Cincin Bulan Persahabatan

Memberikan Hadiah

Sekolah SD N II Gedung Dalam Baru, di Kelas IA. Hari Kamis.

Cerecau dua burung cemblek yang nangkring di atas pohon Ringin bersahutan, seolah menyambut kedatangan para duta manusia yang menimba bekal, untuk perjalanan hidupnya yang masih panjang. Burung Perci dan burung ’Gereja’ tidak mau kalah, mereka juga menyemarakkan panorama suara sambil berkejar-kejaran, hanya sesekali mereka harus diam dan bersembunyi di balik daun-daun rimbun atau di bawah terowongan atap genting, kala terlihat burung Alap-Alap membubung, berputar-putar di angkasa. Memantau, mencari rezekinya.

SD N II berdekatan dengan ladang di sebelah utara desa, ketika istirahat banyak siswa-siswi yang bermain di ladang untuk sekedar mencari gangsir atau belalang untuk mainan, atau beberapa bocah sibuk mencari gemak – puyuh – untuk di bakar, atau dibawa pulang untuk digoreng. Itulah kehidupan alami bocah-bocah Gedung Dalam Baru.

“Assalamu’alaikum,” Ihsan mulai terbiasa dengan ucapan salam. Baskom plastik kecil warna hijau berisi kue, ia taruh di atas meja duduknya.

“Wa’alaikumsalam,” beberapa siswa di kelas ada yang menyahut termasuk Bowo, Roni, Rahman, Farid, dan Rani. Beberapa anak yang lain sedang sibuk bermain dan saling melempar kertas yang diremas-remas, menjadi bulatan seperti bola kasti.

Ihsan langsung berlari, menuju Bowo yang sedang duduk sebangku dengan Farid, “Wo, aku minta contekan Matematika dong, aku lagi malas mengerjakannya.”

“Malas atau tidak bisa mengerjakannya?” Roni nyeletuk tanpa menoleh, karena jemarinya sedang sibuk menyalin PR yang dikerjakan Bowo.

“Iya deh terserah kamu. Aku mah sama saja malas atau tidak bisa mengerjakan, pada intinya kita sama-sama nyontek kan?” ujung bibir Ihsan sedikit terangkat sambil mengambil buku dan pena, untuk menyiapkan menyalin tugas bersama keempat temannya yang sedang sibuk menyalin pula.

Bunyi lonceng berdengung tiga kali. Siswa yang masih di depan gerbang segera berlari sebelum bu Nanik, guru BP muncul dan siap menghukum yang terlambat. Beberapa menit kemudian gerbang ditutup oleh bu Nanik, masih ada beberapa siswa yang telat, alhasil jadilah hukuman sebagai pelengkap sarapan mereka di rumah. Ada yang sibuk mencabuti rumput, mengumpulkan sampah, dan yang paling telat terkena jatah mengepel toilet.

Bu Lastri memasuki kelas IA. Kelas I dibagi menjadi dua kelas. Ihsan gelagapan membenahi bukunya dan menempati duduknya bersama Rahman.

Bowo berdiri, “Semua siap,” selaku ketua kelas. Semua siswa berdiri, “Selamat pagi Bu Guru.”

“Selamat pagi anak-anak,” sahut bu Lastri dan menduduki kursinya.

“Sekarang, kumpulkan tugas kalian. Yang tidak mengerjakan PR akan ibu hukum!”

Tanpa dikomando, beberapa siswa maju ke depan, mengumpulkan tugas tiga hari yang lalu. Pelajaran matematika terjadwal dua kali selama seminggu. Setelah bu Lastri menghitung buku yang dikumpulkan, lalu menghitung jumlah siswa, ternyata yang mengumpulkan hanya 9 orang dari siswa 31 orang.

“Katakan! Siapa yang tidak mengumpul tugas, sebelum ibu panggil satu persatu.”

Sebuah jemari kecil terangkat, hanya seorang. Sorot matanya tak berani menatap ke depan.

“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu Ihsan?”

“Saya sedang banyak tugas Bu, dan…,” Ihsan menghentikan penjelasannya.

“Dan kenapa…,” bu Lastri bertanya penasaran.

“Dan saya tidak bisa mengerjakannya Bu? Ketika aku ingin mengerjakannya, malah membuatku semakin pusing tujuh keliling.”

“Makanya kamu harus mulai rajin belajar dari sekarang, lalu kenapa yang lain juga tidak mengerjakannya? Ada 22 orang yang tidak mengumpulkan tugas, dan semuanya harus menerima hukuman.”

“Tapi Bu…”

“Ada apa lagi Ihsan, kamu juga termasuk yang terkena hukuman.”

“Begini Bu. Ibu ingin tahu kenapa banyak murid yang malas tidak mengerjakan tugas, saya tahu jawabannya jika ibu ingin tahu,” Ihsan memainkan pensil dengan jarinya.

“Katakan dengan benar Ihsan, atau hukumanmu bertambah berat.”

“Bu Lastri harus memberikan hadiah kepada murid yang jawabannya benar, kalau hanya mengerjakan tanpa ada imbalan, tentu saja mereka malas mengerjakannya, itu adalah metode yang tepat Bu,” Ihsan tersenyum, diingat-ingatnya kata-kata metode itu, ah! tidak tahu artinya tapi dulu mbak Fatimah menjelaskan seperti itu kepada mbak Ningsih, kenapa ketika mengajar ngaji selalu memberikan hadiah kepada murid, yang mengerjakan tugas hafalan. Di waktu pertama dulu Ihsan mendapatkan buku, pensil dan lima permen sebagai juara pertama, karena berhasil menghafal huruf-huruf Hijaiyah dalam waktu sehari, ya karena mengharapkan hadiah tentunya.

Bu Lastri terlihat merenung sejenak, “Baik kalau begitu, pelajaran besok siapa yang bisa menjelaskan sebab terjadinya hujan dan salju, akan Ibu beri hadiah,” bu Lastri tersenyum penuh kemenangan, selain mengajar matematika dia juga mengajar pelajaran lainnya.

“Ibu janji?” Ihsan berdiri. Wajahnya begitu polos, menatap meminta kepastian.

“Ibu janji, dan hadiahnya boleh kalian yang memilihnya, tapi ingat! jika besok tidak ada yang bisa menjawabnya, ibu akan memberikan hukuman kepada kalian semua!” bu Lastri mengedarkan pandangannya kesemua muridnya, meyakinkan. Dalam satu hari? bisa sangat mustahil, untuk ukuran anak kelas I SD, “Dan hari ini tidak ada yang akan kena hukuman, karena ibu mengakui kesalahan ibu, dan kepada Ihsan walau kamu bandel dan sering tidak mengerjakan tugas, Ibu berterimakasih padamu, kamu pintar tapi kamu harus rajin belajar.”

“Insyaallah Bu,” Ihsan tersenyum sumringah, bukan karena pujian itu, tapi karena hadiah yang dijanjikan. Ihsan masih ingat mbak Ningsih pernah cerita bahwa dia dulu waktu SMA mengambil jurusan IPA, kesempatan.

Pelajaran matematika diteruskan, murid-murid belajar dengan tenang karena hukuman dibatalkan, biasanya hukuman berupa mengganti jawaban sebanyak 10 kali, wah pegel deh. Namun, bagaimana dengan besok?

Bel istirahat berbunyi. Ihsan keluar dari kelasnya dan duduk di taman kecil di antara kelas-kelas, dibukanya daun pisang pembungkus kue yang telah dipersiapkannya. Segera dipasangnya aksi pedagang profesional, sambil mengedarkan pandang dan senyum, beberapa teman-temannya telah menghampiri dan membelinya, juga beberapa kakak kelasnya pun demikian. Dalam hitungan 15 menit kue telah ludes, Ihsan tersenyum puas. Memang Kue buatan Ibu tidak ada bandingannya! siip lah. Pelajaran kedua dimulai, pelajaran bahasa Indonesia. Ihsan merasa gelisah sedari tadi, pasalnya dia ingin segera bertemu mbak Ningsih. Rasanya waktu terasa sangat lama, apalagi pak Harto selalu bercerita terus, hingga bunyi lonceng tiga kali yang ditunggunya benar-benar mampir di telinganya, membuatnya tersenyum riang. Seriang semesta.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!