Cincin Bulan Persahabatan
Wanita yang Sama, Tapi
”Ali, temani aku sebentar ya?”
”Memangnya ada apa?”
”Aku menunggu seseorang, untuk menyerahkan draft perlombaan antar Fakultas, kebetulan Fakultas Hukum kini bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya. Insyaallah sebentar lagi dia datang. Kamu harus menemaniku,” nadanya agak ragu.
”Aku tahu. Dia pasti seorang Akhwat, makanya kamu gak berani?” aku menggodanya. Dia malah tersenyum, dasar Farhan.
Berkali-kali Farhan melihat arlojinya, hingga sebuah kata tertangkap dalam gendang telingaku, ”Sudah telat dua puluh menit. Kemana Ukhti Zahra ya?”
”Memangnya ada perlu apa sih, sampai kamu tidak sabar menunggunya,” aku bertanya penasaran.
”Aku ada rapat jam dua tepat di Fakultas, sesudah itu pertemuan dengan pengurus PMPP”
Bunyi Hp menjerit. Farhan mengambil Hp-nya. Sepertinya sebuah sms, beberapa detik dia membacanya. Lalu menatapku agak ragu.
”Kenapa? Ada yang salah denganku?”
”Orang yang kutunggu datang lima belas menit lagi. Tapi waktuku tidak cukup lagi untuk ke Fakultasku, aku akan mengirim sms untuknya, kalau kamu yang akan memberikan draft ini. Tapi..., itu akan merepotkanmu menunggu disini sendirian...,”
”Sudahlah,” aku memotongnya cepat, ”Tidak apa-apa, bukankah kita saudara. Aku banyak berutang budi padamu. Sini draftnya, aku akan menunggunya.”
Farhan menyerahkan beberapa lembar kertas, yang dibungkus dengan plastik putih bening, ”Tapi awas! Serahkan drafnya langsung. Jangan ngobrol sembarangan, nanti dikira kamu adalah aku, karena dia juga belum kenal dengan saya. Kami hanya janji bertemu di depan masjid. Ok?”
”Ok Bos!” Farhan berlari menuju depan, dan naik bikun diiringi senyuman, sempat juga terpikir untuk berbuat jahil pada wanita yang akan kutemui nanti. Tapi, aku harus menjaga amanah seperti pesan kak Nugroho.
Sepuluh menit berlalu. Panas semakin menyengat, matahari bagai lidah api yang menjilati bumi, hingga jilatannya menghanguskan aspal yang semakin menghitam. Lima menit lagi...
Seorang wanita berjilbab datang dari arah depan, menuju masjid Ukhuwah Islamiyah, pandangannya tertunduk menghunjam ke bumi. Aku berdiri, agar dia mengetahui, aku berada tepat lurus kearah pintu depan. Kuharap dialah yang dimaksud Farhan hendak mengambil draft ini.
Jarak semakin dekat, dan...
Wardah..., gadis itu..., langkahnya semakin mendekat. Injakan kakiku seolah bergetar kembali. Bumi seolah berguncang, aku harus kuat. Aku tak boleh lemah lagi, aku harus bisa mengalahkan ketidakberdayaan ini. Aku adalah Ihsan Nur Ali dan bukan seorang pengecut, atau Ihsan yang kehilangan jati dirinya. Aku tak boleh lemah! Aku menguatkan ragaku.
Langkahnya semakin mendekat, aku hanya teringat nasyid Tazakka yang sering kudengar dari kamar Syarif...
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan
Pergulatan hebat terjadi di dalam dadaku, deburan demi deburan saling bertabrakan. Lihatlah wajah indah yang memantulkan sinar matahari itu, alangkah jernih dan sempurna. Jilbab biru muda itu menambah keceriaan di wajahnya yang menunduk. Sesekali jemarinya membenahi tas punggung, yang sepertinya lumayan berat. Setiap langkahnya bagaikan setrum, yang menggetarkan seluruh bagian organ di tubuhku. Allah..., tolonglah hambaMu yang lemah ini. Allah..., jangan jadikan hambaMu kehilangan jati diri.
”Assalamu’alaikum,” nadanya datar.
”Wa’alaikumsalam.”
” Akh Farhan?” penekanannya pada sebuah pertanyaan yang ragu.
”Bukan, aku temannya. Dia menitipkan ini untuk anda,” aku gemetaran menyerahkan draft itu, kulihat tangannya mengambil ujung kertas dan menariknya. Cincin bulan itu telah raib dari jemarinya. Wanita itu berpamitan, seolah dia tidak pernah bertemu sama sekali denganku. Aneh. Dia hanya berpesan, agar Farhan dan rekan-rekan di Fakultas Ilmu Budaya menyiapkan acaranya, sedangkan yang akhwat mengurus konsumsi dan hadiah-hadiah. Aku mengiyakan.
Aku langsung menuju Pasar Minggu, perasaanku terbawa hingga melayang bersama bikun yang terus melaju. Buat apa lagi aku menetapi persahabatan ini? Bahkan dia kini tidak mau lagi memakai cincin bulan itu lagi. Apakah Engkau telah mengatur kehancuranku ya Allah. Membawaku dari desa ke kota, memisahkanku dengan keluargaku. Dan kini aku seolah terlunta-lunta. Aku berjanji padaMu, aku akan melupakan Mawar! Tak akan lagi kusebut-sebut dia dalam doaku. Maka bantulah aku untuk melupakannya ya Allah. Mawar..., selamat tinggal. Persahabatan ini adalah kebohongan.