Cincin Bulan Persahabatan

Mana Kulit Bekas Telurnya?

“Ayo pahlawanku, kita ke masjid dulu,” Ali sambil mengenakan peci mengajak anaknya yang masih menebar pandang ke segala penjuru.

“Tapi Pak? Ibu butuh keamanan,” semburat wajahnya terlihat serius.

“Tapi, kata mbak Fatimah kan sholat berjamaah bagi laki-laki wajib.”

“Tapi…, baiklah aku izin dulu sama mbak Fatimah,” Ihsan berlari masuk ke rumah dan menuju ke kamar melihat ibunya yang berbaring dan wajahnya berlumuran keringat, Fatimah dan Mbah Par berada di sampingnya.

“Mbak, tolong jaga Ibu baik-baik. Jangan biarkan mbak Ningsih mengambil adikku, aku akan shalat di masjid sebentar. Tugas ini kupercayakan pada mbak, karena aku percaya pada mbak, ok! Aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum,” Ihsan berlari menyusul ayahnya meninggalkan ibunya yang semakin bertambah bingung, mbah Par sempat kehilangan konsentrasinya sejenak, dan Fatimah yang tersenyum menjawab salam sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali

Kembara jiwa yang merindukan kesucian akan nafsu yang menggelayuti setiap jiwa manusia, menghangatkan kalbu yang sakit, menghangatkan kehidupan insan dari pekat gelapnya perjalanan, meneduhkan perasaan was-was, mendendangkan kesyukuran, meneduhkan kelopak mata, menguatkan indera, mencerdaskan akal. Marilah kita shalat dan menuju kemenangan.

Selesai shalat tidak seperti biasanya, Ihsan langsung berlalu untuk menuju rumah meneruskan misinya. Ayahnya hanya tersenyum. Baginya, Ihsan adalah anak yang penurut walau kadang sering nakal.

Tepat Pukul 07.00, Di Rumah Ihsan

Gedung Dalam Baru masih lengang, kehidupan pedukuhan baru dimulai kembali. Perkutut dan burung Kutilang telah membubung dan hinggap di dahan-dahan pohon, lalu berebut menarik perhatian, berkicau merdu. Kinjeng Tangis mulai menyayikan kidungnya, hewan ini mengeluarkan bunyi dari dua sayapnya yang bergetar ketika merenda rindu memanggil, memancing lawan jenisnya. Musim rendeng ini digunakan semua makhluk Gedung Dalam Baru, untuk melestarikan jenisnya masing-masing.

Padi yang menghijau, menghampar menyemarakkan pandangan panorama. Ada yang mulai menguning. Menyejukkan hati para petani, melihatnya membuat mereka merasa senang dan tersenyum. Itulah kebahagiaan hakiki. Melihatnya, hilang sudah peluh membajak tanah, daud, tandur, matun, yang ada hanyalah senyum yang menghiasi wajah.

Rumah Ihsan tidak jauh dari hamparan padi, hanya dibatasi balong di belakang mereka sekitar 30 meter, lalu dua tanggul ledeng. Hamparan itu dapat dinikmati sepuas hati. Senyum pasti merekah melihat ratusan hektar hijau, luas tak terbatas.

Seorang wanita berjilbab biru muda menghampiri rumah itu, mbak Ningsih. Ihsan merubah posisi tangannya, membentangkan tangan menutup lubang pintu. Dia berjaga dari ba’da subuh di depan pintu.

“Assalamu’alaikum,” senyum Ningsih mengembang.

“Wa’alaikumsalam,” jawabnya singkat, Ningsih adalah orang yang sering membelikannya snack dan jajanan, namun kali ini dia harus melindungi adiknya.

“Ibumu akan melahirkan ya San?” tanya Ningsih sambil tersenyum.

“Iya, tapi mbak tidak boleh melihat adikku sebelum menetas.”

“Apa?”

Kekagetan Ningsih terabaikan dengan suara tangisan seorang bayi yang membelah kesejukan pagi hari. Ihsan merasa kaget, “Ternyata manusia menetas lebih cepat!” dan langsung berlari masuk diikuti Ningsih. Rumah yang sangat kecil mempermudah mereka hingga melewati ruang tamu, dan langsung masuk kamar ibunya. Ketika masuk Fatimah sedang menggendong bayi. Semua orang merasa bahagia karena bayi dan ibu selamat, walau terlihat sedikit keletihan di wajah sang ibu. Kecuali wajah Ihsan yang terbengong-bengong manyun di pintu kamar, “Kenapa adikku bisa menetas begitu cepat! Lalu dimana bekas kulit telurnya!”

Semua orang di kamar itu menatap Ihsan. yang menggaruk kepalanya yang terasa gatal, hilang sudah senyum mereka. Ada yang terpingkal tak tertahan, ada yang menggelengkan kepalanya. Wajah Ibu pun yang semula keletihan terlihat senyumnya mengembang. dan ada yang masih bingung mencerna maksud perkataan Ihsan, dialah Ningsih.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!