Cincin Bulan Persahabatan
Sekolah SMP
SMP Negeri 1 di Kecamatan, Pembagian Raport cawu I, Sabtu 24 Oktober 1998
Setelah pembagian raport yang dibagikan Bu Siti Aminah, aku mendapati diriku seperti tersengat ribuan lebah, yang menggerogoti tumpukkan harapan yang tarcecer sedikit demi sedikit. Kebahagiaan yang tersulam dari Sekolah Dasar, pupus seperti buih yang tak berdaya diterpa ombak. Aku pulang langsung, seperti kesetanan, kukayuh dengan kecepatan kuda pegasus. Aku memang kini telah memasuki Sekolah Menengah Pertama Negeri, yang banyak diimpikan anak-anak lulusan SD, bahkan aku diminta secara resmi oleh pihak Sekolah, karena danem akhirku mencapai angka 45. Di sekolah ini, bisa masuk sudah sangat bersyukur, apalagi sampai bisa berprestasi. Aku mendapat peringkat II. Peringkat kesatu dipegang oleh seorang wanita berjilbab, namanya Sinta Khoiriyah.
Bowo, Ratna dan Maria juga sekolah di SMP ini. Aku telah membuktikan kepada mereka, bahwa aku bisa mengalahkan mereka. Aku telah membayar tawa mereka dikala Sekolah Dasar dulu.
Sesampai di rumah, aku langsung menuju belakang di pinggir Balong, entah apa yang akan aku katakan pada Mawar jika aku bertemu dengannya kembali. Sahabat macam apa aku ini yang mengecewakan. Tidak! Aku memukul sepuas hati sebatang tegak pohon pisang, yang ukurannya sebesar kepalaku. Aku tidak peduli perih yang menyayat jemariku, hingga pohon itu doyong dan ambruk. Aku puas, darah menetes pelan. Aku tidak akan pernah meninggalkan belajar lagi, aku merasa sudah pintar hingga waktu masuk SMP, aku meremehkan teman-teman sekolahku. Aku akan menjadi nomor satu!
“Tangan mas ngopo berdarah?” Fajar menegurku ketika aku masuk dari dapur, kini dia kelas empat SD, dia yang sering menemani Ibu berdagang, dan aku gaduh kambing pak Bayan, lima ekor dia percayakan kepadaku untuk aku pelihara. Selain itu, sering menjadi buruh pengumpul kopi di tempat mbah Par yang kebunnya luas, atau ketika musim panen padi, jagung, atau singkong maka aku sering mengasak di sela-sela waktuku. Aku membiayai biaya sekolahku sendiri, Ayah dan Ibu melarangku bekerja keras, tapi aku ingin adik-adikku terus sekolah, apalagi kini Yasmin sudah kelas satu SD dan…, karena aku harus menemui Mawar di Universitas Indonesia. Dan, ini rahasia diriku, Mawar dan Tuhanku.
Sebelum aku menjawab, Yasmin datang sambil bernyanyi riang, kerudung pink kecilnya berkibar-kibar karena lompatan-lompatan yang dilakukannya, tangannya mesra menimang-nimang raport bersampul merah.
“Mas Ihsan, aku dapat ranking satu. Aku juga bisa seperti Mas,” senyumnya mengembang, sambil menyerahkan raportnya kepadaku. Aku membuka-bukanya pelan.
“Mana raportmu Jar,” kulihat muka Fajar pucat, seperti menyembunyikan sesuatu, “Mana. Mas pingin lihat.”
Kepalanya menunduk, “Maafkan Fajar Mas,” tangannya nampak gemetaran berpadu, menyatukan jemarinya, “Fajar dapat ranking 10.”
Aku mencengkeram erat kedua pundaknya, “Kenapa kamu malas belajar! Mau jadi apa kamu, jika kamu bodoh! Lihat adikmu Yasmin, dia ranking satu!” menggoncang-goncangkannya kuat, aku menemukan tempat pelampiasan kekesalanku. Fajar menangis keras, hingga Ibu melerai dan memintaku untuk tidak berlaku kasar pada Fajar. Aku telah jauh berubah, mungkin semua merasakannya, watakku berubah keras.
Hari ini tempatnya lek Pardi panen singkong, setelah selesai aku mengasak singkong sisa yang masih terpendam atau terpotong. Cangkul kecil pemberian Bapak kutancapkan dalam-dalam di bekas cabutan singkong, dapat satu dua kukumpulkan. Peluh mengalir deras di pipiku, keteguk air minum yang keselipkan diikatan sabuk. Aku harus mengumpulkan sebanyak mungkin, dan menabung untuk biaya sekolah, dan sisanya aku tabung untuk berangkat menemui Mawar, di tempat yang nun jauh disana.
Seekor jangkrik hampir terkena cangkul yang hendak kutancapkan ke bumi, aku menghentikannya, dan membiarkannya melompat serta berlalu. Lihatlah Mawar, engkau pasti percaya padaku, bahwa aku akan menepati janji persahabatan kita. Sedikit lelah, aku membuka tas dan mengambil buku pelajaran, belajar sejenak sambil menghilangkan lelah, berteduh di bawah pohon randu, membiarkan semilir angin menyisir rambutku, yang tampak sedikit kemerahan terkena sengatan matahari. Kutu buku, sahabat buku, mungkin semua teman-temanku memang pantas menyebutku.
Pembagian Raport Kelas III, Cawu III, 25 Juni 2001
Kepala sekolah langsung memberikan raportku di kelas, prestasi yang kuraih telah membanggakan pihak Sekolah, setidaknya untuk satu kecamatan. Selama di SMP, aku mendapat ranking satu, kecuali waktu kelas satu cawu satu, aku mendapatkan peringkat ke-dua. Aku juga mendapatkan beasiswa untuk meneruskan Sekolah. Aku semakin semangat belajar, semakin semangat bekerja, karena janji persahabatanku tetap aku penuhi pada Sahabatku. Tunggulah sebentar lagi, Sahabatku.
Bapak masih setia dengan pekerjaannya, dia juga masih sering mengajariku silat, walau mungkin Bapak dulu mungkin tidak lulus latihan silat di waktu mudanya. Ibu masih membuat kue, dan menjajakannya bersama Fajar, dan kadang gantian dengan Yasmin.
Beberapa surat datang kepadaku, dari beberapa Sekolah negeri maupun swasta SMA, untuk mempersuntingku belajar di gedung mereka. Aku lebih menghargai pendapat Bapak yang memilihkan SMK Negeri I di kota, sebagai continuitas dari keahlianku menjadi enterpreneur atau belajar berbisnis. Aku menyetujui usulan Bapak. Tanggal 18 juli 2001, aku resmi menjadi warga Sekolah Kejuruan Negeri I di Kota yang lumayan jauh dari desa. Sekolah ini terletak di daerah kampus kota Metro, di seputarannya banyak berdiri sekolah-sekolah lain, ketika pagi menjelang, kendaraan sangat macet, karena semua pelajar melewati pusaran Kampus.
SMK Negeri tempatku menuntut ilmu, mempunyai tiga jurusan yaitu MB (Manajemen Bisnis) atau selling skill, akuntansi dan sekretaris. Aku memilih Manajemen Bisnis. Prektek kurikulum juga banyak menggunakan metode praktek daripada teori, ini memudahkan siswa langsung bisa memahami pelajaran, daripada di cekoki teori dan retorika belaka.
Aku tidak tahu kabar Bowo meneruskan dimana, jika Ratna kudengar kabar sedang mempersiapkan pernikahannya, ah! Menikah, bukankah masih terlalu dini. Sinta tanpa kutahu, ternyata sekolah disini juga, sekelas denganku di kelas I BM I, dia adalah temanku sewaktu SMP, wajahnya sedikit mengingatkanku pada Mawar. Mawar! Aku akan selalu menjadi nomor satu dimanapun berada.