Cincin Bulan Persahabatan

Surat Persahabatan Kedua

Kulihat tubuh lemas itu masih tak bergerak, Darma dan Asih sedang tidur di kursi, mungkin kelelahan. Orangtua Sinta belum datang, walau Sinta adalah saingan beratku, dalam menetapi persahabatanku dengan Mawar, tapi dia juga teman yang baik. Aku salut padanya, walaupun banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dia masih bisa mendapatkan peringkat kedua, dan sempat mengalahkanku sewaktu awal Sekolah. Kupandangi sekilas wajah putihnya, cantik, soft, sungguh cantik, semakin cantik dengan balutan jilbab. Sungguh beruntung orang yang akan memilikinya kelak. Aku minder sendiri melihat wajah itu, ah! Apakah Mawar mau menerimaku? dengan wajah hitam legam, setidaknya sedikit terbakar.

Lamunanku buyar, Sinta membuka matanya pelan. Sorot matanya langsung mengarah padaku yang langsung mendekatinya. Matanya mengedar, kutaksir melihat Asih dan Darma yang terlelap. Mulutnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu.

“Ih… Ihsan?” suaranya lirih.

“Ya, ada apa Sin?”

“Jazakallah,” matanya sendu menatapku, dan buliran air meleleh pelan dari kedua kelopak matanya yang indah. Seandainya Mawar menangis, maka akan kulipat bumi sebagai tissue untuk membersihkannya, hingga tiada air mata yang akan tumpah.

Aku paling tidak tahan melihat wanita menangis, kuambil tissue yang tersedia di meja, kupaksakan mengusap airmatanya, walau Sinta sempat menolak.

“Sekarang jam berapa?”

“Jam 10.00 malam,” aku memperhatikan arloji yang baru kubeli sewaktu di kapal.

“Astaghfirullah, aku belum shalat,” Sinta mencoba bangkit. Tubuhnya masih terlihat lemah.

“Aku akan membantumu.”

“Jangan San. Aku tidak halal untukmu, bangunkan saja Asih,” pintanya pelan.

“Baiklah,” aku hendak melangkah.

“San,”

“Apa Sin? Ada yang kurang?”

“Jazakallah,” kubalas dengan senyuman. Aku melangkah membangunkan Asih dan Darma, mereka mengucapkan Hamdallah berulang kali sambil membantu Sinta wudhu dan shalat. Aku meninggalkan mereka, namun sempat kutangkap senyum tulus Sinta, di antara wajah piasnya, pucat tak sedikitpun mengurangi kecantikannya.

Pagi–pagi kedua orangtua Sinta datang, sekaligus hari ini juga kami pulang ke Lampung, dan Sinta dipindahkan ke Rumah Sakit di Lampung. Kami pulang dengan mengendarai kendaraan ayah Sinta. Pak Heri dan Bu Sulis adalah sosok orangtua yang lembut, dan penuh pengertian pada Sinta, itu dapat kutangkap dari percakapan dan obrolan ringan denganku selama di perjalanan. Bu Sulis bercerita cemas, bahwa Sinta paling sering memforsir dirinya untuk kegiatan, dan jarang mau beristirahat. Kutahu dari teman-teman Rohis, bahwa Sinta adalah wanita perkasa. Ada- ada saja.

Pulang dari Yogya, aku langsung pulang ke rumah di Gedung Dalam Baru. Bapak masih kerja. Alhamdulillah Ibu dan Fajar barusan pulang. Ketika malam, aku menceritakan kejadian di Yogya, mereka beberapa kali menganggukkan kepala, kekhawatiran mereka terobati sudah. Setelah acara bincang-bincang, aku mengeluarkan sedikit oleh-oleh, beberapa kaos yang aku beli murah, dan ada kue dodol dan berem yang kubeli sewaktu perjalanan pulang, dan kebetulan juga dibelikan oleh keluarga Sinta.

Tubuhku begitu lelah, perjalanan laut membuat pandanganku masih menyisa bergoyang-goyang. Kesempatkan tidur di kamarku dulu sewaktu kecil, Fajar izin hendak bermain, aku mengangguk dan berpesan jangan pulang terlalu sore. Mata yang liyer-liyer tak bisa kutahan lagi, hanya sebentar, karena aku bermimpi menakutkan. Aku melihat Sinta di ujing tepi jurang sambil menangis, dan mengulurkan tangannya. Aku mencoba mendekatinya, tapi dia tersenyum dan menerjunkan diri ke jurang. Untung hanya mimpi, aku bergumam pelan, lega.

Sekolah telah masuk kembali, namun hanya persiapan untuk melakukan persiapan praktek kerja nyata. Aku mendapat jatah di PT Metro Solar Investama, di bagian Marketing and Selling, bersama dua rekanku Haidir dan Saiful. Praktek akan dimulai minggu depan, dan dilakukan selama empat bulan tepat. Dan sebuah surat datang kepadaku dari Haidir. Katanya, Sinta menitipkannya sebelum semua diberangkatkan.

Praktek yang lumayan melelahkan, pagi sampai sore. Di samping itu, aku juga harus bekerja sebagai kuli. Tapi, mungkin aku akan berhenti karena ada yang menawariku menjualkan barang miliknya. Di tempat praktek, banyak pengalaman yang diperoleh, terutama menghadapi kompleksnya karakter buying, atau saat bertemu suplier, yang membawakan barang, setelah sebelumnya dilakukan pengecekan stock barang yang memakan waktu berjam-jam. Saat mengetik surat pesanan, aku teringat surat dari Sinta yang belum kubaca. Ketika pulang kusempatkan membacanya.

Assalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh

Wahai teman yang baik

Ba’da Tahmid wa Shalawat

Semoga Allah meridhaiku menuliskan sedikit ganjalan yang menggumpal di hatiku, dan semoga juga berkenan di hatimu.

Di waktu menulis, langit cerah dan udara begitu teduh. Tanganku yang bergetar kupaksakan untuk menggerakkan pena, mungkin tak pantas aku menulis untuk orang sebaik dirimu. Telah datang banyak berita tentangmu, yang hinggap di pendengaranku, Teman.

Kamu memang seorang yang tegar, bekerja untuk biaya sekolahmu sendiri, bahkan kutahu engkau juga membantu membiayai sekolah adikmu. Sifatmu yang pendiam, menjadi bahan perbincangan banyak siswi-siswi di sekolah kita, tuturmu yang sedikit membuat banyak orang bersimpati. Walau terlihat keras, namun tuturmu lembut. Wacanamu yang sering ditampilkan di mading, maupun buletin sekolah selalu kubaca, visi ke depanmu sungguh cemerlang, kutulis dan kuingat tajam di hatiku.

Ihsan

Kedua orangtuaku begitu sayang padaku, tapi tahukah engkau? Aku tak mau melihat mereka sedih akan adanya aku. Aku merasa ada baiknya aku hidup sendiri di muka bumi, namun ketika aku mengenalmu di saat SMP dulu, aku menemukan separuh jiwa yang terasa telah hilang, hingga aku mengikutimu masuk di SMK. Tahukah engkau wahai teman, engkaulah semangatku, sehingga aku memperoleh prestasi yang membuat kedua orangtuaku gembira dan tersenyum.

Aku semakin merasa bersalah, jika sampai membuat orangtuaku menangis. Aku tak tega, sungguh. Lebih baik aku tiada, jika seandainya adanya aku membuat mereka meneteskan airmata. Belum pernah aku bercerita pada siapapun tentang diriku, namun kuberanikan bercerita padamu, karena aku tahu kamu adalah orang yang memegang amanah. Dibalik keceriaan dan senyumku, ada berjuta kesedihan dan kegelisahan yang menutup, hingga tak ada yang terlihat.

Tahukah engkau teman?

Aku berada di ambang ujung perjalanan. Setidaknya aku ingin mengatakan padamu, walau aku merasa tak pantas mengatakannya. Tapi hatiku memaksaku mengatakannya, semoga Allah Azza Wa Jalla memaafkan semua dosa-dosa kita.

Teman, izinkanlah aku menjadi temanmu. Aku adalah bagianmu yang tidak terpisahkan, setidaknya izinkanlah di ujung perjalananku menjadi temanmu. Mohon terimalah permintaanku

Afwan wa Jazakallah

Sinta Khoiriyah

Aku membacanya beberapa kali. Ah! Apakah ini sungguhan? Bukankah aku yang seharusnya bertanya padanya, karena aku tidak sepadan dengan karakternya. Siapakah aku? Seorang pekerja keras dan miskin, untuk makanpun aku harus menahan lilitan perih di perut. Makan sekali dua kali, sudah merupakan kesyukuran terdalam bagiku. Wajah kecilku dengan sekarang telah jauh berbeda, aku terlihat lebih kurus sekarang, kutatap diriku di cermin. Benar-benar kontras dengan fotoku waktu kecil.

Kupaksakan menulis surat singkat balasan, agar Sinta tak kecewa.

Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

Sinta yang baik

Wa Ba’du

Suratmu telah sampai dan kubaca. Banyak hal yang masih membuatku tak mengerti, tapi suatu saat mungkin dengan berjalannya waktu aku akan mengerti. Kutulis dengan kesungguhan hatiku, bahwa aku bersedia menjadi temanmu, kuharap engkau menerima temanmu ini apa adanya, karena aku hanyalah seorang miskin yang mencoba mencari ilmu di luasnya ciptaan Allah.

Salam persahabatan.

Ihsan

Surat lalu kutitipkan pada Darma yang kebetulan praktek di dekat tempatku, dan kurasa mereka sering bertemu saat kajian pekanan bersama mbak Tuti.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!