Cincin Bulan Persahabatan

Perjalanan Study Tour

Berangkat Studi Praktek, Jawa, Senin 4 Agustus 2003

Lima mobil Bus berangkat dari SMK Negeri, menuju tempat-tempat industri yang telah terjadwal di seputaran Jawa, disamping itu juga mengunjungi beberapa tempat rekreasi. Alhamdulillah semua biaya adalah uang tabunganku selama ini, Bapak dan Ibu melepaskanku dengan doa. Aku sangat mencintai mereka.

Selama menjadi siswa SMK, empat semester yang kujalani aku mendapatkan predikat nomor satu. Studi ini juga sebagai refresing, karena setelah ini kami akan praktek ke dunia kerja selama empat bulan di tempat-tempat kerja. Selama dua tahun aku di SMK, aku tinggal di Pekalongan, karena memudahkanku berangkat sekolah, tinggal di sebuah rumah yang mempunyai industri perbibitan, sehingga aku bisa bekerja menyiram bibit di pagi dan sore hari. Selain itu, di sela-sela waktu aku bekerja di pasar bibit Pekalongan, menjadi kuli angkat ketika ada pembeli yang datang membeli dalam jumlah besar, terkadang malam pukul 12.00 tepat pun, pasti aku bekerja jika memang ada pembeli.

Pekerjaan adalah caraku untuk bertahan, namun aku mencoba disiplin dalam waktu yang aku susun, dari mulai belajar ketika menjelang subuh dan pulang kampung seminggu sekali, di hari minggu. Dari Pekalongan ke Sekolah, aku memakai sepeda yang berjarak 5 kilometer, adikku Fajar kini masih SMP kelas 3 di SMP Negeri tempatku dulu, walau tidak di kelas A setidaknya di kelas B. Aku sering memarahinya untuk rajin belajar. Yasmin kini kelas enam SD. Dia selalu mendapatkan peringkat kesatu, aku bangga kepadanya.

Bus berjalan membelai lamunanku, di Sekolah aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, hanya sebagai jembatan agar aku tidak dihukum ketika razia organisasi, dan yang kuikuti hanya Rohani Islam, itu pun aku hanya berangkat sebulan sekali, karena selain pekerjaanku padat, aku juga mencari yang tidak menggunakan banyak tenaga fisik. Sinta berada di bus yang sama denganku, dia mengikuti banyak kegiatan ekstrakulikuler, selain OSIS, dia juga sangat aktif di ROHIS dan PMR, jilbabnya selalu mengingatkanku pada Mawar! Aku rindu pada sahabatku. Tunggulah Mawar, satu tahun lagi, dan aku akan datang ke kotamu.

Pukul 02.00 siang bus sampai di Bakauheni. Setelah mobil terparkir, semua siswa bubar manaiki Dek atas, agar tidak kepanasan di dek terbawah yang pengap. Aku mengayunkan langkahku setelah kurasa ruangan bus kosong, saat melangkah sekilas bayangan masih duduk di kursi, “Sin! Kamu tidak turun?” kulihat mukanya sedikit pucat.

“Iya, sebentar lagi.”

“Ayo sekalian bareng.”

Sinta tersenyum dan mulai mengangkat badannya pelan, tubuhnya kurasakan berat diangkat. Badannya sedikit limbung dan hampir jatuh, aku sempat ingin membantunya tapi dia menolak. Mungkin ini perjalanan yang panjang sehingga agak membuatnya mabuk, apalagi yang belum pernah menaiki kapal, termasuk aku.

Aku berjalan di depan Sinta, semua siswa tahu bahwa aku adalah anak Rohis yang berprestasi, walau aku tidak aktif di setiap kegiatannya. Aku juga terkenal anti pacaran tapi sebenarnya bukan ala anak Rohis, tapi karena aku tidak tertarik, dan aku hanya ingin menepati janji persahabatanku dengan Mawar. Ketika aku kelas satu dan dua dulu, aku beberapa kali mendapatkan surat cinta, namun aku balas dengan menulis bahwa aku sudah mempunyai pacar, atau ada juga yang mengatakan langsung bahwa mereka mencintai aku, ah! Cinta monyet. He..he.. aku sering tersenyum sendiri mengingatnya, apakah wajahku ganteng? Padahal biasa-biasa saja, hanya tubuhku atletis karena bekerja tanpa kenal waktu, apalagi rambutku kemerahan, terpanggang sinar matahari.

Aku meninggalkan Sinta ketika bertemu dengan Darma, Khusnul, dan Asih yang mereka adalah anak-anak Rohis, aku memesankan pada mereka untuk menjaga Sinta, karena terlihat sedikit sakit. Ketika akan meninggalkan mereka sempat terucap dari bibir Sinta, ucapan lirih, “Syukran,” aku menatapnya sejenak, “Sama-sama,” walau tidak fasih berbahasa arab, aku sedikit tahu dari percakapan anak-anak rohis.

Aku menaiki dek teratas, tangga terakhir ditutup besi sebatas perut, ketika akan naik seorang penjaga kapal melarangku. Aku menunduk, setelah penjaga itu berbelok, aku menaiki kapal, hingga mendekati pengeras suara peluit, saat kapal akan berangkat atau berhenti. Aku sendirian, duduk di bawah tiang bendera, yang berkibar dengan kerasnya karena angin laut begitu kencang, rambutku tergerai acak-acakkan, kubiarkan saja.

Setahun lagi, walau sekarang aku akan melewati kotamu, tapi aku janji bahwa kita bertemu saat kuliah nanti. Aku akan selalu berusaha menepati janjiku. Perjalanan ini menurutku tiada gunanya, tapi ketika nanti setahun lagi, maka itu adalah hari bersejarah bagiku. Aku mendekati bibir tiang di ujung kapal, “Mawar! Tunggulah janji persahabatan kita! Aku akan datang!” aku berteriak sepuasnya pada gelombang yang tercipta kecil dari usapan angin, menciptakan buih-buih berserakan.

“Hai! Jangan berteriak-teriak, apa kamu sudah gila!” seorang berseragam keluar dari pintu, tepat di samping bawahku, mungkin Nahkoda.

“Aku tidak akan berteriak lagi, tapi izinkan aku disini sampai kapal sampai di Merak!” Anggukan kepalanya membuatku segera duduk di dekat tiang, berpayungkan besi bundar besar, aku menatap awan berarak, matahari menyengat dan laut tak bertepi.

Hari-hari berlalu, kami menginap di hotel Nusantara, seratus meter dari Malioboro Yogya. Aku malas keluar, seperti teman-teman yang hilir mudik, mencari barang yang bisa mereka bawa pulang ke Lampung. Besok perjalanan terakhir, yaitu ke Sritex, tempat pembuatan beberapa baju kepolisian negara-negara luar, dilanjutkan ke Prambanan sebagai tempat terakhir. Aku terlelap tidur sambil mengingat keluargaku.

Di Prambanan, sore itu aku hanya duduk di pinggiran candi, ratusan kilatan foto mengkilat, beberapa siswi memintaku berfoto dengannya. Aku mengiyakan, setelah foto, mereka pergi lagi.

Aku pindah, ingin rasanya ke mobil kembali, tetapi kuurungkan sejenak, lalu kupaksakan kembali. Saat berada di antara candi, aku melihat Sinta berjalan gontai, tangannya memegang kepalanya, sambil matanya kadang-kadang terpejam. Mungkin pusing. Ketika jarak kami sekitar 3 meter, tubuhnya kuyuh terjatuh, aku buru-buru menangkap tubuhnya. Dia pingsan. Sempat kulihat matanya melihatku, lalu hilang tertutup kembali. Aku berteriak, tapi tak ada yang datang. Aku berlari membopongnya, kebetulan bertemu pak Sugiman wali kelasku, lalu kami membawanya ke rumah sakit terdekat. Keluarga di Lampung dihubungi, dan ayah ibunya sedang menuju kemari.

Hari ini bus pulang kembali ke Lampung. Aku, Asih dan Darma tidak ikut karena menunggu keluarga Sinta datang. Pak Giman kuminta untuk pulang saja, biar kami yang menunggunya disini.

“Sudah kukatakan kalau dia sakit, kenapa kalian membiarkannya berjalan sendirian?”

“Kami kehilangan dia San. Selain itu dia tidak pamit pada kami.”

Aku mencerna penjelasan Darma, wajahnya terlihat menyesal. Kami bertiga menunggu di kursi panjang besi depan kamar. Seorang Perawat mendekati kami, “Maaf apa kalian keluarga Sinta?”

“Kami teman-temannya Suster.”

Silakan ikut saya untuk mengurus administrasinya. Setidaknya jika orangtuanya belum datang, ada jaminan untuk pihak Rumah Sakit.

“Baiklah,” aku mengikuti langkah Suster itu, aku merelakan uangku sebagai jaminan. Persahabatan lebih berharga dari harta apapun, apalagi persahabatan yang didasari dengan saling kepercayaan. Ah! Aku kembali teringat Mawar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!