur lagi, meninggalkan rumah Bayan ketika Ihsan telah sampai. Mobil itu melintasinya, sekilas terlihat wajah putih Mawar sedang menatapnya. Dikayuhnya sepeda, mengejar mobil kijang itu, walau kecepatan tidak seimbang, dia berharap dapat mengantar Mawar hingga jalan besar. Debu beterbangan, mengepul mengangkasa, pandangan mata Ihsan kabur. Berhenti. Terlihat Mawar sekilas melambaikan tangannya menempel di kaca, sorot matanya susah diungkapkan.

Bagaimana ini, aku belum meminta maaf padanya. Walau dia marah padaku, aku hanya ingin dia tahu, kalau aku akan menjadi sahabatnya sampai kapanpun, setidaknya dia tahu kalau aku akan merindukannya, sepeda itu mengambil arah yang berbeda, melewati lereng-lereng di atas jalan, jika lewat jalan umum akan berkelok memutar sampai jalan raya, lereng itu lurus, namun jalannya kecil sekitar dua meter.

Sepeda itu terus mengayuh, begitu kencang, ingin rasanya terbang tapi tiada mungkin, tanpa disadari sebuah bongkahan kayu melintang di tengah jalan. Keseimbangannya susah dikendalikan karena kecepatan kayuhnya tinggi.

“bruukk!” terdengar suara rintihan mengaduh, tiada orang karena ini hanya jalan lintas orang yang hendak mencari kayu. “Mawar!” segera diangkatnya sepeda yang tergeletak melewati bongkahan kayu itu, dilupakannya rasa sakit dan darah yang mengalir pelan di lututnya. Aku harus menemuinya walau hanya sekilas, agar dia tahu bahwa aku hanya ingin menjadi sahabatnya, aku tidak membutuhkan hadiah itu.

Jalan terjal itu tak dihiraukannya lagi, darah menetes walau sedikit, cukup menjadi bukti perjuangannya. Gerakannya cepat menghentikan laju sepeda, pandangannya mengedar. Mobil itu terlihat di bawah, tinggal dekat dari jalan besar, kini dia berada di turunan yang menghubungkan dengan jalan besar. Aku akan datang War! Dan pengorbanan itu terbukti lagi, kecepatannya melesat cepat, angin mendesau marah di sekitarnya, tangannya memainkan rem dan kemudi agar tidak ketinggalan mobil yang hampir mendekati jalan raya. Bukan lagi keselamatan yang ada di pikirannya, melainkan hanya ingin sekali lagi melihat wajah sahabatnya itu.

“Mawar!” mobil kijang itu telah mendahuluinya, dengan jarak yang sangat dekat, sekitar 10 meter. Pandangannya hanya tertuju pada jendela belakang mobil, tatapan mereka bertemu, hingga Ihsan lupa kalau kini sepedanya menyentuh jalan raya dari turunan panjang itu. Jiwanya seakan melayang dan keseimbangannya pun hilang. Sepeda itu mencelat di pinggir kanan jalan dan Ihsan tertinggal, tersungkur.

Ihsan mengangkat tubuhnya sekuat tenaga, darah segar keluar pelan dari bibirnya. Dalam posisi duduk, dia masih melihat mawar meneteskan airmata, menempelkan kedua tangannya di kaca belakang mobil. Ihsan mengangkat tangan kanannya, menggerakkan telapaknya melambai. Senyumnya merekah, di antara kesakitan yang dirasakan. Hanya sebatas inilah aku dapat berusaha. “Maafkan aku sahabatku!” teriakan itu membahana, alam seolah berusaha memantulkannya hingga bersahut-sahutan. Jarak semakin jauh, hingga akhirnya lurus pandangan hanya setapak jalan terhampar.

“Kenapa Non, kenapa menatap keca terus? Non menangis?” Syarif, sang Supir melihat dari spion di atasnya, menatap sedari tadi anak yang dijemputnya itu menatap ke belakang , dan seperti mendengarkan sebuah isakan lirih.

“Tidak ada apa-apa Bang! Aku pasti akan selalu merindukan desa ini,” Mawar membalikkan tubuhnya, lalu menatap ke depan, disekanya airmatanya dengan tissu yang tersedia di mobil itu, ibunya tidak ikut menjemput karena menemani kakaknya berlibur ke rumah ‘Ammi Yusuf. Walau pergi, separuh jiwanya berada tertinggal di belakang, akankah suatu saat tertemukan. Maafkan aku San. Mobil itu melaju mendendangkan lagu penantian, mendayu dari hati seorang yang baru menemukan seorang sahabat, yang membuatnya berjanji untuk berubah.

Kecemasan nampak di wajah-wajah keluarga Ali Rahman, beberapa orang dari desa 37C datang membawa Ihsan yang terluka dan sepedanya, tidak ada tangisan dari bibirnya, hanya saja pandangannya terlihat diliputi mendung kesedihan. Nur menghambur menggendong Ihsan, tetesan airmatanya tumpah, “Kenapa kamu Nak?”

Ihsan hanya menghapus airmata ibunya sambil tersenyum. Ali Rahman menemani tamu yang membawa Ihsan, bukan waktunya menanyakan kepada Ihsan, dia tahu perasaan anaknya yang kini kehilangan. Fatimah dan Ningsih menjenguk Ihsan, setelah mendapat kabar kalau Ihsan kecelakaan.

“Ini surat dari Sahabatmu itu. Bacalah sendiri jika kamu sudah bisa membaca,” Ningsih sambil membawa jajanan snack, memberikan amplop coklat kecil ketika dia hanya berdua di kamar Ihsan. Ihsan tersenyum, matanya mulai bercahaya kembali, luka-lukanya seolah tiada terasa lagi, “Terima kasih ya Mbak.” Senyum itu pun dibalas dengan ulasan serupa dari bibir Ningsih.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!